Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Rara pingsan saat kelelahan


__ADS_3

Aku harus pergi dari sini, kata Rara ia masuk lagi mengambil buku sebagai alasan ia datang kerumah itu.


di dalam kamar itu ia merasa sedih dan dadanya sakit, karena kenangan ia dan Bastian masih terbayang di ingatannya. Ia mengusap perutnya.


Selamat tinggal kata Rara melangkah keluar


“Omah, Rara pulanglah dulu, ayah sampai ketemu di kantor besok ,” Kata Rara pada Bardi


“Baik nak Ara,” kata Bardi. melihat kedatanganya mereka semua terdiam mereka tidak ingin rapat mereka di ketahui Rara.


Rara dengan cepat meninggalkan Rumah itu menuju mobil sukma.


“Ayo,” Kata Rara buru-buru setelah ia masuk kedalam mobil Sukma


“Ada apa Ra? Udah?,” tanya Sukma tapi tangannya dengan cepat menghidupkan mesin mobilnya dan dengan cepat juga kakinya menginjak pedas gas mobilnya dan meninggalkan Rumah Besar itu.


Wajahnya terlihat panik, ia berpikir telah terjadi sesuatu pada Rara.


“Aku harus pergi cepat-cepat dari rumah itu,” Sukma memegang dadanya. “ Kita harus kerumah Babe sekarang juga ,Mey.”


“Ada apa sih Ra?.” Tanya Sukma ikutan panik.


“Keluarga itu lagi mengadakan rapat besar tadi, sepertinya merencanakan hal besar, aku takut ini tentang Calvin,’ kata Rara


Hingga tiba di rumah Rara babe dan emaknya kebetulan Baru selesai makan siang.


“Assalamualaikum.”


“Walaikumsalam,” lah Ra, sudah pulang katanya besok,” kata emaknya yang ikut duduk di meja makan itu.


“Rara makan dulu sama Mey, iya mak ,nanti Ara ceritakan,” kata Rara Ia langsung menuju dapur.


Menutup tudung hajinya di atas meja makan


Sayur asem sambal terasi dan ikan disambal + pete


“Asik, ada pete harus eksekusi nih,” kata Sukma ia penyuka pete, tapi tidak untuk Rara ia tidak suka degan makanan yang punya bau khas itu.


“Ayo, ayo di makan sepertinya kalian sudah kelaparan,” kata emaknya heran melihat sikap kelaparan mereka berdua sudah seperti tidak makan satu minggu.


Hari sudah mulai sore terlihat dari cakrawala yang sudah mulai bergegas meninggalkan langit,


Rara kembali mengumpulkan keluarganya.


Setelah ia berpikir panjang, ia memutuskan harus menceritakan kebenaran tentang calvin pada keluarganya. Ia takut rapat yang di adakan Omahnya Bastian di tujukan padanya. Ia merasa aksi Yolanda yang mengikutinya dari tadi malam ingin memberitahukan hal itu


“Be,Ara ingin bicara jujur mungkin ini berat buat babe dan emak tapi percayalah itu adalah putusan yang tepat,” kata Rara di depan keluarganya.

__ADS_1


Kedua orang tua Rara terlihat menarik nafas berat, padahal Rara belum juga memulai ceritanya kedua wajah orangtua itu sudah mendung seperti mau turun hujan


Babe dan emaknya seolah sudah mengetahui kemana arah pembicaraan Rara.


“Baiklah Babe mengerti,” Lelaki bertubuh tinggi itu lagi-lagi menarik nafas panjang, ia merasakan dadanya sesak.


“Be, Mak, aku dan Bastian sudah bertemu dan kita memutuskan menjalani hidup masing-masing,” kata Rara. Benar saja air mata emaknya langsung melenggang lolos. Itu sudah pasti karena Bastian sudah sangat dekat pada keluarga Rara.


Mereka sudah menganggap Bastian sudah seperti anaknya sendiri, bukan seperti menantu lagi, kerena Bastin juga orangnya baik dan hormat pada kedua orang tua Rara dan sayang pada Calvin . Tapi sepertinya semuanya hanya tinggal kenangan buat keluarga Rara.


“Terus, bagaimana dengan kehamilan mu ,Ra?, hik..hik ,” ibunya terisak- isak dengan bahu terguncang-guncang.


“ Sabar Bu, kita belum dengar penjelasan Rara,” Kata babehnya Rara menangkan istrinya.


“Mak, anak Rara hasil dari pernikahan, saya tidak akan malu kok, Mak, Rara akan memperjuangkan, walau tanpa kehadiran Bastian, Rara akan menerima dengan lapang dada, ini takdir hidupku, bukan keinginan Rara, tapi kerena suratan takdir,” Kata Rara terlihat berbeda dari minggu seperti dulu kali ini lebih tenang dan terlihat lebih kuat.


“Encing , jangan menangis dulu, dengar dulu penuturan dari Rara, karena ada lebih mengejutkan dibalik keputusan itu,” Kata sukma,ia ikut membantu bicara.


