Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Satu rode lansung lemas


__ADS_3

Setelah menyelesaikan satu ronde  malam panas dengan suaminya Rara benar-benar kelelahan, bukan hanya kelelahan sekaligus merasa kesakitan di bagian bagian intinya. Tangisan bahagia itu menghiasi wajahnya saat ini.


Ia menangis bukan  hanya sekedar, karena rasa sakit  yang ia rasakan. Tetapi tangisannya karena ia merasa senang bisa membuang ketakutan dalam dirinya, melepaskan keperawanan untuk sang suami.


Bastian masih mengelus-elus  punggung Rara, wajah  mereka berdua saling berhadapan napas ara lembut menyusuri kulit wajah Bastian, matanya mulai sayu dan akhirnya tertidur  dalam hitungan menit, matanya sudah terpejam Bastian tidak tega menganggu, Ia membiarkannya tidur, tidak memintanya membersihkan diri ke kamar mandi, karena ia tahu Rara kelelahan dan kesakitan tadi.


“Kenapa sih, kamu selalu tidur seperti ini?” Tanya Bastian pelan.


Bastian masih menatap  wajah istrinya, ia merasa sangat bahagia malam itu. Bastian tidak pernah menduga wanita yang dulu ia benci akan menjadi istrinya. Wanita yang waktu  pertama  datang ke apartemennya untuk jadi asisten rumah tangga, sekarang malah menjadi istrinya.


Padahal Rara sempat membuat curiga, karena berpenampilan urakan dan gaya bahasanya yang asbunia menilainya wanita yang gak benar.


Rara dulu,ia panggil Janus. Janda nusantara. Ternyata ia seorang wanita yang masih polos dan belum terjamah dan belum ternoda.


Bastian tertawa kecil mengingat saat itu.


Dulu ia berpikir bagaimana agar Rara keluar dari Rumahnya, karena rasa bencinya pada wanita yang selalu memanggilnya ‘bocah’  tetapi saat ini, ia yang selalu takut untuk kehilangan   Ara.


“Jangan pernah menangis lagi di depanku Ra, dadaku sakit bila melihatmu menangis.” ucap Bastian dengan lembut mengusap  pipinya  membiarkannya tidur dengan tenang.


Bastian menapakkan kakinya di lantai memungut celana boxer berwarna biru yang  berserak dilantai. Menutup bagian depannya dengan kaki berjinjit, ia masuk ke kamar mandi,  membasuhnya tubuhnya yang merasa lengket di mana-mana. Ia tidak akan bisa tidur secapek apapun ia nantinya,  kalau ia tidak membersihkan tubuhnya terlebih dulu, beda dengan Rara yang membawanya semua rasa capek dan rasa sakit di pangkal pahanya ke alam tidur.


Air yang  mengalir dari tubuhnya terlihat masih berwarna  merah pudar, Ia tahu, itu darah kehormatan yang yang di jaga istrinya selama ini dan di berikan padanya, lagi-lagi ia tersenyum sendiri.


"Hadiah yang paling berharga yang pernah aku dapat" ujarnya dengan senyuman masih menatap air berwarna kemerahan itu.


Luka-laku di seluruh tubuhnya, lengan , dada, leher, perut ada goresan luka yang disebakan kuku ganas Rara.


Ia melihatnya di pantulan kaca, luka itu sangat jelas karena  kulit Bastian putih, walau terasa perih ia hanya tersenyum,  ia membayangkan Rara tadi, merintih keras lalu mencakarnya tepat saat ia mengambil mahkota berharganya. Karena tidak mudah mendapatkan wanita yang mampu menjaga  kesuciannya, hingga sampai ke jenjang pernikahan,


Entah kenapa  saat ini, ia merasa seorang petarung yang tangguh. Setelah mandi ia keluar dan  mengenakan piyama tidur. Ia menyusup lagi masuk ke dalam selimut Rara, ia terus saja menatap  wajah Rara, wanita cantik itu tertidur dengan pulas, ia tidak tega membangunkannya, membiarkannya tertidur hal yang tepat.


Hingga keduanya tertidur pulas  dengan  tubuh Rara masih polos  dan hanya di  tutup selimut.


              **


Pukul 06:00


Apartemen Bastian.

__ADS_1


Bau harum bawang goreng menusuk hidung Bastian. Ia mengerjap-ejapkan matanya untuk memulihkan kesadarannya,  hingga matanya  terbuka sempurna.


Ia menatap kesamping,  istrinya seperti biasa akan meringkuk di samping dadanya, tapi kali ia sangat berbeda di mata Bastian  merasa kalau Rara benar-benar sudah miliknya seutuhnya, ia mengecup pipinya istrinya dan ia bangun duluan, bau harum bawang goreng membuatnya kelaparan,  seolah menarik tubuhnya mengikuti mau harum itu hingga ke dapur.


