Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Minta maaf ke rumah Rara.


__ADS_3

Mobil mewah milik Bastian membelah jalanan ibukota,  dengan hati yang mantap akhirnya ia memberanikan diri menemui keluarga Rara . Ia sudah siap dengan segala konsekuensinya nantinya. Ia tahu apa yang mereka lakukan salah. Menikah tanpa meminta restu dari keluarga Rara  tentu salah.


Untuk pertama kalinya buat Rara,  ia merasa bersalah pada babenya , seakan ia telah menghancurkan kepercayaan babenya yang di berikan padanya selama ini, kepercayaan orang tua pada anak sangat mahal harganya, tidak bisa di tukar dengan uang


Merasa bersalah, karena tindakan nekatnya,  telah  menikah  tanpa sepengetahuan keluarga. Walau sudah sah secara agama. Namun ia dan  Bastian tetap saja  salah.Karena orang tua yang membesarkannya  masih hidup.


 “Kenapa diam saja sih Ra?” tanya Bastian ikut-ikut merasa gugup saat melihat Rara tiba-tiba jadi pendiam sepanjang perjalanan.


Padahal  biasanya selalu tangguh dan kuat dalam menghadapi setiap masalah,  ternyata ia punya satu kelemahan  tidak ingin mengecewakan  babe dan Alvin, putra semata wayangnya.


“Entahlah, aku merasa  gugup,”ujar  Rara dengan  raut wajah gugup.


“Karena apa? karena kita menikah tanpa izin mereka?”


“Iya, aku merasa bersalah karena engkongku sudah tiada, juga”


“Tapi kita sudah dewasa Ra, tidak harus orang tua yang menentukan pernikahan kita ,” ujar Bastian.


“Setiap orang tua pasti menginginkan hal itu Bastian,  apalagi yang menikah anak perempuannya”


“Terus , bagaimana dong, apa kita ulangi lagi menikah” tanya Bastian terlihat tulus hanya ingin memberi pendapat.


“Kamu pikir bisa sama lagi, Bastian!:


“Jangan marah dong aku hanya bertanya,” ucap  Bastian dengan lembut kadang kalau  Rara  marah atau kesal Bastianlah  yang  mengalah


“ soalnya ada juga pernah temanku seperti, Ra sekali akat lalu  kemudian resepsi”


“Gak tau  kita lihat situasi dulu lah nanti”


Rara masih saja gugup mengenalkan suami brondongnya pada keluarganya,  padahal ia  sudah memberi kabar juga pada emaknya, kalau ia dan Bastian akan datang.


Rara gugup hal yang wajar karena  Bastian dan keluarganya sudah menorehkan luka di keluarga Rara, apa yang di alami Yolanda masih membekas di hati mereka.


“Kita bawa apa ,Ra?”  Tanya bastian pada Rara yang sibuk dengan pikirannya.


“Buah saja oleh-olehnya“ wajahnya masih belum  bersemangat dan  terlihat beban  pikirannya begitu banyak.


Bastian terpaksa harus turun sendiri untuk membeli beberapa keranjang buah untuk buah tangan untuk kelurga Rara.


Mereka kembali ke mode diam, hanya terdengar alunan musik yang di steel Bastian menemani perjalan mereka.


“Tian” Ara tiba-tiba buka suara, matanya menatap sendu pada Bastian,


“Kenapa Ra” Bastian menoleh ke istrinya sebentar


“ Ada apa Sayang?”


“Kalau, misalkan Babeh nanti marah dan mungkin mengusir kamu, apa yang akan kamu lakukan?”

__ADS_1


Ternyata Rara dari tadi memikirkan hal itu. Ia berpikir  babenya sepertinya akan marah besar pada Bastian, karena perlakukan keluarganya pada Yolanda dan pada kariernya.


Mendengar hal itu, Bastian  terlihat sangat tenang.


“Aku akan menerima kesalahanku, lalu aku akan berjuang,” ujar Bastian terlihat sangat dewasa, ia menjawab semua  pertanyaan  dari Rara  dengan sabar dan memberi dukungan pada istrinya, kalau semuanya akan baik-baik.


“Terus … kalau kamu bagaimana, bagaimana kalau Keluargamu melarang ku mendekatimu  lagi dan kamu di suruh meninggalkanku, apa yang kamu lakukan” tanya Bastian ia balik bertanya pada istrinya.


