
Tapi Ken jauh terlihat lebih penasaran, “aku paling bahagia kalau kamu hamil sayang,” kata Ken
Dalam mobil Ken memeluk istrinya padahal istrinya belum tentu positif hamil.
“Jangan senang dulu mas ,belum tentu hamil juga aku,” Aisah memperingatkan suaminya, agar jangan terlalu senang dulu,” wajahnya merah, antara senang bercampur takut.
“Kita pastikan, di depan masih ada buka apotik 24 jam,” kata Ken , ia ingin memastikan apakah istrinya hamil apa bukan. Berhenti di salah satu apotek untuk membeli testpack.
“Ayo pulang,” kata Aisah.
“Lah udah, terus hasilnya?”
“Hasilnya kita periksa di rumah sayang’ masa disini,” kata Aisah menatap dengan tatapan geli melihat Ken yang tidak sabaran lagi.
“Memang di sini tidak bisa?,” tanya Ken masih dengan wajah penasaran.
“Iiiih.. bagaimana menampung airnya, masa kita pinjam juga? nanti di rumah saja kita lebih santai,” kata Aisah menyakinkan suaminya.
“Iya juga iya..”mana mau orang pinjamkan barangnya untuk nampung air pipis,” kata Ken terkekeh tapi raut wajahnya tidak sabar lagi.
“Iiiih.. bagaimana menampung airnya, masa kita pinjam juga, nanti di rumah saja kita lebih santai,” kata aisah menyakinkan suaminya.
“Iya juga iya..”mana mau orang pinjamkan barangnya untuk nampung air pipis,” kata Ken terkekeh tapi raut wajahnya tidak sabar lagi.
Tiba di rumah , Maminya Ken belum tidur ia masih mengendong baby Tiara yang rewel.
“Assalamualaikum,” sapa Aisah, sorot matanya merasa bersalah, melihat ibu mertuanya bergadang karena Baby tiara.
“Walaikumsalam,” jawab wanita itu dengan sabar.
“Apa dia cengeng ,Mi?” tanya Aisa mengambil alih baby cantik itu dari gendongan Ibu mertuanya.
“Sini-sini kamu tidak boleh menggendongnya lagi, ini berat,” kata Ken seakan ia sudah tau, kalau Aisah sudah pasti hamil.
“Husss,” kata Aisah memincingkan matanya. “Jangan berlebihan mas, belum tentu,” kata isa menghardik pinggang suaminya
“Ada apa?” tanya mami menatap Aisah dan Ken bergantian.
__ADS_1
“Tidak Mi, mas Ken, suka bercanda,” kata Aisah menutupinya tidak ingin mengunbar-umbar dulu sebelum tau kepastiannya.
“Iya Mi, sepertinya mami akan punya cucu lagi,” kata Ken, matanya bersinar tanda senang,
“Benarkah? Itu kabar baik,” kata wanita bersemangat
“Iya ampun Mas. Kenapa jadi seperti ini, kita belum cek loh mas..!” kata Aisah kata Ia merasa malu bercampur rasa cemas, karena ia juga belum tau, ia hamil apa tidak tapi Ken sudah terlebih dulu membuat pengumuman tentang kehamilannya.
“Mam sini,” kata Maminya memangil omanya Ken, orang tua itu ikut, keluar kamar mendengar suara-suara ribut-ribut membuatnya penasaran.
Maklum omahnya Ken sifat keponya masih tinggi.
“Iya ampun aku belum periksa Mas, aku jadi malu,” kata Aisah, ia menarik kerudungnya menutupi wajah cantik, apalagi saat semua anggota keluarga pada ikut datang, mengucapkan selamat padanya, semua karena kelakuan Ken.
“ Kalau tidak pakai dulu, periksa, kita tunggu disini hasilnya,” kata Maminya menyuruhnya mengunakan testpack yang mereka beli tadi.
Wajahnya tiba-tiba terasa dingin, tangannya berkeringat, ia tidak pernah menduga akan seperti ini. Aisa berjalan ke kamar mandi untuk menggunakan tespeknya, jantungnya lagi-lagi berdetak lebih cepat dari biasanya, ia takut kalau apa yang diharapkan tidak terjadi. Ia menatap suaminya dengan mata sayu.
“Sudah sana..!” kata Ken mendukungnya.
Dalam kamar Ia terlihat beberapa kali menarik nafas panjang. Hingga ia merasa mulai tenang, ia memasukkan alat pengecekan kehamilan itu ke dalam wadah kecil, sebelumnya sudah mengisinya dengan air seninya.
