
Melihat sikap posesif Bastian pada Rara, mengundang perhatian ke tiga temanya. Ketiga temannya menatapnya dengan tatapan aneh.
Bagaimana tidak Bastian Salim yang mereka kenal lelaki yang cuek dan menganggap semuanya mudah di dapatkan dengan kekayaan yang ia miliki.
Selama mereka mengenal Bastian, ia tidak pernah dekat dengan wanita manapun, karena menurutnya ia belum menemukan wanita yang sesuai seleranya, penilaian tinggi pada wanita.
Tetapi yang mereka lihat, lelaki yang seolah ketakutan jika Rara pergi meninggalkan dirinya.
‘Kemana Bastian yang dulu? Bimo menatapnya dengan alis terangkat.
Karena saat mulai ia duduk, Rara dijaga dan di pepet terus sama Bastian.
Menarik napas panjang menyadari dirinya membentak Rara membuat wanita itu terkejut, ia tidak ingin membuat badai di rumah tangganya yang baru beberapa hari akur, sebelumnya mereka berdua hidup di rumah yang berbeda.
“Baiklah, kamu boleh pergi,” ucap lembut Bastian menarik napas. “Tapi berikan nomor Sukma padaku”
“Baiklah nanti aku akan mengirim.”
Kenzo dan kedua teman lainnya hanya bisa menonton, perubahan sikap Bastian. Sejak ia mengumumkan pernikahannya, ia jarang bergabung dengan teman-temannya lagi.
“Tapi untuk apa?” Tanya Rara.
“Uda, berikan saja , jangan banyak protes,” ucap Bastian, “Ini usap bibirmu,” pinta Bastian lagi ia menarik tisu.
Tentu saja hal itu membuat Rara malu setengah mati, karena jadi pusat perhatian teman-teman Bastian termasuk Kenzo.
Mungkin perempuan lain, akan histeris jika bertemu dengan Bastian, karena ia Aktor tampan, tetapi apa yang di lakukan Bastian padanya, Rara menganggap Bastian cemburu berlebihan.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya Rara dengan giginya di tekan seperti gertakan.
“Menghapus riasanmu, ini terlihat tidak cocok,” ucap Bastian karena Rara tidak mau mengusap lipstik di bibirnya, jadinya Bastian yang melakukannya.
‘Aku bisa gila melihat sikap dia seperti ini’ ujar Rara dalam benaknya, ia pura-pura senyum, Namun dalam hatinya sudah seperti air mendidih.
“Tapi semua orang melihatimu, bukankah sikapmu ini berlebihan?” ucap Rara dengan suara di tekan berbisik, terlihat wajahnya jengkel
“Tidak, biarkan saja aku melakukanya untuk istriku” dengan tangan masih sibuk mengusap wajah Rara sampai terlihat bersih tidak ada riasan lagi.
Tapi, ia tidak ingin membiarkan Bastian malu, jadi Rara membiarkan suaminya melakukan sepuas hatinya, menghapus riasan wajahnya sampai bersih.
Lakukanlah pikir Rara membiarkannya mengusap-usap wajahnya dengan tissue di tangannya.
Setelah ia melihat wajah Rara sudah bersih, barulah ia membiarkannya pergi
‘Bastian kamu kenapa jadi norak seperti ini?' Rara geram, ia pura pura tertawa, ‘Apa yang kamu lakukan lagi sih sekarang, awas kamu di rumah nanti aku menyuruhmu tidur sendirian dan akan menendang bokongmu' Ia membatin.
“Sudah boleh pergi. Sanalah,” ucap Bastian memberinya izin.
Rara dengan jengkel, ia meninggalkan kafe dengan perasaan malu.
Sukma sudah menunggunya di bawah, sesuai waktu yang di tentukan.
Setelah ia naik ke lantai atas, lantai tempat pakaian anak , akhirnya melihat Sukma yang sibuk memilih pakaian untuk ke empat anaknya.
Sukma melambaikan tangganya pada Rara.
__ADS_1
“Kenapa muke loe lecek kayak koran bungkus gorengan” Tanya sukma,
Membawa pakaian pilihannya ke kasir , sepertinya ia sudah lumayan lama menunggu terlihat ,banyak baju yang sudah di pilih, karena ia wanita yang pemilih soal pakaian.
Kalau Rara tipe orang yang simpel dalam segala hal, Sukma, setiap kali belanja Rara paling malas menemaninya, setiap kali belanja bisa satu harian hanya untuk belanja beberapa potong pakaian.
“Kita duduk di café lantai dasar saja, agar kita bisa lama-lama menghabiskan waktu di sana,” ujar Sukma ia menarik tangan Rara turun, sudah otomatis melewati Bastian yang ada di lantai satu
“Baik ,kita naik lift saja, gue tidak mau kepala ini makin mumet,” gerutu Rara terlihat jengkel.
“Ada apa sih?”
“Nanti gue ceritain , kita cari duduk dulu perut semakin lapar melihat tingkah Bastian hari ini,” ujar Rara wajah masih terlihat jengkel.
*
Tiba di cafe
“Duduk di dekat kaca. Rara terlihat tidak bergairah.
“Lu mau pesan apa Ra?”
“Terserah,” jawab Rara terlihat tidak bersemangat
“Baiklah gue pesan sesuai kesukaan gue saja” kata Sukma
Ia memesan sesuai keinginannya, dua hamburger porsi jumbo dan tentu di temenin yang segar-segar, minuman bersoda dingin. Selera mereka berdua memang sama, soal kesehatan selalu nomor dua, yang penting enak di lidah dan kenyang di perut.
