Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Aku ingin Aryo mengulanginya lagi , tapi aku malu ..


__ADS_3

Dia melepaskan tautan di jemari, lalu menatap penuh harap. Aku mengangguk pelan. Lalu segera membuka kain shalat.


Rambutku tergerai ke punggung, Aryo berdecak kagum melihat wajahku tanpa tutup.


“Ternyata istri aku tak ubah bidadari, cantik banget, Ya, Allah! Untung dia selalu menutupi auratnya, jadi hanya aku dan yang terdekat bisa melihat keindahan ciptaan-MU!”


“Gosah lebay gitu, deh ....!”


“Abeng, katanya mau panggil itu!”


“Iya, tadi lupa!”


“Iha, makasih ya, Allah. Pelan-pelan es itu cair juga!”


“Emang es. Pake cair-cair segala?”


Aku segera berdiri, lalu meletakan kain shalat di sandaran kursi rias. Aryo, segera meraih Al-quran. Rutinitas yang selama ini jarang kulakukan, tapi tidak dengan Aryo.


Dia selalu mengaji, selepas shalat. Satu hal yang membuat rasa kagum meningkat.


Aku segera keluar kamar dan membiarkan pintu terbuka. Di dapur, Mama ternyata sudah membuat sarapan. Saat aku menghampiri dia menatap ujung rambutku yang disanggul acak.


“Kamu ga mandi? Ini sudah pagi, lho, Da!”


“Nanti aja, Ma! Aida hari ini libur.”


“Bukan itu!” Wajah mama berubah tegang.


“Terus?”


“Kamu semalam, kerja ga?”


“Ga, sempat, Mama! Nanti siang aja dikerjain. Lagian sekarang pertengahan bulan, jadi ga ada yang harus dilaporkan.”


“Kamu haid?”


Aku menggeleng.


“Terus, semalam ga kerja dengan Aryo?”


“Dia kerja sendiri, katanya bikin konten.”


Entah aku yang kurang nangkap karena masih terbayang kecupan lembut Aryo, entah mama yang kurang tepat bertanya.


“Maksud Mama bukan itu!” Mama melebarkan mata.


“Lalu apa, dong, Ma?”


“Ibadah berdua, kawin.” Mama gemas melihat ke arahku.


“Belum.”


“Kok, belum?”


“Aida masih gerogi. Risih, Ma! Orang baru kenal masak langsung main bola.”


Mama menghembuskan napas kecewa.


“Padahal mama pengen cepat-cepat gendong cucu!”


Astaga, omaigat!


Mama segitunya. Sabar dulu, napa?


“Mama bikin apa?” Aku bertanya dan mendekati wajan yang sedang terjerang di kompor.


“Bubur putih.” Dengan wajah masih kecewa, Mama mengaduk bubur dari beras putih yang dicampur santan.


“Kamu belum bisa nerima Aryo?”


“Ngga! Aida sudah ngizinin dia tidur seranjang.”


“Ya, sudah! Mudah-mudahan malam ini kalian bisa saling melengkapi dan merasakan nikmatnya surga dunia.”


“Masih pagi, Mama! Gosah, bicara yang vulgar, deh!” Aku mendesah. Membayangkan melakukan hubungan suami istri dengan Aryo saja aku bergidik. Apalagi jika memang melakukannya nanti. Entah apa rasanya.


“Kamu ngapain ke dapur pagi-pagi?”


“Aryo minta kopi.”


“Ya, udah! Biar mama aja yang buatkan.”


Lha, sebenernya istri Aryo, aku apa mama, sih?


Sayang banget sama mantunya.


Setelah secangkir kopi panas selesai dibuatkan mama, aku disuruh meletakkan di meja ruang keluarga.


“Dia minum di kamar aja, Ma!”


“Jangan, biar dia minum bareng papa. Ini, sekalian tolong bawain teh papa, ya!”


Aku mengangguk pelan. Lalu balik kanan untuk meletakan minum para suami di ruang tengah.


“Kopinya sudah jadi, itu di ruang keluarga. Kamu minum bareng papa aja. Sekalian pedekate,” ucapku sambil berjalan ke arah kaca rias.


Dia menangguk pelan, aku melihat pantulan wajahnya dari cermin lebar di depanku.


