
Bastian yang sudah sempat tidur tadi, matanya jadi terbangun kembali, ia menatap Rara. Dengan tatapan sendu ada beban yang ia pikul sendiri.
“Ibu akan menyusahkan mu, Ra” Ucapnya dengan lembut.
“Tidak apa-apa sayang, itu tugas kita berdua untuk mendapatkan Restu .Ibumu.” Kata Ara lembut, bahkan dapat menyejukkan hati suaminya.
“Jadi, apa kamu mau saya ajak kerumah?”
“Tentu, nanti kita akan puasa di rumah kamu saja”
“Baiklah, biarkan aku tidur dulu, sungguh mengantuk,Ra. Aku lelah” Kata Bastian dengan wajah sendu.
“Baiklah, istirahatlah” Kata Rara mengusap rambut Bastian
Rara tidak bisa memejamkan matanya kembali , terbayang betapa sulit yang mereka untuk mendapatkan restu dari mertuanya.
Tapi ia ingin mendengar nasehat babehnya, kalau ia harus mendekatkan diri dengan keluarga suaminya, di dalam kamar sederhananya entah bagaimana suaminya bisa tidur dengan lelap seperti bayi, wajah tampan terlihat tenang seperti tidak ada beban. Tapi siapa menduga ia menyimpan banyak beban pikiran dalam otak tampannya .Ia berpikir kalau Tian suaminya akan menceritakan tentang keadaan ibunya,
Tapi tidak, Bastian sepertinya menyimpan apa yang terjadi hari ini, insiden sebelum ia berangkat ke rumah Rara.
Saat ibunya bertengkar dengan ayahnya. Bastian merasa tidak perlu ikut campur dengan pertengkaran ayah ibunya, ia berpikir biarlah ia berdiri di tengah sebagai anak.
Tapi di tengah perjalanan ibunya meneleponnya dan tau akan ke rumah Rara . Ia mengancam Bastian kalau ia tidak balik kerumah akan menyakitinya sendiri. Ia mengancam akan meminum racun kalau Bastian tidak kembali kerumah saat itu juga dan membatalkan kunjungannya ke rumah Rara.
Tapi kali ini Bastian tidak menghiraukan ancaman ibunya , ia berpikir ibunya selalu bersikap seperti itu, dari dulu untuk bisa menjinakkan Bastian anaknya.
Tapi kali ini ia gerah dan jadi pembangkang, ia memilih meneruskan perjalanannya dan mematikan suara ponselnya dalam suara diam.
“Bagaimana ia memikul beban ini sendiri bisik Rara dalam hatinya, matanya masih menatap Bastian yang tertidur pulas.
Saking pulasnya kemeja yang ia pakai tadi sore tidak ia ganti. Padahal biasanya ia tidak bisa tidur seperti itu kalau di apartemennya.
Rara juga tidak ingin mengganggunya, ia akan membiarkannya tidur dan menyelimuti tubuh suaminya.
Ia kembali mencoba memejamkan matanya, tetap tidak bisa, padahal di lantai atap tadi ia sudah sempat tidur dengan dengan lelap.
Hingga suara ayam bernyanyi bersahut-sahutan, tandanya malam sudah usai di gantikan pagi akan yang datang menyapa dunia,
Rara tidak bisa memejamkan matanya semalaman.
Ia menoleh kesamping, suami tampannya masih tidur dengan pulas tidak ingin membangunkan bahkan tidak ingin melihatnya bersedih sendiri, seperti yang tadi malam,
Rara memiringkan tubuhnya menghadap wajah Bastian
Tangannya mengusap tangan suaminya dengan penuh sayang ,
Hatiku sakit bila melihatmu bersedih, hatiku jauh lebih sedih saat kau bersedih, sepertinya aku mulai jatuh cinta yang sangat dalam padamu, Bastian, dan itu tidak bagus untukku kata Rara dalam hatinya.
Ia memilih bangun dari ranjangnya karena seperti biasanya sepagi ini emaknya sudah bangun dan berkutat di dapur, walau ia tidak jualan Nasi uduk lagi mungkin karena sudah kebiasaan , emaknya juga selalu bangun di jam yang sama setipa hari.
“Selamat pagi dunia, selamat pagi emak” sapa rara
“Sudah bangun, Ra,sini!”
“Ara, gak bisa tidur ,Mak” Kata Rara dengan mulut menguap.
“Kenapa ,banyak nyamuk di kamarmu apa suami tidak bisa membuatmu tidur?” tanya emaknya dengan senyum kecil
“Ini minum’ ini bagus untuk kamu, jangan minum kopi lagi , kopi tidak bagus untuk rahim nanti kamu lama hamilnya.” Kata emaknya, tangannya menyodorkan gelas yang isi di dalamnya berwarna coklat.
