
Engkong Rara memberi pelajaran pada anak laki-lakinya dan ibunya Rara.
Mereka tidak dapat bagian sedikitpun harta warisan dari darinya. Tetapi sebagai gantinya Raralah yang dapat bagian yang lebih banyak dan Calvin
Setelah semuanya berlalu dan seiring berjalannya waktu, semuanya tidak begitu baik, Babe Rara tetap tidak mau berbaikan dengan ibunya. Ia tidak mau karena orang tuanya pisah ranjang Rara dan kedua adiknya mencoba mempersatukan kedua orang tua mereka
Rara tidak ingin menjadi anak yang durhaka, ia memilih memaafkan Emaknya dari pada membencinya, biar bagaimanapun wanita itu yang membesarkannya, terkadang ia berpikir karena kenakalannya lah selama ini membuat emaknya kesal padanya. Setelah ia tau kebenaranya, ia memilih memperbaiki sikapnya.
Orang tuanya sudah meminta maaf padanya sebagai anak yang sudah di rawat dan di besarkan, ia akhirnya memilih berdamai dengan sang ibu.
Begitu juga dengan emak Rara, ia juga menyesal dengan segala tindakan yang ia lakukan, sebagai wujud penyesalannya ia memilih menjual rumahnya dan pindah ke rumah yang lebih layak di daerah Cibubur Jakarta Timur.
Sebagai salah satu sikap untuk memperbaiki diri agar Rara tidak lagi cemoohan para tetangga.
Rara dan Bastian belum tinggal bersama karena Rara masih banyak pertimbangan, ia ragu apakah ia bertahan untuk keluarga Bastian.
Bastian sudah melakukan semua cara agar Rara istrinya bisa kembali padanya, tetapi semakin ia berusaha semakin Rara menjauh, Bastian kesal.
“Ra, kamu pulang atau aku yang menjemput kamu dari sana?”
Bastian kehilangan kesabarannya setelah ia dengan sabar mencoba mengerti situasi dan keadaan Rara. Tapi bukanya Rara lebih mengerti tapi malah ia seolah lupa kalau ia punya suami saat ini.
“Ayo lah Tian, beri aku waktu, untuk bicara pada keluargaku, Rara mencoba membujuk ia lagi.
“Iya, ampun Ra, aku sudah cukup sabar untukmu mana ada suami yang mau ditinggal lama, aku sudah mau gila rasanya kamu perlakukan seperti ini, saat aku dengan mudah mengatakan pada keluargaku kalau aku sudah menikah dengan Rara Winarti. Tapi kamu, aku harus menunggu kamu sampai berbulan-bulan untuk memberitahukan pada keluargamu itupun belum kamu lakukan, terus kita kapan tinggal bersama,Ra?”
“Sabar, Bastian aku juga lagi berusaha,” bujuk Rara ia malas berdebat.
Rara juga pusing karena orang tuanya punya dua rumah, Babehnya dan rumah emaknya, sebagi anak yang mencoba berbakti pada kedua orang tuanya ia harus bergantian antara rumah emaknya dan rumah babe.
“Berikan alamat rumah kamu Ra, aku akan datang”
“Kamu mau datang ke rumah yang mana? rumah babeh apa rumah emak?”
“Lah , kok gitu?” ucap Bastian bingung.
“Nah, itu dia masalahnya Bastian, sejak kejadian pemukulan itu, Babeh dan emak belum berbaikan, tujuanku saat ini hanya ingin memperbaiki hubungan mereka, makanya aku menolak saat omah ingin menemui keluargaku.
Aku bingung, jika kamu datang ke rumah mana? Karena babe dan emak sama-sama orang tuaku yang harus aku hormati, tidak perduli ia emak kandung, apa bukan, intinya mereka keluargaku dan ingin mereka bersama kembali.”
“Terus aku bagaimana?” aku siapa mu?” kata Bastian
“Kamu suami brondongku,” ujar Rara tertawa.
__ADS_1
“Berhenti memanggilku brondong Ra, kamu tidak setua itu, kita hanya selisih empat tahun enam bulan, Ayah dan ibu juga selisih lima tahun tapi tidak pernah di panggil brondong-brondong segala,” ujar Bastian sewot.
“Soalnya kamu brondong tampan yang mengemaskan Bastian”
“Ra, harusnya kamu kesini untuk melakukan Kewajiban sebagai istri. Aku pikir sudah saatnya kita melakukan malam pertama bukan? Aku berhak memintanya karena kamu istriku”
“Baiklah Bastian aku akan datang jika urusan keluargaku sudah selesai”
“Sepertinya kamu tidak ada memikirkan sedikitpun tentang suamimu Ra”
“Aku memikirkan kamu kok Bastian percaya deh,” ucap Rara
“Kita seperti orang yang sedang pacaran jarak jauh Ra, kita seperti pacaran di luar Negeri jadinya.”
