
“Kakak tidak mau ikut,” kata rizki kegirangan karena baru pertama liburan keluar negeri apa lagi ke Inggris
“Tidak, kakak ada kerjaan Bastian juga masih di Bali.” Kata rara
“Asik. lebaran pertama di luar negeri nih,” kata Rizki, dengan semangat ia menyusun pakaiannya ke kopernya.
Akhirnya keluarga Rara terbang ke Inggris.
Besok atau hari ini akan hari bersejarah untuk keluarga Bastian salim, di mana untuk pertama kalinya Bardi salim berani melawan kekuasaan istrinya.
Ia juga sudah menelepon Bastian juga agar kembali ke Jakarta.
Setelah keluarganya pergi ia baru merasa tenang . merasa beban dalam pundak terangkat seketika.
“Loe sudah siap? Ia melirik Sukma, wanita itu mengubah penampilannya, ia memotong rambut panjangnya menjadi sebahu, ia menjelma menjadi gadis muda, setelah memotong rambutnya.
“Iya, tapi gue mau menambah perawatan biar tambah cantik, loe mau bayarin bos?.” Tanya Sukma bercanda
“Boleh, ayo, gue juga mau merapikan rambutnya jugalah,” kata Rara merasa perlu ikut potong rambut juga, setelah melihat Sukma terlihat cantik.
Disela-sela mereka melakukan perawatan. Sukma mengutarakan keinginannya, untuk memakai hijab.
“Tapi Ra, sebenarnya gue pengen pakai hijab, karena Yugo bilang ia mau balik setelah gue pakai hijab,” kata Sukma mulai curhat.
Rara dan Sukma memanjakan diri setelah beberapa hari ini, merasakan urat-uratnya saling bertarikan karena tegang . Tapi setelah semuanya sudah di tangan kini waktunya merenggangkan urat-urat dulu dan memanjakan diri.
“Mey, gue senang bangat, kalau loe hijrah, tapi harus datangnya dari dalam hati loe, gue dukung loe pakai hijab, kalau loe sudah merasa terpanggil dan merasa siap. Bukan karena di suruh ama suami loe yang tukang selingkuh itu, ia tidak pantas menyuruh orang memakai hijab padahal ia sendiri kelakuannya bejat, tergoda sama daun muda yang mengumbar auratnya.” Kata Rara sewot melihat sifat temanya yang lemah pada suaminya.
“ Tapi setelah semua itu, terus loe mau gitu! disuruh-suruh,” Kata Rara terlihat emosi jiwa.
“Kalau loe sudah siap memakainya gue sangat mendukung dan gue mau beliin entar selusin kerudung cantik untukmu,” kata Rara
“Loe, serius,” kata Sukma menunjuk hidung Rara dan bercanda.
__ADS_1
“Iya, tapi datangnya dari hati loe, itu kalau loe sudah siap dan merasa terpanggil, jangan karena loe ikut-ikutan dan karena terpaksa, Gue takutnya loe nanti seperti Artis yang ono artis sensasional itu, ngakunya dapat hidayah dan merasa merasa terpanggil dan gembar-gembor tapi mulutnya masih sama, tapi ujung-ujungnya di lepas dan kembali pamer aurat,kan, ia membuat seperti mainan. Gue gak suka loe seperti itu, gue mau loe memakainya karena panggilan dari hati ,” kata Rara terlihat keras dan sangat bijak
Ia menasehati Sukma yang ingin pakai hijab, tapi karena hanya suaminya berjanji akan kembali padanya. Rara tidak suka dengan cara yang seperti itu
Dasar lelaki egois dan tidak punya otak, dan tidak bersyukur padahal sudah punya anak dan punya istri cantik, tapi tidak merasa puas kata Rara dalam hatinya.
“Iya gue sendiri sebenarnya masih ragu, tapi ada keinginan kesana , makanya gue minta pendapat loe.” kata Sukma terlihat sendu.
“Iya , gue akan dukung loe kok, Mey asal loe sudah siap. Asal sudah siap dan berpikir matang-matang, jangan loe cuman pakai karena ikut-ikutan.” Katanya kemudian.
“Gue bingung, hanya ingin Yugo kembali.” Kata Sukma terlihat sedih.
“Kalau gue jadi loe , gue tidak akan mudah memaafkannya, justru gue ingin memberi pelajaran pada lelaki seperti Yugo, gue gak suruh loe bercerai, tapi beri ia pelajaran ,” Kata tata Rara.
