
“Kita mau ketemu teman Ibu nanti ya, nanti bersikap baik iya, soalnya ia juga bawa anaknya walau anaknya anak perempuan boleh diajak bermain,” kata Rara memberi nasehat pada kedua bocah itu.
“Enggak, ah kan anak perempuan tante, bantah bagas anak Sukma.” Ia kurang setuju karena anak perempuan,
“Gak,apa-apa Gas, anak perempuan, kan bisa main bersama-sama yang penting kita baik, nanti ia juga baik.iya kan bu?,” kata Calvin anak pintar itu selalu menurut apa kata orang tuanya,
“Iya dong Bagas kalau masih anak-anak boleh bermain bersama anak perempuan, apalagi anak perempuannya baik dan cantik,” kata Rara menanggapi Alpin.
“Baiklah, kalau anaknya cantik baik, Bagus juga mau bermain, tapi kalau ia main dorong-dorongan seperti intan tetangga bagas, Bunda juga marahin main sama anak cewek,” kata bagas menjelaskan aturan yang dibuat sukma untuk anak-anaknya.
Rara dan Sukma saling menatap dan tertawa bersama, menyadari mendidik anak-ank mereka dengan cara berbeda-beda. Itu masuk akal setiap orang tua pasti berbeda cara mendidik masing—masing.
“Bunda melarang main ama intan, karena ia cengeng , Gas, kalau anak perempuannya, kalau tidak cengeng boleh lah main bersama,” kata Sukma menjelaskan.
“Oh, boleh iya ,bun, baiklah aku sama Alvin akan bermain bersama, siapa namanya anak perempuannya Bun? .” Tanyanya kemudian
Rara dan sukma kembali tertawa karena mereka juga tidak tau siapa nama anak perempuan Ridho.
“Oh Bunda lupa, nanti kenalan sekalian iya, ok ngobrol berdua saja dulu iya, bunda mau ngomong ama tante Ara,” kata Sukma menatap Rara kemudian
“Apa?,” tanya Ara menyadari tatapan sukma
“Loe punya rencana lain?,” tanya Sukma penasaran
“Kita ikuti alur yang ini dululah, nanti kalau memungkinkan mengorek informasi tentang kakaknya, baru kita lanjut, perekam suara sudah saya siapkan.” Kata Rara.
Kini giliran suaminya yang memantaunya, ia meneleponnya kembali, ini panggilan kedua pagi ini.
“Iya sayang,” jawab Rara
“Jadi perginya?.” Ia bertanya
“Jadi, tunggu iya.” Rara mengalihkan kepanggilan Vidiocall “Ini Alvin,” Rara mengarahkan camera ponselnya kearah kedua bocah itu. Ia terpaksa melakukan supaya bastian percaya dan melihat sendiri.
“Hai om, Tian,” sapa Calvin mengambil ponselnya, ia sangat akrap dengan Bastian .Bastian juga sangat menyukainya calvin.
“Om di Bali, kamu mau di beli apa?” tanya Bastian dari ujung telepon.
“Ahh, apa iya? apa bu?.” Tanya calvin dengan polosnya, ia bertanya pada Rara.
“Baju aja deh, baju yang ada tulisan Balinya,” jawab Rara menjawab seadanya.
“Kata ibu, baju saja yang ada gambar Balinya, dua iya om, buat Bagas dan buat Alvin satu.” Kata dengan sangat baik sikap berbagi sudah mereka tanamkan sejak dini untuk Calvin.
Sukma ngakak, mendengar nama anaknya di selipkan.
__ADS_1
“Bagas siapa vin?,” tanya Bastian belum kenal
“Ini, om,” ia mengarahkan kamera ponselnya, tepat di wajah Bagas “ Ia teman aku, anak tante Mey-mey.” Katanya dengan sangat polos,
“Ok, baiklah sayang, Om akan beli dua jaga ibu iya bilang om kalau ibu nakal,” pesannya kemudian
“Iya Om tian.”
“Sudah? Dasar tukang cemburu , tukang curiga,” kata Rara dengan senyum manis
Terdengar Bastian tertawa lepas mendengar Rara menyebutnya tukang cemburu
Tapi memang begitulah adanya, ia selalu menghubungi Rara bisa 6 kali dalam sehari selama di Bali.
“Ok, baiklah aku mau melaksanakan tugas besar yang kau berikan padaku, salam buat mbak Sukma,” katanya kemudian mengedipkan mata seksi pada istrinya sebelum menutup panggilannya.
Akhirnya mobil hitam itu tiba di depan pintu masuk Taman mini, Sukma menurunkan kaca mobilnya membiarkan penjaga loket tiket melihat sendiri dan menghitung penumpangnya. Rara membayar tiket masuk.
