
. Motorku melayang, saat sadar, aku segera melompat. Untung lagi, Ai! Tubuhku nyangkut di semak-semak, persis di tempat rumah kecil ini kubangun.”
“Terus?”
“Ya, akhirnya semua terbongkar karena masih ada sisa obat tidur dalam kantong celana temanku itu. Sejak saat itu, aku sadar. Uang banyak, kalau tidak berbagi dengan yang membutuhkan akan membawa masalah. Sebab dalam harta itu, ada hak orang lain.”
Aku mengembuskan napas. Mendengarkan cerita Aryo, membuatku semakin jatuh hati padanya. Dia benar-benar dewasa dengan ilmunya.
“Titik baliknya, ya, saat adikku meninggal itu, Ai! Aku, benar-benar insyaf. Sejak saat itu, aku sering membantu para tuna wisma, pemulung dan orang sakit yang tidak memiliki biaya berobat.”
“Kenapa mereka sampai ke tempat ini?”
“Itu, dia! Saat aku melihat motorku berada di dalam sungai itu. Ada pikiran yang datang tiba-tiba. Ingin mendirikan kampung wisata edukasi. Penghuninya para tuna wisma yang benar-benar mau mengubah hidup dengan keahlian khusus, yaitu membatik tadi. Alhamdulillah, ayah dan ibu sangat mendukung. Berkat doa beliau juga, aku bisa bertemu kamu.”
“Maksudnya?”
“Setelah kampung ini setengah jadi, aku menyatakan pada ibu tentang harapanku memiliki kamu. Beliau mengizinkan. Makanya aku semangat mendapatkan kamu, Mba Aida!”
“Ini jujur apa fiksi?”
“Ya, jujurlah, kalo ga percaya belahlah dadaku? Atau ...!”
“Atau apa?” Aku mencibir.
“Atau aku yang akan ....” Kalimatnya terhenti.
Aryo merebahkan tubuhku di matras, lalu menatap lama bola mataku. Hanya sesaat aku sanggup membalas tatapan itu, dada yang bergemuruh membuat mataku terpejam.
“Mba! Aku ga mungkin melakukan itu di sini! Kita kan belum mandi, belum Shalat sunah! Di rumah aja nanti malam kita coba ibadahnya. Minggu depan baru ke sini lagi setelah membawa perlengkapan.”
Dia menarik napas berulang kali setelah berbuat sedikit nakal padaku. Aku pun sedang berusaha mengatur napas saat Aryo mengajak pergi dari rumah kecil itu. Dia kira gampang apa menjinakkan gelora seorang perempuan. Seenaknya saja dia bakar, lalu disiram dengan air sesumur. Ya, pasti berasaplah kepalaku saat dia membantuku berdiri untuk merapikan pakaian.
“Telepon dari siapa, Beng?” Aku yang tertidur berbantal pundaknya terbangun mendengar dering suara HP.
Rasa capek yang mendera, serta rasa sesak karena gelora yang membara tiba-tiba dipadamkan begitu saja, membuat kantuk menguasai diri. Sehingga baru beberapa menit di dalam mobil, aku langsung pindah alam.
“Dari ibu,” bisiknya, sambil tetap melekatkan HP ke telinga.
“Ogh!”
“Ibu mau bicara.” Dia membelai lenganku dengan tangan kirinya yang ternyata dari tadi sudah berada di sana.
“Aku?”
“Iyalah! Masak sama Pak Supir.” Aryo mencubit lenganku pelan.
“Sakit!”
“Itu belum seberapa.”
“Jangan mulai deh!”
“Makanya, ini ibu mau ngomong.”
Aku segera memperbaiki posisi duduk, lalu mengambil alih alat telekomunikasi milik suami.
“Assalammualaikum, Aida!”
“Waalaikumsalam, Bu.” Aku bingung, mau bertanya lebih dahulu tentang kabar beliau.
Waktu selesai nikah, kami pun hanya berpelukan. Tidak sempat berbincang karena beliau buru-buru. Tapi, wajahnya memang terlihat sangat keibuan dan baik.
Nada suaranya pun sangat lemah lembut. Tapi, aku tidak bisa menilai dari luarnya saja, kan belum berinteraksi lebih jauh.
“Maaf, ya, Da! Kemarin ibu buru-buru, jadi lupa mengatakan sesuatu.” Suara ramah itu membuat pikiran tentram.
