
“Gitu dong,” kata Bastian sumringah karena ia tidak ingin di panggil nama.
Saat Rara memilah baju-baju kotor yang akan di giling, bastian dengan suka rela memegang cucian piring, mereka tidak memakai jasa asisten rumah tangga.
Tapi sebagai gantinya Bastianlah yang membantunya. Cinta yang di berikan Rara pada Bastian telah mengubah hidup lelaki itu 180 derajat.
Ia tidak lagi lelaki anak horang kaya yang butuh di layani dan di manjakan oleh banyak uang. Tapi kali ini, ia berbaur dengan kehidupan istrinya yang di ajarkan nilai kehidupan dan kesederhanaan baik dari keluarga Rara dari sana Bastian menemukan nilai-nilai kehidupan yang terkadang di berikan Babenya Rara, kehangatan keluarga ia dapat dari keluarga Rara. Walau bukan rumah tangga yang kaya, tapi perhatian dan tanggung jawab babenya Rara terhadap keluarganya menjadi pedoman untuk Bastian.
Ia di ajarkan, kekayaan bukan tolak ukur untuk bahagia. Tapi cinta dalam rumah tangga yang membuatmu hidup bahagia, rezeki harta bisa di cari asal saling mengerti.
Keesokan harinya saat hari kerja tiba.
Rara tidak ingin berangkat kerja dengan suaminya, walau ia sudah membujuk Rara. Tapi Rara memilih turun sebelum tiba di kantor dan tidak ingin jadi perhatian orang lain. Ia juga tidak ingin menjadikan suaminya jadi tameng dalam pertempurannya dengan Ibu mertua tercinta.
Ia berpikir keras, kira-kira apa yang akan di lakukan ibu mertuanya kali ini, saat ia masuk dalam ruangannya, yang menjadi tempat Rara dulu sama Sukma semasa saat bekerja bersama, sekarang, ia hanya bekerja dan berjuang sendiri, tidak ada lagi dukungan semangat dari sahabatnya.
Rara secara naluri memasang sikap was-was, karena ia tau mertuanya orang yang nekat, yang mampu melakukan apapun yang ia inginkan. Ia Tidak akan berhenti sebelum keinginannya tercapai.
Terkadang Rara berpikir jalan yang ia tempuh bersama Bastian begitu sulit, ia terkadang di serang dari sana-sini, saat rumah tangga babenya hampir retak. Saat ini ia di lemahkan tentang Orang yang menguntit putranya, itulah satu kelemahannya
Keluarganyalah kelemahannya, terutama Putranya.
Ia di suruh menghadap ke ruangan Bos produser baru, masih dengan sikap was-was Rara mengikuti perintah.
Tok.Tok
“Masuk” sahut suara laki-laki, ia sedikit bernafas lega, karena ia berpikir bos yang baru adalah Ibu mertuanya, Rara berpikir jika ibu mertuanya jadi atasannya, otomatis menindasnya dengan segala pekerjaan yang tidak bisa ia bantah. Tapi pemikiran itu hilang seketika. Ia mempersiapkan penampilan rambut, baju dan sepatu dan terakhir Rara menghembuskan napasnya ketelapak tangan sebelah kanan mencium bau nafasnya sendiri.
Tidak apa-apa gumam Rara dalam hatinya, ia dengan tenang mencoba memegang gagang pintu berwarna gold itu, kakinya melangkah pasti .
“Selamat pagi Pak,” sapa Rara dengan suara khas yang ia miliki, tapi laki-laki itu masih membelakanginya dengan kursi kerja yang berroda itu terlihat bergoyang-goyang kecil. Ia belum menjawabnya. Masih sibuk dengan mainan kursi yang ia jadikan kursi goyang kecil, terlihat seperti anak kecil yang sedang mainan kursi.
“ Apa bapak memangil saya?”
