Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Akan berjuang mempertahankan pernikahan


__ADS_3

Bastian dan Rara  dipaksa hidup berjauhan oleh babe Rara,  karena kemarahannya pada Hartati ibu Bastian.


“Kita jalanin saja seperti ini Bastian sampai kemarahan Babe reda,” ujar Rara  berusaha tenang di hadapan Bastian.


“Apa kamu ingin menyerah?” Mata Bastian memburu wajahnya, tangannya berhenti  di pintu mobilnya,


“Tidak,  biarkan aku menenangkan  keluargaku Bastian, aku punya  cara sendiri”


“Tapi aku tidak Ra,  takut … kamu menyerah. Tetap aku akan berjuang hingga benar-benar orang tuamu , memberi izin pada hubungan kita.” Bastian mengalihkan pandangan wajahnya menyembunyikan air yang nyaris tumpah di depan Rara.


“Pulanglah Tian, sampaikan minta maafku pada Mbok,  tadi aku memecahkan  gelas, aku belum sempat membuang  belingnya”


Wajah itu itu terlihat tenang, setenang  air laut, siapapun yang melihatnya akan salah paham dan mengira ia tidak  merasa dan menganggapnya tidak perduli. Tapi apa  air laut yang tenang, hanya terlihat di permukaannya,  tidak ada yang tahu ada guncangan ada guncangan di dasarnya kalau tidak menyelam masuk ke air.


Bastian juga  berjuang menahan guncangan emosinya di dada, ia berusaha terlihat tenang walau  hatinya sakit, ia tidak rela  jika harus meninggalkan Rara istrinya tinggal di rumah orang tuanya melihatnya pergi dengan keadaan menangis.


‘Aku akan pulang sendiri, aku hanya ingin mengantar istriku  pulang kerumah orang tuanya, tidak seharusnya aku memaksa Rara datang hari ini, jika aku tahu orang tua marah seperti itu. Babe Rara memisahkan kami berdua dengan paksa’ Bastian  bermonolog dalam.


Wajahnya terlihat semakin sedih, sebagai lelaki ia berusaha tidak menangis di depan istrinya. Ia  mengikuti saran Rara untuk pulang, tidak ingin membuat sang mertua semakin marah.


Dengan berat hati, ia meniggalkan rumah kediaman mertuanya. Dalam perjalanan pulang  Bastian merasakan kesedihan yang mendalam  tadi perginya ia masih bersama dengan Rara istrinya duduk di sampingnya kini ia hanya sendirian. Harusnya dan istrinya menikmati masa-masa indah bersama layaknya pengantin baru.


Bastian  membiarkan airmata itu tumpah,  membiarkan  bulir-bulir air itu  lolos menyusuri pipinya. Sesekali ia menarik nafas panjang merasakan sesak di dadanya, menangis sendiri di dalam mobil  tidak ada yang akan melihatnya.


*


Rara mengalah pada orang tuanya, saat Bastian di suruh pulang, oleh babenya dan meminta tinggal, ia mau tanpa membantah dia bersikap tenang  berbeda dengan Bastian.


Ia merasakan ruang dalam hatinya terasa kosong saat Rara dipaksa tinggal ia merasa  istrinya diambil paksa darinya,


Tepat lagi saat lagi sayang-sayang , ia ambil paksa oleh babe Rara


Bastian melajukan mobilnya ke arah rumah orang tuanya, walau  kedua orang tuanya  belum pulang dari pernikahan sepupunya di Bali.


Ia berpikir lebih baik menunggunya di rumah dari pada ia pulang ke apartemen yang akan mengingat Rara istrinya . ia lebih baik pulang ke rumah orang tuanya mungkin sedikit bisa membuatnya mengalihkan pikirannya dari Rara.

__ADS_1


Ia melengos masuk k e dalam rumah , beberapa  asisten rumah tangga hanya terdiam melihat sikap Leon yang terlihat sangat  marah, para asisten rumah di keluarga Bastian,  kebetulan sore itu sedang sibuk  melakukan tugas masing-masing.


Bastian lebih memilih masuk kekamarnya tanpa menyapa siapapun dan menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya, pikirannya kembali membayangkan  kemarahan sang bapak mertua tadi.


