
Dalam lift Rara merasa risih melihat tatapan orang pada mereka, karena Bastian masih saja menggenggam erat tangannya. Bastian bersikap berlebihan, ia bersikap seolah-olah Rara kekasihnya.
“Lepaskan tanganku Tian, ini sedikit norak,” bisik Rara ke kuping Bastian. Bastian tersenyum gemas melihat wajah Rara yang merasa geli saat Bastian bersikap posesif berlebihan padanya. Ia menyembunyikan senyuman itu dari Rara.
Tetapi ia masih bersikap pura-pura marah. "Sudah diam Ra, aku masih marah, harusnya kamu tidak usah meng-iyakan ajakan lelaki itu untuk liburan,” ujar Bastian.
Rara langsung diam, dengan satu tangan menggaruk kepala bagian belakang, ia terlihat malu saat mata semua orang dalam lift menatapnya.
Rara telah melepaskan topi, kaca mata, masker saat di mobil jadi wajahnya terlihat jelas. Lain hal dengan Bastian ia masih memakai peralatan penyamaran dengan lengkap begitu juga dengan Alvin.
“Bisa gak usah keras-keras,” ujar Rara mengarahkan kepalanya ke arah Bastian. "Aku malu Bastian, kamu bersikap seolah-olah kamu suamiku" Rara mengertakkan giginya.
Tetapi Bastian bukanya makin berhenti ia malah balik mengerjai Rara.
“Harusnya kamu tidak usah bawa-bawa Vian untuk menemui pria itu, aku marah, aku sangat marah,” ujar Bastian bersikap seperti suami yang memarahi istrinya yang ingin selingkuh.
Mata Rara langsung melotot mulutnya menganga, ia kaget mendengarnya ucapan Bastian, ia merasa malu melihat tatapan orang-orang, Rara membalikkan tubuhnya ia menghadap dinding lift menempelkan kepalanya di dinding lift. Bastian tertawa di balik masker yang ia pakai, ia lupa dengan siapa dia berurusan.
‘Bastian kamu ingin mengerjai ku … Ha?’ ujar Rara dalam hatinya, ia membalikkan tubuhnya dengan mata memperlihatkan bagian putihnya.
“Sayang kamu itu sih terlalu lemah, makannya aku cari pria lain, kamu selalu mengurusi tentang perawatan tubuh kamu, tidak bisa memuaskan ku di ranjang, burung mu kecil, kami cepat capek ....
Aku jadi kesepian lelaki itu
tubuhnya besar, makanya aku datang padanya,” ujar Rara bersikap manja, ia mulai berakting, membalas permainan Bastian.
Seketika orang dalam lift tertawa dan berbisik bisik riuh, menatap Bastian dengan tatapan aneh, menyelidiki Bastian dari bawah sampai ke atas, tatapan mengintimidasi dan ucapan Rara, seketika membuat Bastian langsung terdiam, wajah tampan memerah menahan malu.
“Bencong,” ujar seorang lelaki tertawa.
“Suaminya mungkin suka sama lelaki, makanya istri selingkuh,” bisik seorang wanita muda.
Rara mengedip-edipkan matanya pada Bastian.
Lelaki itu langsung ‘KO’ saat Rara membalasnya,
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan Ra,” bisik Rara dengan wajah jengkel.
"Rara Winarti kamu lawan dan mencoba mengerjai ku, kamu tidak bisa Pak Bastian," bisik Rara tertawa.
Karena tidak tahan dengan tatapan semua orang Bastian menarik tangan Rara keluar saat pintu terbuka, padahal masih ada satu lantai lagi untuk sampai ke apartemen Bastian. Tetapi karena menganggu singa betina yang sedang tidur, makannya ia jadi malu setengah mati gara-gara ulah Rara.
“Apa yang kamu lakukan Ra, mereka berpikir kalau aku banci, itu sangat mengelikkan,” ujar Bastian merasa jengkel.
