
Rara ingin berdiri ke kamar mandi, tapi ia susah berdiri, Bastian menggendong tubuh istrinya ke kamar mandi, membantunya membersihkan diri.
Wajah Rara terlihat tersipu merah setiap kali Bastian mengecup bibirnya, atau itu sekedar ia rayu dengan kata-kata.
“Apakah aku dulu cantik?” ia bertanya saat Bastian mengangkat kembali dari kamar mandi dan membantunya memakai bajunya.
Bastian mengecup keningnya” Kamu sangat cantik, baik dulu, baik sekarang juga,” katanya lagi.
Karena sudah kelelahan Bastian tertidur pulas di samping istrinya , Ia akan selalu bermimpi indah saat ada Rara bersamanya, ia merasa dunianya lengkap, ia tidak merasa kehilangan lagi.
Satu tahun yang lalu saat Rara dibawa keluarganya berobat tanpa minta izin padanya selaku suami, ia merasa dunianya runtuhnya untuk kesekian kalinya, di dalam penjara, ia hanya menghabiskan waktunya dalam diam dan penyesalan.
Banyak yang ia pikirkan dan sesali dalam hidupnya, termasuk yang paling ia sesali saat Rara merengek meminta dibuat foto saat ia hamil.
Ia memeluk tubuh Rara dengan penuh sayang, saat ini Rara sudah menerima sentuhan dan pelukan darinya, padahal saat pertama membawa Rara kabur, Rara memperlakukannya seperti orang asing, tapi sepertinya melihat ketulusan hati Bastian, ia perlahan jadi penurut dan menerima Bastian, ia menuruti apa yang dikatakan padanya.
Hingga pagi tiba. Rara meringis dan badannya meriang. Rara mengalami pembengkakan pada bagian dada atau di sebut mastitis yang sering di alami oleh ibu yang sedang menyusui, atau asinya tidak di keluarkan selama menyusui atau terlambat menyusui.
“Ada apa, sayang?” Bastian terbangun melihat tubuh Rara duduk meringkuk di sisi ranjang, tangannya memegang bagian dadanya.
“Dadaku bengkak lagi, rasanya panas, ingin di keluarkan, aku merasa meriang,” kata Rara tangannya memegang gunung kembarnya melendung seperti balon yang di tiup.
“Sebentar iya, Bun, aku panggil Dokter,” kata Bastian dengan buru-buru ia menekan nomor Dokter yang ia tugaskan menjaga Rara.
Mata Bastian masih berat, kotoran mata masih menempel di pelupuk matanya, rambutnya masih terlihat acak-acak kan.
Ia buru-buru masuk kamar mandi, tidak perlu waktu lama, ia sudah keluar dengan sigap juga ia mengompres dada Rara dengan kain hangat, sebelum dokter tiba.
“Apa yang aku harus lakukan Dok?” Bastian menatap dokternya, ia terlihat kebingungan.
“Kita harus memompa asinya agar keluar, ia akan merasa lega nanti setelah asinya di keluarkan, kalau tidak dikeluarkan, ia akan panas dingin dan tubuhnya menggigil.”
Dokter mudah itu menjelaskan pada Bastian.
Perawat menyalakan pompa asi elektrik, Rara merasa tubuhnya ringan saat asinya di keluarkan, ada tiga botol yang berhasil di tampung.
“Iya, Asi sayang bangat kalau harus di buang,” Kata Dokter matanya menatap Bastian.
__ADS_1
“Apa sudah merasa ringan?” Tanya Dokter pada Rara, hanya dibalas anggukan kecil dari Rara.
Kini dadanya terlihat sudah kempes tidak seperti balon di tiup lagi. Ia juga merasa ringan.
“Menurutku, selama ini asi istrimu rutin di keluarkan, itu demi kesehatan juga, memang harus di keluarkan untuk menghindari kangker payudara,” kata Dokter. “Bisa jadi selama ini asinya di tampung, mungkin di kasih ke bayi orang lain, karena tidak semua Ibu melahirkan asinya lancar, seperti Rara,” kata Dokter.
Bastian masih terlihat diam, ia memikirkan perkataan dokter, dokter bilang selama ini asi Istrinya di pompa.
Di kasih buat siapa?
