
Hartati pulang ke rumah, ia sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Tetapi melihat tatapan mata Rara tadi, ia merasa ada yang salah dengan apa yang dilakukan olehnya.
Saat tiba di rumah Bastian sudah menunggunya dengan tatapan kemarahan, baru kali ini berteriak marah pada sang ibu.
“Apa yang ibu lakukan? Apa aku tidak berharga untukmu?”
“Bastian, wanita itu yang meminta duluan"
“Ibu kenapa tidak membiarkan anakmu ini memilih kebahagiannya sendiri?”
“Bastian aku hanya ingin terbaik”
“Terbaik apa Bu? Aku mencintai Rara saat bersamanya aku merasa bahagia apa aku tidak boleh merasakan itu?”
“Ibu hanya ingin terbaik untuk anak Ibu"
Saat mereka berdua bertengkar, ayah Bastian dan omahnya Bastian turun dari atas, mereka berdua mendengar.
“Apa yang ibu lakukan lagi kali ini? Apa kamu akan selalu bertindak sesukamu seperti ini tanpa mendengar pendapat kami?”
“Iya jika itu kebaikan anakku!”
Mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, Bastian memilih keluar dan meninggalkan rumah.
“Kebaikan apa? Kebaikan saat kamu memisahkan anak dan ayahnya? Kamu sudah menghancurkan rencana kami dengan ibu ….!”
“Apa maksudnya, apa yang coba ingin kamu katakan? Tadi juga Rara reaksinya seperti itu”
“Kamu selalu bertindak sesuka hatimu Hartati, itulah membuatku tidak pernah suka dengan kamu. Alvin adalah putra Bastian, dia anak yang dulu ingin kamu gugurkan dari wanita itu”
“APA MAKSUDNYA?”
“Aku sudah menyelidikinya, saat Rara pertama kali membawanya ke apartemen Bastian, dia putra almarhum Yolanda, wanita yang dulu kamu usir dari rumah ini, wanita yang kamu paksa mengugurkan kandungannya”
“Matamu ditutupi kebencian dan curiga Hartati, sampai kamu tidak bisa melihat kebenaran. Apa kamu tidak bisa melihat kalau Alvin persis seperti Bastian saat kecil? Lihat ini, lihat buka matamu!”
Lelaki itu mengeluarkan foto Bastian kecil dan foto Alvin dari dompetnya, melemparkan ke hadapan istrinya.
Seketika tubuhnya mematung menatap kedua foto yang nyaris sama baik dari warna kulit, bola mata bahkan lengkungan di sudut bibir keduanya saat mereka tertawa.
“Mereka berdua memiliki kesamaan golongan darah, alergi makanan bahkan hobby”
“Aku kasihan pada Bastian, ia menyayangi anak itu dengan sangat dalam, tetapi ia tidak tahu kalau itu adalah putranya,” ujar Marisa menghela napas panjang.
“Aku dan ibu sangat senang saat mereka berdua menikah, walau kita tidak dilibatkan dalam pernikahan itu, bagiku cucuku yang paling penting. Tetapi saat ini, semuanya hilang berantakan …! Puas kamu. Bagaimana kamu menjelaskan ini pada Bastian?”
Hartati hanya diam, matanya menatap dalam kedua foto yang di tangannya.
__ADS_1
“Kenapa kita tidak merebutnya saja?”
“Dengan apa? Ha? Dengan apa … Kekuasan keluargamu, seperti yang kamu lakukan pada ayahnya Rara dan adiknya?”
“Kita bisa mengambil tes DNA”
“Lalu?” Lelaki itu sangat geram melihat istrinya.
“Lalu kita bawa ke pengadilan,” ucap wanita itu ragu dengan jawaban yang ia berikan
“Lalu kamu akan masuk ke dalam penjara karena tindakan pidana, kamu beberapa kali ingin melenyapkan wanita itu, bahkan seorang dokter kandungan bersaksi padaku . Kamu memaksa memberikan suntikan keguguran pada Yolanda”
“Itu masa lalu”
“Tidak akan ada masa depan tanpa ada masa lalu, jika kamu menyinggung masa depan Alvin maka ia akan membawa kabar tentang ibunya dari masa lalu, kamu paham?”