“Apa gue bisa. Ra, gue gak yakin mampu karena tidak punya keahlian apa-apa, gak percaya diri,” kata Sukma,
“Loe itu cantik Mey, loe bisa mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari ia, jika loe mau, maka itu gue bilang ayo kita buat lelaki itu menyesal telah meninggalkanmu , gue akan bantu loe, mari kita balas dendam tanpa harus berbuat dosa dengan loe balas berselingkuh, itu sama saja loe sama kayak dia.” kata Rara.
“Jika berhasil loe jadi sekretaris pak Bardi salim, level loe sudah naik kelas.” kata Rara memberi semangat
“Ia betul, mari kita bekerja keras,” Kata sukma merentangkan telapak tangan tanda tos untuk rara.
Hari ini, sesuai rencana Bastian akan kembali ke Jakarta , tapi tiba-tiba ponselnya mendadak tidak bisa di hubungi, tidak aktif. Ia berpikir kalau sudah terjadi sesuatu padanya, bisa jadi ia di halangi agar tidak pulang. Karena rencananya hari itu rencananya Bardi salim mengumpulkan para anggota dewan mengumumkan bahwa perusahaan itu, saat ini miliknya seutuhnya dan akan diserahkan pada Bastian salim.
Ternyata semua rencana yang mereka susun tidak berjalan mulus, tokoh utamanya mendadak hilang dan tidak bisa di hubungi.
Bardi Salim terlihat duduk lemas Sukma juga terlihat panik
Bukan hanya itu masalahnya, tidak ada satupun yang datang memenuhi undangan pak Bardi salim. Para pemegang saham perusahaan bahkan petinggi perusaan itu juga tidak ada yang datang .Ia tidak diakui sebagai Direktur hanya Rara dan Sukma yang berdiri di belakangnya,
Padahal semua bukti dan dokumen sudah mereka pegang. Maka jika sudah seperti ini maka usaha mereka akan sia-sia.
“Haruskah kerja keras kita sia-sia.” bisik Sukma terlihat sedih, padahal hari itu ia sudah sangat cantik layaknya seorang sekretaris.
__ADS_1
Pak Bardi terlihat duduk lemas dengan wajah pucat pasih.
Ternyata Ibu mertuanya sudah menghalangi para pegawai untuk datang memenuhi panggilan suaminya. Ia mungkin tertawa angkuh menertawakan suaminya dan menertawakan Rara.
Ia membawa para pemegang saham itu keruangannya dan para petinggi perusahaan juga ia kumpulkan di salah satu ruangan agar tidak datang memenuhi panggilan Bardi Salim.
Rara, Mario, Sukma, dan salah satu supir hanya itu yang berada di pihak Bardi salim, mustahil rasanya untuk menang .
Bastian juga mendadak hilang. Ia mungkin tidak kenapa-napa, hanya di sembunyikan suruhan ibunya jadi tidak perlu terlalu khawatir karena ibunya mungkin tidak menyakiti Bastian, mungkin hanya di halangi agar tidak pulang ke Jakarta.
“Jangan panik,” kata Rara, ia juga tidak ingin kerja kerasnya sia-sia.
“Berikan aku laptop ayah,” katanya dengan cepat tangannya bekerja.
“Pergi keluar dan sebarkan gosip kalau di ruangan Direktur bagi-bagi bonus THR.” Kata Rara mulai menyusun siasat baru, melawan kelicikan ibu mertuanya harus berlaku licik juga.
“Mulai gosipnya dari pegawai bawah dulu, biar gampang datang, dari keliling servis bagian keamanan, suruh mereka semua kesini dan mengajak teman-temanya,” kata Rara.
Bukan Rara namanya kalau tidak bisa memecah masalah. Ia melakukan itu untuk menarik perhatian para pegawai agar mau memenuhi undangan Ayah mertuanya.
“Apa selanjutnya Ra, tanya Sukma bingung
“ Sediakan tempat duduk untuk tamu kita.” kata Rara dan tangannya merapikan amplop yang berisi duit itu.
“Ayah mau menuruti apa yang aku minta gak? Kata Rara terlihat tegas.
“Baiklah, aku akan melakukannya nak Ara.” katanya penuh harap.
“Jadikan aku sementara saat ini Direktur mengantikan Ayah, aku akan memberi mereka pelajaran yang tidak mau menurut pada Ayah,” kata Rara, terlihat marah.
“Baik ,” kata Bardi salim dengan yakin.
Bersambung
__ADS_1