Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Ingin Tau Kebenaran


__ADS_3

"Saya melihat teman lama, aku harus pergi melihatnya, tapi jangan lupa untuk menyelidiki kasus itu, aku minta tolong sama kamu, Mey, kabarin aku lagi," kata Bastian sikapnya buru-buru.


Sukma masih tinggal menikmati minuman yang ia pesan, Melihat Bastian dan memintanya menyelidiki kasus lagi, ingatannya kembali pada Rara.


Kenangan yang indah akan di kenang orang yang kita sayangi, walau saat raga tak lagi saling menyapa.


Sukma ingin melihat-lihat kenangan bersama Rara, ia ingin mengenangnya sendirian, makanan yang selalu di beli Rara, Kerak telor, makanan ini tidak pernah ia lupakan saat mampir di Ancol.


Ada satu cafe favoritnya, cafe yang menjual aneka jajanan Betawi, jajanan Rara waktu kecil.


Aku rindu tempat itu, iya ampun aku berharap melihatnya di sana, berharap ia memesan makanan kesukaannya dan ia tersenyum padaku, ya Alloh aku rindu padanya, kata Sukma dalam benaknya.


Ia berjalan menuju cafe favoritnya dengan Rara dulu,tapi mata cipit itu menatap tajam, tanpa sadar mulutnya berucap 'Rara kenapa ia bisa ada di sana'. Ia juga duduk di tempat yang biasa yang mereka duduki, ia juga memanggil Sukma, persis seperti saat Rara memanggilnya.


Sukma datang, tempat tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang saja.


" Sini, kita bertemu lagi mau pesan


apa?"


Tapi mata Sukma menatapnya dengan curiga, karena duduk yang di lakukan Jenny persis seperti yang di lakukan Rara, ia duduk mengangkat satu kakinya bukan hanya itu minuman yang ia pesan, jenis yang di pesan juga.


Apakah jiwa Rara pindah ke tubuh orang ini? Kalau tidak apakah Ia Rara yang mengganti wajahnya maksudku ia operasi.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Iya ampun aku sangat merindukannya, Apakah kamu Rara?" tanya Sukma menatap sayu pada sahabatnya.


Saat Rara dinyatakan meninggal dunia. Sukma tidak lantas percaya begitu saja, ia masih mencari tahu, orang tua Rara menghindarinya membuatnya curiga ia yakin kalau orang tua sahabatnya, menyembunyikan sesuatu.


“Aku tidak paham apa yang sebenarnya yang terjadi, mungkin wajahku mirip seseorang, tapi aku juga tidak tau, tapi ada lelaki juga ada yang berpikir sama denganmu, kata, Jenny apa adanya.


“Ada seseorang juga yang menganggap mu mirip Rara?”


Tapi tiba-tiba ia mengingat apa yang di katakan ke dua orang tuanya, kalau identitasnya tidak boleh ada yang tau selama ia tinggal di Indonesia.


Sukma menatapnya penuh kecurigaan, ia berharap kalau Jeny adalah Rara, ia masih menunggu wanita cantik itu menjawabnya pertanyaannya.

__ADS_1


“Iya banyak yang bilang kalau saya mirip artis, itu maksud saya,” kata Jenny mengalihkan.


Kriiiing...


Kriiiing...


Emaknya meneleponnya, melihat Sukma yang terus menatapnya penuh penyelidikan. Ia terpaksa menerima teleponnya di luar.


“Kamu dimana Jenny? babe memarahi mak gara –gara kamu,” teriak Emaknya lewat telepon.


Sukma melihat cara Jenny menerima teleponnya, membalikkan layar ponselnya , kebiasaan Rara saat menerima telepon dari emaknya.


“Itu kebiasaan Rara saat menerima telepon dari emaknya, kalau itu encing yang menelepon’ aku yakin kalau Jenny adalah Rara,” kata Sukma, ia mendekat, tangannya gemetaran , mata berkaca-kaca menatap Jenny, orang yang menelepon itu benar Bu Soimah emaknya Rara.


Kamu Rara, Jenny adalah Rara aku yakin itu, aku yakin kata Sukma menutup mulutnya menahan perasaannya.


“Iya Mak nanti Jenny pulang ini lagi di ancol,” kata Jenny.


