
Jika seseorang bisa berubah karena cinta? hal itu, belaku untuk Kenzo, bukan Rara yang membuatnya berubah, tetapi putra Rara.
Dari kepolosan dan ketulusan anak kecil itulah, ia banyak mendapat banyak pelajaran hidup.
Ken masih menghindari keluarga dan wartawan, maka itu ia meminta asisten dan supirnya untuk tinggal di villa di Bali.
“Aku ingin kamu ikut dan putramu Ra,” ucap Ken ragu-ragu.
“Aku, kan, minta liburan ke Korea Selatan, kenapa jadi ke Bali ?" tanya Rara.
“Aku mau Ra, tetapi kita mempersiapkan diri dulu sebelum pergi, Alvin, kan, lagi libur sekolah, kenapa tidak kamu ajak saja ikut”
“Ok, nanti aku minta izin keluargaku dulu”
“Tapi Ra, kamu tidak takut padaku, kan? kamu tidak takut jatuh cinta padaku' kan?” tanya kenzo menggoda Rara
“Dengar iya Pak Ken, lo itu bukan lelaki tipe gue. Jadi … ckck, jangan khawatir,” ujar Rara dengan gayanya yang absurd.
“Apa? Bukan tipemu, dengar, baru kali ini ada wanita yang bicara seperti itu padaku," ucap Ken, merasa jengkel dengan sikap Rara yang tidak pernah kalah darinya.
“Aku heran deh, sama anak-anak muda zaman sekarang, dekat sama perempuan pikirannya sudah macam-macam”
“Anak Zaman sekarang? Kamu kenapa bersikap seakan-akan sudah tua si Ra?”
“Aku sudah tua kali, jadi kalian, dibandingkan aku, kalian masih pada bocah, jadi aku tidak berminat menjalin hubungan dengan kalian semua. Jadi … jangan pernah sesekali berpikir untuk menjadi pendamping hidupku, kalian belum cukup umur," ujar Rara, memberikan peringatan keras pada Ken.
Ken, langsung terdiam mendengar peringatan Rara, padahal ia baru saja merasa sangat dekat dengan Alvian putra Rara.
"Dasar wanita sendeng," ucap Ken merasa jengkel.
*
Ken, supir, asisten rumah tangga, Rara, Alvin saat ini tinggal di satu Villa di Bali, Villa itu milik kelurga Ken.
“Om ayo sholat bareng-bareng,” ujar Alvin saat Ken dan supir sedang asik main game PlayStation.
“A-a-anu, itu, om tidak punya baju koko,” ujar Ken dengan wajah memerah, karena malu. Ia melihat Rara dan menggaruk-garuk kepalanya, ia jarang sholat bisa di hitung pakai jari dalam satu tahun itupun saat idul Fitri saja.
Alvin melirik Rara, ada raut kecewa di mata bocah polos itu, karena Alvin selalu dididik di rumah untuk selalu rajin sholat lima waktu. Ia juga beberapa kali meminta ibunya untuk berteman pada lelaki yang rajin sholat.
“Sayang, baju Koko milik Om Ken hanya ketinggalan saja kok," ujar Rara membela Ken.
“Tapi Om Bastian, tidak pernah ketinggalan, baju kokonya Bu," ujar Alvin membanding-bandingkan Bastian dengan Kenzo.
“Sayang, Ibu sudah bilang, tidak bagus membanding-bandingkan orang, semua orang punya masalah dan cara hidup masing-masing." Rara mengusap puncak kepala putranya.
__ADS_1
“Tapi guru ngajiku bilang; laki-laki dewasa yang baik, lelaki yang taat menjalankan ibadahnya. Bu"
“Iya, iya, iya … ibu tau sayang”
Rara memutar bola matanya dengan sikap lega, Rara sadar, berdebat dengan putranya ia akan panjang urusannya.
“Kakek selalu bilang, kalau ibu harus berteman dengan lelaki yang taat ibadah, agar bisa jadi iman untuk ibu," ucapnya lagi menasehati sang bunda, ia seperti kaset kosong apa ia dengar akan di rekam otaknya.
Ken dan sang supir hanya melongo mendengar penuturan anak kecil itu, umur boleh masih mudah, tetapi pikiran melebihi pemikiran orang dewasa, bahkan mengalahkan mereka berdua.
