Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Aryo bukan "BOCAH" yang aku kira .


__ADS_3

Aryo menolak hidungku.


“Kok malah diem?”


“Haa?”


“Ditanya kok malah diem, Aida?”


“Nggak, tadi lagi mikirin aja penjelasan kamu yang mantap.” Segera kuacungkan kedua jempol untuknya.


“Keknya kamu masih ragu.”


“Ragu kenapa?”


“Ya, tentang malam pertama tadi itu. Atau mau praktek langsung? Biar tidak ada sekat di antara kita lagi.”


Waduh! Ini bocah benar-benar terjebak dengan bacaannya kali, ya? Tapi, setidaknya sekarang aku mulai yakin, Aryo bukanlah remaja yang masak dengan karbit. Atau lebih kerennya, lebih tua dari umurnya.


“Hp, kamu bunyi!” Untung saja ada panggilan masuk. Setidaknya aku tidak salah tingkah setelah mendengar kalimat Aryo barusan.


“Iya, Pa!”


“Papa tunggu di ruang meeting!”


“Siap, bentar lagi Aida dan Aryo ke sana.”


Segera kututup sambungan telepon, lalu memasukkan alat komunikasi yang saat ini memegang kekuasaan banyak orang, termasuk aku. Tanpa, HP. Berasa ada yang kurang.


“Gimana?”


“Kita ke sana sekarang!”


“Ayuk! Tapi transfer dulu tenaganya!”


“Abeng!” Aku menggertak dengan tatapan tajam.


“Atau aku yang kirim debarannya?”


“Udah, deh! Ayok!”


Kutarik pergelangan tangannya ke luar. Tetapi saat hampir sampai ke pintu, dia merem langkah.


“Ada apa lagi?”


“Kameranya di taruh di mana, ya?”


“Kenapa emangnya?”


“Ngga, hanya nanya!”


**


Para kepala bagian perusahaan sudah berkumpul di ruangan. Duduk dikursi yang bisa diputar sebagai penghilang lelah.


Di depan mereka ada cangkir minuman berbagai rasa. Ada kopi, ada kopi susu, pokoknya sesuai permintaan.


“Selamat datang kembali, Bu Aida!” sapa Hasan. Tapi, aku tahu dia sedang berusaha menahan kikuk.


Pasti, dia sudah melihat rekaman CCTV yang ada di ruangan papa tadi. Aku memberi isyarat dengan mengangkat dua alis. Dia mengacungkan jempol. Aku mengangguk.


Sekian menit kemudian, rapat dimulai. Aku dan Aryo duduk bersebelahan. Kulihat dia gugup. Ternyata dia memang tidak terbiasa dengan acara formal. Sehingga terlihat serba salah. Apalagi yang ada di ruangan semuanya memakai jas dan dasi.


“Tidak apa-apa,” bisikku saat dia mengarahkan pandangan pada semua orang, lalu berhenti di wajahku.


Napasnya terdengar berat. Aku tersenyum. Hasan yang sudah tahu hubungan kami, hanya menekurkan kepala.


“Baiklah! Bapak dan Ibu! Hari ini, Aryo akan mulai kerja di kantor ini. Saya ingin, ada yang membimbingnya. Untuk tiga bulan ke depan, dia harus menguasai bidang marketing, lalu perencanaan, kemudian baru pengelolaan proyek.”


Semuanya menatap Aryo dan aku yang mungkin mereka sangka akan kembali ke kantor ini.


“Lalu, Bu Aida, bagaimana, Pak? Kenapa tidak beliau saja yang mendampingi?”


“Saya ga akan kembali ke kantor ini. Qualification saya ga di perusahaan ini. Biarlah papa mencari orang yang tepat untuk menjadi penerus beliau.” Aku menjawab dengan tenang.


Rapat pun berlanjut, sampai akhirnya Aryo akan satu ruangan dengan Mba Inge. Kepala Divisi marketing yang suka dandan, supel. Tapi, dia pernah selingkuh.


Papa pernah hendak memecatnya, tetapi karena anaknya masih butuh biaya. Mba Inge dimaafkan dan tetap bekerja di perusahaan. Karena memang dia sangat menguasai bagian pemasaran.


Saat ini, aku yang gamang. Jangan-jangan nanti suamiku dia kadali dengan bujuk rayu buayanya. Apalagi, dia sering menatap sayu pada Aryo yang *******-***** jemari.


