
Bastian membawa Rara kedalam mobil mewah berwarna merah, mobil Bastian kebetulan di parkir didepan rumah
Viona dan ibunya Bastian hanya berdiri melihat ke duanya , saat mobil merah meninggalkan rumah besar tatapan marah dan kesal terlihat dari ibu Bastian dan Viona.
Tapi sebelum berlalu Rara menatap sangat tajam pada wanita paruh baya itu lagi.
Ibunya Bastian juga bisa melihat tatapan kemarahan yang di tunjukkan Rara padanya , Ia bisa melihat kalau Rara mengibarkan bendera perang padanya.
‘Kamu salah membuatku marah nyonya, kamu sama saja membangunkan iblis betina yang sedang tidur, mungkin di matamu saat ini aku hanya orang kecil, tapi kamu tidak tau orang kecil juga bisa menjatuhkan orang besar’ Rara membatin
Bastian melajukan Mobilnya meninggalkan rumah dan tidak menghiraukan panggilan Ibunya, tatapan ketidaksukaan yang ditujukan Hartati padanya.
“Bagaimana perasaanmu?” Bastin sangat khawatir.
“Sangat sakit,” wajah Rara terlihat letih dan matanya sembab,
“Apa kita harus kerumah sakit?” Menempelkan tangan di kening Rara
“Badanmu panas”
“Tidak usah kerumah sakit, kita langsung pulang saja biar aku bisa istirahat.”
Wajah tidak bersemangat, mengingat apa yang di lakukan Hartati pada keluarganya membuatnya marah.
“Kamu yakin?”
“Iya”
Kini Rara sibuk membalas pesan pada sahabatnya Sukma.
[Cariin gue anggur merah yang paling bagus,Mey]
[Ha …. Untuk apa mau minum sama Bastian?] Balas Sukma, Rara selalu memanggil sahabatnya dengan sebutan Mey-Mey karena matanya cipit seperti orang China.
[Tidak gua mau minum sama bapak Bastian]
[Apa …. lu uda gila apa] Ia loncat dari tempat tidur langsung duduk
[Apa ada masalah?]
[Iya wanita itu benar-benar membuatku marah, ia benar-benar mengusik keluargaku, Babeh dan Aisah, Riski Di pecat hari ini, bukan hanya itu bahkan anak gue yang tidak tau apa-apa ikut terseret]
[Tenang Ra, jangan gegabah pikirkan baik-baik] Sukma mencoba memenangkan sahabatnya
[ Terus apa yang lu Rencanakan?] Sukma ikut panik
[Gue gak perlu menerangkan sekarang gue hanya butuh Anggur mahal itu, lo harus mendapatkannya sekarang Jangan pakai lama]
[Bagaimana dengan Bastian . Ayolah Ra jangan bikin tambah rumit masalahnya, lu tinggal beritahu ame Bastian Apa yang sudah di perbuat orang tuanya]
Ia mencoba membujuk Rara,
__ADS_1
[Lo hanya perlu membantu bisa kagak?[ tanya Rara
[Baiklah, gue ngalah dah]
Sukma menarik napas berat, merasa sangat khawatir, ia paham sifat sahabatnya, kalau ia lagi marah dan sudah merasa di usik ia terkadang bertindak tidak masuk akal atau bertindak di luar kendali
Terakhir ia masih ingat kemarahan yang paling fatal yang ia lakukan Rara, saat masih kuliah.
Sekolompok mahasiswi melakukan perundungan pada sahabat mereka yang bernama Yolanda. Saat Rara melihat, ia menghajar kelima mahasiswi sampai babak belur bahkan ada patah tulang
Rara terpaksa berurusan dengan polisi dan dapat peringatan dari kampusnya. Rara teman masa kecil Sukma, ia tahu bagaimana Rara kalau sudah marah.
Sukma menyambar kunci motornya, menuruti permintaan sahabatnya. Kalau ia sampai menolak permintaan Rara saat ia sedang marah, maka ia akan mengamuk
Sukma mudah mendapatkan barang pesanan Rara, karena sepupunya Sukma menjual barang mahal itu secara ilegal.
Sebotol Anggur mahal merek Domaine Romanee conti. Minuman berwarna merah itu berasal dari Negara pembuat anggur terbaik di dunia Perancis
Harga per botolnya Rara harus merogoh kocek 7 nol berderet dibelakang untuk satu botol minuman.