Rara terdiam, ia merasa tidak enak pada Ken, karena putranya mengatur-atur, kalau dulu sama Bastian, ia sudah mengingatkannya dan Bastian merima sifat Alvian dengan baik, bahkan sangat suka dengan sifat Alvin. Tetapi pada Ken ia tidak tahu apa yang dipikirkan bos tersebut.
Sang supir berdiri dan mengganti pakainya, dengan sikap buru-buru, lalu mengajak Alvin.
“Om saja, om sudah siap bagaimana?” tanya supir memecahkan keheningan.
Alvin tersenyum kecil, lalu ia mengangguk setuju dan pergi ke Mushola dengan supir.
“Maafkan putraku iya Pak Ken, itulah yang aku khawatirkan, makanya aku enggan mengajak ke sini, kalau Bastian sudah terbiasa dengan sikap Alvian yang seperti itu”
“Tidak Ra, justru aku yang merasa. Gila … gue malu.” Ken menggaruk-garuk kepalanya, lalu ia berkata. “Ra, temenin aku beli baju koko”
“Ha, emang gak punya?”
“Satu …!?”
“Gak usah teriak, kamu membuatku tamba malu”
“Gak pernah sholat apa?”
“Tidak”
“Jangan, jangan bapak belum sunat lagi, Ha?” Rara tertawa ngakak.
“Gila aja ....” Wajah Ken memerah bagai tomat rebus. ”Iya sudahlah, umur lima tahun"
“Serius! … Ha …Ha …” Rara menggoda Ken.
“Lo, mau lihat, apa perlu gue tunjukkin?” Ken merasa jengkel.
“Boleh, kasih motif apa?” Rara menantang balik.”Gede apa kecil. Ha … ha …”
“Gila kamu Ra, stres lu....” Ken berdiri ia masuk ke kamarnya meninggalkan Rara yang masih tertawa terpingkal-pingkal.
Bukan Rara namanya, kalau tidak bisa membuat lawan jenisnya mati kutu, walau itu bosnya sekalipun.
__ADS_1
‘Apa, apaan si Rara, motif apaan? Kecil apaan?’ Ken, masuk ke kamar mandi dan ia mulai meneliti batang miliknya yang ditertawakan Rara.
“Anak sama ibu sama saja, Anaknya bikin gue malu karena jarang sholat, sekarang ibunya yang menertawakan milikku, puas kalian dua Ha!” Ken bicara sendiri dalam kamar mandi. Baru kali ini hidupnya, jadi bahan olok-olokan.
Setelah cuci muka, Ken keluar dari kamar mandi, ia berharap Rara tidak membahas tentang batang lagi . Namun, Rara masih terlihat senyum-senyum padanya.
Alvian dan supir kebetulan sudah pulang dari masjid
"Ibu kenapa senyum-senyum?'
"Oh, iya Vin, kapan kamu sunat Nak, ibu lupa?"
"Waktu aku umur empat tahun"
"Kasih motif apa sunatnya"
"Kata kakek kasih motif bunga rose"
Mendengar itu Ken yang saat itu sedang minum langsung tersentak dan terbatuk-batuk, wajahnya makin memerah.
"Memang Om Ken belum sunat, Bu?"
"Eh, kata siapa, om saat usia lima tahun uda sunat kok"
"Oh, iya." Rara kembali menggoda lelaki bertubuh tinggi itu dengan mata dikedipkedipkan.
"Aku serius Ra, kok kamu gak percaya sih,"ujar Ken melempar bantal sofa ke wajah Rara.
"Ok, ok baiklah Pak Ken, bagaimana kita jadi beli baju koko tidak, keburu malam ini," ujar Rara ia menyudahi sikap isengnya pada Ken.
Karena Alvian selalu meminta sholat bersama, akhirnya ia membeli beberapa pakaian koko untuk ia pakai.
"Alvi mau beli apa?" tanya Ken, saat mereka tiba di salah satu mall di Bali.
"Tidak usah om, untuk om saja," Alvian menolak.
"Tidak apa-apa Om yang bayarin"
"Makasih om"
Ia memilih-milih beberapa pakaian dan mainan Rara juga kebagian jatah belanja.
Bersambung
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga agar viewersnya naik ...
__ADS_1