
Bastian dan Rara dipaksa hidup berjauhan oleh babe Rara, karena kemarahannya pada Hartati ibu Bastian.
“Kita jalanin saja seperti ini Bastian sampai kemarahan Babe reda,” ujar Rara berusaha tenang di hadapan Bastian.
“Apa kamu ingin menyerah?” Mata Bastian memburu wajahnya, tangannya berhenti di pintu mobilnya,
“Tidak, biarkan aku menenangkan keluargaku Bastian, aku punya cara sendiri”
“Tapi aku tidak Ra, takut … kamu menyerah. Tetap aku akan berjuang hingga benar-benar orang tuamu , memberi izin pada hubungan kita.” Bastian mengalihkan pandangan wajahnya menyembunyikan air yang nyaris tumpah di depan Rara.
“Pulanglah Tian, sampaikan minta maafku pada Mbok, tadi aku memecahkan gelas, aku belum sempat membuang belingnya”
Wajah itu itu terlihat tenang, setenang air laut, siapapun yang melihatnya akan salah paham dan mengira ia tidak merasa dan menganggapnya tidak perduli. Tapi apa air laut yang tenang, hanya terlihat di permukaannya, tidak ada yang tahu ada guncangan ada guncangan di dasarnya kalau tidak menyelam masuk ke air.
Bastian juga berjuang menahan guncangan emosinya di dada, ia berusaha terlihat tenang walau hatinya sakit, ia tidak rela jika harus meninggalkan Rara istrinya tinggal di rumah orang tuanya melihatnya pergi dengan keadaan menangis.
‘Aku akan pulang sendiri, aku hanya ingin mengantar istriku pulang kerumah orang tuanya, tidak seharusnya aku memaksa Rara datang hari ini, jika aku tahu orang tua marah seperti itu. Babe Rara memisahkan kami berdua dengan paksa’ Bastian bermonolog dalam.
Wajahnya terlihat semakin sedih, sebagai lelaki ia berusaha tidak menangis di depan istrinya. Ia mengikuti saran Rara untuk pulang, tidak ingin membuat sang mertua semakin marah.
Dengan berat hati, ia meniggalkan rumah kediaman mertuanya. Dalam perjalanan pulang Bastian merasakan kesedihan yang mendalam tadi perginya ia masih bersama dengan Rara istrinya duduk di sampingnya kini ia hanya sendirian. Harusnya dan istrinya menikmati masa-masa indah bersama layaknya pengantin baru.
Bastian membiarkan airmata itu tumpah, membiarkan bulir-bulir air itu lolos menyusuri pipinya. Sesekali ia menarik nafas panjang merasakan sesak di dadanya, menangis sendiri di dalam mobil tidak ada yang akan melihatnya.
*
Rara mengalah pada orang tuanya, saat Bastian di suruh pulang, oleh babenya dan meminta tinggal, ia mau tanpa membantah dia bersikap tenang berbeda dengan Bastian.
Ia merasakan ruang dalam hatinya terasa kosong saat Rara dipaksa tinggal ia merasa istrinya diambil paksa darinya,
Tepat lagi saat lagi sayang-sayang , ia ambil paksa oleh babe Rara
Bastian melajukan mobilnya ke arah rumah orang tuanya, walau kedua orang tuanya belum pulang dari pernikahan sepupunya di Bali.
Ia berpikir lebih baik menunggunya di rumah dari pada ia pulang ke apartemen yang akan mengingat Rara istrinya . ia lebih baik pulang ke rumah orang tuanya mungkin sedikit bisa membuatnya mengalihkan pikirannya dari Rara.
__ADS_1
Ia melengos masuk k e dalam rumah , beberapa asisten rumah tangga hanya terdiam melihat sikap Leon yang terlihat sangat marah, para asisten rumah di keluarga Bastian, kebetulan sore itu sedang sibuk melakukan tugas masing-masing.
Bastian lebih memilih masuk kekamarnya tanpa menyapa siapapun dan menjatuhkan tubuhnya di ranjangnya, pikirannya kembali membayangkan kemarahan sang bapak mertua tadi.
