Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Aku Hanya Ingin Bersamamu


__ADS_3

“Sah, bicaralah dengan pelan-pelan apa yang terjadi, siapa yang sakit kenapa kamu menangis?”


“Kaka Rara kecelakaan, ia belum sadarkan diri,”kata Aisah


“Baiklah, katakan dimana rumah sakitnya, aku akan datang kesana.” Kata ken penuh perhatian.


Ken benar-benar tulus mencintai Aisah, wanita cantik berkerudung itu membuatnya berubah sejak mengenal Aisah, maka saat Aisah menangis ia juga merasa dadanya sakit.


Ken akhirnya tiba di salah ruangan VIP yang di jaga dua orang yang duduk di pintu masuk.


“Sah, aku sudah di luar, bisa kamu keluar?” kata Kenzo di ujung teleponnya.


“Baiklah.” kata Wanita berparas cantik itu. ia keluar .


“Apa yang terjadi? kenapa kamarnya harus di jaga seperti itu? bagaimana keadaan Rara? ia bertanya buru-buru, karena ia juga merasa tidak percaya, karena paginya Ia masih menelepon Rara.


“Ia belum sadar, aku juga tidak tau harus berbuat apa lagi,” kata Aisah terlihat sangat khawatir.


“Jangan khawatir, Sah, ini rumah sakit milik keluarga ku, ibu juga seorang Dokter, kata Ken membuat mata sendu Aisah menatapnya dengan sangat dalam. “Aku akan mengurus semuanya,” Katanya membuat Aisah sedikit mendapat angin segar, setidaknya bantuan yang di butuhkan datang juga.


“Aku tidak bisa bicara diluar dengan lama-lama takut terjadi apa-apa pada kakak, aku akan tetap berada di dalam sekalian menjaganya,” kita bicara di kamar saja.


Masuk kedalam ruangan Rara, betapa terkejutnya Kenzo saat Rara terpasang banyak alat bantu kehidupan di seluruh tubuhnya, yang paling mengejutkan perutnya kini sudah kempes.


Ken hanya menatapnya, tapi membayangkan seorang wanita hamil mengalami kecelakaan


Tidak terbayangkan betapa parah kecelakaan yang di alami Rara, wajahnya bahkan tidak bisa di kenali, karena harus di bungkus, dan selang ada di setiap tubuhnya.


Apa ia kehilangan bayinya, apa perutnya meledak ? kira-kira seperti itu yang di pikirkan Ken.


Tapi ia tidak ingin menanyakan hal itu, takut aisah menangis lagi.


“Aku janji aku akan memberi Dokter yang terbaik untuk kakak mu, sah,” kata Ken.


Tiba-tiba Aisah menyatukan kedua telapak tangannya dan memohon pada Ken, dengan mata berkaca-kaca hampir menangis. Melihat air mata itu ken, seolah ikut merasakan betapa berat beban yang di pikul keluarga Rara.

__ADS_1


“Tolong bantu kakakku mas.,” ia memohon.


“Sah, jangan seperti itu,” Ken menurunkan tangan Aisah yang terus memohon .


“Aku aku akan berusaha yang terbaik, aku juga akan menyuruh ibu untuk melihatnya,” kata lelaki berbadan tegap itu.


Aku benar-benar telah jatuh cinta padamu gadis cantik, baru kali hatiku sakit melihat seorang wanita menangis di depanku kata Ken dalam benaknya.


“Baiklah,” kata Aisah tapi wajahnya terlihat gelisah.


“Ada apa ? apa ada yang lain yang menggangu pikiranmu?.” Lelaki itu menatapnya.


“Aku sangat lapar, mulai tadi malam aku belum makan,” kata Aisah, wajah cantik itu terlihat pucat.


“Iya ampun sah, memang tidak ada yang menggantikan mu, di sini?” Ken, sangat kasihan melihat wanita yang di cintanya kelaparan.


“Mak, jaga Babe, ia juga sakit saat tau kakak kecelakaan , babe sangat terpukul dan dan tidak kuat menerima kenyataan.”


“Baiklah, kamu mau makan apa, Sah?,” tanya Ken. Ingin rasanya ia memeluk wanita itu untuk mengurangi beban di pundaknya. Tapi ken tidak akan melakukan itu, Aisah bukan wanita biasa, ia memiliki sikap yang tegas dalam menentukan pasangan hidup, Ia pernah bilang pada Ken, kalau ia tidak mau melakukan sentuhan-sentuhan sebelum resmi menjadi istrinya.