“Tidak apa, Bu! Aida juga minta maaf, kemarin itu kejadiannya sangat cepat.” Terbayang ditangkap saat basah-basah, membuatku menggigit bibir.
Ini bukan lagi karena kecewa, tetapi malu diperlakukan seperti orang tidak memiliki adab oleh warga tersebut.
“Itu takdir Allah. Ohh, iya! Aryo sudah cerita semuanya? Kalau begitu, maafkan dia, ya, Da!”
Aku tertawa kecil. Ternyata suami memang sangat terbuka dengan ibunya. Ketika seorang anak bisa menghargai dan memuliakan ibunya. Aku yakin dia pasti akan memuliakan perempuan yang menjadi istrinya. Karena sudah terbiasa menghormati seorang wanita.
“Ibu titip Aryo, jaga dia seperti menjaga diri sendiri. Saat ini, kalian seperti selimut. Yang harus menutupi aib yang satu dan yang lain. Semoga pernikahan kalian berkah dan selalu bahagia.”
Air mataku berlinang mendengar doa mertua. Ternyata, isi kepala Aryo, berasal dari kalimat lemah lembut, tapi penuh pengajaran wanita hebat tersebut.
“Iya, Bu! Akan Aida jaga seperti suami sendiri.” Astaga, apalah ini.
“Ya, iyalah! Masak menjaga suami orang! Itu namanya selingkuh!” Si ibu bukannya marah, tetapi malah tertawa.
“Maaf, Bu! Ini anu!”
Saat mertua bicara, tangan Aryo sedikit nakal. Makanya kurang konsentrasi. Aku mendelik ke arah suami yang cengengesan.
“Kamu sudah terkontaminasi sikap Aryo. Dia emang suka seenaknya. Saat ini dia pasti mengganggu kamu yang sedang menerima telepon. Cubit aja pinggangnya!” Tawa mertua semakin berderai.
“Ya, sudah! Nikmati hari kalian. Ibu ridho!”
Setelah telepon ditutup. Aku segera mencubit pinggang Aryo yang pura-pura tidak bersalah.
“Gara-gara kamu ini! Aku jadi salah ngomong.”
“Sayang! Gosah dipikirkan semuanya. Cukup aku saja yang ada dalam benakmu, karena aku yang harus bertahta di sana!”
“Abeng!”
“Apalagi?”
“Kesel akutu! Tau apa kata ibu?”
__ADS_1
“Ya, ga taulah! Orang HP di kamu!”
“Ibu nyuruh aku menjaga kamu!”
“Bagus, dong! Jadi anak kecil terus ada yang jagain!”
“Bukan itu, Beeeng!”
Duh! Kesal.
“Terus apa? Karena yang tadi?” Dia malah mengedipkan mata.
“Bukan! Gara-gara salah ucap tadi, ibu mungkin menganggap aku istri yang suka main mata.”
“Ya, nggaklah, Ai! Insya Allah, mata kamu hanya digunakan untuk melihat yang halal.”
Karena yang mendengar bukan kamu, Yo! Aku memejamkan mata. Rasa tidak enak membuatku bungkam hingga mobil memasuki kawasan perumahan kami. Walau Aryo masih sering mengganggu, tapi rasa sesal lebih kuat karena memang aku orangnya baperan. Takut, mertua salah sangka.
Padahal, itu murni tidak sengaja.
**
“Kalian kok, pulangnya sore begini?” Mama yang sedang melihat bunga-bunganya menatap heran.
Aku yang masih terlihat ngantuk, menjawab asal. Mungkin alam bawah sadarku masih berkuasa di pikiran.
“Dari surga, Ma!”
“Dari surga? Emang ada mobil yang keluar masuk surga? Kalian itu baru pulang pakai mini bus, Aida! Masak sari surga?” Mama terlihat kesal bercampur gemas.
“Maaf, Ma! Tadi, Aryo ngajak Aida ke desa wisata yang kemarin aku liatin ke Mama!”
“Yang kamu videoin itu? Waah! Ga adil kamu, Yo! Mama kapan diajak ke sana? Sekalian mau borong batik buatan anggota kamu. Nanti mama bantu pasarkan!” Wajah mama antusias.
Ohh! Jadi mama lebih tahu dari aku? Aryo pun lebih terbuka pada mama? Lalu, aku?
“Eh, Beng! Kamu, kok malah cerita ke mama duluan?” Bibirku mengerucut.
Dia menggeleng-gelengkan kepala. Lalu membelai lenganku pelan.
“Ai!”
