Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Ronde ke dua di kamar mandi


__ADS_3

Rara protes saat Bastian menggendongnya ke kama mandi.


“Ini masih pagi Bastian, memang mau kemana mandi sepagi ini?” Tanya Rara memeluk selimut.



“Harus, sayang, di rumah Omah nanti kamu tidak boleh bangun lama-lama,” ujar Bastian memberi nasihat.


“Ahh, tapi aku tidak  tinggal di sana kan,” ujar Rara ,


Bastian menarik selimut yang membungkus tubuh polos istrinya, menjatuhkannya di bathtub yang sudah taburi dengan bebagai macam campuran rempah-rempah yang dapat memanjakan tubuh Rara


“Ahhh ….!”Pekik Ara menutup dadanya lagi.


“Aku inging menggosok tubuhmu,Ra, bagaimana bisa kamu tidur dengan keadaan seperti itu,” ujar  Bastian  menguyur tubuh Rara dengan air hangat  yang ada dalam bathtubnya. harum dari bunga-bungan dan minyak hitus yang yang di taburi di dalam bak mandinya memanjakan hidung, ia mulai menghirup merasakan sensasi rasa segar.


Belum lagi aroma lilin terapi yang di nyalakan di samping kepala Rara, ia dimanjakan dengan pijat-pijatan lembut di leher dan pundak oleh Bastian, ia ahli dalam hal itu


“Ahhh benar-benar segar.” Rara memejamkan matanya merasakan sensasi pijatan tangan Bastian.


Tapi tanpa sadar,  ia membuka pangkal kaki  di dalam bak mandi,  dengan mata  melotot.


“Auuuhh perih!”Ia menjepit kembali kakinya.


“Ada apa, apa airnya terlalu panas” Tanya Bastian belum  menyadari. perih di bagian inti Rara.


“Kamu keluar, aku mandi sendiri, ia tiba-tiba mengusir Bastian, kedua pangkal masih dijepit


“Ada apa? aku hanya ingin mandi bersamamu Ra.”


“Sudah keluar sana!”


“Apa yang salah?” Tanya Bastian ia tidak tahu luka di bagian bawa Rara sangat perih terkena air.


Rara, tiba-tiba keluar dari bak mandi dan  berlari ke toilet di samping bak mandi. Ia menarik pintu kaca penutup toiletnya


ia merasa ingin pipis,  saat itulah hal yang paling menyiksa baginya perih yang luar biasa di rasakan dari  di antara kedua pangkal paha.


Seperti sebuah luka yang tiba-tiba terkena air, ia meringis melompat-lompat kecil,  menahan rasa nyeri yang ia rasakan, masih menjepit pangkal paha.


“Ra, kamu tidak apa-apa?” Tanya Bastian  dari balik pintu, ia bisa mendengar Rara meringis kesakitan.


“Hmmm …  tidak apa-apa “ jawab Rara menahan sebisa mungkin.


Mendengar Rara mengumpat kesal di  kamar toilet membuatnya penasaran.

__ADS_1


“Ada apa Ra” Bastian mendorong pintu kaca penutup itu.


Ia melihat Rara memukul-mukul dinding, mengumpat dengan kesal dan kedua pangkal pahanya di jepit.


“Ada apa kamu terluka?”


“Sakit”


“Apanya yang sakit?”


“Ini” Rara menunjuk pangkal paha.


Bastian akhirnya paham, ia  menahan tawa melihat ekspresi Rara.


“Aku kira apa,Ra” Bastian menggaruk-garuk kepala menahan Tawa.


“Tapi sakit, Bastian!” Rara kesal,  karena Bastian menertawakan rasa sakit yang ia alami.


“Tidak … bukan menertawakan rasa sakit yang kamu alami Ra, itu wajar,  hanya sebentar saja kok, sini kita obatin,”  Bastian menggendongnya kembali masuk ke bathtub itu.


“Mau ngapain, bukannya kamu sudah mandi?” tanya Rara mulai panik, karena melihat suaminya ikut  masuk kedalam bak mandi lagi.


Bastian membuka kaos singlet  berwarna putih itu, ‘Sejak kapan dia mempunyai dada bidang  seperti’ ucap  Rara, tadi malam ia tidak menyadari bentuk tubuh Bastian karena ia dilanda ketakutan malam itu.  tetapi pura-pura melihat kearah lain.


Bastian mengedipkan mata pada Rara,  jantung  tiba-tiba  berpacu kembali. Rara dalam posisi duduk,  Bastian juga duduk, tetapi kali ini posisinya di depan Rara, lelaki berwajah tampan itu, menarik  tangganya Rara  yang ia jadikan  untuk menutup dada.


“Caranya?” mata Rara seperti seekor rusa yang terjebak di kandang singa, mata besarnya mengawasi gerak-gerik tubuh suaminya. Terlihat s masih malu, wajar karena Rara  tidak pernah pacaran.