“Siapa duluan?”
“Iya ampun Ra, aku hanya bercanda”
“Iya sudah anggap saja aku ini sedang bercanda juga, jadi impas kan, lagian kamu juga pakai masker jadi tidak ada tahu kalau itu kamu"
"Tetapi tetap saja Ra, kamu itu mempermalukan ku tadi, tatapan mereka semua aneh, wanita tua itu melihat anuku terus ...," ucap Bastian.
Rara tertawa ngakak saat Bastian memegang junior kecilnya. " Mereka berpikir aku bencong ... hadeeeh itu menggelikan," ujar Bastian, melepaskan maskernya dan menatap Rara dengan tatapan jengkel.
"Sudahlah, lagian tidak ada orang yang kamu kenal di sana"
Mendengar itu Rara tertawa terbahak-bahak lagi, ucapan Bastian mengingatkanya saat di apartemen Bastian dulu Timun vs terong.
"Bukannya dulu kamu bilang ukuranya segede anak timun? tanya Rara lagi tertawa memegang bagian perut.
"Kamu, ingin membahas itu lagi Ra, apa perlu kasih tunjuk?"
" Boleh ...." Rara menantang balik.
Bastian selalu merasa kecil hati setiap kali berdebat dengan Rara, tidak pernah sekalipun lelaki itu menang.
Ia melongos berjalan melewati Rara, naik melalui tangga darurat.
"Kok, lewat tangga sih, kita lewat lift saja!" Teriak Rara.
"Kamu sudah mempermalukanku, bagaimana aku mau masuk ke dalam lift lagi, kamu naik saja sendiri," ujar Bastian merasa sangat kesal.
__ADS_1
Berjalan menaiki tangga dengan santai.
Sementara Rara baru berapa langkah sudah mulai gos-ngosan, ia mulai mengomel memaki Bastian, tetapi lelaki tampan itu hanya cuek berjalan masih mengendong Alvin.
"Om, kenapa bertengkar sama Ibu?"
tanya bocah itu tiba-tiba, ternyata saat mulai dalam lift ia sudah bangun.
"Eh, uda bangun Vin, Om tidak bertengkar hanya bercanda sama ibumu"
"Alvin turun aja Om kasihan om capek"
"Tidak apa-apa Vin, Om masih kuat," ujar Bastian, walau ia sudah mandi keringat karena mengendong Alvin menaiki tangga.
"Om, aku ingin Om yang jadi teman Ibu, aku tidak suka Om Ken, aku tahu lelaki itu suka sama ibu, beberapa kali memfoto ibu diam-diam saat kami di Bali, ia juga sering melihat ibu diam-diam seperti Om, tapi aku tidak suka padanya," ujar Alvin, bocah pintar itu memperhatikan semuanya.
Jantung Bastian seakan-akan terhenyak, saat menyadari kalau anak kecil itu mengawasi semua yang berhubungan dengan ibunya.
'Jadi, kamu juga suka dengan Rara Ken? kamu juga munafik karena menyukai Rara diam-diam' Bastian membatin dengan wajah yang kesal. Tetapi ia merasa senang karena Alvin, mendukung dan memilihnya.
"Jadi kamu lebih suka Om Tian dari Om Ken?" tanya Bastian bersemangat.
"Tentu, aku ingin ibu menikah dengan Om"
Seketika itu juga Bastian berhenti dan menurunkan Alvin menatap wajah bocah tampan itu dengan tatapan menyelidiki. Namun di tatapan mata jernih itu hanya ada ketulusan dan kepolosan.
"Kenapa kamu suka Om?" tanya Bastian.
"Karena Om orang yang baik, sama seperti ibuku"
Bastian merasa tersentuh saat anak dari wanita yang di sukai mendukungnya.
"Terimakasih Tampan." Bastian mengusap kepalanya.
Bersambung.
__ADS_1
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga agar viewernya naik.