“Udah, Ayang, ayangan, Nih?” Mama menatap kami bergantian dengan gaya yang lucu.
“Ish, Mama!”
“Ai! Mertua itu, harus diperlakukan seperti orang tua kandung. Itu kewajiban. Karena selama ini, aku terbukanya sama ibu, kebetulan mama pun sangat welcome, jadinya aku cerita. Ga kayak kamu!”
“Gak kayak aku gimana? Marah-marah gitu?” Aku mendelik dan mendesah keras.
Mama dan Aryo malah tertawa bersama.
Waduh!
Jangan-jangan memang bau, tapi hidungku ga ada mencium yang aneh-aneh.
**
Magrib berjamaah, ada papa yang menjadi imam. Kami bertiga menjadi makmum. Setelahnya, papa dan Aryo mendaras Al-Quran.
Wajah Papa begitu bahagia kulihat. Dari dulu beliau memang ingin mendapatkan menantu yang bisa menemaninya mengaji, sekarang doa itu terkabul sudah.
Aku dan mama segera menyiapkan makan malam. Berbagai olahan ikan, ternyata sudah dibuat mama.
“Ikan lagi, Ma?”
“Ya!”
“Kok, ya?”
“Biar hormon meningkat, Mama pengen ...!”
“Punya cucu?”
“Nah, tuh, tau!” Mata mama terlihat lucu saat dikedipkan seperti itu.
Aku menarik napas berat. Mau bertanya, lalu! Ga bertanya membuat pikiran terasa berat.
“Ada apa, Da?” Mama mengagetkan.
Aku menggeleng lemah.
“Udah, tanya aja! Gosah sungkan! Mama ini ibu kamu, yang melahirkan kamu, untuk apa malu!”
Ya!
Selama ini memang mama tempatku bertanya banyak hal, tetapi tentang malam pertama, apa pantas aku bertanya?
“Kamu takut?”
Sepertinya mama langsung paham.
“Ga sakit, kok! Asal pemanasannya cukup. Kalau langsung tembak, ya, sakitlah! Orang masih disegel.” Mama terlihat geli saat bicara.
“Aida, pernah baca artikel, Ma! Ada yang mengatakan seperti yang Mama sebutkan tadi. Tapi, ada juga yang menuliskan kalau malam pertama itu sakit!”
Mama duduk di kursi makan, lalu menyuruhku duduk di sampingnya. Tangannya membelai pipiku lembut. Tatapan matanya sedikit menenangkan.
“Da! Yang namanya luka, pasti sakit. Tapi, ketika kita ikhlaskan untuk ibadah. Sakit itu bisa ditahan. Sejatinya istri itu untuk melayani suami. Pahalanya sangat besar di mata Allah. Tetapi, ketika seorang istri menolak dicampuri suami, maka malaikat sampai pagi akan mengutuk sang istri. Mama yakin, kamu sudah bisa menerima Aryo.”
Aku pernah baca juga tentang hal itu. Tetapi, tetap saja aku rada ngeri membayangkan malam pertama dengan suami belia. Tapi, Mudah-mudahan, senjatanya sesuai umur, jadi tidak terlalu sakit nantinya.
__ADS_1
“Ambil piring, gih!”
Aku segera berdiri dengan pikiran campur aduk dalam kepala.
Selesai makan, mama meminta Aryo makan telur setengah matang. Untuk mengurangi kecurigaan, Mama pun membuatkan untuk papa.
“Kebetulan ayam kampung yang mama pelihara bertelur. Dari pada ga netas.”
Melihat ayam? Sejak kapan? Orang di belakang hanya bunga keladi dan lain-lain. Mama boong!
Setelah bincang-bincang selepas makan, kami pun segera shalat Isya, karena Azan sudah berkumandang. Kali ini, Aryo yang mengimami. Ada haru dalam dada. Ketika di luar sana banyak lelaki yang tidak bisa menjadi imam bagi istrinya, aku yang mendapatkan Aryo, malah kadang merasa kurang terima.
Tuhan!
Tolong bukalah pintu hati yang kadang tertutup dan terbuka karena pikiran sendiri ini. Ajarkan aku ikhlas, walau melakukannya tidak semudah mengucapkan.
**
Di kamar, aku mulai agak nyaman berdua dengan suami. Mungkin karena seharian kami bersama, jadi sudah sedikit terbiasa.
“Ay! Aku buat konten dulu sebentar. Kalau kamu mau rebahan tak apa!”
“Aku mau lihat apa yang kamu buat!”