Aku tidak akan izinkan. Aryo, harus satu ruangan dulu dengan laki-laki.


“Pa! Kalau untuk marketing, Aryo sudah biasa, Pa. Kenapa tidak ke perencanaan dulu?”


“Aida! Bagian perencanaan sudah penuh, jadi Aryo diletakkan di bagian pemasaran dulu.”


Putus sudah harapan, nanti sampai di rumah. Aku akan mendemo papa. Aku tidak mau, Aryo dekat dengan Mba Inge.


“Mulai besok, ruangan kamu ada di sebelah ruangan ini. Selamat bergabung, dan semoga betah.” Mba Inge mengulurkan tangannya untuk menyalami Aryo.


Lelakiku meminta persetujuan, aku mengangguk.


“Perasaan, aku pernah lihat adik Bu Aida ini, deh! Tapi, di mana, ya?” Keningnya berkerut.

__ADS_1


“Salah orang kali, Mba! Kami duluan, ya! Mudah-mudahan besok Aryo bisa masuk kantor sesuai waktunya.”


Papa tadi memperkenalkan Aryo sebagai anak teman baiknya. Dan sudah dianggap seperti anak sendiri. Makanya mereka langsung mendekati suamiku untuk bersalaman. Terakhir, Mba Inge yang terlihat agak beda ketika menyalami suamiku.


“Baik, Bu!”


Aku dan Aryo langsung ke parkiran. Sebelumnya sudah diberi tahu papa, kalau kami pulang pakai taksi online saja. Karena beliau ada rapat lagi dengan perusahaan lain.


Di mobil, wajahku mungkin sangat kacau untuk dilihat. Sehingga Aryo menatap heran, tapi tidak bertanya.


“Mba! Mau jalan-jalan ke satu tempat, ga?” Dia bertanya dan berusaha menggenggam jemariku.


Namun, aku masih terganggu dengan sikap Inge tadi. Aku bagai terbakar, apa benar aku takut kehilangan Aryo, saat ini?


“Ke mana?”


“Ke surga,” jawabnya.


“Emang di dunia ada surga?”


“Ada! Nanti Mba akan lihat dan rasakan betapa indahnya surga dunia itu.” Aryo mengedipkan mata.


Aku kembali merasa debaran di dada semakin cepat. Darah pun terasa lebih panas mengaliri urat nadi. Untuk membuang kelengahan, segera kualihkan wajah ke kaca mobil.


“Aryo!” Aku kaget, jemarinya membelai paha.


Entah ke mana aku akan dibawa oleh bocah ini, tapi aku tidak diizinkan bertanya banyak. Setiap kali mau buka suara, dia mendelik. Bahkan sampai naik taksi online yang dipesan, dia tetap tidak menjawab pertanyaanku.


“Pak, aplikasinya dimatiin aja! Saya akan bayar carteran penuh untuk satu hari.”


Aryo meminta sopir taksi online dengan armada minibus Avan*za tersebut mematikan aplikasi pemesanan.


Awalnya si sopir ragu. Tapi setelah suami bocahku menyerahkan lembaran seratus ribu setengah juta, laki-laki dengan seragam biru itu langsung ngambil sikap.


Dalam hati, aku mulai bertanya-tanya. Ke mana kami akan pergi? Apa dia memiliki rencana jahat, sebab semalam aku ga mau melayaninya di ranjang.


Aryo memberi petunjuk tempat yang akan dituju. Aku gelisah.


Lokasi itu lumayan jauh dari kota, tempatnya pun masih banyak belantara. Apa yang harus kulakukan saat ini? Mengikutinya atau minta turun. Jika nanti dia ingin berbuat jahat gimana? Biasanya anak seusia Aryo nekat melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


“Mba ga usah cemas! Aku ga bakal mencelakakan kamu, kok! Suamimu ini, walau bocah, masih berpikir pakai logika.” Dia tersenyum tipis.


Perasaanku campur aduk. Antara percaya dan ragu. Tetapi, aku ini sekarang istrinya.


Kewajiban istri adalah mempercayai suami, karena dia sudah berhak penuh pada kehidupanku. Tetapi, kalau dia macam-macam, aku akan bertahan untuk hidup. Itu pun satu kewajiban. Membela yang benar.


Emang Aryo salah apa? Duh! Pusing, dedek, Bwang!


