
Hal buruk terjadi, engkong Rara sakit, sebenarnya penyakit sudah tua, ia merasa sesak di dada karena engkong Rara termasuk perokok berat, dan banyak minum kopi, tetapi makan kurang, terpaksa ia dirawat karena pingsan merasa sesak di dada.
Saat itu Rara yang menjaga di rumah sakit, ia dan kakeknya memang sangat dekat, dari cucunya yang lain ia meminta Raralah yang menjaganya di rumah sakit, Rara juga tidak menolak karena ia sanga sayang pada kakeknya walau ia bukan kakek kandungnya.
Engkong Rara ayah BU Soimah.
Baru saja keluar dari apotek untuk menebus obat, pikiran yang sedang pusing di timpa banyak masalah yang datang bersamaan.
Memikirkan kesehatan babe dan engkongnya membuatnya merasa sangat sedih, ia tidak punya waktu memikirkan diri sendiri. Tiba-tiba tubuhnya menabrak seorang wanita
“Aduh maaf Bu, saya minta maaf dengan kepala menunduk hormat, tangannya memungut obat-obatan wanita yang ditabrak
“ Ini ibu obatnya,Bu!” Panggil Rara, wanita itu berbalik badan
“Rara ….!?”
“Oma …? Mengapa Omah di sini?”
“Ssst …,” dengan mata lihat kana-kiri, “Omah periksa,”ujarnya kemudian
“Omah sakit apa? Tapi … kenapa ke sini?”
“Sini-sini duduk dengan omah, kita harus bicara …! Kamu telah mengguncang keluargaku, kamu menghilang begitu saja,”
Mata wanita itu sangat hangat dan baik, berbeda dengan si Ratu kedua, ibunya Bastian terlihat seperti penyihir dengan tatapan mata bengis
“ Oma mencari kamu sampai kerumah yang dulu tapi kalian sudah pindah?”
“Keluargaku menjual rumahku demi pengobatan babe saya Omah.
Tetapi Omah sakit apa?”
“Omah penyakit tua, sudah pikun kata dokter ada pembengkakan di hati aku terpaksa periksa di sini, tidak ada orang yang tau, kalau di sana banyak mata yang mengawasi bahkan tembok bisa bicara.
Ujung-ujungnya banyak wartawan seperti lebah mengkerumuni ku, di sini aman tidak ada yang mengenal oma, tapi ngomong-ngomong. Siapa yang sakit ,Ra?”
“Engkongku Oma”
“Apa suamimu tau kamu di sini?”
Ia menatap Rara dengan penasaran, ia tahu mati-matian mencarinya satu bulan ini.
“Apa?” Rara merasa janggal mendengar kata suami dari keluarga Bastian, rasanya tidak percaya
__ADS_1
“Iya Bastian membuat pengakuan di rumah. Karena pengakuan itu rumah seperti ada gempa. Akhirnya anaknya membangkang pada Hartati, tidak selamanya anak itu selalu menuruti permintaan orang tuanya.
Orang tua itu tertawa, tetapi Rara hanya diam.
“Apa omah menyetujui pernikahan kami?” Rara menatap dengan ragu.
“Tentu saja sayang, omah sudah bilang dari dulu aku mendukung pernikahan kalian, walau sedikit kecewa, kenapa omah tidak di panggil saat ijab kabulnya, hanya itu, tapi Bastian bilang karena dia sudah menghamili mu maka ia harus bertanggung jawab.”
Mendengar itu wajah Rara benar-benar terasa terbakar, apa lagi menyinggung masalah ranjang, kejadian malam itu membuatnya ingin memasukkan kepalanya kedalam tanah lalu menguburnya.
“Tidak seperti juga Oma, tapi apa Oma dan Pak Bardi, sudah tahu tentang Alvin sebelumnya?”
Oma Bastian terdiam, lalu menarik napas panjang.
