
Mobil mewah milik Bastian membelah jalanan ibukota, dengan hati yang mantap akhirnya ia memberanikan diri menemui keluarga Rara . Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya nantinya. Ia tahu apa yang mereka lakukan salah. Menikah tanpa meminta restu dari keluarga Rara tentu salah.
Untuk pertama kalinya buat Rara, ia merasa bersalah pada babenya , seakan ia telah menghancurkan kepercayaan babenya yang di berikan padanya selama ini, kepercayaan orang tua pada anak sangat mahal harganya, tidak bisa di tukar dengan uang
Merasa bersalah, karena tindakan nekatnya, telah menikah tanpa sepengetahuan keluarga. Walau sudah sah secara agama. Namun ia dan Bastian tetap saja salah.Karena orang tua yang membesarkannya masih hidup.
“Kenapa diam saja sih Ra?” tanya Bastian ikut-ikut merasa gugup saat melihat Rara tiba-tiba jadi pendiam sepanjang perjalanan.
Padahal biasanya selalu tangguh dan kuat dalam menghadapi setiap masalah, ternyata ia punya satu kelemahan tidak ingin mengecewakan babe dan Alvin, putra semata wayangnya.
“Entahlah, aku merasa gugup,”ujar Rara dengan raut wajah gugup.
“Karena apa? karena kita menikah tanpa izin mereka?”
“Iya, aku merasa bersalah karena engkongku sudah tiada, juga”
“Tapi kita sudah dewasa Ra, tidak harus orang tua yang menentukan pernikahan kita ,” ujar Bastian.
“Setiap orang tua pasti menginginkan hal itu Bastian, apalagi yang menikah anak perempuannya”
“Terus , bagaimana dong, apa kita ulangi lagi menikah” tanya Bastian terlihat tulus hanya ingin memberi pendapat.
“Kamu pikir bisa sama lagi, Bastian!:
“Jangan marah dong aku hanya bertanya,” ucap Bastian dengan lembut kadang kalau Rara marah atau kesal Bastianlah yang mengalah
“ soalnya ada juga pernah temanku seperti, Ra sekali akat lalu kemudian resepsi”
“Gak tau kita lihat situasi dulu lah nanti”
Rara masih saja gugup mengenalkan suami brondongnya pada keluarganya, padahal ia sudah memberi kabar juga pada emaknya, kalau ia dan Bastian akan datang.
Rara gugup hal yang wajar karena Bastian dan keluarganya sudah menorehkan luka di keluarga Rara, apa yang di alami Yolanda masih membekas di hati mereka.
“Kita bawa apa ,Ra?” Tanya bastian pada Rara yang sibuk dengan pikirannya.
“Buah saja oleh-olehnya“ wajahnya masih belum bersemangat dan terlihat beban pikirannya begitu banyak.
Bastian terpaksa harus turun sendiri untuk membeli beberapa keranjang buah untuk buah tangan untuk kelurga Rara.
Mereka kembali ke mode diam, hanya terdengar alunan musik yang di steel Bastian menemani perjalan mereka.
“Tian” Ara tiba-tiba buka suara, matanya menatap sendu pada Bastian,
“Kenapa Ra” Bastian menoleh ke istrinya sebentar
“ Ada apa Sayang?”
“Kalau, misalkan Babeh nanti marah dan mungkin mengusir kamu, apa yang akan kamu lakukan?”
__ADS_1
Ternyata Rara dari tadi memikirkan hal itu. Ia berpikir babenya sepertinya akan marah besar pada Bastian, karena perlakukan keluarganya pada Yolanda dan pada kariernya.
Mendengar hal itu, Bastian terlihat sangat tenang.
“Aku akan menerima kesalahanku, lalu aku akan berjuang,” ujar Bastian terlihat sangat dewasa, ia menjawab semua pertanyaan dari Rara dengan sabar dan memberi dukungan pada istrinya, kalau semuanya akan baik-baik.
“Terus … kalau kamu bagaimana, bagaimana kalau Keluargamu melarang ku mendekatimu lagi dan kamu di suruh meninggalkanku, apa yang kamu lakukan” tanya Bastian ia balik bertanya pada istrinya.