Bastian memang tidak melihat kuburan buah hati mereka, ia juga tidak berharap banyak dan tidak yakin ia melihat luka yang di alami Rara saat itu, kecil kemungkinan bagi anaknya untuk selamat, tapi saat ini ia berharap ada keajaiban, ia berharap anak itu masih hidup.
Ia menyalakan ponselnya, ia sudah beberapa minggu ini sengaja ia matikan, tidak ingin siapapun yang menemukanya, ia berpikir kalau ia mampu merawat Rara. Buktinya berhasil, saat ini Rara sudah bisa jalan sendiri, walau terkadang ia merasa pinggangnya terkadang sakit tepat di mana mobil naas itu menyundul dengan keras di bagian pinggangnya.
Ia berjalan kesana- kemari dengan ponsel di tangannya, ia ingin menelepon tapi terlihat ragu dan takut. Ia meletakkan ponselnya.
Kring....
Panggilan masuk..
“Halo sah, ada yang aku bicarakan padamu, kamu harus jawab jujur,”
“Ia baik-baik saja Ra, aku bertanya hal yang penting padamu.”
Tapi saat ia menelepon empat orang polisi mendatangi kediaman Bastian.
“Nanti aku telepon lagi Sah, ada tamu tidak diundang,” katanya, melihat cctv kearah pintu gerbang rumah besarnya.
“Dok, sebentar aku mau buka pintu dulu, ada tamu yang tidak diundang.”
Bastian membuka pintunya.
“Selamat pagi Pak dengan Pak Bastian Salim?”
“Iya, betul,” jawabnya ia mulai merasa takut.
“Anda ikut dengan kami ke kantor polisi pak, karena membawa pasien dalam tahap perawatan dan masih dalam penjagaan Dokter,”kata Polisi, Bastian panik.
__ADS_1
“Saya bawa istri saya pak bukan orang lain."
“Tapi istri bapak masih dalam status pasien rumah sakit, bapak boleh jelaskan di kantor polisi, jika keberatan anda boleh menghubungi pengacara bapak, untuk mendampingi bapak nanti,” Kata polisi dengan tegas.
Mendengar hal itu Bastian terlihat tidak berdaya, ia menurut.
“Saya minta izin pada Istri saya dulu,” kata Bastian.
“Tidak usah, saya yang akan mengurusnya” Rizky tiba-tiba masuk.
Mata Bastian menatap tajam, ia tau kalau ini kelakuan adik iparnya yang marah padanya.
“Ini kelakuan kamu?” Tanya Bastian.
“Ini demi keselamatan Kakak saya.”
“Dia istri saya,” Teriak Bastian berontak.
“Kamu dan keluargamu tidak berhak lagi melihat kakak ku, aku akan mengurus surat perceraian untuk kalian, aku sudah muak melihat kelakuan keluargamu yang bisa berbuat seenaknya karena punya kekuasaan dan uang.”
“Ada apa denganmu? kamu tidak berhak untuk hidup kami, kamu masih bocah.” teriak Bastian ia terlihat putus asa.
Ujian hidup akan selalu ada selagi daging bernyawa dan kita masih penghuni dunia ini.
Bastian punya mimpi besar untuk rumah tangganya. Ia akan melakukan apapun untuk kesembuhan istrinya, ia punya mimpi besar suatu saat nanti Rara akan mengingatnya dan bisa berkumpul seperti dulu lagi. Satu keinginannya yang paling ia inginkan, bisa berkumpul dengan Calvin, ia ingin meminta maaf pada bocah malang itu, ia ingin menebus kesalahannya.
Tapi rencana dan keinginan hanya akan sebuah mimpi belaka saja. Karena keluarga istrinya ingin memisahkan mereka.
Bastian di bawa kekantor polisi, Rara di bawa pulang ke rumah kelurganya.
Siapa yang salah jika mereka di pisahkan kembali? perlakuan semena-mena dari keluarga Bastian pada keluarga Rara, membuat keluarga itu memutuskan kalau hubungan keluarga mereka tidak di bisa disatukan.
Orang tua Rara dan Bastian sudah sepakat kalau Rara dan Bastian menjalani hidup masing-masing,
Egois memang.
Bagaimana dua orang yang saling mencintai harus dipisahkan oleh kedua orang tua kedua pihak.
__ADS_1
Bersambung...
Mohon dukungannya iya gaes, buat ceritaku.