
Siaran pertandingan bola sudah usai, Bastian mencoba membangunkan Rara. Ia berniat mengendong Rara ke kamar, Tetapi tiba-tiba ….
“Bastian jangan tinggalkan aku,” ujar Rara tiba-tiba, dengan mata sendu.
“Ayo bangunlah, karena kamu sudah bangun, kamu mau tidur di mana, di kamarku apa dikamarmu lagi?” Tanya Bastian dengan wajah datar.
“Di kamarmu, tapi aku mau di gendong,”ucap Rara manja
“Kamu punya kaki, berjalanlah dengan kakimu,” ujar Bastian terlihat masih marah.
“Kalau begitu biarkan saja aku tidur di sini”
“Uhh ... baiklah.” Ia menarik napas panjang, terlihat jengkel, tapi akhirnya ia mau mengendong istrinya dengan tatapan mata acuh.
“Aku mencintaimu Bastian,” ucap Rara . Untuk sesaat Bastian berhenti, ia menyimak ucapan istrinya tetapi seolah tidak perduli dengan pengakuan itu.
Ia mengacuhkan kalimat tulus Rara. Ia mengangkat tubuh Rara dengan cuek .Meletakkan tubuh Rara, tetapi tidak disangka Rara menarik lehernya hingga ia terjatuh di atas tubuh Rara, dengan bibir ketemu bibir mirip adegan drama Korea yang biasa Rara tonton.
“Apa yang ingin kamu lakukan?” Tanya Bastian dengan tatapan mata bingung.
“Membuatmu tidak marah lagi, Bastian” Rara menatapnya dengan sangat inten.
“Sudah, lupakan saja,” ucap Bastian , kali ini ia jadi sok jual mahal.
“Aku ingin berterus terang padamu, apa kamu mau mendengarkan?”
“Baiklah. Katakan aku selalu siap jadi pendengar.”
“Kita belum pernah melakukanya Bastian, malam itu .... Kamu tidak melakukanya, karena kamu sudah keburu pingsan” Suara Rara terdengar lembut. “Aku memaksa kamu menikahi ku, karena kamu sudah melihat semua bagian tubuhku bahkan setiap incinya.Tapi untuk melakukannya sampai benar-benar tuntas belum pernah, aku berbohong padamu. Apa kamu marah?”
Wajah bastian bingung, karena ia merasa di bohongin
“Kebohongan apa lagi yang kamu lakukan padaku, Ra?”
“Tidak, tidak Bastian hanya itu saja,” Rara terlihat sangat menyesal.
“Apa tujuanmu?” Nada suaranya tegas
“Aku tidak ada tujuan apa-apa Bastian”
“Kalau kamu tidak ada tujuannya, kenapa kamu memaksaku menikahimu, padahal aku tidak sampai melakukanya?”
__ADS_1
“Tidak ada tujuan apa-apa Bastian, pertama aku mencintaimu, tapi aku takut melakukan hubungan Ranjang, Bastian ....” wajah Rara benar-benar sendu dengan mata bulatnya di penuhi bendungan air. “Itu yang selalu membuatku selalu menghindar dari kamu” Rara menangis sesenggukan.
“Ra, jangan menangis, tetapi katakan dengan jujur agar aku tidak salah paham dan tidak mencurigai mu. Jika kamu tidak berterus terang bagaimana aku tahu apa yang terjadi,” ucap Bastian terlihat panik yang melihat Rara yang tiba-tiba menangis, ia paling tidak bisa melihat wanita menangis,
“A-aku hanya gugup dan tidak percaya diri.” Rara menyembunyikan alasan sebenarnya.
“Apa?” Bastian tersenyum geli mendengar alasannya, karena orang dewasa seperti Rara berkata seperti itu,
“Tapi aku sudah siap melakukanya malam ini denganmu, Bastian, apa kamu masih marah padaku?”
Bastian hanya menggeleng tapi masih bingung dengan apa yang didengar.
“Tapi, apa hanya itu alasannya?” kalau kamu belum siap, aku tidak akan memaksa Ra. Hanya satu yang aku ingin dengar darimu sebuah kejujuran. Aku tidak akan memaksa kamu jika kamu belum siap, aku bisa bersabar jika kamu bicara padaku sebelumnya,” ujar Bastian kemarahannya ber angsur redah.
“Aku siap kok.Tian., aku ingin melakukan kewajibanku sebagai istrimu” Rara mencoba menenangkan jantungnya.
“Baiklah” Terlihat Bastianlah yang terlihat lebih dewasa darinya.
Sangat tegang, bahkan suara jantung Rara bagai suara gendang dipalu, ia duduk mematung dengan tangan gemetaran, terasa dingin keringat jagung membasahi dahi Rara. Padahal Bastian sudah menyalahkan pendingin di kamarnya, bahkan ia menyetelnya paling dingin. Tetapi Rara merasa seperti di oven karena kegerahan.
