Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Cemburu tandanya cinta?


__ADS_3

Melihat  sikap posesif Bastian pada Rara, mengundang perhatian ke tiga temanya. Ketiga temannya menatapnya dengan tatapan aneh.


Bagaimana tidak Bastian Salim yang mereka kenal lelaki yang cuek dan  menganggap semuanya  mudah di dapatkan dengan kekayaan yang ia miliki.


Selama mereka mengenal  Bastian, ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, karena menurutnya  ia belum menemukan  wanita yang sesuai seleranya, penilaian tinggi pada wanita.


Tetapi yang mereka lihat, lelaki yang seolah ketakutan jika Rara  pergi meninggalkan  dirinya.


‘Kemana Bastian yang dulu? Bimo menatapnya dengan alis terangkat.


Karena saat mulai  ia   duduk,  Rara dijaga  dan di pepet terus sama Bastian.


Menarik napas panjang menyadari dirinya membentak Rara membuat wanita itu terkejut, ia tidak ingin  membuat badai di rumah tangganya yang baru beberapa hari  akur, sebelumnya mereka berdua hidup di rumah yang berbeda.


“Baiklah, kamu boleh pergi,” ucap lembut Bastian menarik napas. “Tapi   berikan nomor Sukma padaku”


“Baiklah nanti aku akan mengirim.”


Kenzo dan kedua teman lainnya hanya  bisa menonton, perubahan sikap Bastian.  Sejak ia mengumumkan pernikahannya, ia jarang bergabung dengan teman-temannya lagi.


“Tapi untuk  apa?” Tanya Rara.


“Uda, berikan saja , jangan banyak protes,” ucap Bastian, “Ini usap bibirmu,” pinta Bastian lagi ia menarik tisu.


Tentu saja hal itu membuat Rara malu  setengah mati, karena jadi pusat perhatian teman-teman Bastian termasuk Kenzo.


Mungkin perempuan lain, akan histeris jika bertemu dengan Bastian, karena ia Aktor tampan, tetapi apa yang di lakukan Bastian padanya, Rara menganggap Bastian  cemburu berlebihan.


“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Rara dengan giginya di tekan seperti gertakan.


“Menghapus riasanmu, ini terlihat tidak cocok,” ucap Bastian karena Rara tidak mau mengusap lipstik di bibirnya, jadinya Bastian yang melakukannya.


‘Aku bisa gila melihat sikap dia seperti ini’ ujar Rara dalam benaknya, ia pura-pura senyum, Namun dalam hatinya  sudah seperti air  mendidih.


“Tapi semua orang melihatimu, bukankah sikapmu ini berlebihan?” ucap  Rara dengan suara di tekan berbisik, terlihat wajahnya jengkel


“Tidak, biarkan saja aku melakukanya  untuk istriku” dengan tangan masih sibuk mengusap wajah  Rara sampai terlihat bersih tidak ada riasan lagi.


Tapi, ia tidak ingin membiarkan Bastian  malu, jadi Rara membiarkan suaminya melakukan sepuas hatinya, menghapus riasan wajahnya sampai bersih.


Lakukanlah  pikir Rara membiarkannya mengusap-usap wajahnya dengan tissue di tangannya.


Setelah ia melihat wajah Rara sudah bersih, barulah ia  membiarkannya pergi


‘Bastian kamu kenapa jadi norak seperti ini?' Rara geram, ia pura pura tertawa, ‘Apa yang kamu lakukan lagi sih sekarang, awas kamu di rumah nanti aku menyuruhmu tidur sendirian dan akan menendang bokongmu' Ia membatin.


“Sudah boleh pergi.  Sanalah,” ucap  Bastian memberinya izin.


Rara dengan jengkel,  ia meninggalkan kafe dengan  perasaan malu.


Sukma sudah menunggunya di bawah, sesuai waktu yang di tentukan.


Setelah ia naik ke lantai atas,   lantai tempat pakaian anak , akhirnya melihat Sukma yang sibuk memilih pakaian untuk ke empat anaknya.


Sukma melambaikan tangganya pada Rara.

__ADS_1


“Kenapa muke loe lecek kayak koran bungkus gorengan” Tanya sukma,


Membawa pakaian pilihannya ke kasir , sepertinya ia sudah lumayan lama menunggu terlihat ,banyak baju yang sudah di pilih, karena ia  wanita yang pemilih soal pakaian.


Kalau Rara tipe orang yang simpel dalam segala hal, Sukma, setiap kali belanja Rara paling malas  menemaninya, setiap kali belanja bisa satu harian  hanya untuk belanja beberapa potong  pakaian.


“Kita duduk di café lantai dasar saja, agar kita bisa lama-lama menghabiskan waktu di sana,” ujar Sukma ia menarik tangan Rara  turun,  sudah otomatis melewati Bastian yang ada di lantai satu


“Baik ,kita naik lift saja, gue  tidak mau kepala ini makin mumet,”  gerutu Rara terlihat jengkel.


“Ada apa sih?”


“Nanti gue ceritain , kita cari duduk dulu perut semakin lapar melihat tingkah Bastian hari ini,” ujar Rara  wajah masih  terlihat jengkel.


                                      *


Tiba di cafe


“Duduk di dekat kaca. Rara terlihat tidak bergairah.


“Lu mau pesan apa Ra?”


“Terserah,” jawab  Rara terlihat tidak bersemangat


“Baiklah gue pesan sesuai kesukaan gue saja” kata Sukma


Ia memesan sesuai keinginannya, dua  hamburger porsi jumbo dan tentu di temenin yang segar-segar,  minuman bersoda dingin. Selera mereka berdua memang  sama, soal  kesehatan selalu nomor dua, yang penting enak di lidah dan kenyang di perut.