“Ihh, apa ini emak bau” jawab Rara menggeser gelas dari depan , dengan hidung di endus-endus
“Ini bau mak.”
Ia semakin menjauhkannya.
__ADS_1
“Ini, buat kamu biar cepat hamil, Ra,” kata emak Imah bersemangat, nanti mana tau bila kamu cepat hamil ibu mertuamu bisa menerima kamu ,ya, udah cepat minum.” Kata emaknya sedikit memaksa.
“Iye,ella Mak. Gak disini gak di sono kayak begitu juga,” rungut Rara cemberut. “Kalau waktunya hamil pasti hamil juga kok Mak.” Ia menolaknya,
“Loe, gak tau ini punya emak lebih bagus dan lebih mujarab, ini warisan nenek moyang dari engkong dulu”
“Engkong minumnya juga,” ledek Rara dengan tawa renyah
“Gak,usah ngeyel kalau di bilangin emak, buruan minum” kata emaknya memaksanya meminumnya,
“Ogah, bau mak”
Seperti biasa kalau untuk kebaikan emaknya selalu memaksa, bahkan sangat lebih,
Tangannya memegang rara seperti anak kecil yang meminum obat.
Ia memencet hidung Putrinya dan memaksanya meminumnya, hingga masuk ke dalam lambung Rara.
Ia mual pengen muntah karena baunya tidak enak di mulut
“Apaan sih, isinya emak, bau banget” Ia merengut terus menerus memegangi perutnya rasanya ia ingin mengeluarkan isi lambung semua, karena guncangan obat yang di berikan emaknya.
“Jangan di buang! saya kasih lagi satu botol nanti kalau di muntahkan”
Kata emaknya mengancam
“Ini, menyiksa emak” kata Rara duduk selonjoran di lantai seperti anak kecil yang lagi ngambek, tangannya masih saja memegang lambungnya dan rasa mualnya semakin parah.
“Itu bagus buat loe Ra, takutnya penyakit bulanan mu itu membuatmu susah punya anak, ingat kata Dokter dulu?” Tanya emaknya dengan raut wajah serius melihat kanan kiri suaranya berbisik-bisik.
“Dokter yang mana Emak?” Tanya Rara lupa, ia lupa padahal emaknya masih ingat.
“Dulu yang pergi sama Aisah yang kamu sampai pingsan karena menstruasi mu yang berlebihan,”
“Makanya, loe kudu minum sering-sering ape yang emak buatin,” kata emaknya.
Rara hanya mengangguk. Ia merasa kepalanya berdenyut karena kurang tidur dan masuk angin.
Serapan pagi sudah tersedia, menu kebiasaan keluarga Rara lontong sayur, gorengan dan teh manis
Rara naik keatas melihat keadaan suaminya dan anaknya
Tapi tidak di duga Babehnya lagi bersama di lantai atap dengan calvin, Bastian dan Rizki lagi berkebun menanam bibir sayur.
Bastian sudah bermandikan keringat di seluruh badannya ketika ia menderek tanah yang di kirim dari bawah, ia bagian menarik dereknya di lantai atas dan Rizky bagian mendorong dari bawah. Calvin dan babeh bagian menanam bibitnya dan menyiram tanamannya
Sesekali ia terlihat bercanda dengan calvin, dan mengobrol dengan Babeh
Apa mimpi jadi kenyataan gumam rara dalam hatinya. ia pernah punya mimpi ia ingin melihat suaminya bisa akrap dan dengan anaknya dan Babehnya. Kali ini mimpi itu seperti kenyataan .
Calvin terlihat bahagia bersama dengan Bastian bercanda berlari-lari kegirangan.
Waktunya serapan, di meja makan perhatian yang di berikan Bastian pada Calvin membuat Babeh tersenyum bahagia karena suami Rara bisa menyayangi Calvin. ia menerima Calvin dalam pernikahan mereka bersikap sangat baik.
Bastian tidak terbiasa dengan menu serapan yang di berikan Keluarga Rara. Tapi ia tetap menghormatinya walau meminum teh manis hangat dan sepotong gorengan sebagai pengganjal perut.
Sebagai orang tua untuk calvin.Rara mengantarnya ke sekolahnya.
“Horee, ibu mau antar Vian ,iya?”
“Iya, sayang” jawab rara dengan kedipan mata.
“Om Tian, ikut enggak?” Ia tanya penuh harap, mata indah menatap lelaki tampan itu.
