Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Rumah baru untuk keluargaku


__ADS_3

“Mau kemana?,” kata Bastian menahan lengan Rara


“Ibu sudah turun dari pesawat, “kata Rara, mencoba bersikap tenang.


“Aku akan menjemputmu nanti dari rumahmu tunggu aku,” kata Bastian terdengar tegas dan sedikit menakutkan.


“Baiklah,” jawab Rara degan wajahnya di buat tenang, walau jantungnya berdetak kuat melihat tampang kemarahan dari lelaki yang lagi di landa api cemburu itu.


Sukma memegang tangan Rara meninggalkan Tempat itu. Sukma malah tertawa melihat, ketakutan Rara, menertawakan sikap Rara yang tiba-tiba seperti ayam sayur kalau Bastian sudah marah.


“Loe ngetawaain gue sih, Mey?.”


“Tampang loe saat keselek tadi , sangat lucu padahal gue hanya bercanda, masa kamu takut sama suami sendiri sih Ra?”


“Kamu gak tau sih Mey, saat ia marah kalau cemburu.” Kata Rara masih menoleh kebelakang.


“Mukul?” Tanya Sukma penasaran.


“Kagak, aku merasa tidak bisa bernafas di depan ia kalau lagi marah, gak di kasih jedah ampe kita sampai meram –melek di buatnya,” kata Rara. Otak Rara sedikit ngeres


“Ia bilang nanti akan menjemput Ra, apa itu benar, nanti kamu di buat merek –melek lagi,” kata sukma ia masih tertawa.


“Benar, kalau ia cemburu setanpun, lari terbirit-birit,” kata Rara. “Aku yakin pasti ia akan datang nanti, tapi tidak apa-apa ia belum tau rumah ibu yang baru,” kata Rara.


Rara masih berdiri di pintu keluar, hingga akhirnya keluarganya datang juga.


Calvin bocah tampan itu terlihat berlari ke arah Rara. Tapi babenya langsung menangkapnya, setelah tiga bulan tidak bertemu, itu waktu yang lumayan lama, dari perut Rara belum kelihatan sampai melendung seperti balon di tiup.


“Iya ampun sudah bawah drumband kecil dia,” kata emaknya mengusap perut Rara.


Saling berpelukan di bandara walau mengundang perhatian orang-orang sekitar tapi Rara tidak perduli. Ia sudah sanga rindu sama keluarganya


Rara tidak bisa menahan kegembiraanya saat ia bertemu keluarganya, saat ada keluarga bersamanya saat ini, ia merasa tenang


Saat mereka perjalanan pulang, Calvin yang tidak bisa dekat-dekat ibunya, bocah tampan umur 5 tahun itu hanya diam tapi matanya melirik perut Rara.


“Kenapa, Vin? Apa yang kamu ingin kamu tanyakan,” tanya Rara


“Kok perut ibu semakin besar sih, ibu cacingan iya?” soalnya kata guru Alvin dulu kalau perut anak besar berarti cacingan.

__ADS_1


Mereka semua tertawa mendengar pertanyaan bocah polos itu.


“Kan tante sudah bilang kalau ada dedek di dalam perut ibu kamu,” kata Aisah mencoba memberi penjelasan yang bisa di terima otaknya.


Karena terlihat jelas ia merasa aneh, dan terlihat cemburu, saat ini Rara tidak lagi sedekat dan tidak mendapat kasih sayang dan tidak perlakukan seperti biasanya. Wajar ia merasa cemburu karena kasih Rara sudah terbagi saat ini


“Apa dedeknya perempuan apa laki-laki?” mata Hazelnya yang indah menatap Rara.


“Ia, laki-laki sepertimu ia akan main bola nanti seperti mu kata Rara bersemangat.


“ Hore, berarti ada teman aku main bola, Ibu, kapan ia keluar dari perut ibu, biar kami bermain bola,” kata Avin di sambut tawa dari mereka semua lagi.


“Ah kamu lucu bangat sih,” kata sukma melirik dari kaca, dan kembali fokus pada setirnya.


Saat mereka semua tertawa ada seseorang yang terdiam seolah banyak beban yang ia pikul sendiri.


"Apa babe baik –baik saja?,” tanya Rara melihat babenya yang banyak berdiam diri .