Berbanding balik dengan suaminya.  Bastian yang selalu ingin meneliti dan menyeleksi setiap makanan yang masuk ke lambung.


“Parah, Bastian cemburunya minta ampun,” ujar  Rara terlihat jengkel


“Justru bukanya bagus, Ra, suami  perhatian, cemburu artinya cinta,kan” Sukma cengar –cengir melihat  sahabatnya dan kembali menyingung malam pertama sahabatnya.


“Ah, gak juga, lo gak tau sih cemburunya seperti apa tadi di depan orang di depan teman-temanya gua jadi malu ,Meeey …! Masa lipstik  gue di hapus ama dia di depan teman-temanya. Terus, saat ada bule ngelirik gue ia langsung murka, dia pakaikan tu kaca mata hitam  di jejelin ke mata gue”


“iya, ella orang lain pengen di cemburuin lo malah menolak perhatian, suami ,  sini kasih gue saja sepuluh kayak suami gue, di tukar satu Bastian” ujar  Sukma membandingkan dengan suaminya.


“Lu pikir barang   bisa di tukar,”  sahut Rara merungut.


Kebiasaan mereka berdua apa lagi sudah bertemu , tidak akan kenal waktu.


Saling bertukar cerita dan diisi  dengan suara ketawa sepanjang  mereka saling bercerita.


Tidak terasa Rara dan Sukma menghabiskan waktu satu harian hanya saling bercerita.


                             *


Dugaan Bastian benar. Rara akan lupa dengan ponselnya jika sudah bertemu dengan Sukma.


Sepuluh panggilan tak terjawab


Dari siang sampai sore dan kini hampir  malam tepatnya pukul 6:30 WIB


Bastian ingin memasak  untuk makan malam untuk Rara .

__ADS_1


Bastian langsung pulang saat kesalahpahaman itu selesai dengan teman-temanya.


Kenzo dan kedua temanya akhirnya berbaikan lagi, tapi tidak begitu Kenzo masih ada rasa yang belum ia selesaikan untuk Rara.


Tiba di rumah Bastian menuju dapur.


Ia terlihat cute saat memakai celemek berwarna biru bermotif bunga-bunga, ia mulai berkutat di dapur demi menyiapkan makan romantis dengan istrinya.


Mbok Atin hanya menjadi penonton sesekali mengajarinya. Tapi saat ia bilang ingin membantu sekali lagi Bastian selalu  menolaknya. Ia bilang  ingin mengajarkan sendiri.


Makanan siap di hidangkan saat itu juga Rara baru sadar, kalau ia sudah punya suami,  dan baru saja ia mengabaikan  pesan suaminya.


“Iya ampun Mey, mati gue” kata Rara tiba-tiba melonjak  dan berdiri saat ia melihat layar ponselnya, panggilan 20 kali ia menunjukkan riwayat panggilan di ponselnya.


“Iya ampun Ra, dua puluh kali, telepon balik buruan” desak Sukma dengan nada buru-buru tidak ingin sahabatnya bertengkar.


Rara menuruti  nasehati sahabat, sembari turun keparkiran,  Rara, menekan tombol panggil


“Halo  Tia,’ suara Rara  lembut tetapi  jantungnya berdegup kencang


Terdengar Bastian menarik napas panjang,


“Kamu di mana …. Kenapa panggilanku tidak di jawab.” Bastian menahan diri agar tidak marah lagi. “Aku masak makan malam untuk kita, ini sudah siap di hidangkan, kamu cepat pulang, iya”


“Iya , iya baiklah” ucap  Rara, ia menghargai kesempatan yang di berikan suaminya


“Iya tidak marah , mey,  gue harus menghargai kebaikannya kali ini, gue harus buru-buru pulang”


Ia memilih naik gojek, biar cepat  sampai, tidak sampai   dua puluh menit, ia sudah  tiba di apartment


Bastian sudah duduk manis di meja makan di dengan makanan beragam yang ditata  cantik


“Maaf  Tian, aku terlambat,” ucap Rara merasa bersalah saat melihat menu makan yang sudah tersaji cantik.


“Tidak apa-apa duduklah,” ucap  Bastian dengan senyuman,  di sekujur lengan terlihat  beberapa bintik merah,   bukti perjuangannya menyiapkan makan malam, untuk Rara.


Ia sudah mandi dan sudah rapi, Mbok yang melihat perjuangan Bastian menyiapkan makan malam untuk mereka memuji perjuangannya


“Sini Mbok makan malam bareng kita “ Ajak  Rara dengan sopan,


“Gak usah Non Ara” wanita itu menolak, dengan sopan, ia tahu Bastian  berusaha keras memasak agar bias makan berdua dengan istrinya ia tidak ingin menganggu,  memilih  masuk ke kekamar.


“Terimakasih sayang , untuk makan malamnya, aku harap kamu tidak marah padaku karena  aku tidak mengangkatnya karena aku terlalu bersemangat mengobrol dan cerita,” ucap Rara setelah makan malam  selesai.


“Tidak apa-apa asalkan kamu tidak menyuruhku tidur sendirian malam ini” kata Bastian .


“Tidak akan Tian, sebagai gantinya, aku ingin kamu menggosok badanku di kamar mandi,” ujar Rara.


Di  tawarkan yang manis-manis seperti itu,wajah  Bastian langsung berubah bersemangat


“Benarkah?” Bastian menoleh  ke kamar si Mbok.


Malam panaspun  berlanjut, berkat masakan untuk  makan malam yang dibuat Bastian untuk istrinya.


Usaha yang keras dan tulus akan mendapat  hasil yang manis juga.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2