“Melamun, Mba? Sudah sampai ini!”


Aku tersentak, lalu tersenyum ala kadarnya.


“Serius, Beng? Di sini? Ini di mana, sih? Katanya ke surga?”


Pertanyaan demi pertanyaan bergulir bagai pemaparan bola bowling.


Dia menangguk dan meminta sopir untuk menunggu di mana dulu, nanti akan dihubungi lagi sekitar jam empat sore.


“Siip, Gan! Gampang itu!” Supir mengangguk dan tersenyum.


“Nomor di aplikasi sama yang untuk ditelepon sama, kan, Pak?” Aryo membungkukkan badan di dekat pintu pengemudi.


Lelaki dengan wajah turis itu kembali mengangguk dan meyakinkan.


“Ayok!” Aryo menarik pergelangan tangan.


Langkahku agak sulit diajak mengikuti langkah Aryo yang cepat. Gamis yang kupakai melebihi mata kaki.


“Angkat aja dikit,” sarannya saat kami melewati jalan setapak.


Entah ke manalah, si Aryo mau membawaku. Katanya ke surga? Jangan-jangan dia memang ingin menghabisi nyawaku.


Tempat ini masih lengang, rumah penduduk ada, tapi agak jarang. Apalagi saat ini sepertinya Aryo membawaku ke tempat tanpa penghuni. Jalannya saja hanya bisa dilewati pejalan kaki dan motor.


Di kiri dan kanan jalan, kulihat saja. Eh. Kok malah nyanyi, sih? Sungguh! Di kiri dan kanan jalan hanya ada pohon-pohon besar dan semak setinggi pinggang. Bagaimana tidak ngeri coba?


Ketemu Kunti atau pocong, aku tidak akan serabut ini. Masih bisa dihajar dengan ayat Kursi. Tetapi, ini?


Omaigat!


“Beng! Kamu ga ada niat jahat, kan? Ngajak aku ke sini?”


Dia menghentikan langkah, lalu membalikkan badan.


“Mba! Ga usah suuzon gitu deh, sama suami! Pikiran negatif itu hanya buang-buang energi. Aku masih waras dan punya iman dalam dada.” Dia menatap tajam.


“Habisnya, kamu ngajak aku entah ke dunia mana? Emang di sini, ya? Pintu ke surga?” Pertanyaan konyol ala Sizuka ke Doraemon.


Dia mengernyitkan alis.


“Mba! Aku ini suamimu, lho! Memang kita yang menikah. Tapi, Mba harus ingat, keluarga kita sudah saling kenal. Ya, ga mungkinlah, aku mengecewakan dan membuat malu ayah dan ibuku dengan perbuatan keji dan mungkar. Di dunia masuk penjara, di akhirat di kerak neraka. Jika aku tega membunuh kamu. Sama suami itu mesti percaya!”


Eh, dia malah ceramah. Aku, kan jadi terdiam. Melawan dalam hati, kesal bercampur keki. Tentu saja rasa itu membuat wajahku mengerut.

__ADS_1


“Mba! Andai saja ada harimau yang ingin menerkam kamu saat ini, sebagai seorang suami, aku rela mati, asal kamu selamat. Walau aku belum menitip keturunan di rahim kamu! Begitulah tanggung jawabku sebagai seorang suami. Jadi, ga usah berburuk sangka. Nanti Mba pasti akan lihat surga itu!” Dia meyakinkan dengan tatapan dan gaya bicaranya yang memang lugas.


Aku tetap berdiri dan enggan melangkah. Belajar mempercayai orang yang baru dikenal itu tidak semudah melupakan mantan. Eh, itu pun sulit sebenarnya. Tidak semudah menepuk nyamuk nakal.


“Mba, percayalah! Aku tidak akan mencelakai, Mba! Demi Allah, demi Rasullullah. Sejak kita sah jadi suami istri, aku sudah meyakinkan diri untuk menjaga dan melindungimu sekuat tenaga. Percayalah,” ucapnya pelan, tapi penuh intonasi.


Aku serba salah, bingung mau menjawab apa. Akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti tarikan tangannya.


“Kalau Mba capek, biar aku gendong!”


“What? Kamu mau gendong aku? Apa ga kebalik, badan aku lebih gede, Beng!”


“Iya, tapi semangat aku jauh lebih besar dari badan, Mba!”