“Pesan makan apa saja boleh, mas, asal jangan pedas iya, gak kuat pedas,” kata Aisah.


“Baik,” Ken langsung bergegas, tapi ia bukan langsung untuk membeli makan, ia menemui kepala Dokter rumah sakit, ia ingin meminta para Dokter terbaik dari rumah sakit untuk menangani Rara.


Atas bantuan neneknya akhirnya ia mendapat izin untuk membawa para dokter yang ahli bahkan dari luar negeri untuk menangani Rara nantinya.


Semua karena cinta, Ken melakukan itu, bahkan mendesak nenek dan Maminya agar bisa mendapatkan Dokter terbaik untuk Rara.


Ken baru sadar, kalau ia tadinya mau beli makan untuk Aisah.


Dengan sedikit berlari ia baru tiba di kamar itu Aisah sedang duduk di kursi di samping Rara.


Kamar itu di buat dua sekat, satu khusus ranjang Rara yang di sekat dengan pembatas kaca dan sebelahnya ruangan untuk orang yang menjaganya, sebuah kasur dan satu sofa satu TV. Saat ini Aisah duduk di samping tubuh kakaknya, ia berusaha bicara terus di disamping tubuhnya, ia berharap kakaknya bangun.


Menyadari Ken sudah datang ia keluar dari kamar kakaknya .Ia menghampiri ken yang datang membawa du kotak nasi.

__ADS_1


“Maaf iya sedikit lama antri,” kata Ken membuat alasan.


“Ia tidak apa-apa terimakasih, iya,” katanya dengan senyum manis.


“Sama-sama sah, mari kita makan bersama, saya juga belum makan,” Padahal dari rumah sudah makan, hanya ingin menemani makan bersama.


Bahkan dalam sedang makan lelaki sering mencuri-curi pandang melirik Aisah, baru kali ini bersusah payah mendapatkan wanita.


Kalau biasanya wanitalah yang mengejar-ngejarnya, tapi aisah wanita yang sangat berbeda, bahkan hanya mengenal kepribadiannya sepertinya ken tidak bisa masuk.


Aisah seperti punya tembok kokoh yang membentengi hatinya, hanya orang benar-benar gigihlah yang bisa melewati tembok itu.


“Apa kamu ingin aku menemanimu di sini sah malam ini? aku hanya ingin membantumu,” kata Ken, niat hatinya baik.


“Tidak usah mas, apa nanti kata orang kalau kita di lihat satu kamar tapi belum ada hubungan, Mas, pulang saja.. saya bisa sendiri. Berharap abang Bastian datang untuk menggantikan ku di sini, tapi saat ini aku malah khawatir terjadi hal buruk padanya kata ,” kata Aisah.


“Baiklah, kalau kamu butuh sesuatu, tinggal hubungi aku saja, mungkin aku nanti akan menginap di Hotel dekat rumah sakit, kalau ada apa-apa aku bisa cepat datang,” kata Ken.


Ia akan melakukan segalanya untuk Aisah, wanita yang mampu membuat jantungnya berdetak dengan sangat kencang bila berada di dekatnya, selama ini belum ada yang mampu membuatnya merasakan perasaan yang seperti.


“Baiklah terimakasih banyak,” kata Aisah tapi entah kenapa, hatinya tidak ada sedikitpun getaran untuk lelaki itu.


“Tapi Sah, apakah saya nanti meneleponmu untuk ngobrol sebentar?” Tanya Kenzo.


Aisah diam sebentar ia merasa bersalah kalau ia bilang tidak, tapi kalau ia menjawab iya, ia membohongi perasaanya.


Cinta dan perasaan memang tidak paksakan.


“Baiklah,” katanya dengan berat hati.


'Aku tau kamu belum menyukaiku, tapi percayalah ,Sah, aku akan bisa menaklukkan hatimu suatu saat nanti,' kata Ken dalam benaknya.


Kalau sudah suratan takdir akan bersatu, yang penting tetap berusaha dan lakukan yang terbaik, usaha yang baik akan menghasilkan hasil yang baik pula.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2