Emak langsung terdiam menatap Sukma dan Ara bergantian .Suasana hening sebentar yang terdengar hanya nafas panjang yang keluar dari mulut.


“Mak, be,” Kali ini Rara baru terlihat panik, ia menatap mulai dari babenya, emaknya dan kedua adiknya untungnya bocah tampan itu lagi tidur .


“ Ini tentang Calvin,” Ia menarik nafas panjang membuang melalui mulut.


Mereka semua menatap Rara dengan tatapan mata memburu, tidak sabar lagi.


“Iya, Ra cepat katakan?” Babenya tidak sabar lagi.


“Sepertinya Yolanda melakukan kesalahan besar di masa lalunya Be, Calvin it-“


ia mengeluarkan foto Bardi salim merangkul pundak Yolanda.


“Apa maksudnya!? Wajah pak Agus bingung.


“Ia anak Bardi salim, encing!.” Kata Sukma membantu Rara bicara, karena Rara sendiri merasa lidahnya kaku.


“Apa??.” Tanya mereka serempak, dengan mulut menganga.


“Anak Ayah mertuamu, maksudnya?,” tanya Emaknya dengan raut wajah panik tidak percaya


“Iya mak.”


“Ya, ampun, apa itu,” mereka, sama terkejutnya dengan Rara dulu.


“Itulah alasan Bastian dan saya berpisah beh, Bagaimana mungkin anak istrinya, ternyata anak Ayahnya, berarti Calvin adik Bastian.”


“Astaga,” Kata Emaknya panik.

__ADS_1


“Ya Allah, ya Tuhanku, petaka apa lagi ini,”Kata Emaknya terlihat sangat shock.


“Be, Ingat minggu kemarin ? waktu Calvin bilang kalau ia akan jadi pewaris kantor Rara, dengan nama Calvin salim, itu benar adanya Be, itu seperti-“


Rara mengusap tangannya karena lagi –lagi merasa bergidik lagi “ Itu seperti sudah tau, karena menurut orang yang Rara suruh menyelidiki Alvin , rencananya mau di jadikan pewaris Perusaan tersebut. Rara mau bilang, sepertinya keluarga Salim ingin mengambil hak asuh Calvin, Be!” Kata Rara panik hampir menangis


“Apa? itu tidak bisa langkahin dulu mayatku kalau ia ingin merebut cucuku, emang gampang,” kata Pa Agus emosi.


“Sampai mati babe tidak akan melepaskannya, memang apa hak mereka, ia cucuku, aku membesarkannya dengan tanganku sendiri,” Kata pak Agus tidak rela matanya, merah menahan perasaanya.


“Be, kita tidak boleh lengah,kita butuh perlindungan yang bisa membantu kita, Rara sudah menghubungi pengacara kebetulan teman sukma,”Rara terlihat sangat takut


Perhatian mereka terfokus pada Calvin saat ini.


Hingga kehamilan Rara terlupakan dan Rara sendiri juga sepertinya lupa kalau ia hamil itu karena pikirannya terfokus mengurus Calvin.


Ia terpaksa mengungsikan keluarganya lagi, Emaknya terpaksa menyewakan Restoran kecil yang di hadiahkan Bastian padanya.


Rara merasa tenang, karena keluarganya akhirnya mau mengungsi sementara waktu.


Rara masih bekerja seperti biasa , berpura-pura seolah ia tidak tau apa-apa dan mencoba bersikap tenang.


Tapi karena faktor kelelahan karena beberapa hari ini ia sibuk mengurus keluarga dan mengurus pekerjaan, ia pingsan.


Untung pingsannya pas sudah mau pulang kantor jadi tidak ada yang melihatnya.


Pas ia bangun sudah berada di Ranjang rumah sakit,


“Jam sudah menunjukkan 11 malam , Sukma juga sudah tertidur pulas, ia tidak tega membangunkannya. Padahal perutnya keroncong sepertinya cacing-cacingnya keroyokan, ia mencabut infusnya dan pergi membeli makanan di luar , ia hanya memakai jaket menutup kepalanya dengan jalan berjin-jit ia melangkah pelan-pelan karena tidak ingin sukma terbangun.


Berjalan menyusuri lorong rumah sakit, saat ia berjalan melewati satu kamar. Bertuiskan VIP room, mata Rara terfokus membaca tulisannya “Ckk ruangan VIP,” kata Rara berucap pelan karena tidak melihat jalan.


Bruaak..


“Auuu,” pekik Rara, meringis memeng perut


ia menabrak seorang yang sama sepertinya, berpakaian pasien juga, seperti orang yang satu ini sama sepertinya keluar diam-diam


“Ah maaf,” katanya dan menoleh “Rara!?” Apa yang kamu lakukan di sini?”


Ternyata orang yang ingin ia hindari yang menabraknya. Bastian suaminya, ia masih suaminya karena mereka berdua belum ketuk palu untuk berpisah.


“Iya, ada di rumah sakit pasti karena sakitlah, masa mau belanja,” kata Rara terlihat sangat jutek.


“Aku duluan, Rara meninggalkannya,”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2