
“Terserah loe mau bayangin dia jadi apa, asal jangan loe bayangan dia bug* l dan loe berfantasi , awas jangan coba-coba ,” kata Bastian. Ia tidak memperbolehkan temannya menghayal tentang Rara.
Mendengar hal itu, ia tertawa lepas melihat sifat cemburu Bastian.
Hingga pagi tiba, ia sudah siap menjalankan misi, ia ingin bicara berdua dengan Rara, sementara bam-bam mengalihkan perhatian Sukma, agar Bastian bisa masuk ke kamar Rara.
Agar bisa bicara berdua dengan istrinya, kalau sukma ada pasti, ia akan menghalanginya menemui Rara.
“Kok, aku merasa masih lemas bangat iya, Mey, badanku kayaknya malas di ajak berdiri, maunya rebahan manja-manja gitu, merasa tubuh ini seperti kurang vitamin, karena lemas tidak berdaya ,” kata Rara, ia masih merasa belum pulih padahal mereka berencana, sebelum jam 6 mereka sudah meninggalkan Rumah sakit. Tapi sepertinya harus tertunda karena ia masih belum kuat.
“Itu karena kamu masih kurang istirahat,Ra, di tambah karena bawaan oroknya , kadang bawaannya malas, ingin bermanja-manjaan apa lagi yang manjain suami,” sukma membantunya duduk membantunya menyisir rambut Rara.
“Mey, kamu kerja saja iya, nanti biar Aisah yan jaga aku di sini, kita berdua tidak boleh meninggalkan kantor,”kata Rara.
“ Kamu yakin Ra?.”
“Iya ,tidak apa-apa, Aisah sudah di jalan, kamu berangkat saja, ada rapat kan, nanti? Aku akan kerja dari sini saja, nanti kalau kuat aku kerja dari sini saja, suruh di antar Lili kalau ada berkas yang mau di tanda tanganin,” Rara menyuruh Sukma masuk kantor.
“Baiklah, aku berangkat.” Sukma menteng tasnya tangannya dan meninggalkan Rara sendiri. Karena Aisah yang menggantinya masi di jalan.
Rara merasa kepalanya pusing, ia memilih menutup matanya sekalian menunggu Aisah untuk menjaganya, usia kehamilan Rara memasuki sepuluh minggu, faktor kehamilannya ia kadang merasa tubuhnya terkadang sangat lemah dan kepalanya kadang terasa sakit.
“Kreaak,” suara pintu terbuka
“Sah, tolong tutup gordennya, terlalu silau aku merasa kepalaku semakin pusing, perut makin mual,”
Rara menutup matanya dengan selimut. Sah tolong urut kepalaku, aku merasa pusingnya semakin menjadi.” Kata Rara, ia menyuruh adiknya Aisah memijit kepalanya
Tangan itu mengurut kepala Rara dengan lembut, Rara merasa rileks dan mulai menutup matanya,
Tapi.. tunggu, baunya seperti bau?-
Rara mengenduskan hidungnya kearah si empunya tangan yang memijat kepalanya, baunya khas bahkan dengan mata tertutup ia menebaknya.
Rara menyingkirkan selimut dari wajahnya dan membuka matanya , mata bulat itu melotot panik
“Bastian!? Ngapain kamu kesini ,awas! ,” Rara menyingkirkan tangan lelaki tampan dari kepalanya.
“Kamu, sakit apa Ra?.’ Bastian meraba kening Rara
“Sudah, sana keluar! nanti Ibu melihat kamu ada bersama saya nanti salah paham lagi,” kata Rara
“Tidak apa-apa, ibu tidak datang kesini,” Kata Bastian masih menatap Rara dengan tatapan iba.
Rara tidak menyukai kedatangan Bastian. Ia takut wanita penyihir pertama dan kedua melihat mereka.
__ADS_1
“Tolonglah, keluar Bastian , kamu jangan membuat semua semakin rumit untukku,” kata Rara. Ia berusaha berdiri
~Buraak~
ia hampir terjatuh, untung Bastian menangkap tubuhnya dengan cepat, kalau tidak, bis-bisa sisi ranjang mengenai perutnya.
Ia masih mematung di dada Bastian, ia memeluk dada bidang lelaki itu. dengan tangan gemetaran karena berpikir hampir mencelakai calon bayinya.
“Kamu tidak apa-apa ?”
“Tidak baik Bastian, aku ingin muntah, Ia berlari kekamar mandi dan mengeluarkan semua isi perutnya, sampai –sampai cairan berwarna hijau ikut keluar ia merasakan lidahnya sangat pahit sepahit empedu.
“Ra!” Bastian mendekatinya
Tapi tangan Rara menolak dengan tanda telapak tangan di bentangkan tanda stop.
“Jangan kesini , di sini bau, aku berantakan ,”
Kata Rara, suaranya kejepit seperti kecekek lehernya, mata dan wajahnya memerah.
Bastian tidak memperdulikan bau muntahan yang menusuk hidung , karena ini bukan yang pertama baginya melihat Rara muntah, hal yang sama juga pernah di apartemennya, saat mereka belum menikah dulu.
“Kamu tidak apa-apa Ra, ia panik, tangannya menepuk-menepuk pundak Rara dan memberinya minum.
