Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Di rumah sakit


__ADS_3

Hal buruk terjadi, engkong Rara sakit, sebenarnya penyakit sudah tua,  ia merasa sesak di dada karena engkong Rara termasuk perokok berat, dan banyak minum kopi, tetapi makan kurang,  terpaksa ia dirawat karena pingsan merasa sesak di dada.


Saat itu Rara yang menjaga di rumah sakit, ia dan kakeknya memang sangat dekat, dari cucunya yang lain ia meminta Raralah yang menjaganya di rumah sakit, Rara juga tidak menolak karena ia sanga sayang pada kakeknya walau ia bukan kakek kandungnya.


Engkong Rara ayah BU Soimah.


Baru saja  keluar dari apotek untuk menebus obat,  pikiran yang  sedang pusing di timpa banyak  masalah yang datang bersamaan.


 Memikirkan kesehatan babe dan engkongnya membuatnya merasa sangat sedih, ia tidak punya waktu memikirkan diri sendiri. Tiba-tiba tubuhnya menabrak seorang wanita


“Aduh maaf Bu, saya minta maaf dengan kepala menunduk hormat, tangannya memungut obat-obatan wanita yang ditabrak


“ Ini ibu obatnya,Bu!” Panggil Rara, wanita itu berbalik badan


“Rara ….!?”


“Oma …? Mengapa Omah di sini?”


“Ssst …,” dengan mata lihat kana-kiri, “Omah periksa,”ujarnya kemudian


“Omah sakit apa? Tapi … kenapa ke sini?”


“Sini-sini duduk dengan omah,  kita harus bicara …! Kamu telah mengguncang keluargaku, kamu menghilang begitu saja,”


Mata wanita itu sangat hangat dan baik, berbeda dengan si Ratu kedua, ibunya Bastian terlihat seperti penyihir dengan tatapan mata bengis


 “ Oma mencari kamu sampai kerumah yang dulu tapi kalian sudah pindah?”


“Keluargaku  menjual rumahku demi pengobatan babe saya Omah.


Tetapi Omah sakit apa?”


“Omah penyakit tua, sudah pikun  kata dokter ada  pembengkakan  di hati  aku terpaksa periksa di sini, tidak ada orang yang tau, kalau di sana banyak mata yang mengawasi bahkan tembok bisa bicara.


Ujung-ujungnya banyak wartawan seperti lebah mengkerumuni ku, di sini aman tidak ada yang mengenal oma, tapi ngomong-ngomong. Siapa yang sakit ,Ra?”


“Engkongku Oma”


“Apa suamimu tau kamu di sini?”


 Ia menatap Rara dengan penasaran, ia tahu mati-matian mencarinya satu bulan ini.


“Apa?” Rara merasa janggal  mendengar kata suami dari keluarga Bastian, rasanya tidak percaya

__ADS_1


“Iya Bastian membuat pengakuan di rumah. Karena pengakuan itu rumah seperti ada gempa. Akhirnya  anaknya membangkang pada Hartati, tidak selamanya anak itu selalu menuruti permintaan orang tuanya.


Orang tua itu tertawa, tetapi Rara hanya diam.


“Apa omah menyetujui pernikahan kami?” Rara menatap  dengan ragu.


“Tentu saja sayang, omah sudah bilang dari dulu aku mendukung pernikahan kalian, walau sedikit kecewa,  kenapa omah tidak di panggil  saat ijab kabulnya, hanya itu, tapi Bastian bilang karena dia sudah  menghamili mu maka ia harus bertanggung  jawab.”


Mendengar itu wajah Rara benar-benar terasa terbakar, apa lagi menyinggung masalah ranjang, kejadian malam itu membuatnya ingin memasukkan kepalanya kedalam tanah lalu menguburnya.


“Tidak seperti juga Oma, tapi apa Oma dan Pak Bardi, sudah tahu tentang Alvin sebelumnya?”


Oma Bastian terdiam, lalu menarik  napas panjang.


“Ya, sudah Ra”


“Aku sudah menduganya, tidak mungkin oma dan ayah Bastian mendukung aku, kalau tidak ada udang di balik batu”


“Bukan seperti itu Ra … Begini, maafkan keluarga kami , Oma tidak pernah melakukan apa-apa. Tapi aku menunggu kamu dan anakmu datang ke rumah. Tapi apa benar kamu sudah Hamil?” Mata omahnya memburu wajahnya.


