
Kalau minggu sebelumnya ia menyukai lelaki tampan, dan tidak tidak perduli pada Bastian, tapi kali ini dialah yang sangat posesif pada Bastian.
Saat Bastian berusaha keras membuat Rara sembuh tiba-tiba di Mall itu mereka bertemu dengan Viona.
Wah kenapa wanita sial*n ini ada disini, sih!?' Kata Bastian dalam hatinya. Bastian mencari jalan lain untuk menghindar dari penyihir kedua, penyisir pertama Ibunya.
Ia sudah menduga kalau mereka bertemu sesuatu yang buruk akan terjadi, ia sudah tau sikap Viona dari dulu padanya, apa lagi mereka berdua sudah bersahabat sejak dari kecil maka, setiap ia bertemu dengan Viona wanita akan bersikap manja padanya. Ia takut hal itu akan terjadi maka ia memilih menghindari dari pada ada keributan, karena Rara yang dulu berbeda sama Rara yang sekarang, kalau dulu Rara akan bersikap bodoh amat dan cuek
Tapi saat ini. Rara berbeda , sejak ia hamil banyak sekali yang berubah dari sikap dan hampir semua apa yang ada dalam hidupnya berubah, saat ini ia mengalami Baby blues membuat sikap dan prilakunya berubah.
Rara belum melihatnya, karena itu Bastian dengan cepat memilih jalan yang lain, belum berjalan jauh tapi Viona sudah keburu memanggil dan menghampiri mereka, membuat semuanya jadi masalah besar
“Hai, Tian,” Viona memang bertingkah manja dan sangat akrap seperti biasa pada Bastian, bahkan terlihat berlebihan tangannya bergelayut manja di lengan Bastian membuat Rara memancarkan laser merah dari matanya. Mata itu menatap Viona dengan tajam, siap menyeruduk wanita pengganggu.
Aku sudah lama ingin memberimu pelajaran, kalau dulu aku menahan diri tapi saat ini, aku merasa ini kesempatanku memberimu tamparan dan menarik rambutmu bila perlu, Rara bermonolog dalam hatinya.
Ia tidak suka melihat sikap Viona yang bersikap manja pada Bastian.
“Lepaskan tanganmu pel*cur busuk..!” ucapnya pada Viona dengan suara lantang, membuat orang-orang pengunjung Mall menatap mereka.
“Loe, kok ngomong kasar seperti itu sih?” balas viona tidak terima.
“loe taukan gue istrinya, ngapain loe keganjenan begitu!?” kata Rara.
Viona langsung melepaskan tangannya karena orang –orang pengunjung Mall menonton mereka.
“Hei, loe wanita bunting gila, loe itu yang dulu yang merebut Bastian dari gue dengan pelet loe,” balas Viona
Tidak terima di tuduhkan wanita itu padanya.
Paaak!!
Satu tamparan keras dari dari Rara meninggalkan bekas telapak tangan di pipi Viona. “ Mulut di jaga, dasar wanita penggoda suami orang, kamu jadi pelakor haaa..!” Kata Rara ingin menarik rambutnya.
Bastian yang dari tadi hanya diam, kini ia mencoba melerai keduanya, ia memeluk Rara dan menyuruh Viona untuk pergi,
“Sudah, sudah Vi, pergi sana, bawa dia pergi.” kata Bastian ke asistennya, asisten lelaki berjiwa dewi itu hanya bisa berteriak-teriak manja.
“Sudah bawa sana Vioana nya, ngapain loe teriak-teriak begitu..!? dasar bencong,” kata Bastian terlihat ikut emosi melihat asisten Viona yang berlenggak-lenggok manja dengan jari lentiknya menari-nari.
__ADS_1
Rara masih terlihat emosi, ia berontak dari pelukan Bastian ingin menarik rambut viona. ia meneriakinya dengan menyebutnya pelakor jahat, untungnya Bastian memeluknya .
“Sudah sayang, sudah, nanti dedek bayinya, sakit .”kata Bastian suaranya lembut membujuk istrinya.
Mendengar kata Pelakor sudah seperti bensin di mantik korek untuk para ibu-ibu pengunjung Mall, barang kali ada yang jadi korban dari pelakor dari para ibu-ibu itu, karena seseorang dari kerumunan itu melempar botol minuman mineral ke,kepala Viona dengan teriakan.
“Dasar pelakor, sudah tau istrinya lagi hamil masih berani menggoda istrinya, dasar wanita jahat..!” Teriak seorang ibu meneriakinya.
