
Aisah dan babenya sudah kehabisan air mata, mereka berdua hanya terdiam seperti patung. Aisah melihat dengan tatapan sedih sang kakak, pak Agus menatap nanar ke arah jendela dan Bu Soimah masih dengan tangisannya, ia memeluk tubuh Rara.
"Kamu harus bangun Ra, kamu harus lihat wanita jahat itu membusuk di penjara, kamu tidak pantas lagi untuk keluarga iblis itu, sadarlah sayang..!” kata Bu Soimah.
Kini mereka bertiga menangis lagi, kehidupan yang tidak adil untuk Rara dari ia kecil , hidupnya selalu saja sudah dan sengsara,
Saat Bu Soimah menangis di samping tubuh Rara.
Kreaak
Pintu terbuka dua orang Dokter berwajah ke bule-bulean di temenin mami dan neneknya Ken, Ken sendiri tidak mau ikut, ia tidak ingin melihat kesedihan wajah Aisah lagi.
“Selamat siang bu,” sapa maminya ken.
Karena terlarut dalam pikiran masing-masing dan kesedihan, tidak ada sahutan dari keluarga Rara, kalimat sapaan itu menguap begitu saja.
Mata mereka hanya melihat tamu tidak di undang itu, dengan tatapan mata seolah putus harapan.
Itu bisa dimaklumi, keluarga Rara saat ini di ujung keputusasaan, harapan Rara untuk sembuh kecil, karena biaya yang cukup mahal, belum juga kasus yang menimpah Rara di celakai keluarga suaminya sendiri.
Mereka hanya melihat saat dokter itu memeriksa tubuh Rara, terlihat seperti palu kecil di ketok ke kaki Rara dan tangannya di di tekan pakai pulpen dari saku jubah Dokternya. Terlihat tubuh Ara tidak merespon.
Mereka bicara dengan raut wajahnya yang manggut-manggut, mereka terlibat perbincangan serius dengan maminya Ken dengan bahasa yang tidak di mengerti keluarga Rara.
"Mereka ngomong apa dah..gue kagak ngerti, bahasa Inggris sih, bisanya yes dan no doang," kata Bu soimah, walau ia tidak mengerti tetap saja ia melihatnya dan mendekati mereka berharap ada translate di samping emaknya agar, ia bisa ia mengerti apa yang mereka omongin.
Sekali lagi dokter bule itu memeriksa Rara wajah kembali mengangguk, dengan yakin.
Mereka meminta izin keluar.
“Nanti kita bicara, Bu,” katanya maminya Ken.
Setelah mengantar kedua Dokter bule tersebut, Ibunya Ken masuk lagi, menjelaskan pada Babe edan emak.
“Mereka Dokter dari Jerman dokter terbaik, mereka bilang Rara bisa sembuh setidaknya bisa mengerakkan tubuhnya, tapi kami harus melakukan operasi pembedahan lagi di kepalanya” katanya dengan yakin.
Tidak ada reaksi dari keluarga Rara, mungkin mereka sudah lelah mendengar janji manis. Tapi ujung-ujungnya pahit juga mereka hanya diam mendengarkan.
Disisi lain di dalam penjara, Bastian yang mendengar Omahnya pelakunya. Ia shock dan ia tidak percaya kalau pelakunya Omahnya sendiri, antara otak dan hati saling bertolak, maka Bastian terlihat seperti orang gila.
Ia berteriak seperti kesehatan, ia depresi, semua barang milik penghuni kamar itu lempar, dan setiap orang yang dekatnya ia pukul sebagai pelampiasannya.
Tidak mau terjadi hal buruk, akhirnya Bastian diasingkan di salah satu kamar.Tapi Bastian hampir mengakhiri hidupnya, ia mencoba melenyapkan nyawa nya sendiri, Hatinya tidak bisa menerima istrinya belum sadarkan diri, sedangkan pelakunya Omah sendiri, membuatnya malu dan bersalah pada keluarga Rara belum lagi pada keluarga Viona.
__ADS_1
Aku sangat membenci kalian semua, kalian menjijikkan teriak Bastian putus asa, saya tidak mau pakai nama keluarga Salim, keluarga besar salim menjijikkan,” kata Bastian berteriak.
Ia membuka baju tahanannya yang ia pakai, mengikatnya ujung baju di plafon kamar, ia memasukkan lehernya, setelah sebelumnya ia mendorong lemari kayu sebagai pijakan.
Untung Hartati saat ini ingin menemuinya, saat seorang petugas lapas membuka kamar Bastian baru saja menjatuhkan tubuhnya dan membiarkan kakinya menggantung.
Tindakan cepat dari petugas yang menyelamatkan nyawanya.
Nyawanya bisa terselamatkan, sedikit saja petugas lapas telat datang dan melihatnya, ia mungkin akan tinggal nama.
Bastian merasa frustasi, kehilangan anak sudah membuatnya hampir gila, istrinya tidak akan pulih lagi, di tambah lagi pelakunya orang terdekatnya, orang yang ia hormati. Malah menghancurkan hidupnya yang seharusnya melindunginya.
“Maaf bu, kami harus membawa Bastian ke rumah sakit, jadi hari ini tidak mendapat tamu kunjungan dulu,” kata petugas lapas.
