
Setelah menyelesaikan satu ronde malam panas dengan suaminya Rara benar-benar kelelahan, bukan hanya kelelahan sekaligus merasa kesakitan di bagian bagian intinya. Tangisan bahagia itu menghiasi wajahnya saat ini.
Ia menangis bukan hanya sekedar, karena rasa sakit yang ia rasakan. Tetapi tangisannya karena ia merasa senang bisa membuang ketakutan dalam dirinya, melepaskan keperawanan untuk sang suami.
Bastian masih mengelus-elus punggung Rara, wajah mereka berdua saling berhadapan napas ara lembut menyusuri kulit wajah Bastian, matanya mulai sayu dan akhirnya tertidur dalam hitungan menit, matanya sudah terpejam Bastian tidak tega menganggu, Ia membiarkannya tidur, tidak memintanya membersihkan diri ke kamar mandi, karena ia tahu Rara kelelahan dan kesakitan tadi.
“Kenapa sih, kamu selalu tidur seperti ini?” Tanya Bastian pelan.
Bastian masih menatap wajah istrinya, ia merasa sangat bahagia malam itu. Bastian tidak pernah menduga wanita yang dulu ia benci akan menjadi istrinya. Wanita yang waktu pertama datang ke apartemennya untuk jadi asisten rumah tangga, sekarang malah menjadi istrinya.
Padahal Rara sempat membuat curiga, karena berpenampilan urakan dan gaya bahasanya yang asbunia menilainya wanita yang gak benar.
Rara dulu,ia panggil Janus. Janda nusantara. Ternyata ia seorang wanita yang masih polos dan belum terjamah dan belum ternoda.
Bastian tertawa kecil mengingat saat itu.
Dulu ia berpikir bagaimana agar Rara keluar dari Rumahnya, karena rasa bencinya pada wanita yang selalu memanggilnya ‘bocah’ tetapi saat ini, ia yang selalu takut untuk kehilangan Ara.
“Jangan pernah menangis lagi di depanku Ra, dadaku sakit bila melihatmu menangis.” ucap Bastian dengan lembut mengusap pipinya membiarkannya tidur dengan tenang.
Bastian menapakkan kakinya di lantai memungut celana boxer berwarna biru yang berserak dilantai. Menutup bagian depannya dengan kaki berjinjit, ia masuk ke kamar mandi, membasuhnya tubuhnya yang merasa lengket di mana-mana. Ia tidak akan bisa tidur secapek apapun ia nantinya, kalau ia tidak membersihkan tubuhnya terlebih dulu, beda dengan Rara yang membawanya semua rasa capek dan rasa sakit di pangkal pahanya ke alam tidur.
Air yang mengalir dari tubuhnya terlihat masih berwarna merah pudar, Ia tahu, itu darah kehormatan yang yang di jaga istrinya selama ini dan di berikan padanya, lagi-lagi ia tersenyum sendiri.
"Hadiah yang paling berharga yang pernah aku dapat" ujarnya dengan senyuman masih menatap air berwarna kemerahan itu.
Luka-laku di seluruh tubuhnya, lengan , dada, leher, perut ada goresan luka yang disebakan kuku ganas Rara.
Ia melihatnya di pantulan kaca, luka itu sangat jelas karena kulit Bastian putih, walau terasa perih ia hanya tersenyum, ia membayangkan Rara tadi, merintih keras lalu mencakarnya tepat saat ia mengambil mahkota berharganya. Karena tidak mudah mendapatkan wanita yang mampu menjaga kesuciannya, hingga sampai ke jenjang pernikahan,
Entah kenapa saat ini, ia merasa seorang petarung yang tangguh. Setelah mandi ia keluar dan mengenakan piyama tidur. Ia menyusup lagi masuk ke dalam selimut Rara, ia terus saja menatap wajah Rara, wanita cantik itu tertidur dengan pulas, ia tidak tega membangunkannya, membiarkannya tertidur hal yang tepat.
Hingga keduanya tertidur pulas dengan tubuh Rara masih polos dan hanya di tutup selimut.
**
Pukul 06:00
Apartemen Bastian.
__ADS_1
Bau harum bawang goreng menusuk hidung Bastian. Ia mengerjap-ejapkan matanya untuk memulihkan kesadarannya, hingga matanya terbuka sempurna.
Ia menatap kesamping, istrinya seperti biasa akan meringkuk di samping dadanya, tapi kali ia sangat berbeda di mata Bastian merasa kalau Rara benar-benar sudah miliknya seutuhnya, ia mengecup pipinya istrinya dan ia bangun duluan, bau harum bawang goreng membuatnya kelaparan, seolah menarik tubuhnya mengikuti mau harum itu hingga ke dapur.