“Tidak Oma”


“Tapi kenapa Bastian bilang begitu sama ibunya, membuat wanita itu semakin kebakaran jenggot”


“Iya kamu benar Ra … Baiklah  kalau kamu belum hamil kita sudah buat rencana resepsi pernikahan kalian, kalau kamu hamilkan, takutnya entar kecapean,” ujar Oma Bastian dengan raut wajah serius


Rara masih dalam kebingungan, ia pikir selama satu bulan  tidak berhubungan  dengan Bastian, Ia berpikir lelaki itu akan melupakannya.


“Nanti  Rara akan bicara  dengan Bastian Omah,” ujar Rara tidak bersemangat.


“Baiklah  bicarakan dulu sama Bastian dan baru kita putuskan, kapan acaranya kita adakan, kita harus melakukannya, karena kamu tahu Tian  anak satu-satunya , ibunya marah dan shock itu  wajar, walau ibunya Bastian masih belum menerima kamu, bersabarlah,” ucap Omahnya bastian memberinya nasihat Rara hanya tersenyum kecil.


“Iya Omah”


“ Sanalah, kekekmu pasti nyariin obatmu.”


 Hampir kelupaan obat engkong Rara karena terlalu  lama mengobrol,


“Omah sekarang mau kemana?” Rara  melirik kanan-kiri , ia takut ada Bastian.


“Mau bertemu Dokter dulu,” ujar wanita   yang berpenampilan modis itu dengan senyuman ramah.


“Ra, jangan  beritahu Bastian kalau aku periksa di rumah sakit, oma  tidak mau dianggap sakit dan diperlakukan seperti pasien nanti “

__ADS_1


“Omah juga jangan beritahu, kalau  Rara di sini sama Bastian iya,”


 “Baiklah,” orang tua itu juga mengangguk


Rara  naik dan untuk memberi engkongnya obat.


“lo lama amat dah. Engkong mau turun dari ranjang ini nyariin kamu,” ujar sang kakek dengan wajah khawatir, napas  mulai terendah-engah, akibat  penyakit yang sudah mulai menggerogoti tubuhnya.


                                    *


Rara  mengurus sang kakek dengan baik, karena Rara merasa harus membalas kebaikan orang tua itu karena ia sudah merawatnya dari kecil.


Saat engkongnya tidur Rara di panggil  dokter ke ruangannya. Dokter memberikan hasil pemeriksaan ternyata engkong Rara terkena kangker paru-paru.


Seketika  Rara merasa dadanya bagai ditimbun dengan batu, ia merasa sangat sedih  sang kakek sakit dan ayahnya juga belum pulih. Tidak ada pilihan selain memberitahukan kondisi yang sebenarnya.


“Engkong tidak mau di operasi.  Ra, Engkong tidak kuat lagi jik dioperasi,  itu sama saja mempercepat kematian  kematian engkong”


“Rara juga bilang begitu sama dokternya,  engkong pasti tidak kuat lagi dengan operasi karena sudah faktor  umur,


Jadi kita beri kemo  saja ya, Kong untuk menekan kangkernya,” ujar Rara.


“Baiklah nak, lakukan yang terbaik untuk orang tua ini, engkong mah … hanya percaya padamu ,Ra.”


Orang tua itu  menatap dengan tatapan ikhlas, melihat wajah tuanya Rara meneteskan air mata untuk pertama kalinya setelah ia dewasa.


“Engkong harus  tetap sehat, biar ada yang bela Rara,Kong,”


“Baiklah, tapi walau engkong mati juga, keinginan engkong belum terkabul, lu  belum menikah hanya itu, Engkong ma tidak perduli dengan yang lain, engkong pengen hanya elu yang ingin aye lihat menikah Ra,” ujar kakeknya dengan sendu.


“Engkong ingin elu  bahagia agar engkong bisa pergi dengan tenang,” ujar orang tua itu dengan tatapan sedih.


 ”Bersambung ….


Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan  jangan lupa berikan hadiah juga.


Baca  juga karyaku yang lain.


-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)


-Menikah dengan Brondong (ongoing)


-Bintang Kecil untuk Faila

__ADS_1


-Menjadi tawanan bos  Mafia (ongoing)


__ADS_2