Tapi itulah Rara winarti dengan segala keunikannya, walau harga selangit, ia tidak perduli, jika ia sudah marah.
*
Di sisi lain
Bastian terpaksa membawa Rara ke apartemennya, dan anehnya Rara tidak menolak saat ia membawa ke apartemen .
Melihat harganya minumannya, Sukma merasa temannya akan mendapat masalah baru.
“Ini menyakiti hatiku, ini setara dengan harga rumah KPR ku gerutu sukma memikirkan Rara yang kesulitan untuk melunasi harga sebotol anggur, demi membalas Ibunya Bastian.
Ia berniat membujuk Rara untuk membatalkan keinginannya, walau kemungkinan kecil, bahkan tidak ngaruh sama sekali, kalau Rara sudah marah maka siapapun tidak akan bisa menghalanginya.
Sukma menelepon Rara, berharap sahabatnya mengurungkan niatnya untuk memesan minuman berlabel mahal itu.
Kriiing ….
‘Kenapa sih malah ia menelepon’ Rara mendesis kesal.
“Kenapa?” tanya Rara melirik Bastian.
“Sukma yang telepon.”Rara memberitahukan Bastian karena lelaki itu meliriknya berulang kali saat ponselnya berdering,
“Itu obat lu yakin?” tanya Sukma di ujung telepon ia menganti naman anggurnya jadi obat.
“Iya, bilang saja sama bang Billy, gua mau . besok gue transfer uang obatnya,” kata Rara
“Tinggal yang harganya mahal, bagaimana?” Sukma berharap Rara membatalkannya,
“Ambil saja, pilih paling bagus,” ucap Rara ia bicara hati-hati karena ada Bastian di sampingnya.
__ADS_1
“Ok baiklah”
Rara menutup teleponnya, berusaha tetep tenang disamping Bastian
“Ah ia sangat menakutkan kalau sudah marah,” gerutu Sukma membungkus pesanan Rara. Ia sudah siap mengirimkannya pada Rara
Setelah istirahat beberapa jam Rara sudah merasa bugar.
“Apa masih sakit Ra?” tanya Bastian ia duduk di sisi ranjang.
“Sudah mendingan, tapi aku belum kuat berdiri. Bastian ayo kita menikah”
“Haaa? Ra … kamu tidak apa-apa?”
“Tidak, apa kamu mau menikah denganku tanpa di dampingi kedua orang tua kita?”
Bastian terpaku, bibirnya terasa keluh, hatinya sangat senang saat Rara mau menikah dengannya hal yang ia impikan. Tapi otaknya menolak, ia tidak ingin mengecewakan orang tuanya.
“Apa terjadi sesuatu? Apa ibuku melakukan sesuatu padamu?”
“Aku menerima lamaran mu. Apa masih berlaku?”
“Baiklah, sepertinya tidak berguna lagi.” Rara berdiri.
“Ra … Ra jangan salah paham, setidaknya biarkan omah dan ayah yang jadi saksi dari keluargaku. Ra, bukankah oma sama ayah mendukung kita?
“Tidak, lupakan saja kalau begitu, aku akan pulang. Nanti Pak Ken mencari ku, aku masih bekerja pada-”
“Baiklah biarkan aku berpikir sebentar”
Melihat Bastian terlalu banyak berpikir membuat Rara kesal.
‘Dasar bocah, apa kamu tidak bisa mengambil keputusan sendiri, apa harus meminta izin sama ibumu yang jahat itu juga?’
“Kamu kebanyakan berpikir Bastian”
“Ra, aku memang sangat mencintaimu, kamu tahu kalau aku anak satu-satunya di keluarga Salim, tidak semudah yang kamu pikirkan”
“Baiklah, kalau kamu tidak mau. Aku tidak bisa bertahan kalau seperti ini. Kalau begitu temenin aku minum, otakku bisa gila kalau aku memaksakan diri berpikir”
Rara membawa anggur yang ia pesan dari Sukma, rencana besar itu akhirnya ia jalankan.
“Ra, tapi dari mana ini …?”
“Sudahlah, jangan banyak tanya”
Bastian tidak menolak ia minum, ia tidak tahu anggur itu akan mengubah kehidupannya selamanya.
‘Kamu terlalu banyak berpikir terpaksa aku melakukan ini. Itu semua karena ibu yang jahat’ Rara membatin
Bersambung ….
__ADS_1