
"Baiklah, aku akan menepati janjiku, padamu," ucap Kenzo.
"Janji apa?" tanya Rara tidak bersemangat, bahkan ia lupa, telah membuat satu perjanjian dengan Kenzo.
"Ayo kita liburan bersama putramu"
"Lupakan saja, anggap saja kamu lepas dari penjara satu keberuntungan untukmu."
"Tidak, aku akan mulai belajar menepati janji seperti yang kamu lakukan"
"Aku tidak ada niat lagi untuk liburan"
"Kalau begitu buat permintaan, aku akan mengabulkannya keinginanmu"
"Begini saja, sebagai gantinya, ajak aku belanja dengan putra ku"
"Ok, boleh saja siapa takut," ujar Ken.
*
Rara menjemput Alvin dan meminta adiknya membawanya di halte busway, lalu , ia membawa Alvin ke hotel menemui Ken.
"Ibu, apa kita akan bertemu Om Bastian lagi, apa kita akan ke rumahnya"
"Tidak sayang. Om Bastian saat ini sedang ada acara, bersama keluarga"
"Terus kita mau ke mana?"
"Kita akan bertemu dengan teman Om Bastian dan teman ibu juga"
Bola matanya berputar, tanda kurang setuju. Seperti biasa, bocah berwajah tampan itu, tidak suka ibunya punya teman baru,
"Dia baik sayang, Om Bastian mengenalnya"
Alvian hanya diam,hingga tiba kembali di dalam hotel dan bocah berkulit putih itu membuat Kenzo terpana karena ia sangat tampan, tidak seperti ia bayangkan.
"Ini anak kamu, Ra?"
"Iya, kenapa?"
"Tampan bangat Ra, hai tampan aku Kenzo"
"Iya Om" Lalu diam.
"Apa dia tidak senang, Ra?"
"Dia akan selalu seperti itu jika ada teman lelaki yang dekat denganku dan aku Kenalkan padanya”
“Om. Kerja apa?”
Alvian mulai menyelidiki Kenzo.
“Sayang tidak baik bertanya seperti itu pada orang dewasa.” Rara membelai rambut putranya dengan lembut, perlakuan manis Rara pada putranya membuat Kenzo penasaran.
‘Dia bisa bersikap keibuan juga rupanya’ ujar Ken dalam hati.
“Tidak apa-apa Ra, Om seorang artis apa kamu tidak pernah melihatku”
__ADS_1
“Tidak, om artis yang tidak laku iya?”
“Ha!” Kenzo tertawa . Sedangkan Rara merasa tidak enak.
“Aku sering melihat Om Bastian, tetapi tidak pernah melihat om,” ucap Alvian polos.
“Apa putramu sudah sering bertemu dengan Bastian, Ra?”
“Alvin pernah tinggal di apartemen selama satu minggu dan mereka sangat dekat"
*
Kenzo menepati janji, ia membawa Rara belanja di mall, walau ia harus memakai topi masker dan kaca mata hitam untuk menyamarkan penampilannya.
Namun, saat selesai membawa Alvin membeli perlengkapan sekolah, Kenzo mengajak mereka makan siang di salah restaurant.
Tetapi saat itu Bastian dan keluarganya ada makan siang juga di sana.
Saat mereka tiba maka ketegangan pun terjadi.
Baru juga Rara memilih meja untuk mereka duduki, tetapi Alvin.
“Om, Tian!” panggilnya ke meja sekelompok orang yang sedang makan.
Ia berlari kecil ke meja keluarga Bastian. Rara mematung tidak tahu harus berbuat apa.
Bastian memeluk Alvian,”Sama siapa?”
“Sama Ibu dan Om Ken”
Rara duduk diam di kursi, ia mencoba bersikap tenang, walau mata keluarga Bastian tertuju padanya, tetapi, ia menyibukkan diri, memilih menu pesanan.
“Halo semua” Ken membuka masker.
“Hei Ken, apa kabar, kapan bebas? Om ikut prihatin,” ucap Bardi.
“Kemarin Om terimakasih atas simpatinya”
“Kamu sama siapa anak istri kamu?” tanya Bardi. Ken tersenyum. Sini gabung sama kita saja panggil istrimu”
Wajah Bastian memerah,
Ken meminta Rara bergabung dengan meja keluarga Bastian.
“Kamu ingin mempermalukan aku di sana?”