“Caranya …  begini” Bastian menarik  Rara lagi lebih dekat , hanya jarak  satu jengkal dari wajahnya.


“Apa yang ingin kamu lakukan lagi.”  Rara mendorong dada Bastian dengan pelan.


“Aku mengobati lukanya, tenanglah” ucap  Bastian, tangan menyelinap masuk ke bagian yang perih.


“Haaa ….!”Pekik Rara kaget, “Tian, apa kamu ingin melakukanya lagi? tanya Rara panik.


Tapi Bastian  selalu punya cara untuk melakukanya membuatnya tidak ketakutan , tanpa meminta dengan paksaan


“Tenanglah Ra, kamu hanya perlu rileks, satu tangan mengusap-usap  bagian  bawah ya dan tangannya satunya, memijat leher dan pundak Rara.


“Kamu hanya perlu  menutup matamu dan rileks nikmati setiap sentuhan yang aku berikan,  nanti rasa sakitnya akan hilang dengan sendirinya,” ujar Bastian. Rara menurut dan mendengarkan instruksi dari suami.


Mendapat  dua pijatan sekaligus bener saja, itu bisa membuatnya menutup mata dan  mencoba rileks


Bastian mendekatkan tubuhnya lagi, tidak ingin menganggukkan bibir mungil itu, ia juga memijat bibir Rara dengan bibirnya , Rara tidak protes lagi, apa lagi menolak.

__ADS_1


Akhirnya bisa dapat’ ucap Bastian dalam hati.


Tangganya memijat pundak itu perlahan turun menggenggam buah mengkal milik Rara, kalau tadi malam ia menahan diri  sekarang ia seolah sangat buas, setelah Rara masuk dalam permainan panasnya, ia tidak akan mudah lepas karena sudah terjerat jauh.


Rara memilih mandi berdua dan Lanjut ronde kedua yang ia rencanakan berhasil.


Bastian sangat menggebu penuh semangat, Rara hanya pasrah  menerima serangan Bastian tidak membiarkan kesempatan itu, ia sengaja memegangnya  dengan kuat agar Rara melupakan rasa sakit yang bagian bawah.


Kini dua jari Bastin sudah bisa lolos masuk . Tanpa ada penolakan.


 Bastian punya cara untuk mengalihkan rasa sakit dari pikiran Rara, ia mencengkeram kuat bagian lembut dada Rara , seiring itu, ia juga memangku tubuh Rara dan mendorong miliknya ke bagian yang inti sang istri, mendorong perlahan dan masuk.


“Auuuh ... sakit!” Teriak Rara , tapi Bastian mengalihkan dengan segala kecupan dan sentuhan.


Hinga rara melupakan rasa sakit itu, kini tubuh istrinya di pangku dengan Rara terlalu  sibuk dengan permainan bibirnya dan sentuhan dadanya yang di cengkram kuat, kalau tadi  malam  Bastian melakukanya dengan sangat hati-hati, tetapi kini, ia tidak memberi jeda pada istrinya,


Hinga hentakan keras yang dilakukan Bastian, Rara  melonjak kaget, tetapi kali ini sungguh berbeda rasa sakit  dan rasa nikmat berpadu jadi satu .


Hingga mereka berdua  mencapai puncak dan rara benar-benar tidak berdaya dibuat  Bastian


Rara meletakkan  kepalanya di sisi bathtub ,badan terkulai lemas. Tetapi  tidak bagi Bastian, tenaganya benar-benar tenaga kuda, saat Rara  lemas di buatnya, ia masih punya tenaga yang kuat untuk memandikan Rara menggendongnya ke tempat tidur, membantunya berpakian dan membantunya mengeringkan rambut.


“Sudah, mari kita serapan, biar tenaganya pulih, masa  baru dua  ronde saja, kamu sudah K.O ,” ucap  Bastian bercanda .


Rara hanya tersipu malu saat di ledekin, ia tidak kuat melawan  tenaga kuda Bastian.


Bastian rajin olah raga dan selalu menjaga makanannya, berbanding dengan Rara yang tidurnya  kayak kebo dan tidak pernah mengatur pola makannya dan cuek dalam segala hal.


Untungnya si Mbok tidak ada  di apartemen Bastian. Jadi suara ribut di kamar mandi dan suara teriakan  yang di buat Rara tidak ada yang mendengar.


Meja  makan kali sangat sepesial di tata seindah mungkin,  Rara hanya tersenyum melihat meja makan yang ditata Bastian secantik itu, matanya membesar  dan bibir tersenyum, saat melihat makan pagi romantis ala Bastian.


“Makan banyak, Ra, karena kita akan menemui keluargamu pertama persiapkan mental dan aku siap menerima kemarahan keluargamu,” ucap Bastian menyendok nasi ke piring Rara,  sangat romantis dan perhatian.


          


Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)

__ADS_1


-Bintang Kecil untuk Faila


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2