“Apa-apa yang terjadi pada anak saya? kata hartati ia panik.
“Untung Ibu datang, kalau ibu tidak datang hari ini mungkin ia sudah tiada.”
“Apa yang ia lakukan?”
“Ia mencoba mengakhiri hidupnya, ia terlihat begitu depresi,” kata Polisi.
“Ya ampun Tian, maafkan ibu, nak,” kata Hartati. Ia menangis.
Ia mengamuk dan harus di ikat disisi tempat tidur, ia mendapat perawatan di sana, masalah yang berat itu akhirnya mengguncang jiwanya.
Viona akhirnya siuman juga, seperti setali dua uang dengan Rara, ia juga seperti mayat hidup, membuat keluarga Viona makin geram pada keluarga salim.
Hal itu akan makin sulit sama Bastian keluarganya menghancurkan hidupnya.
Bardi salim membuat keputusan yang berat juga, ia menjual rumah besar keluarga, walau kedua adik perempuannya keberatan, tapi ia tetap melakukannya, bukanya hanya Rumah besar itu, bahkan kapal pesiar andalan keluarga Salim ikut juga ia jual. Sebagai anak lelaki penerus perusaan milik Salim, ia mengambil tindakan yang tepat sedikit keadilan untu Rara.
Semua uangnya akan di berikan untuk pengobatan Rara dan di berikan pada keluarganya, walau uang tidak bisa memulihkan keadaan seperti semula, tapi setidaknya hal itu mengurangi rasa bersalah pada keluarga itu, terutama pada calvin yang mengalir dar*h Salim di tubuhnya.
Setengah harta salim ia jual dan di berikan pada keluarga Rara yang nominalnya membuat keluarga Rara harusnya kaya mendadak, tapi sayang itu di gunakan pengobatan Rara.
Rencananya Rara akan di bawa keluar Negeri untuk mendapat pengobatan, karena menurut Dokter Rara ada kemungkinan besar akan pulih.
Awalnya pak Agus tidak ingin menerima uang dari keluarga salim .
Tapi tidak bisa di pungkiri untuk saat ini mereka sangat membutuhkannya, untuk kesembuhan Rara.
“Uang tidak akan membuat Rara pulih seperti dulu lagi, saya juga sedih karena Rara juga menantu saya,” kata Bardi meminta maaf.
__ADS_1
“Jika Rara sudah sembuh, saya tidak akan memberikan ia lagi jadi menantu di rumah anda, apa kamu bisa menerima itu,” kata Pak Agus.
“Baiklah saya akan terima pak,” jawabnya dengan kepala menunduk meminta maaf.
Ia harus melakukan hal rendah itu karena kesalahan Ibunya.
Setelah beberapa minggu Rara tidak mengalami perubahan, maka keluarganya sepakat membawanya keluar Negeri, saat ia ingin pergi berobat ke Negeri orang lain. Bastian juga menerima pengobatan juga.
Rara akhirnya di bawa ke jerman di temenin Aisah dan Adiknya Rizki. Ia akan kuliah di Jerman.
Saat mau berangkat Ken terlihat sangat sedih, ia berpikir hubungan mereka tidak ada harapan lagi, ia hanya melempar senyum tanpa makna pada Aisah, tidak melakukan apa-apa dan tidak berharap banyak lagi.
“Terimakasih, ya, mas,” kata Aisah pada lelaki berbadan atletis itu saat di antar di bandara.
“Baiklah sama-sama,” katanya menahan air mata.
Ia tidak ingin menangis di depan Aisah jadi ia membalikan badannya. Maminya melihat kesedihan di mata Ken.
“Mas.. boleh aku ngomong satu hal?” tanya Aisah.
“Boleh,” kata Ken mencoba menahan air mata itu agar tidak tumpah.
“Katakanlah,” katanya, ia berpikir kalau Aisah ingin meminta tolong, agar menjaga orang tuanya, karena Aisah menatap kedua orang tuanya.
“Aku mau bilang..Aku mencintaimu,”
“Iya,” jawabnya dengan pelan dan belum mencerna omongan aisa. “ TAPI A-APA!?” teriaknya menatap Aisah.
“Aku mencintaimu mas, bisa kamu menungguku atau kamu mengunjungi?”
“Oooooh iya ampun,” ia memegang mulutnya saking terkejutnya dan bercampur senang, wajahnya bersinar/
Aisah menunjukkan dua cincin yang ia pakai jadi kalung oleh Ken, cincin yang ingin di pakai untuk melamarnya saat itu.
“Pakaikan itu sekarang di tanganku,” pinta Aisah.
“Mi..Iya ampun! Teriak ken melihat kearah maminya dan neneknya. Kedua orang tua itu mengangguk tanda setuju dan maminya mengusap matanya, karena bahagia melihat kegembiraan Ken.
Akhirnya Aisah resmi jadi tunangannya Kenzo, sebelum ia berangkat menemani kakaknya Ke Jerman.
“Aku janji akan membantu babe dan emak, aku akan setia menunggumu,” ungkapnya gembira dan mengecup kening Aisah.
Bersambung...
__ADS_1