
Rara keluar dari Bastian dengan raut wajah seperti orang sedang kebingungan, pengakuan Bastian membuatnya merasa seperti orang gila. Ia mencoba mengingat malam itu, bagaimana pun ia mencoba mengingat otaknya tidak menemukan jawaban.
“Apa benar Bastian melakukannya malam itu, masa, iya, aku tidak merasakannya, benar gaksih, bocah gila itu melakukannya padaku?” Ia bicara sendiri seperti orang yang depresi.
"Bagaimana kalau sampai emak mendengar ini, bisa-bisa aku dijadikan dendeng , gagal menikah saja ia sudah menggila apalagi kalau gue sampai bunting, tamat sudah hidup gue." Rara menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan sesekali ia jedotin ke stang motornya.
Motornya ia hentikan di jalan, berjalan ke sana -kemari sesekali ia memeluk tubuhnya merasa malu saat memikirkan Bastian menidurinya dan sesekali ia menyentuh bagian intinya, mencoba menimbang-nimbang apa bagian itu terasa sakit atau semacamnya. Tetapi semakin ia mencoba mengingat semakin ia merasa pusing.
Tidak mendapatkan apa yang dirasakan, ia mencoba mengingat lagi. 'Apa jangan-jangan ...?'
Rara memukul kepalanya, ia merasa bodoh, malam itu, ia baru ingat ternyata ia minum bir karena saat itu hotel terasa dingin makanya ia minum.
'Tapi aku hanya minum satu gelas, untuk menghangatkan tubuh, masa, ia aku langsung mabuk? Kamu bodoh Rara, kamu bodoh' ucap Rara mengutuki dirinya sendiri.
Ia berpikir semua itu kesalahannya. Karena ia sadar, ia memang selalu melakukan hal gila saat mabuk. Mulai dari lepas pakaian, tidur di sembarangan tempat sampai teriak- teriak. Minuman misi besar Rara, karena setiap kali minum ia akan mabuk, walau hanya porsi kecil.
Rara berpikir ia yang menggoda Bastian hingga terjadi hal itu, karena ia tahu Bastian orang yang baik tidak mungkin melakukan hal buruk padanya.
“Tidak ... harusnya aku merasakan sesuatu, tapi ini tidak ada. Tapi cincin ini membuktikan kalau ia memang melakukannya.” Rara seperti orang yang mengalami gangguan jiwa, mondar-mandir di pinggir jalan menarik perhatian orang yang melintas di jalan itu.
Bahkan ia lupa apa tujuan utamanya datang ke rumah Basti, tidak tahan dengan pikiran-pikiran gila yang menghantuinya, lalu ia menelepon sahabatnya yang bernama Sukma, wanita yang sudah memiliki empat orang anak dan sudah tahu tentang hal kawin dan dikawini.
“Kenapa Ra?” tanya Sukma di ujung telepon.
“Lu, sibuk kagak?”
“Saban hari, gue selalu sibuk Ra, ngurusin ini bocah-bocah, tapi ada ape? Tumben-tumbennya lu ingat ame gue, masih idup Lo ternyata” ujar teman Rara nyerocos kayak knalpot rusak.
“Iya ela lo, nyocroco aje, dengarin gue ngomong dulu nape”
“Iya, iya dah, mau ngomong ape …?”
“Kite ketemu iye di tempat biasa”
“Dimana? Di warung Kang Ujang apa di Warnet Sahat?”tanya Sukma.
“Di cafe Tirta, nanti gue traktir”
“Ok siap”
__ADS_1
Rara melajukan motornya menuju sebuah cafe tempat ia nongkrong bersama teman-temannya saat masih kuliah dulu.
Rara tiba di salah satu cafe bernuansa Rock in Roll yang terkenal dengan kopi tubruknya yang khas. Terletak di pinggir kota Jakarta di daerah Jakarta Pusat.
Saat ia tiba Sukma sudah duduk nyantai menunggu dengan beberapa cemilan berjajar di meja. Sahabat Rara yang satu ini, memang selalu seperti itu, saat diajak nongkrong ama Rara
segala jenis makanan kecil ia pesan, apa saat dibilang akan ditraktir. Tetapi Rara orang supel ama sahabat baiknya, ia tidak pernah mempermasalahkan hal kecil seperti itu, walau Sukma memesan segala jenis makanan, tidak akan marah. 'Ada makan tidak ada ia diam'
Itu prinsip hidup Rara.
