
“Ada apa dengan dia?,” tanya Sukma ikut bingung
“Kita harus keluar dulu dari sini,” kata Rara mencabut selang infus dari tangannya, ia tidak memperdulikan kesehatannya lagi
“Ra, apa yang kamu lakukan, kamu masih lemah, nanti bisa-bisa kamu pingsan lagi,” kata Sukma
“Tidak, badan ini tidak bisa lemah,” katanya dengan sikap buru-buru, setelah membereskan administrasi ia dan sukma menuju mobil dan meniggalkan rumah sakit
Padahal Bastian datang menyusul, ia khawatir melihat Rara karena pingsan tadi, ternyata mereka sudah keluar dari Rumah sakit hanya singgah sebentar saja di Rumah sakit.
Sukma mengambil kemudi mobilnya , ia masih bingung karena belum tau apa yang terjadi, karena Rara masih linglung seperti orang sedang mabuk. Matanya nanar memandang sekeliling, Sukma takut melihat Rara, terlihat sangat terpukul tapi ia menahannya.
Ia membelokkan mobilnya kearah taman kota dan mobilnya berhenti
“Ada apa Ra? Please, jangan buat aku takut Ra, wajahmu menakutkan,” Kata Sukma memeng wajah Rara dengan kedua tangannya.
“Aku pusing,Mey, tolong buka pintu mobil aku ingin muntah,” katanya ia mengeluarkan isi perutnya, ia menahan perasaanya sampai merasa mual, karena tidak kuat menahan kesedihan hatinya
Ya , Allah yang aku takutkan terjadi juga, kata Sukma dalam hatinya .Ia sangat sedih melihat keadaan Rara seperti ini, ia tidak bisa menahan air matanya.
Ia hanya bisa mengusap-usap pundak Rara dan mengolesinya minyak angin.
“Ini, minum jangan duduk jongkok seperti itu kasihan Ia kejepit,” kata Sukma
Rara buru-buru berdiri sadar ia membahayakan calon bayinya.
“Aku sudah merasa lega Mey, kita teruskan lagi,” ia masuk kedalam mobil itu kembali
“Ra, jika kamu belum siap berbagi cerita padaku , tidak apa-apa tidurlah, lupakan masalahmu sementara,”
Sukma khawatir melihat wajah Rara yang terlihat masih pucat. Ia menyuruhnya tidur
“Mey, aku tidak kuat lagi meneruskan perjalan dan aku tidak ingin pulang seperti ini, cariin aku Hotel terdekat agar aku bisa istirahat, tolong panggilkan Dokter,” kata Rara memegang kepalanya yang terasa makin pusing,
“Baik, didepan ada Hotel kita kesana saja,” kata Sukma.
Ia membelokkan mobilnya menuju salah satu Hotel terdekat karena Rara merasa tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Rara hanya ingin istirahat, ia ingin memulihkan tenaganya.
“Maaf Mey, gue belum bisa cerita, nanti setelah aku merasa tidak pusing lagi,” kata Rara membaringkan Tubuhnya di ranjang Hotel .
Tapi sepertinya Bastian khawatir melihat keadaan Rara, ia menelepon Sukma, setelah sebelumnya menghubungi Rara tapi tidak aktif ponselnya.
__ADS_1
“Ra , ini Bastian telepon, waktu loe pingsan tadi ia melihatnya, mungkin khawatir,” kata Sukma berbisik,
“Jawab saja, bilang baik-baik saja,” kata Rara mengajari.
“Loe saja yang terima, gue malas ngomong dengannya ,” kata Sukma.
Mau tidak mau Rara yang mengangkat teleponnya
“Halo, Bastian ada apa?” Tanya Rara terlihat bersikap biasa.
“Apa kamu baik-baik saja Ra?”
“Iya, aku baik-baik saja , tidak perlu khawatir,” Rara tiba- tiba seperti orang asing padahal baru hitungan jam mereka memutuskan berpisah.
“Maaf mbak ini Dokternya,” kata petugas Hotel membawa seorang dokter untuk Rara.
“Apa kamu masih sakit, Ra, tapi itu suara Dokter?” Tanya Bastian terlihat menunjukkan sikap pedulinya, karena dalam hatinya ia masih sangat peduli sama Rara. Sayang takdir memaksa mereka berdua harus membuat pilihan yang sulit
“Tidak apa-apa tidak perlu dipikirkan, saya harap kamu tidak menghubungi saya seperti ini Bastian, berhenti mengkhawatirkan ku, itu yang terbaik untuk kita saat ini, agar kita bisa saling melupakan dan sama-sama bisa berjalan masing-masing,” kata Rara. Bastian diam seolah mendapat pukulan kerasa di dadanya.
“Maaf Ra, jika aku meng-“
“Bastian aku menutup teleponnya iya,” potong Rara berpikir mereka sudah tidak ada hubungan lagi, Bastian sudah membuat pilihan, mengusir Rara dari hidupnya, maka ia harus menjalaninya dan menerima kenyataan itu.
