
“Baiklah, aku mengerti,” tiba- tiba menurut, tapi matanya tidak pernah lepas dari Aisah. Tapi wanita berkerudung itu, bukan tipe yang gampang tergoda dengan rayuan lelaki. Sifat mirip Rara tidak gampang tergoda pada lelaki. Ia bersikap tenang dan acuh saat Kenzo terus menatap.
“Berhenti memandang adikku seperti itu! dasar buaya,” maki Rara kesal.
“Kok, galak amat sih, adik kamu malah beda, lembut dan ramah.” Kata kenzo
Tiba-tiba menuruti semua apa yang dikatakan Rara.
Urusan si buaya darat ini , bisa diatasi berkat kecantikan adiknya Aisah.
Kini tinggal urusan Sukma yang tidak bisa di hubungi, entah apa yang terjadi padanya karena tiba-tiba malam itu, ia tidak bisa di hubungi sampai saat pagi ini.
Rara bekerja keras dari malam sampai paginya matanya tidak lepas dari berkas dan laptopnya.
Aisah tidak tega melihat kakaknya, walau Rara tidak ingin melibatkannya menyuruhnya pulang, ia tidak mau.
Paginya , ia membeli bubur, ia terpaksa menyuapi kakaknya karena melupakan segalanya karena pekerjaan yang sudah pegang . Ia paham kebiasaan kakaknya kalau sudah bekerja akan totalitas bangat ia bahkan tidak akan memperdulikan sekitarnya.
“Buka mulutnya,” kata Aisah, Rara menurutinya tapi matanya tidak lepas dari layar laptop di depannya.
“Aisah suntik kakak vitamin iya , saya khawatir yang ada nanti kakak sakit, tidak tidur satu malam.” Kata Aisa, lagi-lagi Rara hanya mengangguk setuju
Habis satu mangkok bubur, tanpa sekalipun ia menoleh kearah mangkoknya. Aisah dengan sangat perhatian menyuntik lengan aisah dengan vitamin dan penambah daya tahan tubuh, tidak hanya itu,ia mengikat rambut kakaknya yang ia biarkan lepas dan berantakan.
Rara terlihat seperti robot, bekerja di layar laptopnya tanpa memperdulikan orang sekitarnya.
“Makasih, Sah, aku tidak ingin sebenarnya kamu disini, aku takut nanti ada yang mengintai,” ujar Rara
Ia dan Aisah menempati salah satu kamar samping Ayah mertuanya, ia memilih lebih dekat agar bisa berkoordinasi.
Ia bahkan bisa menyadap scctv yang ada di Hotel dan menyambungkan ke laptop ke asistennya, agar bisa mengawasi keamanan di sekitarnya.
__ADS_1
“Apa yang bisa bantu kak?"Aisah menawarkan diri membantu Rara yang sibuk sendiri.
“Ok, ini saja berkas yang ada di email print sebanyak 30 lembar, pada saat hari itu tiba, saya tidak perlu menjelaskan biarkan para tikus berdasi itu membaca sendiri, apa-apa yang mereka perbuat di perusaan ini dengan begitu Bastian tinggal menendang mereka keluar kata Rara
“Baik kak,” jawab Aisah ia ikut memprint berkas-berkasnya, walau hanya itu yang bisa ia bantu, karena ia tidak sehebat mpoknya yang bisa membobol semua data dari Perusahaan.
“Aku sudah menemukan titik dimana Sukma , ponselnya memang mati, tapi aku bisa menemukan titik keberadaanya, aku bersyukur ia sepertinya di rumahnya , tapi aku harus kesana, kamu pulang saja ,iya, takut emak khawatir,” kata Rara.
Ia membereskan semua data yang penting dan data rahasia perusahaan, ia memberikan salinannya pada aisah untuk menyimpannya untuknya.
“Iya kakak, hati-hati iya,” kata adiknya ingin pamit duluan pulang
“Aku, akan mengantarmu pulang duluan, jangan keluar dulu dari rumah iya , sah , takutnya ada yang sudah mengikuti kita,” kata Rara lagi-lagi sangat menghawatirkan adiknya.
“Iya.” Kata Aisah ia terlihat takut.