Di dapur si Mbok sudah sibuk menyiapkan menu  serapan sehat untuk mereka berdua.


“Selamat pagi Mbok” sapa Bastian pada wanita paruh baya itu.


“Selamat pagi Tian,” sahutnya dengan senyuman hangat, ia sudah menganggap  Bastian seperti anak sendiri, karena  itu ia selalu  mengawasi  makanan sehat  dari dulu untuk Bastian, saat masih tinggal bersama.


Tapi saat ini, Bastian merasa tidak enak jika  terlalu di perhatian. Ia menganggap dirinya sudah dewasa dan sudah punya istri. Saat ini, ia ingin Raralah yang menghawatirkannya


“Masak apa Mbok baunya bikin saya lapar” Bastian mendekati kompor .


“Saya masak sayur bening sama goreng tempe den, menu sederhana  saja sih tapi sehat”


“Biar saya yang bantuin masak Mbok.” Si Mbok tersenyum


“Tidak usah duduk saja,  biar Mbok yang pegang semuanya”


“Aku ingin memasak  untuk istriku, belajar jadi suami yang romantis, Mbok”


“Kalau begitu biar saya menggoreng, mbok” Bastian mengambil alih penggorengan.


“Tapi …  nanti kena tangan.” Ia takut karena ia tau Bastian   tidak pernah memegang  kompor apa lagi untuk memasak. Tetapi ia salah, ia tidak tahu sejak Rara masuk kedalam hidup Bastian lelaki itu sudah banyak perubahan, jangankan penggorengan bahkan menjadi babu Rara selama seminggu juga pernah.


Hingga hidangan itu sudah selesai, Mbok Atin hanya menatap  tidak percaya, melihat majikan yang biasanya selalu maunya di layani, tapi saat ini ia sedang memasak,  begitu banyak berubah saat ini.


 “Sudah,  selesai tinggal menunggu Ara bangun ,Mbok,”


“Wah, suami yang romantis,” puji Mbok, kembali  menatap  Bastian. Bastian unjuk kebolehan lagi …masakannya ia tata indah di atas meja,


“Gak, Mbok hanya berusaha” Bastian mengeliling meja makanya mengawasi setiap detailnya dan merapikannya, seolah ia mau  serapan  dengan orang penting saja.


Si Mbok, hanya bisa diam melihat tingkah Bastian yang terus saja memindahkan pot bunganya, karena merasa kurang pas, lalu  ia berdecak pinggang menatap hasil karyanya, ia berhasil.


Benar saja kini meja makan di sulap menjadi meja makan Romantis,


“Wah, Mbok ingin sekali melihat bagaimana reaksi non Ara mendapat perlakuan romantis dari suaminya, tapi sayang, bibi harus belanja, untuk keperluan rumah utama,” ujar  Wanita paruh baya itu dengan senyuman hangat,.

__ADS_1


“Ia wanita yang  cuek Mbok paling juga ia hanya  cuek nanti, istriku wanita yang susah di tebak,” ucap  Bastian


Mbok  hanya tersenyum kecil dan pamit pulang, ia harus bolak –balik Rumah omanya dan  Bastian demi permintaan si Nyonya yang mengawasi Rara dan Bastian.


Wanita paruh baya itu di percayakan Oma untuk mengurus semua apa yang di perlukan di rumahnya.


Ia menjadi kepala  Asisten rumah tangga, ia juga yang mengurus semua pegawai di rumah besar itu, mulai dari Koki keluarga, supir, sekuriti, dan tukang kebun. Ia  yang mengawasi mereka semua,wanita itu  boleh di bilang tangan kanan Oma Bastia.,


Rara masih tertidur dengan pulasnya, jam sudah bertengger di angka tujuh,


Bastian  punya cara khusus membangunkan, kali ini.


“Masih tidur ini sudah jam berapa?” Ucap  Bastian melihat istrinya masih tidur dengan nyenyak .


Bastian langsung menggendongnya di ke kamar mandi memasukkannya dalam bathtub yang sudah di isi  taburan bunga-bunga dan minyak citrus dengan aroma terapi yang menyegarkan.


“Ahhh apa yang kamu lakukan!” Teriak Rara menarik selimut membungkus tubuhnya yang masih polos.


“Memandikan mu.”


“Ini masih pagi Bastian, memang mau kemana mandi sepagi ini?”


“Harus ,sayang, di rumah Omah nanti kamu tidak boleh bangun lama-lama,” ucap  Bastian memberi nasihat.


"Tapi kita mau lanjut rode kedua lagi di Kamar mandi ini,”goda  Bastian dengan kedipan mata.


”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)

__ADS_1


__ADS_2