Bastian menarik napas panjang.
“Aku dan kamu itu jaraknya hanya di tempuh hitungan jam Ra, kamu sadar gak itu? Rumah baru kamu Cibubur ke sini dekat Ra”
“Aku tau Bastian, bersabarlah”
“Batas kesabaranku sudah hilang, atau aku mencari kehangatan di luar ne aku mencari perempuan lain,’ ancam Bastian pada Rara berharap dirinya cemburu dan Rara datang.
“Lakukan kalau itu membuatmu senang ,Bastian, aku lelah,” ucap Rara ketus.
“Aku tidak bisa memaksa kamu seperti yang aku mau Bastian,”
“ Kenapa tidak Ra, aku suamimu dan aku milikmu dan kamu juga milikku.”
“Tapi hati dan perasaan milik masing-masing. Aku tidak memaksa, jika kamu berpikir kalau ada wanita yang lebih baik terserah nikahin saja. Toh … gue juga gak direstui sama ibu kamu untuk apa?” Rara tersulut emosinya.
Bastian juga marah ia pikir Rara tidak pernah mencintainya, ia berpikir kalau Rara ingin meninggalkan dan menyesal menikah dengannya.
“Sebenarnya apa tujuan kamu menikah denganku Ra?” Tanya Bastian lagi, situasinya semakin memanas.
Saat itu, Kamu yang memaksamu menikahi mu, tapi apa ini? Kamu yang menjauh dariku, katakana sejujurnya. Bahkan aku tidak tau bagaimana kabarmu dalam satu bulan ini, apa kamu hamil karena malam itu? aku pengen tau ra, aku ingin tau tentang dirimu.
Kenapa susah sekali meraihmu, aku berpikir kalau aku sudah menikah denganmu, maka akan mudah bagiku menaklukkan ternyata aku salah.”
“Bastian jangan berpikir aneh-aneh, aku tidak melakukan hal yang melanggar norma, atau aku tidak macam-macam kok, percaya.”
Rara mencoba mencairkan obrolan yang sudah mulai memanas itu
“Gimana aku tidak gila, kamu tidak pernah meneleponku duluan Ra, kamu tidak pernah bertanya aku di mana? lagi ngapain? sama siapa?”
__ADS_1
“Aku ingin kamu bertanya seperti itu padaku Ra”
Bastian salim pewaris Salim group, tampan, masih mudah dan seorang Aktor . Haruskah mengemis cinta pada seorang wanita dewasa yang memilik sifat keras kepala bernama Rara? berani dan tampil apa adanya.
“Apa itu sebuah kesalahan?” tanya Rara polos
Bastian terdengar membuang nafas panjang karena kesal mendengar jawaban istri absurdnya.
“Tidak, kamu tidak salah Rara winarti …. Aku yang salah yang jatuh cinta padamu dan terlalu mencintaimu,” kata Bastian terdengar seperti nada putus asa,
“Aku tidak ingin bertengkar Bastian, tidurlah selamat malam.
“Ra, jangan menutup teleponnya, jawab dulu pertanyaan sebelum aku mati malam ini, karena penasaran,
” kata bastian terdengar tegas “ Apa kamu mencintaiku? ini mungkin pertanyaan kesekian kalinya menanyakan ia cinta apa tidak padanya terdengar seperti anak ABG yang baru jatuh cinta. Karena ia tidak bisa memahami sifat yang di miliki Rara.
Rara terdengar menarik napas panjang untuk menjawab pertanyaan kekanak-kanakan .
“Iya Bastian” jawab Rara kemudian tapi hanya menjawab “Iya”
itulah yang membuat Bastian semakin curiga ada apa dengan istrinya,
“IYa, apa? untuk apa Ra?” Bastian bertanya balik
“Iya untuk mencintaimu, Bastian sudah dulu iya babeh memangil,” bisik Rara pada Bastian dan memutuskan panggilannya.
Ia dan Rara seperti sepasang kekasih yang belum mendapat restu dari orang tua perempuannya, mereka harus sembunyi-sembunyi .
“Apa ini, Aku mau gila rasanya,” rungut Bastian melemparkan ponselnya.
“Apa aku harus mencari wanita lain untuk memuaskan hasrat ku, aku bisa mencari sepuluh wanita sekaligus malam ini untuk menemaniku malam ini, “tapi ada apa denganmu? Saat wanita di kota ini berusaha mendekatiku, tapi kenapa kamu seolah membuat tembok besar di antara kita”
Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)