Berbanding balik dengan suaminya. Bastian yang selalu ingin meneliti dan menyeleksi setiap makanan yang masuk ke lambung.
“Parah, Bastian cemburunya minta ampun,” ujar Rara terlihat jengkel
“Justru bukanya bagus, Ra, suami perhatian, cemburu artinya cinta,kan” Sukma cengar –cengir melihat sahabatnya dan kembali menyingung malam pertama sahabatnya.
“Ah, gak juga, lo gak tau sih cemburunya seperti apa tadi di depan orang di depan teman-temanya gua jadi malu ,Meeey …! Masa lipstik gue di hapus ama dia di depan teman-temanya. Terus, saat ada bule ngelirik gue ia langsung murka, dia pakaikan tu kaca mata hitam di jejelin ke mata gue”
“iya, ella orang lain pengen di cemburuin lo malah menolak perhatian, suami , sini kasih gue saja sepuluh kayak suami gue, di tukar satu Bastian” ujar Sukma membandingkan dengan suaminya.
“Lu pikir barang bisa di tukar,” sahut Rara merungut.
Kebiasaan mereka berdua apa lagi sudah bertemu , tidak akan kenal waktu.
Saling bertukar cerita dan diisi dengan suara ketawa sepanjang mereka saling bercerita.
Tidak terasa Rara dan Sukma menghabiskan waktu satu harian hanya saling bercerita.
*
Dugaan Bastian benar. Rara akan lupa dengan ponselnya jika sudah bertemu dengan Sukma.
Sepuluh panggilan tak terjawab
Dari siang sampai sore dan kini hampir malam tepatnya pukul 6:30 WIB
Bastian ingin memasak untuk makan malam untuk Rara .
__ADS_1
Bastian langsung pulang saat kesalahpahaman itu selesai dengan teman-temanya.
Kenzo dan kedua temanya akhirnya berbaikan lagi, tapi tidak begitu Kenzo masih ada rasa yang belum ia selesaikan untuk Rara.
Tiba di rumah Bastian menuju dapur.
Ia terlihat cute saat memakai celemek berwarna biru bermotif bunga-bunga, ia mulai berkutat di dapur demi menyiapkan makan romantis dengan istrinya.
Mbok Atin hanya menjadi penonton sesekali mengajarinya. Tapi saat ia bilang ingin membantu sekali lagi Bastian selalu menolaknya. Ia bilang ingin mengajarkan sendiri.
Makanan siap di hidangkan saat itu juga Rara baru sadar, kalau ia sudah punya suami, dan baru saja ia mengabaikan pesan suaminya.
“Iya ampun Mey, mati gue” kata Rara tiba-tiba melonjak dan berdiri saat ia melihat layar ponselnya, panggilan 20 kali ia menunjukkan riwayat panggilan di ponselnya.
“Iya ampun Ra, dua puluh kali, telepon balik buruan” desak Sukma dengan nada buru-buru tidak ingin sahabatnya bertengkar.
Rara menuruti nasehati sahabat, sembari turun keparkiran, Rara, menekan tombol panggil
“Halo Tia,’ suara Rara lembut tetapi jantungnya berdegup kencang
Terdengar Bastian menarik napas panjang,
“Kamu di mana …. Kenapa panggilanku tidak di jawab.” Bastian menahan diri agar tidak marah lagi. “Aku masak makan malam untuk kita, ini sudah siap di hidangkan, kamu cepat pulang, iya”
“Iya , iya baiklah” ucap Rara, ia menghargai kesempatan yang di berikan suaminya
“Iya tidak marah , mey, gue harus menghargai kebaikannya kali ini, gue harus buru-buru pulang”
Ia memilih naik gojek, biar cepat sampai, tidak sampai dua puluh menit, ia sudah tiba di apartment
Bastian sudah duduk manis di meja makan di dengan makanan beragam yang ditata cantik
“Maaf Tian, aku terlambat,” ucap Rara merasa bersalah saat melihat menu makan yang sudah tersaji cantik.
“Tidak apa-apa duduklah,” ucap Bastian dengan senyuman, di sekujur lengan terlihat beberapa bintik merah, bukti perjuangannya menyiapkan makan malam, untuk Rara.
Ia sudah mandi dan sudah rapi, Mbok yang melihat perjuangan Bastian menyiapkan makan malam untuk mereka memuji perjuangannya
“Sini Mbok makan malam bareng kita “ Ajak Rara dengan sopan,
“Gak usah Non Ara” wanita itu menolak, dengan sopan, ia tahu Bastian berusaha keras memasak agar bias makan berdua dengan istrinya ia tidak ingin menganggu, memilih masuk ke kekamar.
“Terimakasih sayang , untuk makan malamnya, aku harap kamu tidak marah padaku karena aku tidak mengangkatnya karena aku terlalu bersemangat mengobrol dan cerita,” ucap Rara setelah makan malam selesai.
“Tidak apa-apa asalkan kamu tidak menyuruhku tidur sendirian malam ini” kata Bastian .
“Tidak akan Tian, sebagai gantinya, aku ingin kamu menggosok badanku di kamar mandi,” ujar Rara.
Di tawarkan yang manis-manis seperti itu,wajah Bastian langsung berubah bersemangat
“Benarkah?” Bastian menoleh ke kamar si Mbok.
Malam panaspun berlanjut, berkat masakan untuk makan malam yang dibuat Bastian untuk istrinya.
Usaha yang keras dan tulus akan mendapat hasil yang manis juga.
__ADS_1
Bersambung ....