“Loe udah nyampe, gue haus bangat pesan kopi dingin”
Wanita berambut pirang itu memesan dua kopi dan dua potong cake coklat .
“Ada ape, muke lo kusut amat, kayak kaos kaki sebulan kagak di cuci,” ujar Sukma gaya bicaranya nyemplak, sama seperti Rara dulu.
Namun, Rara saat ini sudah berubah, saat bekerja sama Bastian.
“Gue, nanya ini, nanya doang kagak ape-ape iya," ucap Rara
“Ape?” tanya Suka dengan mulut menyeruput kopi dingin dari sedotan.
“Haaa ... lu bunting?" Tanya Sukma dengan suara meninggi.
"Habis lu ama engkong, kalau elo bunting Ra"
Suara Sukma meninggi, membuat mata semua orang yang ada di cafe tertuju pada mereka.
“Lo norak tau gak, jangan teriak, gue cuman nanya," ucap Rara mendesis jengkel.
“Ok, baiklah kalau malam pertama gue sama suami yang sekarang kagak berasa lagi”
“Ha, kenapa?” Rara penasaran berharap ia dapat pencerahan.
“Karena gue sudah longgar”
“Tidak sakit?" tanya Rara lagi.
“Iya tidak, tapi enak iya' kan? Tapi ... tunggu! lu melakukannya sama siapa?”
__ADS_1
“Tidak, nanya doang, gue pikir jika pertama melakukannya bakalan sakit dan berdarah”
Mata sukma menyelidiki.” Ra, kalau elu melakukanya sama yang pedangnya lebih kecil tidak bakalan sakit, bahkan kadang tidak berasa. Tetapi kalau tongkatnya besar itu bakalan sakit dah... yang kagak perawan pun merasa jadi kayak perawan, bisa berdarah karena robek lagi. Nah, pertanyaan gue, elo ... melakukannya orang yang bagaimana tititnya besar apa yang tititnya kecil, apa sekecil terong ijo medan?” tanya Sukma dengan tawa mengekelangar dengan menunjukkan jari jempolnya.
Rara bukanya ikut tertawa malah bertambah bingung.
“Tapi siapa yang lakuin itu same lo? Pacar?”
“Terimakasih Mei, gue mau pulang dulu,” ujar Rara ia berdiri.
“Eh ...? lu cuman mau tanyain itu doang, kagak ade hal yang lain gitu ….?”
“Kagak ada. Makasi Mey, ini anggap saja gue traktir Lo ” Rara meninggalkan beberapa lembar uang seratus ribuan. Sebagai imbalan atas waktu sahabatnya, lalu ia naik motor lagi dan meninggalkan sahabatnya yang hanya menatap Rara yang terlihat sangat berubah dan bertingkah aneh menurutnya.
"Iiiih... sikuyuk kenapa ninggalin gue gitu aje sih." Sukma menyeruput kopi dingin milik dan ia ikut meninggalkan cafe juga.
Rara memacu kendaraanya ke sebuah taman kota dan duduk, lalu ia mengeluarkan ponselnya. Rara menelepon Bastian.
“Halo sayang kenapa?” Suara Bastian di ujung telepon.
“Ha …?” Rara mengecek nomor yang ia panggil, dia tidak salah melakukan panggilan dan Rara juga tidak salah mendengar. ”Bastian, ayo kita bicara”
“Mau bicara apa sayang?”
“Bastian hentikan jangan bikin aku emosi, katakan terus terang, apa kamu benar melakukanya?”
“Iya”
“Aku akan ke apartemen mu, datanglah ke sini, ayo kita bicara berdua”
“Aku tidak mau, nanti kamu membunuhku lagi," ujar Bastian, ia menggoda Rara dengan suara yang dibuat manja. Rara menjadi emosi tingkat dewa mendengar suara Bastian.
“Iya, aku akan menghabisi mu Bastian!” teriak Rara merasa frustasi.
“Baiklah, ayo kita bertemu, aku akan mencari tempat yang tepat, biar tidak ada wartawan" Ujar Bastian saat mendengar Rara emosi.
Rara setuju, ia akan bertemu dengan Bastian di satu tempat
Bersambung ....
__ADS_1
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga agar viewernya naik