“Tentu kalau Alvin bolehkan” Tanya Bastian
__ADS_1
“Boleh om” Mata Hazelnya yang indah terlihat bersinar bagai lampu neon.
Dalam Mobil sepanjang perjalanan ke sekolahnya, ia terus saja berceloteh bagai burung, bercerita banyak hal tentang teman-teman sekolahnya, teman-teman mengajinya, semua ia ceritakan satu-satu.Untungnya bastian menyukai anak kecil.
Hingga akhirnya tiba di sekolahnya, sekolah TK
Ia pamit setelah memberikan salam gaul gaya anak muda pada Bastian dan memberikan kecupan hangat di pipi Rara ia pamit dengan sangat ceria ke dalam kelasnya. Bastian dan Rara masih berdiri di depa mobil melihatnya masuk kelas.
Ia dan Bastian ingin pergi, tapi seseorang wanita muda cantik berkerudung bunga-bunga memangil Rara. Guru Anaknya.
“Mam, boleh kita bicara sebentar?” Ia menatap Rara dan Bastian bergantian
“Oh, iya bu boleh,” jawab Rara, ia pamit sebentar pada Bastian dan mengikuti langkah wanita itu masuk ke ruangan Kepala sekolah.Ternyata Beliau kepala sekolah TK yang baru, karena yang lama di pindahkan
“Saya Kepala sekolah yang baru ya, Mam” Kata Wanita itu memperkenalkan diri.
“Maaf mam saya hanya meneruskan pesan Ibu Rina kepala sekolah yang lama”, ia menarik nafas panjang. “ Anak ibu sampai saat ini masih ada yang mengawasi Mam, saya khawatir ada niat penculikan, kami mengkonfirmasi sama TK tempat yang lama sebelum ia pindah. Salah satu gurunya, menyarankan agar bicara secara langsung sama ibu sendiri, soalnya dari sana dulu katanya kasusnya sudah pernah terjadi, ia juga di awasi seseorang wanita dan beberapa orang laki-laki”
“Apa sampai sekarang juga anak saya di awasi sampai kesini, Bu?”
Wajah rara langsung semakin panik, ia pikir setelah pindah dari Jakarta pusat ia tidak di ikuti lagi, bahkan sampai saat ini belum tau siapa yang mengawasi anak semata wayangnya, Terakhir terjadi di Jakarta pusat ia menyuruh kepala sekolahnya meminta bantuan Polisi dengan adanya CCTV yang membantu.
Tapi kabarnya kepala sekolahnya di ketahui di pecat karena kasus penggelapan Dana sekolah.
Tapi di sini juga demikian, terakhir satu bulan yang lalu ia meminta bantuan kepala sekolah Calvin untuk membantunya menyelidiki siapa yang selalu mengawasi anaknya bahkan Kepala sekolah itupun di pindahkan.
Apakah itu semua berhubungan, apakah ada campur tangan orang berkuasa di sini?” otak Rara langsung panas.
“Apa status ibu bercerai?”
Kepala sekolah Calvin menatapnya dengan wajah serius jelas-jelas tersirat disana wajah khawatir.
“Tidak Bu, anak saya Ayahnya sudah meninggal” Jawab Ara seadanya.
“Bagaimana hubungan dengan keluarga Bapaknya, Apa baik-baik saja, apa mungkin mereka meminta hak asuh anak ibu?”
“Tidak, Bu tidak pernah. Bapaknya Calvin yatim piatu” Jawab Rara lagi menyembunyikan kebenaranya.
“Apa Ibu punya musuh?” Guru Calvin semakin menginterogasinya bertindak seperti Detektif
“Tidaka ada Bu” jawab Rara tapi pikirannya, terbayang pada Mertuanya itulah musuh terbesarnya saat ini, orang yang memusuhinya dan kedua tentu Viona.
“Maaf bu, kalau masih seperti ini, takutnya orang tua siswa yang lain pada takut, ikut khawatir pada anak-anak mereka” kata Kepala sekolahnya.
“Iya Bu maaf saya akan selidiki,” jawab Rara dengan muka pucat, tentu sangat takut dan khawatir siapa yang terus mengikuti Putranya. Setelah sebelumnya rambutnya yang di ambil dan mengambil Fotonya diam-diam.
“Iya mam , tolong di urus dan di selesaikan secepatnya kalau ada masalah, agar kita juga tenang mengajar anak-anak yang lain” Kata wanita itu dengan Ramah
“Baik bu makasih”
Dengan perasaan yang sangat takut dan kepala di penuhi banyak pertanyaan . Rara meninggalkan ruangan kepala sekolah.
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1