Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Saat Rara mencari kebenaran


__ADS_3

“Gue pikir seperti itu, Mey, ia hanya ingin Calvin, itu artinya Calvin dalam incarannya saat ini,” Rara terdiam pilu.


“Kalau seperti itu, ia sama saja dong, ia juga salah satu penyihir jahat,” kata sukma


“Iya , gue rasa seperti itu,” Kata Rara “ Kita harus menemui orang tua itu ,Mey, kita harus bertanya langsung bagaimana kebenaranya.” Kata Rara. Ia berdiri


“Loe yakin,Ra, loe tidak takut?” Sukma terlihat yang lebih takut.


“Iya, kata asisten Rumah tangga. mereka sudah pulang dari acara jalan-jalannya,maka itu kita harus kesana,” Kata Rara ia mulai bergegas.


Rara dan Sukma berencana menemui omahnya Bastian.


“Ra, pikirkan baik-baik setiap langkah yang ingin kamu ambil, karena sekarang halnya tidak sama seperti yang dulu lagi, dulu kita berpikir hanya Ibu Bastian saja yang penyihir jahatnya , ternyata sekarang kita tau ada Ratu besar yang lebih jahat,” Sukma mengingatkannya.


“Iya, aku tau Mey, tapi kita harus berani menghadapi agar kita tau kemana arah langkah kita dan tau kebenaranya, tapi percayalah, aku juga hati-hati dan mencoba bertahan,” kata Rara demi dia.


“Bahkan aku harus berani menaklukkan ini ,” kata Rara memaksa meminum susu hamil, sampai-sampai ia ingin muntah karena bau susu ia tidak suka


“Uaaaah aku pengen muntah , Mey,” kata rara matanya memerah, karena mual.


“Bertahanlah sobat, ini demi si buah hati,” kata Rara degan bibir tersenyum menggoda Rara.


“Mey, ada gak susu untuk orang hamil yang tidak bikin mual,” tanya Rara.


“Ada sih,Ra, nanti kita tanya Dokter sekalian kita Kontrol bulanan kamu,” kata Sukma


“Baiklah, mari kita mencari kebenaran,” kata Rara terlihat lebih tegar.


Sukma ke meja resepsionis mengurus check-out mereka, tangannya menentang koper Yolanda, saat Rara berjalan menuju pintu keluar, tidak sengaja kunci mobilnya terjatuh, ia ingin mengambilnya karena ia takut duduk jongkok, ia melakukan dengan cara menunduk diantara dua kakinya seperti cara menungging , tapi tidak sengaja matanya melihat kearah Sukma, saat itulah ia terkejut dan mulutnya,nyebut, dengan komat-kamit,


“Yolanda..!? astaghfirullah kata Rara bulu kuduknya bergidik , ia berdiri berbalik badan tapi tidak ada, tapi saat ia melakukanya lagi ia melihat dengan jelas dari antara celah kakinya ,ia mengulangi lagi dengan cara menungging lagi-lagi Ia menyebut


“astaghfirullah. Yolanda apa yang kamu lakukan mengikuti kami,” kata Rara.


Ia melihat bayangan orang meninggal si Yolanda mengikuti Sukma, ia melihat koper buluknya di tenteng Sukma.


“Apa yang kamu lakukan ?,” tanya seorang ibu yang melihat gaya antraksi yang dilakukan Rara.


“Tidak bu, hanya aku melihat mahluk kasat mata mengikuti temanku,” Kata Rara berkata Jujur.


“Apa kamu lagi berbadan dua? Maksudku lagi hamil?,” tanya wanita paruh baya itu, menatap kearah perut Rara.

__ADS_1


“Iya bu, masih hitungan bulan bu,” jawab Rara.


“Iya, biasanya orang yang berbadan dua akan bisa melihat mereka, jika kamu melihat mereka baca ayat-ayat pengusir syetan, kalau tidak berpura-pura tidak melihat mereka, karena bisa-bisa kamu di ikuti terus jika mereka tau kamu bisa melihat, hati-hatilah mereka senang menganggu orang hamil.” Kata wanita itu dan pergi meninggalkan Rara.


Rara mengusap tangannya karena bulu kuduknya berdiri.


Apa? setan tertarik juga menggangu hidupku bukan hanya manusia? Kata Rara tidak merasa takut.


“Loe tadi ngapain nungging-nungging, cacingan?,” tanya Sukma bercanda.Ia tidak tau kalau Yolanda tadi mengikutinya , kalau Rara bicara jujur yang ada sukma ketakutan.


“Lagi buat persiapan senam hamil dengan gaya baru, gaya nungging-nungging,” kata Rara bercanda. Di sambut tawa lepas dari Sukma


“Mana ada gaya nungging-nungging , itu mah pas lagi bikin cetakannya gaya nungging-nungging, kalau sudah hamil gayanya beda lagi,” katanya, mulai dengan mulut bocornya.