Astagah! Masih sempat dia membuly positif dalam hutan belantara seperti ini? Dasar bocah!


“Ga, usah! Aku masih bisa jalan sendiri.”


Berjalan berdua di tengah belantara begini, cukup membuat tegang. Apalagi ada suara-suara aneh yang seakan mengikuti langkah.


Namun, semua hilang ketika sampai di sebuah bukit berumput hijau. Di bawahnya mengalir sungai kecil berair jernih. Beberapa rumah penduduk berdiri berjauhan. Rumah panggung yang terbuat dari bambu dan papan. Luar biasa.


“Ini surga kita. Ayok!”


“Ke mana lagi?”


“Ke rumah yang sudah kusiapkan untuk istriku sejak lama!”


“Maksudnya?”


“Gosah bawel! Ayok!”


Tanganku ditarik menuruni perbukitan. Udara segar memenuhi rongga pernapasan. Tubuh yang tadi panas karena berjalan jauh, sekarang lebih adem dibelai lembut angin lembah.


“Bang Aryo ...! Woi! Bang Aryo datang!”


Ketika kami sampai di jalan datar, aku dikagetkan dengan suara teriakan anak-anak kecil.


Mereka berlarian mengejar. Aryo langsung membungkuk, lalu duduk di jalan dengan bertumpu pada lutut.


“Kalian apa kabar?”


“Baik, Bang! Kami kangen Abang!” Lima orang bocah usia tujuh dan delapan tahun terlihat girang menyambut Aryo. Sudah seperti pahlawan saja dia dikerubungi begitu.


“Abang, juga! Bagaimana orang tua kalian? Sehat semua?”


Mereka tersenyum dan mengangguk.


“Batiknya sudah banyak yang jadi, Bang! Tapi, kata ibu aku belum ada yang beli. Karena Abang ga datang bawa pelanggan lagi.”


Aryo membelai kepala bocah yang tadi menjawab pertanyaan suami. Aku sendiri bingung. Kenapa Aryo seakan jadi pahlawan di tempat ini.


“Ohh, iya! Kenalin,” ucap Aryo lalu menengadah ke arahku.


“Ini siapa, Bang? Kakaknya, Abang?”


Duh! Anak kecil saja bisa menilai kalau wajahku kelihatan lebih tua dari Aryo.


Aku menahan diri untuk tidak mengomel. Hal seperti ini akan sering kudengar. Apalagi mereka terlalu kecil untuk dibentak. Bukankah, anak kecil itu jujur?


“Ini istri abang! Cantik, kan?” pujian Aryo membuatku merasa lebih baik.


“Cantik! Nama Kakak siapa?” tanya mereka bersamaan.


Aku melakukan hal yang sama dengan Aryo. Duduk dengan beralas lutut, biar kami sejajar. Setidaknya, aku sudah berusaha menghargai, mudah-mudahan mereka mau bersahabat.


“Nama kakak, Aida!”


“Waah, keren! Namanya bagus, ya? Assalammualaikum, Kakak. Nama saya Ardi, ini Anto, itu Bima dan satu lagi, Surya!” Matanya berbinar saat memperkenalkan sahabat-sahabatnya.


“Waalaikumsalam, Makasih, ya, Kakak sudah diberi tahu. Kampung kamu bagus.”


Memberi pujian, adalah langkah awal untuk memasuki hati mereka.


“Semua berkat Bang Aryo.”


Keningku berkerut, lalu kulihat Aryo yang cuek bebek saat Ardi memberi tahu.


“Kakak, ga ngerti!”


“Ayo, ikut! Biar Kakak ngerti!” Tanganku ditarik, aku dipaksa mengikuti langkahnya. Sedangkan Aryo dan yang lain berjalan di belakang kami.


“Ke mana, Dek?”


“Ikut aja! Ga usah banyak tanya. Di sini tabu kalau bawel. Bisa diculik Ganbala!”


Waduh! Berat juga aturannya! Atau dia sedang membuat cerita agar aku tidak banyak bersuara.


Ardi mengajak ke sebuah tempat yang membuatku terkesima. Sebuah taman bunga, ada air mengalir yang berasal dari sungai kecil di atas pemukiman. Berlembar-lembar kain batik berkibar dihembus angin. Mengagumkan sekali.


“Ini tempat apa, Dek?”


lanjut 👉

__ADS_1


__ADS_2