Tapi Rara menjawabnya dengan sangat berat, bahkan beberapa kali menarik napas panjang,
“Aku tidak tau Bastian”
“Loh kok gak tau” Bastian tidak senang jawaban yang di berikan istrinya.
“Iya, aku belum yakin nanti aku harus menjawab apa”
“Itu artinya kamu ada kemungkinan besar meninggalkanku jika di suruh keluargamu” wajah Bastian terlihat memerah
“Aku bilang belum tau, Bastian”
“Itu artinya kamu ragu pada pernikahan kita Ara,” kata Bastian
Tebakan Bastian benar, Rara masih belum siap membawa Bastian ke rumah keluarganya.
*
Karena beda ibu, Rara berbeda juga dari kedua adiknya.
Aisah cantik dengan kulitnya yang hitam manis, dan Riski juga, mereka berdua mengikuti gen emaknya.
Sedangkan Rara kulitnya putih dan tinggi teryata emak yang melahirkan Rara, wanita yang cantik.
Sekarang semuanya sudah jelas, jika ia bisa melupakan masalah itu dan menatap kedepan, ibunya juga tidak pernah marah-marah pada Rara lagi, malah terlihat sungkan seperti ia merasa punya salah pada Rara.
Tapi tidak untuk babenya Rara, ia belum bisa berbaikan , padahal emaknya sudah meminta maaf.
Akhirnya Rara dan Bastian tiba, berhenti di salah satu rumah permanen berlantai dua, bercat biru
Untung rumah yang di kontrak babehnya lumayan besar dan memiliki gerbang . Pemilik rumah kontrakan teman babehnya Rara.
Ia memilih rumah yang memiliki pagar agar Calvin tidak bermain ke jalan.
*
Tangan Rara mulai berkeringat , jantung mulai berpacu dengan kencang,
Tetapi saat Rara tersiksa dengan perasaan takutnya. Bastian terlihat tenang lebih dewasa dari Rara, ia terlihat sangat tampan dengan kemeja berwarna navi.
Di depan pintu sudah ada Aisah dan adek laki-lakinya , Alvin dan Sukma juga ada disana untuk menyambut keduanya
__ADS_1
Pada Rizky dan Aisah, Rara sudah cerita sebelumnya kalau ia akan menikah dengan seorang Aktornya, adik laki-laki bahkan tidak percaya Rara menikah dengan seorang Aktor tampan tanah air. Bastian Salim
Calvin bocah tampan itu langsung berlari menyambut mereka berdua, setelah ia lihat yang keluar dari mobil mewah itu adalah ibunya
“Wah, Mpokku hebat menikah dengan artis,” ucap Risky .
“Selamat datang Bastian,” sapa Sukma sumringah
“Iya Mbak Sukma”
Rara ingin rasanya melarikan diri melihat tatapan dingin sang ayah.
‘Apa babe akan marah dan mengusir Bastian?’
Melihat ketakutan di wajah sang istri, Bastian menggenggam tangan Rara dengan erat memberinya dukungan.
Bastian menenteng keranjang buah yang berukuran besar itu, Rara baru sadar ternyata , Tian membeli keranjang parcel buah yang besar.
Ia mengangkat oleh-oleh itu dari jok belakang mobilnya.
“Assalamualaikum” Sapa Ara dari pintu masuk,
“Wallaikumsalam,” sahut Emaknya Babenya bersamaan
Duduk bersama kelurga di saat seperti ini, membuat Rara seperti duduk di ruang pesakitan, merasa seperti dalam ruang persidangan. Jadi Jaksa adalah babehnya sendiri dan emaknya jadi hakimnya.
Dua kipas angin menyala, tapi bisa-bisanya Rara mandi keringat
Tapi tidak bagi Bastian, iaterlihat sangat tenang, ia menyembunyikan wajah groginya di balik senyum ramah yang ia pamerkan
“Assalamualaikum” Sapa Ara dari pintu masuk,
“Wallaikumsalam,” sahut Emaknya Babenya bersamaan.
Rara masuk dengan wajah menegang.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1