“Ancol? katamu siapa, Ko bisa?” teriak emaknya, suaranya makin meninggi hampir memecah gendang telinga Rara.


“Tunggu di sana, jangan kemana-mana kami akan datang , kami sudah dekat tadi kita cari ke rumah lama kita, sekarang kami putar balik dengan Babe.”


Sukma melihat Bastian, mencari-cari, ia yakin yang lihat Bastian tadi pasti Jenny, sama sepertinya Bastian juga mungkin mencurigai jenny adalah Rara.


“Sini menunduk kamu tidak boleh di lihat olehnya,” ia terpaksa membawa Jenny ke dalam Hotel, supaya Bastian tidak melihatnya. Hingga tiba dalam Hotel Sukma belum puas ia terus saja mengorek informasi tentang Jenny.


“Apa kamu punya adik bernama Aisah?”


Jenny terlihat ragu untuk menjawab, ia hanya diam jangan takut aku temanmu Rara.


Aku juga akan melindungi kamu,” kata Sukma, ia memeluk Jenny, Jenny hanya terlihat bingung dan ia menatap Sukma dengan tatapan mata penuh kewaspadaan.


Setengah jam di dalam kamar Hotel.


Kriiiiiing...


Kriiiiiiing...

__ADS_1


Kali ini Sukma yang menerima teleponnya.


“Ini aku cing,” kata Sukma di ujung teleponnya.


“Mey..? kok bisa sama Jenny,” bu Soimah terlihat sangat terkejut, mereka sengaja menyembunyikan identitas Jenny atau Rara dari sahabatnya, tapi kenapa bisa bertemu?


“Nanti aku ceritakan Cing, Bastian dan teman-temanya ada di sini juga, encing langsung masuk saja ke dalam nanti saya jelaskan, pastikan tidak orang yang tau kata Sukma.


Pak Agus sama bu Soimah akhirnya tiba di Hotel mengikuti apa yang bilang Sukma, memastikan tidak ada orang lain yang melihat kedua orang tua Jenny, mereka berdua langsung masuk kedalam kamar 46.


“Mey..?” kok kamu bisa sama Jenny?” tanya bu Soimah begitu sampai di kamar Hotel.


“Ini’ benarkan iya Cing…?”


Kedua orang tua itu saling menatap.


“Maafkan kami Mey, kami tidak bermaksud menyembunyikan Jenny dari kamu.”


“Ya Alloh cing, kok tega bangat sama aku, cing tau gak aku hampir gila karena ia meninggalkanku.”


Tangis Sukma yang ia tahan akhirnya pecah juga, sahabat bahkan Sukma dan Rara, dua orang yang tidak dapat pisahkan.


Sukma terus saja menangis memeluk Jenny , ia tidak menduga kalau wanita yang lihat tadi adalah sahabat yang ia rindukan selama ini.


“Maaf Mey, kalau kami melakukan semua ini, itu demi kebaikan Jenny, kami tidak ingin keluarga Salim melihatnya.


“Cing ,jika aku bisa melihat Jenny sebagai Rara tidak salah lagi, kalau Bastian juga bisa melihatnya, tadi aku kesini bertemu Bastian, tiba-tiba ia ingin menyelidiki kasus penabrakan Rara lagi.”


“Tapi untuk apa lagi ia menyelidikinya, kenapa ia tidak melupakan Rara saja?" kata Pak Agus nada suaranya dingin.


“Cing, kebenaran tidak bisa di tutupi dari Jenny, ia akan terus mencari jati dirinya, lihat ia datang sendiri kesini, ia bilang merasakan kalau ia pernah kesini, aku takut ia mencari tau sendiri malah salah.


Bagaimana kalau orang yang terlebih dulu mengetahui kebenaranya, takutnya ingatan Jenny belum pulih tapi orang yang mencelakainya sudah terlebih mengetahuinya,” kata Sukma.


Babehnya ingin Jenny melupakan masa lalunya selamanya dan memulai hidup baru, bahkan ia sudah memikirkan jodoh untuk Jenny.


“Aku belum paham Sukma siapa Mak?” tanya Jenny, wajahnya terlihat bingung melihat Sukma yang terus menangis dan terlihat akrap pada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2