
Maaf ya sayang nanti tante akan gendong, kata aisa mengusap –usap kepalanya.
Tapi karena sudah biasa ia yang menggendongnya dan mengasuhnya sejak dari incubator, hanya Aisah yang ia anggap Ibunya.
Saat Ken menggendongnya, ia menangis merentangkan tangganya minta Aisah yang menggendongnya.
“ Mam..ma..,ma,” panggilnya , Aisah sedih melihatnya. Ia menutup mulutnya air mata itu lagi-lagi mengalir deras setiap kali melihat Tiara, ia selalu bersedih.
“Sama om iya sayang ,ada mba juga, tante Aisahnya lagi tidak bisa,” kata Ken mejelaskan, ia tidak tau Baby Tiara mengerti apa tidak, tapi Ken menjelaskannya. “Mba tolong bikini susu dong,”kata Ken memangil suster yang merawat Baby Tiara.
Saat Aisah hamil semua langsung berubah, rumah Ken saat ini terlihat ramai, ada supir satu khusus untuk Aisah dan satu suster. Aisah juga tidak di perbolehkan untuk kerja lagi bahkan mengerjakan hal-hal kecil sekalipun, saat ini ia jadi seperti Ratu.
Tapi Ken malah sebaliknya, ia makin bersemangat untuk bekerja, tadinya sebelum mengenal Aisah, ia hanya aktor dan bintang sinetron, bintang iklan juga. Tapi saat ia berkeluarga akhirnya ia juga menjalankan bisnis keluarganya, bisnis restaurant yang memiliki banyak cabang di Indonesia.
Saat Aisah mengandung anaknya, ia semakin bersemangat , ia berpikir akan ada anak dan istri yang jadi tanggung jawabnya mau di kasih makan.
Di sisi lain, Jenny sudah hampir satu minggu di Indonesia, tapi ia merasa berat hati ingin kembali ke Daego Korea selatan.
Kejadian malam itu membuatnya berpikir untuk pulang, bagaimana ia melihat teman-temannya.
Tapi saat ia tinggal di rumah orang tuanya, ia juga tidak di perbolehkan keluar sendirian oleh Babehnya.
Ia hanya di jaga, dan di kawal jika mau kemana-kemana tidak boleh bepergian sendirian, hanya menghabiskan waktu di kamarnya di depan laptopnya.
Aku bisa gila kalau seperti ini, kata Jenny mulai merasa jenuhnya.
Ia berpikir kalau ada Aisah menemaninya kedua orang tuanya akan memperbolehkannya keluar.
Mengeluarkan Ponselnya dari dalam tasnya, mencari nomor Aisah sangat mudah, nomor adiknya panggilan nomor satu di ponselnya, ia tidak memiliki banyak kontak dalam ponselnya hanya beberapa teman dan selebihnya keluarganya.
Ia mengusap layar ponselnya mencari nama Aisah. Menekan tanda panggil, ia berniat meminta bantuan adiknya menyelamatkannya dari kejenuhan itu.
__ADS_1
“Halo kak,” jawab aisah di ujung teleponnya.
“Sah, kamu lagi sibuk gak?”
“Kenapa kak?.”
“Aku pusing di rumah, aku ingin kamu menemaniku jalan-jalan keliling Jakarta Sah, aku jenuh di sini,” suaranya penuh harap.
“Aduh, maaf kak, aku kurang enak badan kak, aku sakit belum bisa pergi kemana-mana, aku ngidam kak, maaf aku ga bisa,” kata Aisah penuh sesal.
“Kamu hamil, Sah? Apa Babe ama Mak sudah tau? wah selamat, iya.”
“Sudah kak, maka itu kau dilarang Mak kesana takut kejauhan.”
“Ok baiklah,” kata Jenny menutup teleponnya tapi pikirannya tiba-tiba mengingat bagaimana kalau ia hamil.
Aisah juga menutup teleponnya, ia ingin sekali menemani kakaknya, ia ingin selalu bersama kakaknya, setiap jam kalau perlu, ia ingin menjaga kakaknya seperti yang dulu lagi. Dulu ia menomor satukan kakaknya dari semua hal apapun, termasuk lebih penting dari hubungannya dan Ken, karena itu juga Ken pernah hampir menyerah, karena Aisah tidak mau jauh dari kakaknya.