Harganya murah meriah, karena TMII di kenal tempat hiburan masyarakat paling digemari di Jakarta, karena tiket masuknya terjangkau untuk masyarakat kalangan bawah.
Calvin sendiri sudah beberapa kali liburan ketempat ini. Walau neneknya hanya bermodalkan tikar dan bekal makan, tap bagi mereka itu sudah liburan.
Sukma melajukan kendaraanya lebih masuk lagi melewati tugu taman mini dan melewati jenis-jenis rumah-rumah adat yang ada di Indonesia.
Hingga akhirnya tiba di bangunan berbentuk istana Disney itu.
Sukma memarkirkan mobilnya di depan dan membeli tiket kembali, untuk tiket masuk,
Harga tiket hanya sepuluh ribu rupiah perorang untuk masuk , tiket murah meriah.
Baru saja masuk, Calvin sudah meminta foto pada badut-badut yang menyambut mereka. Badut itu menawarkan diri untuk di foto dengan imbalan yang diberikan seikhlasnya, diselipkan dikantong depan kostum badutnya.
“Mana orangnya?,” tanya sukma mengeluarkan ponselnya.
Belum juga ia menelepon seseorang dari arah kolam renang, melambaikan tangannya. Ternyata Ridho sudah tiba disana dengan putrinya dan seorang pengasuh putrinya.
“Itu dia,” kata Rara menunjuk lelaki tampan itu, tidak jauh dari suaminya. Ridho juga tampan memilki tubuh professional.
“Hai, sugar,” ia mendekat dan menyapa Rara masih sama, memangilnya dengan panggilan sugar yang artinya manis menurut Ridho.
Calvin yang mana iya ?” ia bertanya matanya menatap kedua bocah lelaki itu.
“Coba tebak yang mana?.” Tanya Sukma menyuruhnya menebak sendiri.
“Ini pasti,” katanya, pilihannya tepat ia menunjuk calvin dengan tepat “ Hai calvin, saya om r
__ADS_1
Ridho teman Ibu kamu, dan ini anak saya Kaila,”
ia menarik putri cantiknya dan memperkenalkannya anak perempuan berumur tiga tahun.
Anak perempuan berwajah sangat cantik kulitnya putih dan hidungnya mancung.
Pasti ibunya sangat cantik gumam Rara masih menatap anak perempuan berwajah cantik itu.
“Hai, om Ridho,” sapa calvin dengan sopan, bahkan sangat berani, berbeda dengan Bagas yang malu-malu saat pertama
Bagas bersembunyi di belakang bundanya sukma.Tapi kalau Calvin, ia dengan berani dan sopan menyapa lelaki itu.
“Boleh gak, om memeluk kamu?” ia bertanya dengan tatapan mata berharap.
Calvin melihat ibunya, seperti bertanya pada ibunya juga. Rara mengangguk memberi izin.
“Baiklah, boleh,” katanya dengan lembut.
Tiba-tiba Ridho memeluknya dengan haru, ia bahkan menyeka matanya menyingkirkan buliran air yang menggumpal di sudut matanya.
Rara dan Sukma saling menatap, dugaan itu semakin nyata . Sukma mulai memasang sikap mata-matanya.
Ia yakin kalau Ridho ayah dari calvin, walau mereka sedikit mirip karena sama-sama tampan, tapi itu belum bisa memastikan kalau mereka ayah dan anak
.
“Biarkan mereka main iya, kita cari tempat duduk saja,” kata Sukma .
Membiarkan anak-anak itu bermain di wahana permainan di samping gedung istana boneka itu.
Mereka bertiga duduk tidak jauh dari wahana itu
“Iya sangat tampan iya, anakmu juga sangat ganteng mey,” kata Ridho setelah mereka duduk.
“Mau minum apa? biar aku pesan,” kata Rara berdiri
“Aku rasa stroberi,” kata Sukma memancing,
“Aku tidak , aku air mineral saja, tidak bisa stroberi,” kata Ridho.
“Anakmu juga?” tanya Sukma mulai menyelidiki
“Iya, ia juga gak bisa,” kata Ridho
“Calvin juga ,” kata Sukma menatap Rara penuh makna.
__ADS_1
Insting detektif Sukma mulai bekerja . Ia yang duduk didepan Ridho menatapnya dengan penuh pengawasan. Mata sipitnya mulai menyelidiki setiap bentuk sudut wajah Ridho.
Sesekali ia mengangguk dengan yakin, ia sepertinya sudah dapat menebaknya.