Bastian memilih tidur di Hotel dari pada pulang kerumah, sebenarnya ia jauh lebih sakit, tapi ia tidak bisa menolak keinginan Ibunya yang tidak bisa terima Rara ,di tambah lagi anak yang di angkat Rara jadi anaknya hasil hubungan gelap suaminya. Hal itulah membuat Ibu bastian semakin tidak bisa menerima Rara sebagi istrinya,
Masalah itu semakin komplit lagi sejak Rara membela Ayahnya dan melawan Ibunya hal itu menyebabkan Ibunya semakin tambah tidak menyukainya.
Menyuruh Bastian membuat pilihan antara ibu dan istrinya. Dengan banyak pertimbangan Bastian terpaksa mengorbankan perasaanya, akhir memihak ibunya.
Kini Bastian hanya bisa duduk menatap dengan hampa cincin sederhana yang di lepaskan Rara. Cincin pernikahan sebagai pengikat dan tanda cinta mereka, kini tali pengikat cinta mereka sudah putus, meninggalkan luka di hatinya. Bayangan wajah Rara masih melekat di ingatannya.
Apa aku mampu menjalani ini, apa aku sudah melakukan hal yang sudah tepat? Tanya Bastian dalam hatinya. Air di matanya di biarkan lolos jatuh kelantai.
Bastian terluka dengan pilihan yang sudah ia pilih.
Disisi lain ,selain dia ada lagi yang jauh lebih merasa sakit, Rara menangis dalam diam , ia menutup matanya dengan selimut ia menangis sendirian.
Sukma yang melihatnya ia menarik selimutnya, memergoki Rara sudah menangis di bawah selimut.
“Menangislah, Ra . itu akan membuatmu sedikit lebih lengah dan mengurangi bebanmu, kalau kamu menahan di dalam hatimu, yang ada kamu sakit dan stres sendirian,” kata Sukma.
__ADS_1
Rara duduk ia memeluk Sukma dan menangis di pelukan sukma.
“Mey, apa aku kuat menjalani semua ini, aku bingung harus berbuat apa,” Rara semakin menangis. Dapat masalah bertubi-tubi membuatnya tidak berdaya.
“Kamu harus kuat demi calon anakmu, jika kamu menyerah seperti ini , kasihan ia Ra,” sukma mengusap punggung Rara.
Ia juga merasakan sakit saat ia melihat sahabatnya terluka,
“Aku merasa tidak kuat lagi, Mey, aku sudah berusaha tapi sepertinya aku merasa tidak berdaya kali ini, ini terlalu berat untukku Mey, kenyataan itu membuatku tidak berdaya, aku berharap aku hanya bermimpi tapi nyatanya tidak. Ini nyata Mey, hatiku tidak mampu memikulnya.”
“Kamu kuat, walau tanpa lelaki brengsek itu ,” Kata Sukma
Rara menggeleng lemah
“ Mey, ada hal yang lebih penting dari masalahku, adalah yang membuatku tidak berdaya,” Rara melepaskan pelukannya dan menatap mata Sukma lebih dalam.
“Apa lagi Ra, apa lagi setelah ini?”
Matanya sipit itu, menatap lebih dalam ke manik-manik mata sahabatnya, mencoba mencari ada apa lagi di balik sorot mata sedih itu.
“ Mey, ini tentang Calvin, itu juga yang membuatku lemah. Bastian bilang Calvin anak Pak Bardi, ayahnya sendiri.
“Apa!??.” Sukma kaget tidak percaya. Ia berdiri dengan tangan menutup mulut.
“ Maksudmu pak Bardi Salim sama Yolanda? Mana mungkin bukankah dulu ia bilang kalau ia menyukai Pangeran di Rumah itu, apakah yang di maksud Bardi Salim? Maksudmu ia pelakor, gitu?.” Sukma tidak percaya, ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
“ Tadinya aku tidak percaya tapi, Bastian menunjukkan foto lama Yolanda dan Bardi Salim, saat itulah aku yakin ,” Rara mengusap dahinya.
“Ya, Tuhan, surat nasib apa ini, takdir apa yang tertulis ini? Bagaimana nasib Calvin selanjutnya, ya ampun anak malang itu ternya anak Bardi salim, apa ini ? Apa yang sudah kamu lakukan ,Yolanda?”
Sukma menggeleng tidak percaya, Sukma saja kaget dan bingung apa lagi Rara dan Bastian yang menjalaninya.
“Bagaimana aku menjelaskan sama babeh dan Emak,Mey?”
Rara mengigit jari-jarinya, ia bingung harus berbuat apa.
“Wajar Bastian bingung Mey, anak istrinya, anak dari ayahnya, jika kami bertahan dengan semua ini akan sulit, karena coretan masa lalu itu sangat membekas pasti akan menyakiti Ibunya karena ada Calvin diantara kami.
Dulu katanya Bastian bersumpah akan membalas Yolanda, baik orang terdekatnya, aku sendiri bersumpah akan membalas keluarga yang sudah menyakiti Yolanda di masa lalu, kami terjebak dalam sumpah masing-masing, untuk mengatasi itu berpisah jalan yang terbaik agar tidak ada yang tersakiti lagi, dan masa lalu itu terlupakan,” Kata Rara.
“Ya ampun Ra, takdir hidupmu sangat sulit,” kata Rara ,ia menangis
__ADS_1
“Aku sedih Ra, saya pikir Bastianlah jodoh terakhirmu, setelah banyak kesulitan dan ujian hidup yang kamu lalui, nyatanya tidak,” sukma mengusap matanya.
Bersambung