Kalau saja saja ia di perbolehkan Ken suaminya untuk keluar, ia dengan suka rela datang menemui kakaknya. Tapi saat ini, ia bukan lagi hidupnya milik sendiri, ada suami yang selalu mengkhawatirkan dirinya dan calon debaynya.
Keluarganya Ken sangat memanjakan, ia tidak di perbolehkan memegang apapun, mungkin, kalau saja aisah mengijinkannya untuk di mandikan, mungkin ia sudah di mandikan juga, hal itu juga yang membuat Aisah tidak ingin mengecewakan keluarga suaminya dan Ken juga.
Matanya tertuju pada Bayi Cantik. ia adalah Tiara Salim anak dari Rara dan Bastian, anak malang inilah yang ada dalam rahim Rara saat ia ditabrak oleh orang yang tidak punya hati.
Identitas Tiara terpaksa mereka sembunyikan demi keselamatannya dan Ibunya juga, kini anak perempuan cantik ini umurnya sudah hampir jalan mau tiga tahun, tapi karena proses kelahirannya prematur jadi badannya kecil terlihat seperti umur 2 tahun, tapi bersyukur ia tidak mengalami cacat sedikitpun saat kecelakaan terjadi. itu satu keajaiban.
Flash back
Tiga tahun yang lalu di rumah sakit mawar Rara sudah berbaring tidak sadarkan diri, Pada saat itu Bastian dengan emosinya dan tuduhannya yang salah ia pergi ke rumah Viona menembak Viona itu juga yang menyeretnya masuk bui.
Sedangkan kedua orang tuanya yang tidak mau Bastian terluka ikut menyusul.
__ADS_1
Padahal Rara dan janin di rahimnya berjuang hidup. Dokter berpikir kalau janin dalam rahim Rara sudah meninggal karena melihat kondisi luka parah di kepala Rara.
Tapi saat di periksa jantung bayinya masih berdetak. Dokter harus mengeluarkannya. Tapi Dokter tidak mau bertindak kalau tidak persetujuan keluarga, karena tidak bisa menjamin kalau bayinya selamat, tapi harus di keluarkan demi keselamatan keduanya, umurnya sudah 6 bulan lewat beberapa minggu, maka itu Dokter berani bertindak karena umur janinnya sudah bisa di masukkan ke incubator.
Salah satu dokter yang terlihat sudah senior.
“Boleh saya bicara dengan suaminya pasien?”
“Tidak ada suaminya Dok, saya adiknya setelah mendapat penjelasan , seharusnya Ia tidak bisa menandatangani karena Aisah masih belum menikah saat itu, tapi keluarganya sudah menangisi dan meratapi hal yang menimpah Rara saat itu. Tapi semuanya tidak ada lagi yang sadar, hanya Aisah sadar maka ia yang menyunguhkan tanda tangannya di kertas perjanjian itu adalah Aisah.
Penuturan Sukma yang melihat langsung kejadiannya kalau Rara sengaja di tabrak ada orang yang ingin mencelakainya.
Maka, kamar Rara di jaga ketat.
Dalam inkubator terbungkus janin kecil yang masih merah, ada banyak alat kehidupan menopangnya, selang menempelnya di tubuhnya, saat ibunya berjuang untuk hidup, bayi kecil itu juga berjuang untuk hidup.
“Aku tidak kuat melihatnya,” kata Bu Soimah saat itu, melihat bayi kecil yang masih merah ada dalam inkubator.
Setelah beberapa lama Rara berbaring di rumah sakit . Bastian dan keluarganya juga tidak ada datang ke rumah sakit.
“Bastian dan keluarganya tidak perlu tau kata pak Agus dengan kemarahan. Ia tidak tau kalau Bastian sudah di dalam penjara.
“Tapi, be-“
“Jangan ada yang memberi tahu,akan seperti ini selamanya, sampai Rara sembuh ,” kata Pak Agus.
Rara di rumah sakit, Rumah sakit mawar Rumah sakit sebagian sahamnya milik Omanya Bastian boleh dibilang ,Jadi dia yang mengurusnya semuanya, mulai surat
–surat yang di perlukan.
Bersambung....
__ADS_1