“Apa aku bisa membawa Rara nanti? Dia lagi ngapain sekarang. Baru juga tidak lihat beberapa jam , aku sudah merindukannya”
Layaknya pengantin baru Bastian masih ingin bermesraan dengan Rara. Pikirannya kembali membayangkan wangi tubuh sang istri yang membuat hasrat selalu terbangun setiap kali bersama Rara. Ia merindukannya , padahal baru beberapa jam. Bastian kembali membayangkan bagaimana manisnya bibir istrinya, ia berpikir tubuh istrinya semuanya miliknya.
Harusnya malam ini mereka memadu kasih sama seperti malam-malam yang sudah mereka lewati, matanya merasa lelah karena pikirannya penuh dengan bayangan Rara, hingga akhirnya tertidur pulas, membawa semua ke alam mimpinya.
Ia terbangun sudah sore hampir malam, la mandi dulu dan sudah rapi, ia kembali sibuk menatap layar ponselnya.
Berharap Rara bertanya kabarnya atau sekedar menyapanya, ia berpikir Rara akan lebih perhatian padanya, setelah mereka sudah saling mengenal satu sama lain dan sudah berbagi selimut.
Tetapi tidak, itu hanya dalam bayangan Bastian saja Rara tidak memberinya kabar.
Hingga akhirnya ia juga yang mengalah, ia mengirim pesan duluan, ia bolak balik menulis dan menghapus hingga dapat tulisan pesan yang ia rasa cocok. Bastian dan Rara seperti dua orang yang sedang baru pacaran, tapi harus berpisah karena orang tua.
Akhirnya ia mengirim pesan duluan pada istrinya
[Ra, aku lagi dirumah Ibu, tapi mereka belum pulang. Nanti setelah mereka pulang aku akan bicara, aku akan jelaskan semuanya dan meminta ibu dan omah datang kerumah keluarga kamu, kamu tenang saja, Jaga kesehatan] Bastian mengirim pesan pertama untuk Rara isi pesannya tidak romantis.
[Baiklah, jaga juga kesehatanmu ]
Bastian hanya mendapat balasan seperti itu dari Rara, ia bolak balik membaca isi pesannya, ia merasa pesan sudah panjang seperti rel Kreta api, tapi Rara hanya membalas dengan pesan singkat seperti,
“ Ah, ia tidak berubah juga,” ujar Bastian.
Padahal ia berharap Rara memberinya kabar ‘bagaimana kabarmu. Aku merindukanmu’ ia berharap Rara bersikap manja layaknya seorang istri
Ia mengirim pesan kedua kalinya
Bastian: “Apa kamu baik-baik saja?”
Bastian harus menunggu untuk mendapat balasan dari Rara
__ADS_1
Rara: “iya , aku baik-baik saja”
Ah tidak bisakah, ia bersikap manis sedikit apa ia menanyakan kabarku juga, ia bermonolog di dalam hatinya
Tapi walau kecewa Bastian tidak mau menyerah juga, Rara tidak menanyakan kabarnya dengan baiknya ia memberi kabar kalau ia baik-baik saja.
[Aku juga baik-baik saja Ra, ini baru selesai mandi dan bentar lagi makan, Kamu sudah makan belum?] Bastian menuturkan segalanya kegiatannya padahal Rara tida menanyakan hal itu.
[Ini baru sore Bastian, belum makan malam,kalau begitu selamat makan,iya, saya mau mengobrol dulu dengan keluarga] balas Rara.
Bastian diam memandang ponselnya, ia berharap Rara baik-baik saja, dan berharap tidak meninggalkannya.
Sikap berbeda yang di lakukan Rara semakin membuat Bastian semakin tertantang untuk berjuang.
Disisi lain di rumah Rara.
Sejak kepulangan Bastian dari rumah Rara , babenya masih duduk di ruang tamu masih terlihat marah
Semua keluarga berharap Rara membujuk babe mereka, tetapi Rara tidak ingin memaksa, ia memberi waktu untu babenya, ia duduk di dekat sang ayah tetapi tidak membahas tentang hari ini.
“Apa kamu tidak mau menjelaskan pada kami, Ra?”
“Baiklah beh, Rara akan menjelaskan semuanya, Aku dan Bastian karena kemarahanku pada ibunya be, tadinya Rara hanya ingin memberinya pelajaran karena ia mengusik pekerjaan babe dan Aisah, Rara menikah saat itu , belum tahu tentang hubungan Yolanda dengannya”
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)