“Ra, jangan marah, aku hanya bertanya apa kamu setuju?’
“Pak Kenzo, tentu saja tidak,” ucap Rara hampir menelan Ken hidup-hidup.
“Maaf om kami di sana saja, tidak ingin menganggu acara makan keluarga. Ayo Vin, kita sama ibu”
“Apa aku tidak bisa makan bersama Om Tian?” ujarnya dengan wajah sendu, ia menatap Bastian dengan tatapan seolah-olah meminta pertolongan. Oma Bastian melihat kedekatan keduanya merasa tersentuh.
“Minta izin sama ibu iya." Kenzo memegang tangan Alvin, membawa ke meja mereka lagi.
“Ibu apa aku bisa bergabung dengan Om Tian?”
__ADS_1
Rara menutup mata dan menarik napas panjang, lalu ia membuat penjelasan untuk putranya.
“Sayang, Om Tian lagi acara keluarga, kamu ingat seperti kita di rumah ... saat ada acara, bukan kah kita meminta Mina pulang?” tanya Rara.
“Apa mereka bicara tentang pernikahan seperti kita dulu?”
“Iya, jadi hanya keluarga yang boleh ikut bergabung” ucap Rara mendudukkan tubuh putranya di atas kursi,
Alvin melihat Bastian.” Baiklah Bu,” ucapnya kemudian, ia anak yang sangat patuh.
Melihat sikapnya yang baik Kenzo jatuh cinta pada Alvian ia sangat memuji sikapnya yang penurut. Ia juga memuji Rara karena mendidik Alvin dengan baik.
Padahal selama ini Kenzo tidak pernah suka pada anak kecil. Namun, melihat Alvin, ia jadi pandangan baik pada anak-anak, karena melihat Alvin.
“Alvin mau pesan apa?” tanya Ken, mengelus kepala Alvian.
“Ayam goreng saja Om”
Saat Bastian duduk, tetapi mata dan pikiran tertuju pada Rara. Melihat perlakuan manis Ken pada Alvian membuat Bastian merasa terbakar.
Berpikir kalau hanya bisa yang berhak untuk Rara dan putranya. Tidak tahan dengan perasaannya, ia meninggalkan meja dan keluar dari restaurant, akhirnya Marisa paham, kalau Bastian bukan hanya jatuh cinta pada Rara, tetapi pada putranya. Ia kasihan melihat Bastian.
“Ada apa dengan anak ini?” tanya Bardi yang tidak tahu menahu tentang semua yang terjadi.
Hartati menoleh Alvin dengan tatapan yang aneh, melihat kecemburuan putranya pada Alvin dan melihat kedekatan Ken dengan Alvian membuat wanita penampilan modis itu tiba-tiba menjadi pendiam.
"Kok, kalian pada diam, apa Bastian bertengkar dengan Kenzo, orang ini dua selalu bersaing dalam segala hal, entah kapan akur nya," ucap Bardi.
"Mungkin mereka salah paham lagi biarkan saja." Hartati menyudahi makan siang hari itu.
"Iya, tapi Kenzo selalu membuat kejutan, ia punya putra yang sangat tampan ternyata"
Tiba-tiba Alvin mendatangi meja mereka lagi.
"Oma kami pamit duluan, salam untuk Om Bastian, assalamualaikum"
Mereka semua terdiam dengan mata menatap Alvin" Wallaikumsalam" menjawab serempak.
"Ibunya mendidik anak itu dengan baik" puji Bardi. Tetapi Hartati dan Marisa hanya bisa diam saling menatap.
Hartati tidak pernah menduga anak kecil yang pernah ia sumpahin itu punya sikap baik dan sopan. Ia tidak pernah menduga anak Rara setampan itu.
'Pantas saja karena hal itu jugalah Rara marah dan memasukkanku ke penjara' Hartati membatin.
"Anak itu sangat tampan dan sopan,"ujarnya lagi.
" Dia juga pintar pantun,"ujar Oma Bastian.
"Lah, Ibu juga mengenal?"
"Dia pernah di bawah ke apartemen Bastian" Oma Bastian masih menatap ke arah Rara, ada sesuatu dari anak Rara yang membuat hati bergejolak.
Bersambung.
Tolong bantu like dan vote iya Kakak
Kasih hadiah juga agar ceritanya tetap berlanjut.
__ADS_1
Baca juga karya Tamat.
- Berawal dari Cinta yang Salah