
Ia menyalahkan dirinya, ia berpikir ini ada juga karena kesalahannya, coba ia menolak Rara tidak datang kekantor.
Padahal sebelumnya ia juga sudah beberapa kali mencurigai mobil hitam itu mengawasi kantornya, tapi karena Rara cuti jadi tidak maka tidak bertemu.
Mobil itu juga pernah di rumah Rara, ia pernah mencurigai mobil hitam itu mengawasi rumah Rara , tapi ia tidak pernah ia hiraukan ia berpikir itu hanya kebetulan.
Tapi melihat Rara terluka karena ia celaka, ia akhirnya tau kalau mobil yang berwarna hitam itu sudah lama mengawasi Rara.
Coba aku memberitahumu lebih awal mungkin kejadian ini tidak akan menimpa Rara, kata Sukma lagi benaknya.
Kini ia menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri
“Ia di tabrak orang, Sah, ada yang sengaja menabraknya, ada yang sengaja mencelakainya,” Kata Sukma dengan tangisan, ia juga ikut berantakan, noda d*rah juga mengotori baju kerjanya.
“Siapa yang tega melakukan itu sama orang hamil? iya Allah, bagaimana nasib mereka berdua di dalam sana?” Aisah juga ikut terisak-isak.
“Apa yang terjadi, Tian?”
Bardi salim menemani Bastian duduk, Hartati terlihat diam mendengar Rara di celakai orang membuatnya teringat akan kejadian dulu.
Ia beberapa kali dulu menyuruh orang untuk mencelakai Rara, tapi saat ia berhenti tapi tidak di sangka Rara malah di celakai orang lain.
'Siapa yang melakukannya kata Hartati dalam hatinya?' merasa bersalah, ia duduk dan hanya diam.
“Apa kamu dan Rara pernah ada musuh? Siapa yang tega melakukan itu pada wanita hamil, apa ia manusia?” tanya Bardi terlihat geram.
“Sepertinya aku tau siapa orangnya, aku juga menembus otaknya dengan timah panas, agar ia tau bagaimana rasa sakitnya,” kata Bastian ia berdiri.
“Tian…tunggu, kamu mau kemana, jangan melakukan hal-hal nekat yang merugikan kamu nantinya.” Pak Bardi mencoba menghalangi Bastian. Ia terlihat emosi entah siapa yang ia maksud.
“Be, titip Ara, saya ingin memberi seseorang pembalasan,” katanya, ia menitip Rara pada keluarganya.
“Jangan melangkah gegabah nak, Tian, serahkan pada polisi, biarkan polisi yang bekerja, kalau memang ini ada tindakan kejahatan,” kata pak agus menasehati Bastian
“Tidak Be, aku sendiri yang memberinya pelajaran,” kata Bastian.
“Benar, apa kata ayah mertua Tian serahkan semua pada polisi.” Bardi berusaha menghalangi anak semata wayangnya.
Tapi semua nasehat orang tuanya di hiraukan olehnya, ia melangkahkan kakinya dengan langkah yang panjang meninggalkan rumah sakit.
Kedua orang tuanya, berusaha menghalanginya, mencoba mengejar mobil Bastian. Bastian meninggalkan rumah sakit, entah kemana perginya, kedua orang tuanya juga mengikuti mobil Bastian. Kedua orang tua itu tidak mau anaknya melakukan hal yang nekat, sayang mereka kehilangan jejak di tengah jalan. Hingga Bastian pergi entah kemana, ponselnya tidak di angkat.
Di rumah sakit, akhirnya Dokter keluar dari ruangan Rara setelah beberapa lama melakukan tugasnya.
__ADS_1
“Boleh kami bicara degan wali pasien?” tanya Dokter.
“Katakan, ada apa , saya ayah pasien,” kata Pak Agus.
“Apa, tidak ada suaminya?” Dokter bertanya lagi. “soalnya situasinya sangat genting, kami harus menyelamatkan salah satu dari antara mereka,” pernyataan Dokter sukses membuat Pak Agus tumbang dan pingsan.
Pada akhirnya, ia juga akan kehilangan cucunya. Itu sangat menyakitkan.
“Bang, bangun bang..” Bu Ima panik juga terpaksa babe Rara dapat perawatan juga. Ini akan ujian hidup paling berat untuk keluarga mereka.
“Biar saya yang menandatangani segala berkasnya, pak, kebetulan saya juga seorang perawat,” kata Aisah.
“Baik, mari kita bicara di ruangan, saya,” kata Dokter yang terlihat sudah lumayan tua.
Aisah di bawa ke ruangannya menjelaskan semua prosedurnya dan tindakan yang akan mereka ambil, Aisah yang tau tentang medis ia merasakan beban yang sangat berat. Ia merasa sendiri dan sedih.
Ia harus membuat pilihan yang sangat sulit.
Setelah terlibat pembicaraan serius dengan Dokter, Aisah juga menceritakan semua kronologinya.