Ia masih membatu saat Bastian memberinya satu kecupan di kening,
“Kamu tidak apa-apa, Ra? santailah tidak usah tegang aku tidak akan menyakitimu, sayang,” bisik Bastian lembut di telinganya,
Tapi kata-kata lembut penuh kesabaran yang di berikan suaminya mampu mengusir ketakutan dalam dirinya.
Bastian tau ketakutan yang di rasakan Ara, terlihat dari keringatnya yang segede biji jagung menghiasi wajah cantiknya.
Akhirnya, ia sedikit paham alasan yang di berikan Rara. Ia benar-benar takut, terlihat dari tangannya yang ia kepal dengan kuat. Ia tidak ingin menambah ketakutan pada istrinya.
Sesekali ia memeluknya membisikkan kata-kata sayang pada Ara dan akhirnya ia benar-benar merasa nyaman.
Ia akhirnya membalas bibir suaminya kecupan lembut dan gigitan kecil di berikan pada bibir pada Bastian.
Bastian, tersenyum ketika akhirnya Rara membalasnya karena dari tadi, Bastian merasa bermain sendiri dan menikmati sendiri rasanya tidak enak,
“Aku mencintaimu Rara, istriku, sayangku,” ucap Bastian memberinya kecupan bertubi-tubi dan mengecup keningnya dengan lembut penuh cinta.
“Aku juga Bastian , aku juga mencintaimu,”ucap Rara plong tanpa hambatan, ia merasa ikatan tali ketakutannya selama ini lepas.
Senyuman manis terukir lagi dari bibir mungilnya. Bastian membalas senyuman manis istrinya dengan satu gigitan yang gemas.
__ADS_1
Hingga ia akhirnya berani membuka piyama berwarna abu-abu bergaris-garis panjang itu,
Kado yang lingrei seksi yang di berikan Sukma terpampang sangat indah ditubuh istrinya. Mata Bastian bagai di sambut seribu kupu-kupu menari di menggelitik jantungnya, saat ia melihat keindahan itu secara nyata di depan matanya. ia menatapnya penuh cinta.
Ara, menutup matanya dengan kedua telapak tangannya, masih merasa malu belum percaya diri.
“Sukma menyuruhku memakainya.” Rara mengaku dengan polosnya, membuat Bastian makin gemas melihat tingkah kikuknya dan tingkah polosnya istrinya,
“Cantik … sangat cantik,” puji Bastian mengigit bibirnya sendiri , Ia sungguh tidak tahan melihat keindahan yang di berikan istrinya malam itu
Ia membuka tangan Rara yang menutup wajahnya sendiri karena malu.
“Kamu wanita yang paling cantik Ra,” ucap Bastian menggombal, membuat wajah Rara tersipu malu wajahnya memerah kembali.
Ia menuntun Ara berdiri kembali, dan meraih pinggangnya degan posesif, tetapi ******* bibir istrinya dengan lembut. Ia melakukan itu karena ia tidak melihat ketakutan lagi di mata Ara.
“Waktunya menelanmu hidup-hidup sekarang,” bisiknya di kuping Ara membuatnya menggeliat kegelian.
Bastian memang pemain yang handal. Satu tangan membuka bajunya sendiri dengan satu tarikan langsung lepas. Memperlihatkan otot-otot dan kulit berwana putih itu mulai mengkilap di terpa sinar cahaya lampu dari kamar itu. Kontras dengan tubuh Rara yang di balut lingrei hitam mereka berdua terlihat sangat seksi di atas ranjang.
Rara tidak merasa takut lagi, ia mengikuti irama yang di berikan suaminya, kini mereka berdua berdiri sisi ranjang bibir saling terpaut satu sama lain dengan suara napas mulai tidak beraturan dan tubuh bermandikan keringat. Bastian dengan begitu lihai menyusuri leher Ara, tangannya menarik linegeria berwarna hitam itu hingga lepas, berserak dilantai,
Kini Ia di melihat pemandangan yang begitu indah, gundukan indah itu, sangat menantang, jelas sekali belum pernah di sentuh, ia begitu ranum seolah memanggil-manggil Bastian untuk memakannya, Bastian benar- benar melahapnya. Tubuh Rara bergerak tidak terkontrol, ia menuntunnya untuk rebahan karena ia melihat Rara mulai bergerak tidak beraturan.
Ia memulai lagi dari bibir, leher hingga perut, Bastian meninggalkan jejak itu lagi, entah berapa jam mereka habiskan yang pasti kini mereka berdua terengah-engah dengan pundak naik turun. Mereka berdua bermandikan keringat
Rara sudah siap untuk melepas semua untuk suaminya
Bersambung....
Tahan napas dulu iya ... Sebelum lanjut ke Bab selanjutnya
Vote dan Like kasih hadiah juga, biar author memungut lagi.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)