“Boleh! Sini!”
Dia menepuk pahanya, agar aku duduk di atasnya. Kepalaku menggeleng, aku belum seberani itu, Yo!
“Ya, sudah! Di samping aja!”
Hampir satu jam, Aryo membuat video dengan berbagai Caption. Aku mengagumi kelihaiannya mengolah kata-kata.
CINTA YANG SEMPURNA TIDAK PERLU DIKATAKAN, TETAPI DIAPLIKASIKAN. PECINTA SEJATI ITU, MAU MENERIMA, TANPA MENUNTUT APA PUN PADA PASANGANNYA.
“Ish, keren!” pujiku tulus.
“Makasih, ya, Ai!” Dia meraih jemariku, lalu mencium lembut telapak tanganku yang dia buka.
Matanya menatap sayu, “Bisakah, aku meminta hakku sebagai suami sekarang, Ai?” lembut dan bergetar.
Jantungku berdentum hebat, tapi aku harus mengiyakan. Dari pada dilaknat malaikat sampai pagi.
“Kita shalat sunnah dulu!” Dia segera mengajak wudhu.
Shalat penuh air mata, penuh haru dan entah apa namanya. Yang jelas dia Aryo membuatku tak bisa berkata-kata.
Setelah mencium lembut keningku, dia membuka lambat-lambat kain shalat. Lalu menuntunku ke pembaringan.
Walau dada berdebar kencang, aku tetap menahan diri untuk terus patuh.
Ketika Aryo hendak mengambil haknya, dia terdiam lama saat melihat ke arah seprai sebelum menutupi diri dengan selimut.
“Kenapa?” tanyaku lirih.
“Belum diapa-apakan sudah berdarah!”
“What?”
“Ini ada bercak darah!
“Pantesan tadi perutku sakit saat makan, dan waktu shalat sunnah tadi berasa buang air kecil. Aku haid, Beng! Maaf!” Wajahku memelas. Aryo mendesah berat.
“Puasa jadinya, Ya, Allah! Tapi, bukankah sabar lebih baik dari pada tergesa-gesa?” Dia bicara sendiri.
Duh!
Halangan menghambat pertempuran, dia tidak marah. Tetapi berusaha membuatku terlelap dengan membelai rambutku dan mengatakan, akan sabar menunggu sampai aku bersih.
Karena diharamkan seorang laki-laki mencampuri istrinya ketika sedang haid.
**
Walau semalam tidak ibadah, paginya Aryo tetap bangun sebelum subuh. Mandi dan keramas. Rambutnya yang basah membuat wajah beningnya semakin memesona. Aku yang masih berbaring, hanya bisa melihat kegiatannya dari bangun tidur.
“Aku shalat dulu, Mba!” Senyum pepsodentnya membuat dada berdebar aneh.
Aku mengangguk. Dengan mata tidak lepas dari wajah hingga ujung sarungnya yang berada di atas mata kaki. Lelaki belia itu memang luar biasa. Semalam, sebelum tidur dia berkata, satu keluarga akan bahagia, dirahmati, jika suaminya bangun lebih dahulu, lalu membangunkan istrinya untuk shalat berjamaah. Dan banyak lagi kisah pengantar tidur yang dia ceritakan. Termasuk Ganbala yang membuat perubahan untuk orang-orang terlantar.
**
“Biar aku yang nyopir! Setelah aku sampai ke kantor, baru Mba nyetir sendiri!”
Alisku bertaut.
“Emang sudah ada SIM?”
“Ya, elah, Mba! Jangankan SIM. Surat nikah aja aku sudah pegang. Hanya menyetir kamu yang belum bisa!”
“Gombal!”
“Lha, kan, iya! Aku mulai puasa hari ini. Jadi tolong jaga sedikit pejuang malam pertama milikku. Ga usah terlalu manja dan bersandar kek kemarin di mobil. Nanti yang lain terpakai lebih awal. Ga enak, kalau tidak seutuhnya.” Dia mengedipkan mata.
“Bisa ga, sih! Ngomongnya jangan miring mulu?”
“Mba, bercengkerama dengan istri itu membuat semangat bertambah. Lagian, namanya juga sedang menahan hasrat. Wajar aja, kalau sedikit oleng. Layu sebelum berkembang, jadi agak gimana gitu, ketika bersentuhan.”
Dia segera membuka pintu mobil untukku.
“Silakan Putri Aida!”
“Terima kasih, "
__ADS_1