Ra, apa masih pusing muntah saja, aku memegangi, kata Bastian tangannya ,mencengkeram perut Rara kuat, agar tidak jatuh. Ia mengambil posisi dari belakang. Rara masih berdiri dan kepala sedikit menunduk, karena masih merasa mual ingin muntah kembali.
Tapi ia merasa cengkeraman tangan Bastian terlalu kuat menekan perutnya . Rara takut tangan Bastian menyakiti jabang bayinya. Rara melepaskan tangan Lelaki itu dari perutnya.
“Tanganmu, menyakitinya,” Kata Rara , ia mengatakannya, tanpa sadar. Ia memindahkan tangan Bastian kepundaknya.
Mendengar itu, tiba-tiba jantung Bastian berdetak lebih kencang, tangan dan lututnya gemetaran.
Apa maksud Rara? apa itu artinya, ada bayi di dalam rahimnya? Anakku, ada di dalam rahim Rara? Ia bermonolog sendiri dalam hatinya, Mata Bastian tiba-tiba terasa panas, mulutnya terbuka, ingin bertanya tapi keadaan Rara tidak memungkinkan.
Aku merasa lemas Bastian! aku tidak berdaya, aku takut ,” Kata Rara, ia memeluk tubuh Bastian erat ia terlihat rapuh tidak berdaya. Bahunya terguncang-guncang di barengi suara isakan tangis.
Tidak tau, apa yang menghinggapi Bastian mulutnya terasa terkunci, otaknya terasa berhenti bekerja yang ia lakukan hanya memeluk erat tubuh Rara . Tanpa ia sadari, airmatanya melenggang lolos menyusuri pipinya dan air itu jatuh di pundak Rara. Bastian menangis, ia berpikir Rara memikul beban sendirian tanpa ada dirinya mendampingi.
“Maafkan aku Ra, hanya itu yang lolos dari bibir Bastian, bahkan suaranya kecil hampir tidak kedengaran. Ia juga bersalah tapi tidak bisa berbuat apa-apa
“Aku ingin muntah lagi Bastian,”
ia terduduk di lantai di kamar mandi itu .
Saat Rara muntah dan merasa lemas. Suara pintu terbuka, Aisah baru tiba untuk menjaganya.
__ADS_1
“Kakak!,” ia melemparkan tas di lantai, berlari menghampiri Rara yang sudah mulai terkulai lemas, bersandar di dada Bastian
“Ia habis muntah, badannya lemas.” Kata Bastian mengusap kepala Rara
Walau Aisah terkejut melihat keberadaan Bastian di kamar kakaknya, tapi ia memilih mengurus kakak terlebih dulu.
Tubuh Rara di angkat ke ranjang kembali, Aisah memangil Dokter.
“Kak Bastian tunggu di luar saja dulu, biarkan Dokternya memeriksa,” kata Aisah.
Bastian walau tidak terima di usir Aisah, tapi ia tidak dalam posisi tepat untuk tetap berada mendampingi Rara. Karen ia sudah memilih ibunya dari pada istrinya.
Maka ia tidak berhak untuk menuntut apapun dari Rara.
Ia hanya bisa menunggu dan berharap di luar, tapi Dokter yang memeriksa Rara tidak kunjung keluar, ia gelisah tapi tetap bertahan menunggu.
Padahal Dokter sudah keluar dari pintu samping atas permintaan Aisah.
Rara sudah tertidur karena Dokter memberinya obat, Aisah mengintip dari balik gorden. Bastian masih setia menunggu duduk di depan pintu matanya sesekali menatap pintu kamar Rara.
Hingga Bam-bam datang menghampirinya, kerena dokter yang memeriksa Bastian mencarinya. Ia hampir 2 jam keluar dari kamarnya, waktunya minum obat. Ia meninggalkan kamar Rara, berniat nanti kembali lagi, tapi satu jam kemudian Rara sudah siuman.
“Kak aku melihat Ibunya Bastian di bawah, aku takut ia datang kesini, makanya aku tidak jadi membeli buburnya,” Kata Aisah, raut wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
“Aku sudah mendingan, kita keluar dari sini, sebelum nenek lampir itu menemukanku,” Kata Rara dengan sikap buru-buru.
“Kakak sudah kuat?”
“Sudah, ayo,”
Rara dalam situasi saat ini, memilih mencari aman menghindari keluarga Bastian , mengingat kehamilannya masih terlalu mudah, ia takut jika bertemu ibu mertuanya, akan hal buruk di lakukan padanya.
Maka selagi bisa ia menghindari ia memilih menghindari. Ia akhirnya meninggalkan rumah sakit .
Satu jam kemudian kembali kekamar Rara wanita itu sudah tidak ada di kamarnya.
Wajah Bastian lesu ia belum sempat mengetahui apa Rara hamil apa tidak. Tapi ia tau, kalau Rara sengaja menghindarinya dan menutupi sesuatu darinya.
Aku akan menemukanmu Ra, walau kamu lari ke bulan sekalipun kata Bastian meninggalkan kamar itu.ia juga keluar dari rumah sakit padahal Dokter belum menginginkannya
Bersambung
**Jangan lupa Vote dan tinggalkan bintang yang banyak iya kakak, tetap dukung kasi komentar dan masukkanya juga . Kasih hadiah jika kalian suka ceritanya agar authornya tambah semangat lagi upnya
TERIMAKASIH
__ADS_1