
Dalam mobil Rara lebih banyak diam.
“Apa yang kamu pikirkan Ra?”
“Aku tidak tahu harus berbuat apa Bastian, aku tidak ingin keluargaku ikut dapat masalah karena aku”
“Ayo kita ke rumahku”
“Untuk apa?”
“Kita akan bicarakan dengan oma, aku mau minta izin menikah dengan kamu”
“Apaaa? Jangan main- main Bastian”
“Aku tidak ingin kehilangan kamu dan Alvin Ra
Rara merasa akan ada bencana lagi, saat Bastian mengajaknya ke rumah keluarganya.
“Bastian ayo kita pikirkan lagi, jangan seperti ini, aku belum setuju akan menikah dengan kamu kan?”
Bastian menatap Rara dengan tatapan lemah.
“Apa karena pinangan ibu Kenzo?”
“Tidak”
“Tidak bagaimana? Kalau tidak …. Lalu, kenapa kamu menolak ku?”
“Karena ibumu Bastian … Karena ibumu. Apa kamu ingat yang aku bilang dulu, aku tidak akan menikah dengan kamu selama ibumu tidak menerimaku”
“Rara itu sangat sulit Ra, jangan lakukan itu”
“Bastian tolong mengertilah posisiku, aku tidak hanya memikirkan hidupku sendiri, aku memikirkan nasib keluargaku. Ibumu akan mengusik pekerjaan ayahku, adikku, bahkan adik lelakiku”
“Itu tidak akan terjadi ayo kita menemui oma”
“Apa kamu yakin?”
“Iya,” jawab Bastian dengan yakin.
“Baiklah, kali ini aku akan mengalah padamu Tian, besok aku akan ikut denganmu. Tapi ketahuilah, aku tidak ingin babeku terkena masalah, karena aku”
“Baiklah itu tidak akan terjadi”
__ADS_1
**
Keesokan harinya Rara memilih percaya pada Bastian, ia setuju di bawa ke rumah keluarga Bastian.
“Ayo, omah menunggu kita di ruang kerjanya.” Bastian menggenggam erat telapak tangan Rara. Wajahnya sangat bahagia saat Rara menuruti permintaanya.
Masuk kedalam rumah disambut segala kemewahan, segala yang dalam rumah Bastian terlihat mahal, membuat nyali Rara hampir-hampir menciut
Ia berusaha bersikap tenang, walau ini pertama kalinya baginya masuk ke rumah Bastian, susah bagi Rara menggambarkan kemewahan itu, ia tetap tenang , padahal hatinya berkecamuk.
Hingga tiba di ruangan yang begitu luas, yang bisa dipastikan kamar sinyonya besar, Kamar yang begitu luasnya, yang bisa dipakai untuk bermain sepak bola,
“Oh kalian sudah datang,” omah Bastian sedang duduk di kursi urut listrik diawasi seorang dokter keluarga.,
“Halo Oma saya datang,” Rara meraih punggung tangan wanita itu, lalu menyelam dengan sopan.
“Terimakasih Rara kamu datang”
Omahnya Bastian sudah tua jadi segala penyakit mudah datang menghampirinya
“Kata Bastian, Oma yang bicara denganku, ada apa om
Tapi omahya Bastian hanya tersenyum lembut menanggapinya
“Iya omah,” jawab Rara
“Baiklah Ra, oma ingin bilang aku mendukung hubunganmu dengan Bastian”
Rara menarik napas lega, setidaknya masih ada anggota keluarga Bastian yang mendukung hubungan mereka.
Saat mengobrol dengan oma Bastian ada panggilan masuk ke nomor Rara.
Wajah Rara tampak berat karena tidak biasanya adiknya Aisah menelepon, ia merasa jantung berdegup dengan sangat kencang merasakan ada sesuatu yang terjadi.
“Sebentar iya Omah Saya mau menerima telepon dulu.” Rara keluar dari rumah.
“Halo Sah, ada apa?”
“Mpo dimana?” tanya Aisah di ujung telepon
“Ada di rumah, teman, ada apa?”
“Mpok babe …”
__ADS_1
“Ada apa?” Rara menahan napas.
“Babeh diskors dari pekerjaannya dan Aisah tidak tau karena apa, Aisah dirumahkan selama sebulan dan Risky di keluarkan dari team sepak bola”
“Calvin ….”
“Ada dengan dia ada apa?”
Beberapa orang mendatangi TK Alvin dan bertanya tentang identitas Mpok dan orang tua Alvin”
Saat itu juga ia menyadari kalau gendang perang sudah di mulai, ini terjadi saat ia bertemu dengan oma dan ia bersama Bastian.
“Kamu memancing saya marah,” guman Rara mengepal tangannya menahan emosi
“Apa salah keluargaku” kalau kamu tidak suka padaku cukup lakukan padaku saja
“Akan saya buat kamu kebakaran jenggot. Jika kamu melakukanya demi anakmu, aku juga melakukan semua ini demi anakku,” ucap Rara, matanya menatap Ibu Bastian dan Viona yang duduk didepan dengan suara tawa meledek, mereka tertawa diatas derita keluarganya Rara.
“Kamu akan menyesal Ibu Hartati, kamu sedang membangunkan ular yang sedang tidur,” ucap Rara pelan, ia tertawa sinis pada kedua wanita itu.
Tatapan mata Rara yang terlihat menakutkan sempat membuat ibu Bastian terdiam, tidak ingin mengalah ia mendekati Rara.
“Kamu sudah melihatkan, aku tidak main-main,” kata Nyonya Hartati tangan Rara bergetar ingin rasanya ia menjambak Viona yang tertawa mengejeknya
“Baiklah, ayo kita mulai,”ucap Rara menatap mereka berdua dengan senyuman menantang, ia mulai memutar otaknya, hingga ide gila itu muncul.
Tanpa diduga Bastian datang dari dalam rumah
“Udah Ra kenapa malah di sini?” Ia menatap ibu dan Viona dengan tatapan menyelidiki.
“Aduh … antar aku pulang Tian, jantungku sakit yang tadi malam rasanya sangat sakit,” kata Rara berbohong,
Mulai melancarkan aksinya,
“Benarkah?” Bastian panik lalu membawanya ke mobilnya ingin mengantar pulang.
“Tian!” Panggil Viona dan Hartati. Tetapi ia tidak menghiraukannya karena panik melihat Rara kesakitan.
Rara mengedipkan mata pada Viona sebelum masuk ke dalam mobil.
“Dasar licik dia hanya pura-pura Tante,” ucap Viona kesal
“Rara lu lawan,” ucap Rara lalu meninggalkan rumah Bastian.
__ADS_1
Bersambung ….