“Jangan takut sah, tidak akan terjadi apa-apa,” kata Rara menyakinkan adiknya walau ia sendiri takut
“Iya kak,” jawab Aisah.
Mobil berwarna hitam itu meninggalkan hotel sederhana itu, ia memilih hotel yang kecil, agar tidak mudah di temukan.
Ia berhenti sekitar sepuluh menit mengawasi sekitar, memastikan tidak ada yang mengikutinya, Ia mengecek ponselnya, dan merasa aman ia baru meninggalkan tempat itu.
“Kakak seperti seorang mata-mata di film James bond deh,” kata Aisah, ia mengagumi kepintaran kakaknya tentang teknologi. Ia bisa meretas ponsel milik mertuanya dan dengan mudah dapat menemukan data –data penting milik keluarga Pangestu group. Padahal perusaan persero itu memiliki kunci pengaman data, Tapi Rara bisa membobolnya dengan mudah. Hanya menunggu waktu saja kapan Perusahaan itu ikut di guncang oleh hacker jenius itu.
“Iya , sedikit ter inspirasi dari situ juga,” kata Rara bergurau.
Hingga akhirnya tiba didepan rumah mereka, Rara memang tidak turun, tapi ia mengawasi dari jauh .
Aisah juga terlihat celagak-celeguk kanan –kiri gadis cantik itu tidak bisa menyembunyikan ketakutannya saat memasuki rumah mereka
__ADS_1
Rara memastikan adiknya aman Rara memutar kendaraanya menuju rumah Sukma di Jakarta Pusat, menurut titik yang ia temukan sahabatnya pulang kerumahnya.
Rara menghidupkan mesin mobilnya meninggalkan rumah itu menuju rumah Sukma.
Ia menarik nafas panjang merasakan keheningan dalam mobil itu, ia tidak ingin mengantuk ia menyetel musik audio dari mobil milik Sukma.
Mobil sukma terpaksa ia pakai dari kemarin, karena sukma mendadak menghilang dari rencana yang mereka susun, entah apa yang terjadi pada wanita bermata sipit itu.
Untung jalan tidak terlalu macet, hingga Ara tidak perlu makan waktu lama untuk sampai kerumah sahabatnya. Ia penasaran apa yang terjadi, ia yakin pasti terjadi sesuatu karena ia tau Sukma orang yang bertanggung jawab.
Hingga tiba di depan rumah Ibu sukma, ia dan anak-anaknya terpaksa tinggal di rumah orang tuanya, sejak suaminya meninggalkannya . sebenarnya sukma sudah punya rumah sendiri, tapi ia memilih tinggal di rumah ibunya, walau hampir ia tiap saat bertengkar dengan ibunya , yang selalu menyalahkannya tidak becus mengurus suaminya.
Walau sebenarnya itu tidak adil bagi sahabatnya, apa suami selingkuh harus salah istri?” Dasar lelakinya saja yang imannya lemah dan mudah tergoda dengan godaan daun muda.
Padahal, ia tau Sukma sangat perhatian untuk suaminya, bahkan kadang ia ikut suaminya bekerja. Tapi tetap saja bisa kecolongan.
Rara memarkirkan mobil berwarna hitam itu didepan halaman rumah bercat warna kuning itu.
“Assalamualaikum,” sapa rara mengetuk pintunya
“Wulaikumsalam, eh nak Ara, masuk-masuk,” Ibu sukma menyambutnya dengan ramah.
“Meng-meng kemana Mak?” tanya Rara duduk di sofa
“Enggak tau apa lagi yang terjadi pada temanmu itu, pusing emak Ra, rutuk wanita paruh bayah itu terlihat kesal “ Ia pulang-pulang sudah menangis tadi malam belum turun sampai sekarang, ia bahkan tidak memperdulikan anak-anaknya, apa sudah berangkat sekolah apa belum,” kata ibunya mulai terlihat merepet, menyalahkan anak perempuan satu-satunya itu,
Perselingkuhan yang dilakukan suaminya benar-benar membuat sahabatnya terpuruk.
Bersambung
Maaf masih banyak typo naskahnya belum sempat revisi, jadi masih
__ADS_1