Mereka berdua sama-sama ketawa, mata Rara sesekali melirik kaca setelah didalam mobil,ia ingin tau apa Yolanda ikut juga di mobil itu, tapi ia tidak ada melihatnya.


Ah sudahlah, mana ada? mungkin tadi hanya kebetulan, kata Rara dalam hatinya tapi tiba-tiba Sukma merasakan yang lain


“Kok gue merasakan bulu kudukku bergidik lagi sih, Ra,” kata Sukma mengusap tangannya


“Gue enggak,” Jawab Rara, bersikap tidak perduli.


Mobil itu terus melaju .Langit Jakarta saat itu lagi cerah, matahari memancarkan sinarnya tepat dia atas kepala, tepatnya jam 12 siang. Rara akhirnya tiba di Rumah Omahnya Bastian.


“Ini rumahnya Ra?.” Tanya Sukma , Mata sipit milik Sukma dipaksa melotot.


“Ini rumah apa istana sih,” ? kata Sukma melihat dengan takjub rumah itu. Rumah mewah milik keluarga Bastian memang sangat besar mirip Istana. dilihat dari luar saja sudah tergambar kemewahannya.


Tiba-tiba bayangan Yolanda muncul lagi di benaknya.


Disinilah dulu tempat Yolanda melakukan hubungan terlarangnya.


Apa kamu mengikuti kami karena kamu mau kesini juga Yolanda? Tanya Rara dalam hatinya.Ia melirik sampingnya.


“Aku berharap Bastian tidak ada disini,” Kata Rara.


“Oh, Nona Rara,” sapa sekuriti rumah itu dengan ramah langsung membuka gerbangnya


“Omah, ada pak?.”


“Oh, ada Non, silahkan masuk, tadi beliau sudah pesan,” Kata satpam

__ADS_1


“Aku takut ,Ra, aku tunggu di mobil saja,” Sukma balik badan


“Baiklah, Mey,” kata Rara


Rara memutuskan masuk kedalam sendirian dan mungkin bukan sendirian.


“Eh, sudah datang Ra, sapa Marisa dengan sangat ramah, tidak tau ia punya otak licik di balik topeng sikap ramah yang selalu ia pamerkan.


Ia bahkan memeluk Rara, ia berpikir kalau Rara belum tau rencana busuk yang ia sembunyikan selama ini.


Kebetulan Bardi salim juga ada di sana.


“Eh, nak Rara datang? Ada perlu apa nak Rara?, tanya pak Bardi


Tiba-tiba Rara merasa tidak perlu gegabah, ia takut Marisa bertindak nekat mengunakan kekuasaannya. Karena saat itu sepertinya keluarga itu lagi mengadakan rapat keluarga. Terlihat mereka semua anak-anaknya berkumpul disana semuanya beserta pengacara keluarganya.


Ah, aku datang pada waktu yang salah sepertinya kata Rara dalam hatinya.


“Ada perlu apa Nak Ara? Mana Bastian?,” tanya Bardi sekali lagi, sepertinya tidak tau kalau Bastian sudah meninggalkannya


“Oh, Rara mau mengambil buku di kamar ,Bastian.” Kata Rara akhirnya membuat alasan


“Aku keatas sebentar iya ,omah,” Kata Rara langsung menuju kamarnya.


Beruntung, kamar Bastian habis di bersihkan sama si Mbok, kalau biasanya kamar itu selalu di kunci, maka itu Rara bisa masuk dan duduk mengambil nafas


Karena niatnya ingin menanyakan tentang kebenaran pada Omahnya Bastian tentang sejauh mana wanita itu mengetahui tentang anaknya Calvin, tapi saat ia menyadari ia datang pada waktu yang kurang tepat. Ia berpura-pura ingin mengambil buku dari kamar Bastian.


Ia berdiri menguping dari dekat tangga, ia tidak bisa mendengar dengan jelas, tapi samar-samar ia mendengar pengacara itu membacakan bentuk tuntutan , tidak tau tepatnya untuk siapa di tujukan. Ia berpikir itu pasti untuk orang besar, karena ada lima pengacara yang membantu.


Aku harus pergi dari sini, kata Rara ia masuk lagi mengambil buku sebagai alasan ia datang kerumah itu.


Tiba-tiba di dalam kamar itu ia merasa sedih dan dadanya sakit, karena kenangan ia dan Bastian masih terbayang di ingatanya.Ia mengusap perutnya.


Selamat tinggal kata Rara melangkah keluar


“Omah, Rara pulanglah dulu, ayah sampai ketemu di kantor besok ,” Kata Rara pada Bardi


“Baik nak Ara,” kata Bardi. melihat kedatanganya mereka semua terdiam mereka tidak ingin rapat mereka di ketahui Rara.


Rara dengan cepat meninggalkan Rumah itu menuju mobil Sukma.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2