Di saat memakai sarung dan peci seperti sekarang, Aryo terlihat lebih dewasa. Hanya wajahnya yang masih terlihat sangat imut. Jika dibandingkan dengan wajahku, lumayan, kek kakak dan adik. Aku kan baby face? Huaaa!

__ADS_1


Segera kusisir rambut yang tadi di sanggul, lalu menggoyang-goyangkan kepala, karena terasa kaku.


“Aryo!” Hampir saja teriakanku menggema. Tangannya ternyata sudah melingkar kembali di perut. Napasnya terasa hangat di tengkuk.


“Makasih, ya, Ay! Tapi, aku saat ini belum mau kopi yang diminum, tetapi dikepit.”


Astaga!


Bocah ini memang selalu bikin jiwaku meleleh.


Nikmati, Aida! Biasakan diri, kalau saat ini ada orang yang sudah memiliki ragamu. Aku memejamkan mata, membiarkan Aryo mencium tengkukku.


“Kok, bau keringat, ya?” bisiknya di belakang telinga.


Aku segera melepaskan tangannya.


“Ya, iyalah! Aku kan belom mandi!”


“Tak, apa! Walau belum mandi tetap galak!”


Dia segera menghindar, saat mataku mendelik seperti bola pimpong.


“Mba, ada yang jatuh itu!”


Dia menunjuk ke lantai. Aku segera melihat ke bawah.


Kalian tahu apa yang dia lakukan setelahnya, mencuri pipiku dan langsung kabur ke luar.


#DINIKAHIBOCAHTENGILL #Part5 #DBT5


“Yo, hari ini kamu ikut papa ke kantor!”


Papa bicara setelah mengunyah keripik singkong setengah toples.


Mungkin beliau bahagia, jadi lupa kalau sebenarnya jarang banget makan keripik buatan mama. Tapi, ketika ditemani sama menantu satu-satunya, selera papa jadi berkali-lipat dari biasa.


Aryo seperti anak balam dalam sangkar. Kepalanya diangguk-anggukan.


“Tapi, ijazah Aryo belum ada, Pa!”


Bener itu. Pan dia baru melihat pengumuman doang.


“Ga, perlu! Ijazah itu hanya untuk administrasi yang menyatakan kamu pernah sekolah. Yang penting mau belajar dari senior. Mau menerima kritik dan saran. Papa yakin, kamu bisa menjadi pengganti papa nanti.”


Hampir saja kerupuk singkong yang kukunyah keluar mulut. Papa tega banget! Masak iya, Aryo?


Lha, aku?


“Kenapa ga Mba Aida saja, Pa?” Pertanyaan santun yang paling aku demen.


“Aida ga mau kerja di perusahaan sendiri. Buktinya dia kerja di perusahaan lain. Mungkin karena papa terlalu keras kalau di kantor.”


Aku terbatuk, tumben papa sadar?


Kendatipun saat ini mama sampai perang dingin denganku. Tetapi, yang namanya orang tua. Meski marahnya hingga ubun-ubun, kasih sayang mereka ga akan pupus. Entah, nanti kalau aku minta cerai pada Aryo yang sudah mencuri perhatian keduanya.


“Tapi, Aryo sudah punya penghasilan di media, Pa! Insya Allah mencukupi untuk biaya hidup kami berdua.”


“Papa tau, tapi sampai kapan kamu bisa bertahan di sana? Satu saat, popularitas itu akan memudar, apalagi jika penggemar kamu tahu, kalau sekarang sudah beristri. Biasanya fans akan lari. Mencari wajah baru, yang kadang ngaku bujangan, tetapi sudah punya istri tiga.”


Papa tembak langsung aja!


Aryo tertegun mendengar penuturan mertuanya. Aku jadi kepikiran, apa yang dikatakan papa ada benarnya.


Tadi saja, Aryo sempat bergumam sendiri saat melihat kanal dan isu tentangnya.


Untung dia sudah lulus baru menikah, kalau sebelum ujian? Bisa ga dapat dia ijazah SMA.


“Nanti, setelah dapat ijazah, kamu harus kuliah! Biar semakin ada pegangan.” Papa meyakinkan.


Hening menyapa, Aryo sepertinya bimbang. Berkali-kali dia memandang kepadaku yang pura-pura tidak peduli. Padahal, aku menyetujui saran papa. Setidaknya dia bisa kerja di tempat yang benar.


Maksudnya, dengan kerjaan jadi Youtuber itu bukan ga benar, sih! Kadang kala, orang yang bergelut di dunia media, terkenal, banyak fans itu, tidak bisa menguasai diri. Apalagi aku lebih tua darinya.


Namun, aku berharap. Aryo tidak akan tergoda wanita mana pun di luar sana. Sebab, aku dari tadi pagi, sudah memantapkan hati untuk berusaha menerima laki-laki kurang umur tersebut.


“Bagaimana, Mba?” Aryo meminta pendapat.


“Kok, panggilannya masih, Mba?” Papa memandangi kami bergantian.


Aryo jengah, aku menunduk.


“Pakai panggilan sayang, dong!” Papa menyipitkan mata.


Aduh!


“Eh, masih belum terbiasa, Pa!” Aryo menjadi tameng.


“Kalau begitu, kamu siap-siap dulu. Setelahnya sarapan. Kita berangkat sama-sama, papa mau memperkenalkan kamu di kantor pada semua karyawan.”


Kalau papa memperkenalkan Aryo, pasti nanti pergaulannya terhalang. Bisa-bisa ga punya teman dan susah menimba ilmu. Sebab, karyawan kadang sungkan bicara ceplas-ceplos pada keluarga atasan. Padahal dengan dekat ke semua karyawan itu lebih banyak ilmunya.


“Pa, kalau menurut Aida, sih! Tapi, ini kalau Aryo, eh, Abeng setuju. Ga, usah kenalkan sebagai menantu papa dulu. Takutnya nanti pergaulan dia terhambat, apalagi saat ini, usia ... maaf, bukan maksud Aida ....”


Duh! Serba salah!


Nanti dibilang usianya kecil, aku kena ceramah lagi.


Namun, itu kenyataannya. Seandainya Aryo langsung diangkat jadi divisi, atau apalah yang memiliki jabatan strategis. Aryo pasti akan dicibir dan disindir. Sebab, dia belum memiliki ilmu di bidang itu. Aku menarik napas, bingung mau melanjutkan apa.

__ADS_1


Aryo sepertinya mendengar kata hatiku, dia pun akhirnya menyatakan hal yang sama. Semua demi kebaikan dia saat berada di kantor. Dia memilih jadi asisten siapa, gitu. Agar bisa menimba ilmu.


“Kalau, kamu kerja. Bagaimana dengan konten-konten kamu?” Bukankah dia harus membuat video atau apa untuk diposting.


Kalau nanti mangkir satu kali saja, bisa lari itu penggemarnya.


“Gampang, Mba! Bisa diatur. Tapi, aku ingin Mba ikut bersama aku. Biar ada kekuatan gitu saat melangkah.”


Tawa papa pecah saat mendengar gombalan menantunya. Aku memberungut.


“Okay! Papa tunggu satu jam lagi. Kalian siap-siap aja dulu!”


**


“Mba! Aku ga punya dasi, ga punya kemeja. Gimana mau ngantor?” Aryo tiba-tiba demo di dalam kamar.


“Pakai baju kaos pakai krah aja! Ada, kan?”


Dia menggeleng pelan.


“Kita beli di butik dekat sini, via online aja!” Aku memberi usul.


“Ga, deh, Mba! Pakai baju biasa aja dulu. Jadi ofice boy juga ga apa.”


Duh! Suami gua lugu beud!


Masak iya, laki-laki yang bakalan meniduri anak bos, jadi OB. Aku dong, yang ga terima.


Aku mendekat, ingin membelai lengannya untuk memberi kekuatan moril. Tetapi, aku sungkan. Masak tadi pagi ga mau dicium sekarang berani menyentuh. Telapak tanganku yang terkembang, kuncup kembali.


“Yo! Eh, Beng! Aku ga mau kamu jadi OB.” Ini benar-benar tulus, lho!


Seakan aku sedang bicara sama adik sendiri. Wajahnya yang berubah beku membuat hati iba. Senyumnya raib, tawanya hilang. Aku, kok, merasa ada yang kurang saat menatapnya.


“Memang kenapa kalau jadi OB? Itu kan halal, Mba! Biasanya anak tamat SMA ya bakal dikasih kerjaan seperti itu. Bukankah pikiran kita sama, kalau nanti dikenalkan sebagai menantu oleh papa, aku ga ada teman. Emang, Mba mau setiap hari menemani aku ke kantor? Eh, tetapi, aku sih, emang maunya Mba di rumah aja. Biar aku yang bekerja untuk biaya hidup kita. Karena aku ga mau Mba capek.”