Hartati hanya diam.
“Kenapa tidak memberitahukan padaku selama ini?”
“Oh, jika kami berterus terang padamu. Kamu akan menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkannya, iya kan?” Oma Bastian menatap menantunya.
Mereka berdua tahu kelakuan kejam Hartati tetapi, Salim tidak bisa menghentikan istrinya karena orang tuanya punya kekuasaan dan penyumbang dana besar untuk perusahaan Salim.
Belakangan ini perusahaan mereka lagi goyah dan butuh dukungan ayah mertuanya yang pemegang saham terbesar di perusahaan itu.
“Jadi anak yang diangkat Rara, anak Bastian?"
“Iya,” jawab Bardi Salim menatap tajam pada istrinya.
Bardi Salim dan oma Bastian sudah tahu kalau anak Rara anak Bastian, karena itulah mereka berdua setuju Bastian menikah dengan Rara. Tetapi rencana itu sekarang di rusak Hartati.
“Apa batin tidak bergejolak saat melihat anak itu? Saya yang melihatnya hati saya seakan-akan tersentuh”
“Bagaimana bisa tersentuh, dia sendiri menyumpahi Rara dan putra mati.” Bardi Salim melirik sinis istrinya.
“Aku tidak tahu kalau dia …-”
“Dengar jangan lakukan apa-apa mulai sekarang, karena bisa jadi apapun yang kamu lakukan bisa jadi membuat Rara semakin marah”
“Kenapa kita tidak merebutnya saja”
“Dengar … aku sudah bilang tadi, apa kamu tidak dengar! Jangan lakukan apa-apa” Bardi Salim sangat marah melihat sikap sewenang-wenang istrinya.
“Kenapa harus takut pada anak kampung seperti dia, kita hanya akan mengambil anak Bastian”
“Itu bukan anak Bastian, itu anak Rara, anak Bastian sudah lama meninggal, bukanya kamu yang memaksa mengugurkan kandungan Yolanda?”
__ADS_1
“Apa maksudnya …?” Tiba-tiba Bastian datang dari luar.
Wajah ketiga orang tua itu langsung pucat.
“Bastian, di sini duduk dulu.” Omanya memegang tangan .
“Tidak, katakan padaku ayah tadi bilang Yolanda mengugurkan kandungannya atas permintaan Ibu?”
“Tidak anakmu masih hidup,” ucap ibunya.
“Ibu apa maksudnya?”
“Bastian duduklah, tenang mari kita bicarakan,” ujar Bardi mencoba menenangkan putranya.
“Anak Rara adalah anak kamu,” ucap Ibunya.
“Kamu memang wanita gila,”ucap Bardi Salim menatap tajam pada istrinya.
“Ibu …? Apa maksudnya.” Wajah Bastian menegang. “Apa benar Alvin anak Yolanda?”
“Iya,” jawab Ibunya lagi.
Tanpa mendengarkan penjelasan orang tuanya, Bastian lari, ia ingin menemui Rara.
“Bastian tunggu. Jangan kesana Nak, semuanya semakin buruk nanti! " Teriak Bardi Salim
Bastian terlalu bersemangat mengetahui kabar kalau Alvin adalah anaknya.
“Aku sudah menduga kalau Alvin adalah anakku,” ucap Bastian ia berlari menuju mobil, ia bersiap ingin menemui Rara.
“Aku sangat senang, ya ampun anak tampan itu, anakku
ampun Rara., putramu putra, putraku juga.”
Bastian mengusap buliran air di matanya ia bahagia, karena anak lelaki yang selama ini ia sayangi adalah putra kandungnya.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karyaku, tolong tekan like dan tanda hati iya kakak. Baca juga karyaku yang lain.
-Berawal dari cinta yang salah. (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-The Cursed King(ongoing)
__ADS_1