Di dapur si Mbok sudah sibuk menyiapkan menu serapan sehat untuk mereka berdua.
“Selamat pagi Mbok” sapa Bastian pada wanita paruh baya itu.
“Selamat pagi Tian,” sahutnya dengan senyuman hangat, ia sudah menganggap Bastian seperti anak sendiri, karena itu ia selalu mengawasi makanan sehat dari dulu untuk Bastian, saat masih tinggal bersama.
Tapi saat ini, Bastian merasa tidak enak jika terlalu di perhatian. Ia menganggap dirinya sudah dewasa dan sudah punya istri. Saat ini, ia ingin Raralah yang menghawatirkannya
“Masak apa Mbok baunya bikin saya lapar” Bastian mendekati kompor .
“Saya masak sayur bening sama goreng tempe den, menu sederhana saja sih tapi sehat”
“Biar saya yang bantuin masak Mbok.” Si Mbok tersenyum
“Tidak usah duduk saja, biar Mbok yang pegang semuanya”
“Aku ingin memasak untuk istriku, belajar jadi suami yang romantis, Mbok”
“Kalau begitu biar saya menggoreng, mbok” Bastian mengambil alih penggorengan.
“Tapi … nanti kena tangan.” Ia takut karena ia tau Bastian tidak pernah memegang kompor apa lagi untuk memasak. Tetapi ia salah, ia tidak tahu sejak Rara masuk kedalam hidup Bastian lelaki itu sudah banyak perubahan, jangankan penggorengan bahkan menjadi babu Rara selama seminggu juga pernah.
Hingga hidangan itu sudah selesai, Mbok Atin hanya menatap tidak percaya, melihat majikan yang biasanya selalu maunya di layani, tapi saat ini ia sedang memasak, begitu banyak berubah saat ini.
“Sudah, selesai tinggal menunggu Ara bangun ,Mbok,”
“Wah, suami yang romantis,” puji Mbok, kembali menatap Bastian. Bastian unjuk kebolehan lagi …masakannya ia tata indah di atas meja,
“Gak, Mbok hanya berusaha” Bastian mengeliling meja makanya mengawasi setiap detailnya dan merapikannya, seolah ia mau serapan dengan orang penting saja.
Si Mbok, hanya bisa diam melihat tingkah Bastian yang terus saja memindahkan pot bunganya, karena merasa kurang pas, lalu ia berdecak pinggang menatap hasil karyanya, ia berhasil.
Benar saja kini meja makan di sulap menjadi meja makan Romantis,
“Wah, Mbok ingin sekali melihat bagaimana reaksi non Ara mendapat perlakuan romantis dari suaminya, tapi sayang, bibi harus belanja, untuk keperluan rumah utama,” ujar Wanita paruh baya itu dengan senyuman hangat,.
__ADS_1
“Ia wanita yang cuek Mbok paling juga ia hanya cuek nanti, istriku wanita yang susah di tebak,” ucap Bastian
Mbok hanya tersenyum kecil dan pamit pulang, ia harus bolak –balik Rumah omanya dan Bastian demi permintaan si Nyonya yang mengawasi Rara dan Bastian.
Wanita paruh baya itu di percayakan Oma untuk mengurus semua apa yang di perlukan di rumahnya.
Ia menjadi kepala Asisten rumah tangga, ia juga yang mengurus semua pegawai di rumah besar itu, mulai dari Koki keluarga, supir, sekuriti, dan tukang kebun. Ia yang mengawasi mereka semua,wanita itu boleh di bilang tangan kanan Oma Bastia.,
Rara masih tertidur dengan pulasnya, jam sudah bertengger di angka tujuh,
Bastian punya cara khusus membangunkan, kali ini.
“Masih tidur ini sudah jam berapa?” Ucap Bastian melihat istrinya masih tidur dengan nyenyak .
Bastian langsung menggendongnya di ke kamar mandi memasukkannya dalam bathtub yang sudah di isi taburan bunga-bunga dan minyak citrus dengan aroma terapi yang menyegarkan.
“Ahhh apa yang kamu lakukan!” Teriak Rara menarik selimut membungkus tubuhnya yang masih polos.
“Memandikan mu.”
“Ini masih pagi Bastian, memang mau kemana mandi sepagi ini?”
“Harus ,sayang, di rumah Omah nanti kamu tidak boleh bangun lama-lama,” ucap Bastian memberi nasihat.
"Tapi kita mau lanjut rode kedua lagi di Kamar mandi ini,”goda Bastian dengan kedipan mata.
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1