Lagi-lagi narasi beraura rayuan maut keluar dari bibirnya yang tipis. Pun disertai tatapan mata sendu.


Duh! Kalau begini, bisa berubah pikiran aku jadinya. Soalnya, setiap kali dia menatap dengan cara seperti itu, dadaku naik turun menahan rasa yang aku ga tau ini disebut apa.


“Aku pikirkan nanti, ya! Sekarang, aku akan temani kamu ke kantor, Papa. Tapi, telinga kamu harus tebal, saat bersama beliau. Papa itu dispilin banget. Kalau kerjaan mesti bagus, harus tuntas segera. Ga bisa minta nas!” Aku bicara sambil menatap matanya.


Aryo sepertinya paham.


Lalu dia meraih pergelangan tanganku.


“Mba, izinkan aku cium jemarinya, ya?”


Aku tidak membantah seperti tadi pagi. Kubiarkan Aryo mencium punggung tanganku, lalu menempelkan telapak tanganku ke pipinya.


Sekarang, kami berada sangat dekat. Bahkan napasnya pun mengenai wajahku. Aku bisa dengan jelas mematut wajahnya yang memang tampan.


“Mba, transfer kekuatan, dong!”


Aku mengernyitkan alis. Memang kekuatan bisa ditransfer? Dia kira aku Wonder Women kali, ya!


“Aku ga ngerti,” jawabku polos. Bahasa anak zaman sekarang sulit dipahami.


“Beri aku satu pelukan. Biar aku bisa menjalani hari ini dengan kebahagiaan penuh. Karena, doa dan ridho istri, akan mempermudah urusanku.” Dia memejamkan mata, lalu menarik napas panjang.


Seharusnya dia yang memelukku, dia kan suaminya.


“Ga kebalik itu?”


“Kalau aku yang meluk, Mba! Nanti malah minta lebih. Jadi, Mba aja deh!”


Ingin kutoyor juga kepala nih, anak!


Apa dia masih ga paham, kalau wajahku mengerut tanda masih risih.


Aku menggeleng-gelengkan kepala, tanda belum siap. Saat menarik napas, Aryo melepaskan tanganku dari pipinya. Lalu mendekap tubuhku.


“Mba, napasnya kok naik turun gitu? Jangan-jangan, Mba sudah mencintai aku,” bisiknya.


Aku meronta, tapi dia semakin erat memeluk tubuhku.


“Mba, transfer energi lagi, ya?”


“Maksudnya?”


“Mba pejamin matanya, sebentar aja!”


Entah kenapa, saat ini aku seakan dipukau oleh kalimatnya. Aku patuh dan segera merem.


Kembali, bibirku serasa dicubit. Tapi lebih lama dan keras. Dadaku bergemuruh, napasku tersengal-sengal.


“Nanti malam, transfer yang lain, ya, Mba! Agar aku semakin semangat dan bergairah ketika pergi kerja. Karena seorang istri, harus menjadi tongkat, ketika suaminya rapuh.”


Wajahku terasa panas saat ini. Pasti sudah seperti udang rebus, atau tomat masak.


Kuusap bibir yang baru saja dicubit Aryo dengan bibirnya yang tipis.


“Ga berbekas, Kok! Kan menciumnya dengan perasaan dan penuh kelembutan. Makasih, ya, Mba! Semangatku sekarang semakin kuat. Entah besok pagi!”


Salah tingkah, bingung, geregetan, gemas dan semuanya bersatu jadi rasa tak menentu. Hingga keringat dingin membanjiri telapak tangan. Kenapa tiba-tiba aku ingin Aryo mengulanginya kembali saat ini?


Tapi, aku malu mengatakannya..


“Kantor papa besar juga ya, Mba!” Aryo berdecap kagum saat kami turun dari mobil.

__ADS_1


Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas satu setengah hektar itu berdiri megah. Di sekeliling pelataran parkir dan halaman depan, ditanami pohon cemara kipas. Ada juga cemara udang dan cemara lilin di bagian samping.


Rumput permadani menjadi icon go green kantor papa. Sebab, beliau memang sangat menjaga sekali pelestarian alam.


__ADS_2