Hingga Dokter membuat keputusan berat untuk kebaikan Rara. Rara juga di tetapkan pasien dalam pengawasan ketat dan penjagaan ketat.
Rara mengalami pendarahan otak, luka parah di bagian kepalanya kemungkinan untuk hidup normal kecil, karena tempurung kepalanya juga retak. Otaknya mengalami pendarahan walaupun ia nanti selamat, ia tidak bisa normal lagi, seperti biasanya kemungkinan ada otak yang rusak dan ada beberapa bagian saraf yang rusak juga.
Tidak bisa di bayangkan bagaimana perasaan keluarga Rara, bagaimana mereka menerima kenyataan pahit itu, sudah kehilangan cucu mereka, kini bahkan anaknya di vonis mengalami lumpuh otak, itu artinya nanti Rara akan idiot? Tanya Aisah tidak bisa membayangkannya.
Bukan hanya Babenya Rara, bahkan Sukma terpaksa dapat perawatan, karena ia terus saja meranjau menyalahkan diri sendiri dan menangis beberapa kali juga.
Aisah yang bertugas mengurus kakaknya sementara Ibunya menjaga babenya.
Sesuai permintaan Dokter dan persetujuan keluarganya , Rara di masukkan keruangan khusus yang di jaga ketat. Karena kecelakaan yang di alami Rara faktor kesengajaan.
Maka pihak Rumah sakit berusaha melindungi Rara dan menyembunyikan Rara, mereka takut orang yang mencelakai Rara datang lagi mencarinya.
Rara harus melakukan beberapa kali operasi termasuk memperbaiki tempurung kepalanya yang rusak.
Dokter memprediksi kalau Rara tidak bisa hamil lagi karena Rahimnya terjadi kerusakan.
Operasi pertama sudah selesai malam itu juga, tapi tidak ada tanda-tanda ia akan bangun.
Ia masih tidur dengan berbagai alat menempel di seluruh tubuhnya.
Rara membutuhkan banyak darah, pasokan darah di rumah sakit tidak cukup, karena golongan darah milik Rara golongan d*rah yang langka, tidak mudah mendapatkan untuknya, terpaksa semua anggota keluarganya bergotong royong menyumbangkan darah milik mereka padanya.
__ADS_1
Pak agus yang mengetahui putrinya butuh darah, ia juga menyumbangkan d*rahnya setelah ia sadar, Sukma juga ambil bagian, ia juga menyumbangkan d*rah miliknya.
Saat ini hanya kesembuhan Rara paling penting, tidak ada yang lain.
Wanita malang itu sekarang lagi berjuang antara mati dan hidup.
Bahkan Dokter bilang Rara kecil kemungkinan untuk dapat pulih kembali,
hanya kekuatan doa orang-orang yang ia cintai yang mampu membangunkannya dari koma.
Sedih, putus asa itu yang saat ini di rasakan kelurga Rara bahkan mereka juga tidak tau siapa yang ingin mencelakai Rara. rasa takut masih menghantui keluarganya.
Aisah setia menjaga kakaknya, tidak sedetikpun ia meninggalkan kakaknya, ia duduk di dalam kamar itu lantunan ayat-ayat alQuran yang selalu ia bacakan untuk kakaknya.
Karena hanya ia yang sehat saat ini, babenya bahkan belum bisa bangun.
Bastian sejak saat ia pergi dari rumah sakit belum kembali. Ia menghilang, ia bahkan tidak tau keputusan yang berat yang di ambil Aisah.
Aisah baru ingat kalau hari ini keluarga Ken rencananya mau datang melamarnya.
Itu setelah lelaki itu menghubunginya.
Ken meneleponnya memastikan kalau hari itu ia dan keluarganya akan datang melamar Aisah, membuktikan kalau ia serius.
Tapi apa yang di dengar Ken, Aisah menangis di ujung telepon.
“Mas, maaf keluargaku, tidak bisa ,” kata Aisah.
Kenzo berpikir kalau ia di tolak sebelum melamar.Ia tidak tau kalau Rara telah terjadi kecelakaan.
“Tapi setidaknya beri aku kesempatan Aisah,” Suara Ken sedikit memelas.
Tapi terdengar suara isak tangis dari wanita cantik itu.
“Aku-aku, kami lagi di rumah sakit,” katanya dengan tangisan.
Dan ia terisak-isak, saat itulah ia mengetahui telah terjadi hal buruk.
“Sah, bicaralah dengan pelan-pelan apa yang terjadi? siapa yang sakit? kenapa kamu menangis?”
“Kaka Rara kecelakaan, ia belum sadarkan diri,”kata Aisah.
“Baiklah, katakana dimana rumah sakitnya, aku akan datang kesana.” Kata ken
__ADS_1
Ken benar-benar tulus mencintai Aisah, wanita cantik berkerudung itu membuatnya berubah sejak mengenal Aisah, maka saat aisah menangis ia juga merasa dadanya sakit, maka itu ia langsung menuju rumah sakit.
Bersambung...