Wajah Viona memerah menahan malu, karena di permalukan Rara, ia menatap Rara dengan tatapan mata yang sangat sinis.
“Sudah sana VI,” pinta Bastian. Tapi Viona tidak terima diteriaki pelakor oleh Rara.
Wanita itu masih diam, tatapan itu mengisyaratkan kalau ia tidak terima di perlakukan Rara padanya ada sorot mata tajam di matanya.
“Aku akan mengingat perlakuan mu ini padaku,” katanya terdengar seperti nada dendam.
“Baiklah, sono kamu pergi,” kata Rara masih dengan nada kasar.
Orang-orang semakin berkerumun, melihat dengan tatapan sinis dan tatapan jijik karena Ara menyebutnya seorang pelakor. Ia pergi meninggalkannya Mall dengan perasaan malu.
“Aku benci padanya, ia berani mempermalukan ku.!” ungkapnya dengan kesal.
“Dasar Artis banyak sensasi…” Teriak seorang wanita lagi.
Akhirnya Viona pergi menjauh dari mereka, karena masih di lihatin orang-orang dengan tatapan mata sinis dan mulut bergosip-gosip.
Setelah Viona pergi dan Rara sudah terlihat tenang,
Bastian mengajak Rara melanjutkan belanja kebutuhannya. Puas belanja, ia terlihat lelah, Bastian menggenggam tangannya lagi membawanya menuju tempat makan, ia tidak menyinggung atau membahas tentang kejadian yang baru terjadi.Ia diam dan hanya matanya terfokus pada daftar menu makanan.
“Apa kamu tidak ingin bicara?” tanya Rara dengan mata menatap kearah Bastian.
“Tentang, apa?,” tanya Bastia ia berpura –pura tidak mengetahuinya.
“Tentang si Viona tadi!”
“Tidak.”
“OH, baguslah, berarti tindakanku benar iya?” tanya Rara.
__ADS_1
“Iya mungkin,” jawab Bastian singkat.
Suasana hening dan diam, Rara memakan steak veggie pesanannya dengan lahap,Bastian juga makan, tapi matanya lebih banyak menatap Rara melihat caranya menghabiskan makanan yang ada
di piringnya, terlihat sangat lahap seperti kelaparan.
Apa yang akan aku lakukan denganmu Ra, bagaimana agar kamu sembuh, kata Bastian dalam hatinya.
“Nanti kita mau kemana?” Ia menatap Bastian dengan mulutnya masih penuh dengan makanan.
Dengan lembut tangan suaminya mengusap mulutnya yang belepotan dengan tissue.
“Kamu makan sudah seperti anak kecil belepotan, apa kamu mau kerumah Keluargamu? kamu sudah berapa minggu tidak melihat mereka, kan?”
“Ayah mau ikut nemenin, aku?,” tanya Rara menatap lembut kearah Bastian, ia berharap suaminya ikut bersamanya, tapi sejak Bastian tau kalau Calvin anak dari Ayahnya , ia tidak mau lagi datang kerumah Rara seperti yang dulu lagi, ia sangat membenci Calvin.
“Sori, saya gak bisa sayang, saya ingin bertemu Ibu dulu,” kata Bastian.
“Baiklah."
Bastin ingin Rara sembuh, ia ingin melakukan apa yang di inginkan Rara,
Menemani Rara berbelanja, ia membeli semua apa yang ia suka.
Selesai makan Bastian selalu menggenggam tangan istrinya, tangannya yang sudah di penuhi belanja belanjaan milik Rara, ada beberapa kantong, ia menentengnya dan menggenggam tangan Rara dengan tangan sebelahnya.
Ia membeli banyak barang buat Emaknya dan buat Babe dan semua anggota keluarganya dan tidak lupa juga untuk sahabatnya Sukma.
Rara ingin kerumah orang tuanya, apa yang di minta olehnya selalu di iyakan Bastian. Ia di antar kerumah orang tuanya.
“Ra, boleh gak aku tidak usah ?” Bastian menatapnya.
“Kalau kamu tidak turun , babe akan menganggap kamu mengantar aku pulang kerumah mereka.
“Baiklah aku akan turun tapi sebentar, iya.”
Mudah –mudahan bocah itu tidak di sana karena aku tidak ingin bertemu dengannya, Bastian bergumam dalam hatinya.
Bersambung...
__ADS_1