“Apa aku bisa  membawa Rara nanti? Dia lagi ngapain sekarang. Baru juga tidak lihat beberapa jam , aku sudah merindukannya”


Layaknya pengantin baru Bastian masih ingin bermesraan dengan Rara. Pikirannya kembali  membayangkan wangi tubuh sang istri yang membuat hasrat selalu terbangun setiap kali bersama Rara.  Ia  merindukannya , padahal baru beberapa jam. Bastian kembali  membayangkan bagaimana manisnya  bibir istrinya,  ia berpikir  tubuh istrinya  semuanya miliknya.


Harusnya malam ini mereka memadu kasih  sama seperti malam-malam  yang sudah mereka lewati,  matanya merasa lelah  karena pikirannya penuh dengan bayangan  Rara, hingga akhirnya tertidur pulas, membawa semua ke alam mimpinya.


Ia terbangun sudah sore hampir malam, la mandi dulu dan sudah rapi,  ia kembali sibuk menatap layar ponselnya.


Berharap Rara  bertanya kabarnya atau sekedar menyapanya, ia berpikir Rara akan lebih perhatian padanya, setelah mereka sudah saling  mengenal satu sama lain dan sudah berbagi selimut.


Tetapi tidak, itu hanya dalam bayangan Bastian saja Rara tidak memberinya kabar.


Hingga  akhirnya  ia juga yang mengalah,  ia mengirim pesan   duluan, ia bolak balik menulis dan menghapus hingga dapat  tulisan pesan yang ia rasa cocok.  Bastian dan Rara seperti dua orang yang sedang baru pacaran, tapi  harus berpisah karena orang tua.


Akhirnya ia mengirim pesan  duluan pada istrinya


[Ra, aku  lagi dirumah Ibu, tapi mereka belum pulang. Nanti setelah mereka pulang aku akan bicara, aku akan jelaskan semuanya  dan meminta ibu dan omah datang kerumah keluarga kamu, kamu tenang saja, Jaga kesehatan] Bastian mengirim pesan pertama untuk Rara isi pesannya  tidak romantis.


[Baiklah, jaga juga kesehatanmu ]


Bastian hanya mendapat balasan  seperti itu dari Rara, ia bolak balik membaca isi pesannya, ia merasa pesan sudah panjang seperti rel Kreta api, tapi Rara hanya membalas dengan pesan  singkat  seperti,


“ Ah, ia tidak  berubah juga,” ujar Bastian.


Padahal ia berharap Rara memberinya kabar ‘bagaimana kabarmu.  Aku merindukanmu’ ia berharap Rara bersikap manja layaknya seorang istri


Ia mengirim pesan kedua kalinya


Bastian: “Apa kamu baik-baik saja?”


Bastian harus menunggu untuk mendapat balasan  dari Rara

__ADS_1


Rara: “iya , aku baik-baik saja”


Ah tidak bisakah, ia bersikap manis sedikit apa ia menanyakan kabarku juga, ia bermonolog di dalam hatinya


Tapi walau kecewa Bastian tidak mau menyerah juga, Rara tidak menanyakan kabarnya dengan baiknya ia memberi kabar kalau ia baik-baik saja.


[Aku juga baik-baik saja Ra,  ini baru selesai mandi dan bentar lagi makan, Kamu  sudah makan belum?] Bastian menuturkan segalanya  kegiatannya padahal  Rara tida menanyakan hal itu.


[Ini  baru sore Bastian, belum makan malam,kalau  begitu  selamat makan,iya, saya mau mengobrol dulu dengan keluarga] balas Rara.


Bastian diam memandang ponselnya, ia berharap Rara baik-baik saja, dan  berharap tidak meninggalkannya.


Sikap berbeda yang di lakukan Rara semakin membuat Bastian  semakin tertantang untuk berjuang.


Disisi lain  di rumah Rara.


Sejak kepulangan Bastian dari rumah Rara , babenya masih duduk di ruang tamu masih  terlihat marah


Semua keluarga berharap Rara membujuk babe mereka, tetapi Rara tidak ingin memaksa, ia memberi waktu untu babenya, ia duduk di dekat sang ayah tetapi tidak membahas tentang hari ini.


“Apa kamu tidak mau menjelaskan pada kami, Ra?”


“Baiklah beh, Rara akan menjelaskan semuanya, Aku dan Bastian karena kemarahanku pada ibunya  be, tadinya Rara hanya ingin memberinya pelajaran karena ia mengusik pekerjaan babe dan Aisah, Rara menikah  saat itu , belum tahu  tentang hubungan Yolanda dengannya”


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2