Keluarga suaminya menunggunya di ruang tamu, melihat wajahnya yang terlihat sedih, Ken hanya tersenyum kecil, perkiraannya salah ibunya juga terlihat kecewa tapi mencoba tersenyum dan bersikap tenang.
“Sudah, tidak apa-apa, berarti waktu kalian masih untuk, Tiara,” kata Maminya mencoba menenangkannya.
“Maaaf aku ,Mi, ta-“
“Tidak apa-apa masih banyak waktu, masih muda,” kata Omahnya ken.
Aisah semakin terisak mendengar semua pengertian dari keluarga suaminya, ia terharu apapun hasilnya mereka menerima dengan baik. Hatinya makin sedih saat mengingat keluarga kakaknya dulu, Rara dulu justru di celakai saat hamil.
“Taka apa-apa sayang,” Ken mengelus kepala istrinya .
“Tapi Mas, aku sedih karena ini.”
Tangannya menyerahkan hasil tespeknya, ada garis dua yang jelas.
__ADS_1
“Haaaaaaa MI..!” Mata lelaki itu melotot tajam di tangannya ada tanda cek kehamilan bergaris dua, “ Kamu bagaimana sih sayang..!” Ken lagi-lagi mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya, ia terlihat sangat bahagia.
Semua mata tertuju pada benda bergaris dua positif itu.
“Iya ampun sayang, tapi kamu sedih ber acting ngetes Mami? Terus terang Mami tadi sudah sedih,” kata Mertuanya memeluknya.
“Aku sedih karena baby Tiara Bagaimana, Mi? aku sedih karena takut tidak bisa menjaga keduanya,kata Aisah.”
“Percayalah sayang, aku akan tetap menjaganya seperti anak sendiri, aku juga sudah terlanjur sayang sama Tiara , kita akan menjaganya bersama-sama, ada omah ada mami kita akan bekerjasama,” Ken tidak bisa menutupi rasa bahagianya karena sebentar lagi, akan menjadi seorang ayah.
Baik Maminya juga sangat bahagia, kehadiran seorang cucu kandung tentunya akan menjadi keinginan seorang ibu.
“Baiklah, kamu tidak boleh lelah mulai hari ini, kata Oamahnya , memberinya banyak larangan, tapi Aisah menyukai hal itu, karena semua yang mereka larang demi kebaikannya,
**
Kehamilan Aisah akan menjadi satu kebahagian untuk keluarga Ken, Ia satu-satunya anak di rumah, ada seorang nenek dan Maminya, hanya itu yang menempati rumah besar mereka selama ini, kehadiran Aisah dan Baby Tiara menambah suasana gembira di rumah mereka.
Tapi kehamilan Aisah, akan menjadi kebahagian sesungguhnya di rumah itu.
Bagaimana tidak, sudah sangat lama mereka inginkan seorang cucu dari Ken.
Makanya pada saat mengetahui kehamilan Aisah maminya meneteskan air mata, karena bahagia.
Saat ini, saat Baby Tiara tidur disitulah kesempatan Aisah, melihat baby cantik itu, karena suaminya dan keluarganya tidak memperbolehkannya mengendong.
Aisah hanya bisa memandanginya saat bocah cantik itu tidur dengan lelap, air matanya lagi-lagi tumpah.
“Sudah, kenapa di tangisin lagi sih sayang,” Ken, duduk di kursi.
“Aku sangat menyayanginya, lebih dari anakku sendiri mas, aku takut tidak bisa mengurus mereka nanti.
“Jangan biarkan pikiran seperti itu, menghinggapi otak cantikmu.”
“Kedatangan kakak ke Jakarta sungguh membuatku bingung, aku merasa terlalu jahat sama kakak, Karena memisahkannya dari anak-anaknya dan suaminya, melihat Tiara mengingatkanku tentang kakakku Rara, aku merindukannya,” Aisah bersedih dan menangis lagi, Mubilma suka sedih bawaannya.
“Kenapa sedih sayang, kak Jenny adalah Rara, rindu wajah Rara tinggal lihat Tiara kan.”
__ADS_1
Tiba-tiba Tiara terbangun, saat melihat Aisah, ia minta di gendong, tapi Ken yang langsung menggendongnya, tatapan mata bulat milik bayi cantik menatap Aisah dengan tatapan bingung.
Bersambung...