“Apa semuanya baik-baik Ra,” tanya lelaki paruh baya itu, wajahnya terlihat sangat khawatir


“Baik, be, jangan khawatir be semuanya terkendali,” kata Rara dengan bibir tersenyum


“Maksudnya kita tidak perlu khawatir tentang Calvin lagi?.”Wanita itu menatap rara dengan tatapan memburu.


“Apa yang terjadi” Tanyanya dengan mata terlihat gusar , wajah orang tua terlihat sangat gusar karena ia tau yang di lawan bukanlah orang sembarangan.


Ia wanita yang punya banyak kaki tangan di pemerintahan , pengusaha dan mempunyai banyak harta dan kekuasaan yang bisa melakukan apa saja.


“Kita buat ia keok cing,” jawab Sukma terlihat bangga dan sangat bersemangat karena yang jadi pengacaranya adiknya dan Darma temanya.


Tentu juga sukma ikut senang


“Tapi apa tidak apa-apa?”Babenya Rara walau ia merasa senang kerena calvin saat akan tetap bersama mereka, tapi ia menghawatirkan Rara.


“Kita, kerumah yang baru saja iya, be,” Rara menatap kedua orangtuanya bergantian


“Tapi kamu yakin tidak ada masalah?”


“Jangan khawatir be, kita akan hadapi bersama,kita tidak mungkin lari terus, kan?,” kata Rara

__ADS_1


Rara sebenarnya merasa kasihan pada keluarganya, karena mereka harus kadang mengungsi karena takut pada keluarga Bastian.


Hingga mobil berwarna hitam itu tiba di rumah baru yang di beli Rara di daerah Pondok Indah.


Ia ingin memberikan yang terbaik untuk keluarganya, Rumah mewah berlantai dua memiliki kolam renang dan tempat bermain juga


.


“Ini kita kerumah siapa Ra?,” tanya Ibunya terlihat wajah heran karena tiba-tiba Rara membawa mereka ke rumah mewah yang mereka tidak tau Rumah milik siapa.


“Wah, keren bangat,” Risky keluar dari mobil ibu dengan menenteng Tasnya.“Apa kamu membawa kita kerumah Ibu mertuamu ?” Tanya babenya dengan wajah terlihat kurang senang,


“Kagak, be, mak, ini sekarang rumah kita,” kata Rara kata Rara merentangkan kedua tangannya dengan gaya mempersembahkan.


Reaksi keluarga sangat terkejut, reaksinya sepertinya keluarga yang dapat hadiah


Reaksi itu mirip seperti reaksi saat di cara televisi beda rumah, saat rumah lamanya diganti dan rumah barunya di tutupi dengan tenda.


Saat tenda di buka keluarga yang punya kesempatan untuk mendapat rumahnya di terkejut seperti itulah reaksi keluarganya mendapat rumah baru.


Ibunya tutup mulut dan rizki melotot tidak percaya saat Rara bilang itu rumah mereka.


“Ini beneran rumah baru kita kak?” Risky anak remaja itu tidak percaya.


Di depan pintu mereka di sambut dua orang satpam bagian menjaga keamanan rumahnya.


Keluarga Rara seperti orang kampung yang baru melihat mall, apa lagi Emaknya Rara terplongo-plonggo melihat kanan kiri.


Mereka akan jaga rumah kita Ra?” Tanya emaknya


“Iya Mak jadi mak dan babeh jangan takut lagi kata Rara.


Pada saat masuk kerumah di sambut dua orang asisten rumah tangga untuk menjaga rumah Rara.


“Mereka siapa kalau ini rumah baru kita, apa ada keluarga lain juga tinggal sama kita? Emak gak mau tinggal sama orang lain” kata orang tua itu memperhatikan kedua asisten rumah tangga itu.


“Mereka yang akan mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga ,Mak, tidak usah lagi bersusah payah mengerjakannya, mak hanya mengawasi mereka,” kata Rara


“Wah..Emak gak mimpi kan, Ra, aku takut emak hanya mimpi, bahkan dalam juga Mak tidak pernah menginginkan yang seperti ini,” kata Emaknya.

__ADS_1


“Tidak emak, ayo kita lihat-lihat,” kata Rara membawa keluarganya berkeliling menunjukkan isi rumah baru mereka, ia seperti seorang pemandu wisata di museum, kerena ia sesekali ia menerangkan semua konsepnya yang di buat untuk keluarga.


Bersambung...


__ADS_2