Tapi Rara menjawabnya dengan sangat berat, bahkan  beberapa kali menarik napas panjang,


“Aku tidak tau Bastian”


“Loh kok gak tau” Bastian tidak senang jawaban yang di berikan istrinya.


“Iya, aku belum yakin nanti aku harus menjawab apa”


“Itu artinya kamu ada kemungkinan besar meninggalkanku jika di suruh keluargamu”  wajah Bastian terlihat memerah


“Aku bilang belum tau, Bastian”


“Itu artinya kamu ragu pada pernikahan kita Ara,” kata Bastian


Tebakan Bastian benar, Rara  masih  belum siap membawa Bastian ke rumah keluarganya.


                                     *


Karena beda ibu, Rara berbeda  juga dari kedua adiknya.


Aisah cantik dengan kulitnya yang  hitam manis, dan Riski juga, mereka berdua mengikuti gen emaknya.


Sedangkan Rara  kulitnya putih dan tinggi teryata emak yang melahirkan Rara, wanita yang cantik.


Sekarang semuanya sudah jelas, jika ia bisa  melupakan  masalah itu dan menatap kedepan, ibunya juga tidak pernah marah-marah pada Rara lagi, malah terlihat sungkan seperti ia merasa punya salah pada Rara.


Tapi tidak untuk babenya Rara, ia belum bisa berbaikan , padahal emaknya sudah meminta maaf.


Akhirnya Rara dan Bastian tiba, berhenti di salah  satu rumah permanen berlantai dua, bercat biru


Untung rumah yang di kontrak babehnya lumayan besar dan memiliki gerbang . Pemilik rumah kontrakan teman  babehnya  Rara.


Ia memilih rumah yang memiliki pagar agar Calvin tidak bermain ke jalan.


         *


Tangan  Rara mulai berkeringat , jantung mulai berpacu dengan kencang,


Tetapi  saat Rara tersiksa dengan perasaan takutnya.  Bastian terlihat tenang  lebih dewasa dari Rara, ia terlihat sangat tampan  dengan kemeja berwarna navi.


Di depan pintu sudah ada Aisah dan adek laki-lakinya , Alvin dan Sukma juga ada disana untuk menyambut keduanya

__ADS_1


Pada Rizky dan Aisah,  Rara sudah  cerita sebelumnya kalau ia akan menikah dengan seorang Aktornya, adik laki-laki bahkan tidak percaya Rara menikah dengan seorang Aktor tampan tanah air. Bastian Salim


Calvin  bocah tampan itu langsung berlari menyambut mereka berdua,  setelah ia lihat yang keluar dari mobil mewah itu adalah ibunya


“Wah, Mpokku hebat menikah dengan artis,” ucap Risky .


“Selamat datang Bastian,” sapa Sukma sumringah


“Iya Mbak Sukma”


Rara  ingin rasanya melarikan diri melihat tatapan  dingin sang ayah.


‘Apa babe akan marah dan  mengusir Bastian?’


Melihat ketakutan di wajah sang istri, Bastian menggenggam tangan Rara dengan erat  memberinya dukungan.


Bastian menenteng keranjang buah yang berukuran besar itu, Rara baru sadar ternyata , Tian membeli keranjang parcel buah  yang besar.


Ia mengangkat  oleh-oleh itu dari jok belakang mobilnya.


“Assalamualaikum” Sapa Ara dari pintu masuk,


“Wallaikumsalam,” sahut  Emaknya Babenya bersamaan


Duduk  bersama kelurga  di saat seperti ini, membuat Rara seperti duduk di ruang pesakitan, merasa seperti dalam ruang persidangan. Jadi  Jaksa adalah babehnya sendiri dan emaknya  jadi hakimnya.


Dua kipas angin menyala,  tapi bisa-bisanya Rara mandi keringat


Tapi  tidak bagi Bastian, iaterlihat sangat tenang, ia menyembunyikan wajah groginya di balik senyum ramah yang ia pamerkan


“Assalamualaikum” Sapa Ara dari pintu masuk,


“Wallaikumsalam,” sahut  Emaknya Babenya bersamaan.


Rara masuk dengan wajah menegang.


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2