__ADS_1
Ia bertanya lagi, tapi belum menyahut juga, Rara terlihat mulai kesal dengan tatapan matanya yang berputar kanan-kiri. Ia masih berdiri degan posisi tegap. Pada akhirnya kursi itu berputar yang membuat Rara hampir jatuh. Bukan takut karena suara decitan panjang dari kursi yang di goyang-goyang itu tapi karena seseorang yang duduk diatas kursi itu.
Mata bulatnya berputar antara panik terkejut dan takut bergabung jadi satu.
“Kamu, Ngapain kesini!?” tanya Rara dengan nada terdengar seperti tidak ingin bertemu dengan orang yang membuatnya harus meninggikan nada volume suaranya.
“Selamat Pagi sugar.” Sapa seseorang dari depannya
Panggilan seseorang yang lama sudah ia kubur dalam hatinya, bahkan tidak ingin ia lihat.
Belum juga ia sempat mengusir kepanikannya dan kegusarannya, terdengar suara ketukan dari balik pintu.
Masuk
Sahutnya dengan suara barito khas dari yang punya milik suara.
Tapi kali ini Bastian yang muncul, menatap terkejut karena istrinya ada di dalam ruangan itu juga.
“Paman kapan datang?” Bastian memeluk tubuh lelaki itu dengan erat seperti seorang anak dan bapak.
Ia merasa kedua lututnya terasa lemas dan bunyi detak jantungnya melebih suara bedug. Ia masih berdiri mematung menatap kedua orang yang ia kenal dan keduanya terlihat akrab bangat.
“Kenapa Paman tidak bilang kalau mau datang biar Tian tadinya yang menjemput.”
Kata Bastian , seketika Rara terlupakan karena sikap suaminya yang terlihat sangat kangen dengan lelaki itu.
Rara ingin sekali meminta tongkat sihir neneknya Cinderella agar ia bisa lari dan menghilang dari situasi ini.
Tapi ini di dunia nyata bukan cerita dongeng, tapi mungkin cerita perjalanannya yang seperti dongeng,
Bagaimana mungkin dunia ini begitu sempit, apa dunia ini selebar daun kelor sehingga bertemu lagi dengan orang seperti dia, Rara bermonolog dalam hatinya.
“Ra, kamu kenapa berdiri di situ sini, aku kenalin sekalian. Ini pamanku yang aku ceritakan yang sering menemaniku di luar Negeri.” Kata Bastian
__ADS_1
Rara berusaha bersikap Normal dan tenang, walau jantungnya berdetak lebih cepat melebihi normal.
“Hai saya Ridho Pangestu, paman Bastian,” Kata memperkenalkan diri dan menyodorkan tangannya.
“Gue Rara,” Jawab Rara cuek dan terlihat acuh
Lelaki itu tertawa, melihat sikap Rara yang tidak berubah. Ia adalah mantan tunangan Rara yang meninggalkannya tiga tahun hampir empat Tahun silam. Lelaki yang menorehkan luka yang amat dalam baginya dan keluarganya.
Lelaki yang mengaku orang biasa pada keluarganya yang memakai jasa asisten dan supir pribadi sebagai orang tuanya
untuk meminang dan mengikat Rara.
Selama satu tahun hubungan mereka. Hingga sudah selesai lamaran tapi menjelang rencana pernikahan Ia memutuskan hubungan dengan Rara dengan alasan Jenuh dengan sikap Rara yang tidak bisa di sentuh dan tidak bisa di jamah.
Ia juga akhirnya mengakui Kalau orang tuanya ternyata keluarga kaya raya, Pangestu Group besan dari salim group.
Fakta kalau Ridho Pangestu adalah paman suaminya dan adik Ibu mertuanya tentu saja mengguncang hidup Rara.
“Ya Allah kenapa jadi begini amat takdir ku, menikahi keponakan Mantan tunangan. Tragis amat,” kata Rara merepet sendiri dan mondar-mandir dalam ruangannya.
Bersambung ..
KAKAK BANTU VOTE DAN LIKE , KASIH HADIAH JUGA IYA AGAR VIWERSNYA NAIK DAN AUTHORNYA SEMANGAT UP BANYAK TIAP HARI
DAN AUTHORNYA
Baca juga;
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing)