
“Wah..Emak gak mimpi kan, Ra, aku takut emak hanya mimpi, bahkan dalam juga Mak tidak pernah menginginkan yang seperti ini,” kata Emaknya.
“Tidak.. mak , ayo kita lihat-lihat,” kata Rara membawa keluarganya berkeliling menunjukkan isi rumah baru mereka, ia seperti seorang pemandu wisata di museum, kerena ia sesekali ia menerangkan semua konsepnya yang di buat untuk rumah yang nyaman untuk keluarganya.
Tidak ada yang menduga kehidupan mereka akan seperti saat ini karena Rara. Tapi siapa yang menduga ia akan menjadi seorang
Direktur dan mempunyai saham juga di perusaan milik keluarga suaminya, nasib dan surat takdir tidak akan ada yang tau akan jadi rahasia yang maha Kuasa.
Begitu juga dengan kehidupan rumah tangga saat ini tidak yang tau bagiamana akhirnya.
Ia dulu yang sangat di benci ibunya, karena dianggap anak yang , saat ini ia bisa membeli Rumah mewah untuk keluarganya.
Keluarganya yang dulu di pandang sebelah mata oleh orang lain, kini mereka sangat di hargai kata Emaknya , setiap kali Emaknya pergi ke undangan saudara-saudara dari Ibunya sudah di perlakukan dengan baik tidak di digosipkan lagi.
“Ini kolam renang dan tempat olah raga buat Rizky untuk latihan bola, dan ini tempat burung –burung peliharaan babe kata Rara,
Dari situ wajah babenya baru bersemangat, walau keluarga yang lain pada bersemangat saat Rara menunjukkan Rumah baru mereka Ayahnya hanya bersikap biasa saja, tapi saat ia menunjukkan burung peliharaan baru ia bersemangat,
Karena semuanya hobby dan kesukaan babenya, ia hanya akan suka mengurus burung terpelihara.
Setelah puas menunjukkan rumahnya Rara dan keluarga duduk di ruang tamu.
Sukma saat mereka turun dari mobilnya ia langsung lanjut lagi ke kantor, karena ia ada rapat penting yang tidak bisa di tinggalkan
Saat ini Sukma seorang wanita karier yang sangat sibuk, ia bekerja keras masalah keluarga tidak membuatnya terganggu.
Hanya lelaki bodoh seperti Yugolah yang menyianyiakan wanita seperti Sukma, walau suaminya katanya masih memintanya untuk balikkan lagi tapi Sukma menolak dengan tegas. Ia menyibukkan diri dengan pekerjaannya
Ia menjadi andalan Rara di kantornya yang mengatur semua saat ia tidak ada.
“Aku masih belum yakin aku tinggal di sini,” kata emaknya Rara. Ia masih menatap sekelilingnya.
Tapi Aisah terlihat gelisah sesekali tangannya membalas pesan chating dari seseorang.
“Siapa?” tanya Rara pakai kedipan mata pada adiknya. Ia menunjukkan layar ponselnya pada Rara.
“Kenzo?” Rara menatapnya
“Dari mana ia mendapatkan nomormu? Aku tidak mau mengasihnya kemarin,” kata Rara menatapnya Aisah
“Dari teman perawat waktu aku kerja dulu kata Aisah,” raut wajahnya tidak senang,
“Ayo kita bicara di kamarmu, takut di dengar babe kata Rara mengajak adiknya.
Rara pamit ke pada kedua tuanya, mau istirahat
“Iya, istirahatlah, kamu saat hamil muda seperti harus banyak istirahat “kata Emaknya Rara.
“Iya Mak , kata Rara meninggalkan kedua orang tuanya dan adiknya masih duduk si sofa empuk itu.
“Kamu tidak suka padanya, Sah?” tanya Rara
“Aku tidak suka kak, Ia lelaki terlalu banyak gombal kak aku tidak suka, tapi ia tetap memaksa ingin bertemu saya tantang akan kesini, eh..ia mau datang ,” kata Aisah terlihat panik.
__ADS_1
“Kamu yang menyuruhnya, biarkan ia datang,’ kata Rara
“Masalahnya, Huda bilang mau datang,” katanya dengan raut wajah cantiknya terlihat bingung.
“Kamu masih berhubungan sama dia, Sah? jangan dia” kata Ara menolak lelaki mantan tunangannya yang meninggalkannya, setelah di tawarin jabatan kepala rumah sakit.
“Sini ponselmu” kata Rara ia menelepon lelaki, mantan tunangannya. Adiknya.
“Halo, ini aku Rara kakak Aisah, katanya kamu mau kerumah kami, iya? jangan kesini, aku dan keluarga tidak bisa lagi menerima kamu, jadi tidak usah datang kesini lagi. Aisah ia sudah punya tunangan, ia akan dapat jodoh yang lebih baik, jadi kamu sudah memutuskan hubungan kalian berdua , ya, sudah biarkan berpisah, jalanin hidup masing-masing,” Kata Rara dengan nada tegas.
Lelaki itu sudah tau kalau Rara sudah marah, ia sudah lama berhubungan dengan keluarganya bahkan Aisah sudah sering datang kerumahnya dan sudah dekat sama keluarganya hubungan yang sudah terjalin 5 tahun sia-sia karena ia terlalu gila harta.
Keluarga Rara juga marah pada orang tuanya, kenapa saat anaknya seperti itu mereka yang sudah mengenal Aisah tidak ada itikat niat baik untuk meminta maaf pada keluarganya,
“Justru itu, aku datang membawa orang tuaku, ingin memperbaiki semuanya,” katanya dengan nada memohon.
“Tidak usah, kalau kamu datang lagi luka lama keluargaku akan terbuka lagi. Aisah juga sudah punya pacar mereka akan segera menikah kata Rara menolak kedatangan keluarga. Aisah hanya diam.
“Lupakan dia, Ra orang yang mengutamakan Harta tidak kan tenang hidupmu,” kata Rara
“Aku masih mencintainya Kak,” Kata Aisah dengan nada lembut
Saat senang ia melupakan kamu, saat ia gembel lagi baru ingat kamu, kamu tau kenapa Ia mencari kamu, aku melemparnya dari rumah sakit itu kata Rara.
“Maksudnya?”
“Kakak memecatnya dari rumah sakit itu, setelah aku menendangnya baru ia mengingatmu kembali, apa kamu sadar itu? aku memiliki saham di rumah sakit di mana kamu dulu di pecat, Sah, Aku ingin kamu jadi kepala perawat di sana, tentu itu berkat bantuan Ken,”
“Tapi, aku tidak suka. Kenzo ia playboy,” Kata Aisah, sepertinya benar-benar tidak menyukai Bintang
“Sah, mana lebih baik kamu bersama yang jahat berubah baik, atau kamu bersama orang yang tidak baik,’ kata Rara
“Kakak mendukung sama Ken?”
“Iya, ia banyak membantu kakak waktu kalian bersamaku,’”
Kriiiiing...Kriinng...
Nada panggilan ke ponsel Rara.
“Sukma..ada apa? Halo, ada apa mey,”
“Ra, aku minta maaf iya, tadi Bastian ke kantor. ia memaksa meminta alamat rumah kamu.
“Terus, kamu kasih?” Tanya Rara dengan suara meninggi panik.
“Iya, aku kasih Ra,” kata Sukma dengan suara lembut mendayu-dayu.
“Haaa kenapa loe meng-meng,” teriak Rara kesal
“Iya, Ra, ia anak bos perusaan ini, berarti otomatis bos saya juga,” kata Sukma menahan tawa.
“Gue, pemiliknya Mey, hebatan mana?”
__ADS_1
“Iya gue takut ama dia, kalau kamu, kan bos saya dan teman saya juga,” kata Sukma merayu
“Pokoknya kamu bersiap saja, nanti ia datang, kamu harus minum vitamin dulu kalau ia minta jatah, kamu harus kuat,” kata sukma terkekeh-terkekeh
“Mey-mey ! masalahnya jadi doble meng-meng, kebetulan Ken mau datang kerumah, kamu tau bagaimana marahnya kalau ketemu Ken, kamu buat aku dalam masalah Mey, gerutu Rara.
“Kamu bisa bayangkan, bagaimana marahnya dia nanti, kalau bertemu Ken,” Rara mulai panik, ia takut Bastian dan Kenzo bila bertemu, itu bagai bensin dan api yang ada terbakar
“Ah, sori aku gak tau, mungkin akan ada masalah baru lagi Hendra barusan minta alamatmu, jadi aku kasih ternyata rumah kalian satu komplek, jadi ia ingin main ntar sore,” kata sukma.
“Haaa, me…..y! kamu mau buat aku mati apa?”
“Adu jadi masalahnya jadi ribet begini iya, kamu itu seperti kembang yang mau dihinggapi kumbang,” kata Sukma, memanasi Rara.
“T*ik,” Rara cakap kotor, terlihat kesal.
“Sukma hanya tertawa terkekeh mendengar Rara kesal “ Sudah ia hadapin sendiri ,kamu pasti bisa,” katanya masih tertawa, ia menutup teleponnya.
Waduh, aku tidak bisa seperti ini, mereka tidak bisa ketemu, aku yang harus keluar sebelum petaka, kata Rara.
“Kenapa kak?,” tanya Aisah bingung melihat bumil seperti cacing kepanasan sesekali menggaruk kepalanya tidak gatal
“Bastian mau kesini-“
Rara mengambil ponselnya menelepon Bastian
“Halo Tian, kata Sukma, kamu mau kesini, uda di mana?
“Dekat rumah kamu, rumah kamu nomor berapa?,”
“Tian ! babeh dan Mak ingin orang tua kamu, kenapa kamu datang sendiri? kamu pikir adat bisa di beli, kamu tidak menghargai orag tuaku, iya?.”
“Kok, gitu Ra ? aku yang akan berlutut di hadapan orang tuaku, mengantikan kedua orang tuaku.”
Aduh gawat kalau ia datang juga kesini, Kenzo, Hendra, Huda juga mau main ke rumah, bisa di bakar api cemburu nanti ini orang, gawat, kata Rara dalam hatinya mencari alasan agar Bastian tidak kerumahnya.
“Kalau kamu datang kesini, aku akan marah besar padamu dan aku tidak mau menemuimu” kata Rara membuat ancaman keras
“Tunggu aku di pintu keluar aku akan datang dan mari kita bicara di sana,” kata Rara.
Ia mengakhiri teleponnya bergegas menemui Bastian di pintu masuk komplek perumahannya
“Be, Rara ke depan bentar iya,” kata Rara bergegas, agar Bastian keduluan datang.
“Hati-hati,” kata Emaknya
Tapi waktu ia mau keluar, satpam penjaga rumahnya datang melaporkan.
“Bu,ada tamu tiga mobil di depan.” Katanya menatap Rara menunggu perintah
“Haa tiga mobil?” tanya Rara jantungnya mulai berdetak lebih kencang “Siapa saja,” Ia keluar dan keluar
“Oh, iya ampun ada apa dengan mereka semua,”
__ADS_1
Mata Rara terbelalak tidak bisa berkata-kata lagi.
Bersambung...