“Ya, sudah Ra”
“Aku sudah menduganya, tidak mungkin oma dan ayah Bastian mendukung aku, kalau tidak ada udang di balik batu”
“Bukan seperti itu Ra … Begini, maafkan keluarga kami , Oma tidak pernah melakukan apa-apa. Tapi aku menunggu kamu dan anakmu datang ke rumah. Tapi apa benar kamu sudah Hamil?” Mata omahnya memburu wajahnya.
“Tidak Oma”
“Tapi kenapa Bastian bilang begitu sama ibunya, membuat wanita itu semakin kebakaran jenggot”
“Iya kamu benar Ra … Baiklah kalau kamu belum hamil kita sudah buat rencana resepsi pernikahan kalian, kalau kamu hamilkan, takutnya entar kecapean,” ujar Oma Bastian dengan raut wajah serius
Rara masih dalam kebingungan, ia pikir selama satu bulan tidak berhubungan dengan Bastian, Ia berpikir lelaki itu akan melupakannya.
“Nanti Rara akan bicara dengan Bastian Omah,” ujar Rara tidak bersemangat.
“Baiklah bicarakan dulu sama Bastian dan baru kita putuskan, kapan acaranya kita adakan, kita harus melakukannya, karena kamu tahu Tian anak satu-satunya , ibunya marah dan shock itu wajar, walau ibunya Bastian masih belum menerima kamu, bersabarlah,” ucap Omahnya bastian memberinya nasihat Rara hanya tersenyum kecil.
“Iya Omah”
“ Sanalah, kekekmu pasti nyariin obatmu.”
Hampir kelupaan obat engkong Rara karena terlalu lama mengobrol,
“Omah sekarang mau kemana?” Rara melirik kanan-kiri , ia takut ada Bastian.
“Mau bertemu Dokter dulu,” ujar wanita yang berpenampilan modis itu dengan senyuman ramah.
“Ra, jangan beritahu Bastian kalau aku periksa di rumah sakit, oma tidak mau dianggap sakit dan diperlakukan seperti pasien nanti “
__ADS_1
“Omah juga jangan beritahu, kalau Rara di sini sama Bastian iya,”
“Baiklah,” orang tua itu juga mengangguk
Rara naik dan untuk memberi engkongnya obat.
“lo lama amat dah. Engkong mau turun dari ranjang ini nyariin kamu,” ujar sang kakek dengan wajah khawatir, napas mulai terendah-engah, akibat penyakit yang sudah mulai menggerogoti tubuhnya.
*
Rara mengurus sang kakek dengan baik, karena Rara merasa harus membalas kebaikan orang tua itu karena ia sudah merawatnya dari kecil.
Saat engkongnya tidur Rara di panggil dokter ke ruangannya. Dokter memberikan hasil pemeriksaan ternyata engkong Rara terkena kangker paru-paru.
Seketika Rara merasa dadanya bagai ditimbun dengan batu, ia merasa sangat sedih sang kakek sakit dan ayahnya juga belum pulih. Tidak ada pilihan selain memberitahukan kondisi yang sebenarnya.
“Engkong tidak mau di operasi. Ra, Engkong tidak kuat lagi jik dioperasi, itu sama saja mempercepat kematian kematian engkong”
“Rara juga bilang begitu sama dokternya, engkong pasti tidak kuat lagi dengan operasi karena sudah faktor umur,
Jadi kita beri kemo saja ya, Kong untuk menekan kangkernya,” ujar Rara.
“Baiklah nak, lakukan yang terbaik untuk orang tua ini, engkong mah … hanya percaya padamu ,Ra.”
Orang tua itu menatap dengan tatapan ikhlas, melihat wajah tuanya Rara meneteskan air mata untuk pertama kalinya setelah ia dewasa.
“Engkong harus tetap sehat, biar ada yang bela Rara,Kong,”
“Baiklah, tapi walau engkong mati juga, keinginan engkong belum terkabul, lu belum menikah hanya itu, Engkong ma tidak perduli dengan yang lain, engkong pengen hanya elu yang ingin aye lihat menikah Ra,” ujar kakeknya dengan sendu.
“Engkong ingin elu bahagia agar engkong bisa pergi dengan tenang,” ujar orang tua itu dengan tatapan sedih.
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)