Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Golongan darah yang sama


__ADS_3

Dalam mobil suasana masih tegang, karena Rara masih mengalami serangan panik, tidak ada manusia yang benar-benar kuat selamanya.


Demikian juga dengan Rara, di mata Bastian wanita yang di cintai wanita yang kuat, bagai tiang beton, tidak pernah sekalipun ia melihat Rara sedih atau pun menangis. Namun kali ini, kelemahan Rara terlihat, hanya satu yang membuat ia lemah dan bisa menangis hanya putranya Alvin.


'Kamu wanita yang luar biasa Ra, sekalipun Alvin hanya anak angkat, tetapi kamu dan keluargamu sangat menyayanginya, mendidiknya jadi anak yang baik, salut aku' Bastian membatin.


 Lelaki berwajah tampan itu, memeluk Rara yang sedang ketakutan, tubuhnya gemetaran, ia juga baru mengetahui kalau Rara mengalami sindrom kepanikan, sebuah perasaan takut yang berlebihan, takut kehilangan orang yang cintai.


Penyakit itu Biasanya yang dialami seorang ibu yang mengalami kehilangan, seperti sebuah trauma yang kehilangan seorang anak atau orang yang ia cintai.


Rara mengalami penyakit trauma itu, setelah ia kehilangan sahabat baiknya.


"Ra, dengar ... kamu harus kuat," ucap Bastian melepaskan pelukan.


Namun yang terjadi ... Bastian panik, wajah Rara pucat, bibirnya memutih bahkan telapak tangannya dingin tubuhnya seperti mayat, ia terkulai tidak berdaya diperlukan Bastian.


"Aku tidak mau dia mati, aku tidak mau ia mati, dia akan meninggal ku." Rara mengigau.


‘Ada apa dengan Rara? Dia mengalami ketakutan berlebihan, bukankah Alvin bukan anak kandungnya? Lalu kenapa dia mengalami itu?’ Bastian membatin.


“Ra, dengar! tatap mataku. Alvin tidak apa-apa, dia baik-baik saja,” ujar Bastian, ia memegang wajah Rara dengan kedua tangannya, memaksa Rara menatap mata Bastian.


Bastian melakukan hal yang sama, seperti saat ibunya mengalami serangan kepanikan saat ia sakit dulu, waktu Bastian masih kecil.


Ibu Bastian juga mengalami serangan kepanikan saat ia masih kecil, tetapi itu dikarenakan karena Ibu Bastian kehilangan adik perempuan yang baru lahir. Maka mulai saat itu, ibu Bastian mengalami serangan kepanikan kalau Bastian sakit, sama seperti Rara saat itu.


“Apa kamu yakin, dia tidak apa-apa?” tanya Rara seakan-akan kembali normal. Menatap wajahnya dengan sendu.


“Iya dia menunggumu di sana, katakan dia si rumah sakit mana, kita akan ke sana,” ucap Bastian. Saat Bastian mengatakan seperti Rara kembali sedikit tenang, ia menyebut nama rumah sakit dengan jelas.


Bastian melajukan mobil itu menuju sebuah rumah sakit swasta tidak jauh dari rumah Rara, di daerah Salemba Jakarta Pusat, karena Alvin jatuh di tempat Tk.

__ADS_1


Seorang temannya memberinya roti dengan isian selai kacang, membuatnya kehilangan kesadaran saat berada di taman bermain bersama teman-temannya ,


Menurut penuturan ibu gurunya, Alvin merasa lemas, ingin turun tiba-tiba merasa pusing dan jatuh , kepalanya terbentur .


                                             **


Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit akhirnya tiba di rumah sakit. Calvin berbaring tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit, melihat Alvin berbaring tidak sadarkan diri membuat Rara kembali panik,


“Aaah … ah … do-dokter tolong selamatkan anakku,” ucap Rara parau, tubuhnya berjalan gontai, kalau Bastian tidak memegang ia akan jatuh


“Tenanglah Bu, kami sedang berusaha mencari donor darah untuk pasien,” ujar dokter perempuan dengan ramah. Ia mengerti dengan kepanikan Rara, ia berpikir semua ibu juga akan panik melihat anaknya terluka apalagi dengan kondisi parah.


Melihat tubuh Rara ingin tumbang Bastian memeluknya lagi dan mengusap -usap pundak, semua dokter dan perawat berpikir, kalau Bastian ayah dari Alvin.


“Bastian tolong selamatkan anakku, golongan darah kalian sama. Tolonglah,” ucap Rara merapatkan kedua telapak tangannya di dada memohon di pada Bastian.


Wajah Bastian tampak bingung, karena Rara mengetahui golongan darahnya, padahal ia tidak pernah memberi tahunya, bahkan tidak pernah ke rumah sakit bersama Rara. Golongan darah Bastian golongan darah yang langkah karena itu sangat susah mendapatkan pendonor.


Bastian setuju, walau pikirannya dipenuhi ribuan pertanyaan yang datang silih berganti.


'Darimana Rara tahu golongan darahku, padahal aku tidak pernah bilang'


Berada satu kamar dengan Cavian, mata Bastian tidak berhenti menatap anak lelaki berwajah tampan itu, melihatnya tidak sadarkan diri Bastian merasa jantungnya seakan ditimbun ribuan batu.


"Bangunlah jagoan kecil, Om tau kamu lelaki yang kuat," ujar Bastian meraih tangan mungilnya. Tidak terduga, tiba-tiba air di mata Bastian menetes. Ia buru-buru mengusap sebelum perawat itu melihatnya.


"Jangan khawatir Pak, dia akan baik-baik saja," ucap seorang perawat.


Ia melihat Bastian menangis.


"Iya Sis, dia anak yang kuat dan baik, Allah akan menyembuhkannya"

__ADS_1


"Amin," sahut suster mengangguk.


Suster meninggalkan Bastian, memberinya waktu istirahat.


Sementara Alvin masih berbaring dalam koma, ia kehilangan banyak darah.


‘Kenapa, aku punya golongan darah yang sama dengan anak ini? Bukannya hanya golongan darah, bahkan punya banyak persamaan’ Bastian membatin, saat ia berbaring matanya tidak pernah berhenti menatap wajah Alvin.


   Diluar kamar Rara hanya bisa melihat keduanya dari balik kaca, lalu ia duduk di kursi ruang tunggu tubuhnya lemas tidak berdaya lagi.


Setelah daranya diambil dan kondisi Bastian pulih, ia duduk di samping Rara, ia mengarahkan kepalanya untuk bersandar di pundak Bastian. Karena Alvin, mereka berdua melupakan pertengkaran, Bastian lupa kalau Rara telah menyakiti hatinya.


“Tidak apa-apa dia akan baik-baik saja,” ucap Bastian lagi. Rara hanya mengangguk lemah.


Bastian yang melihat Rara seakan-akan mau pingsan ia mengurungkan niatnya bertanya tentang dari mana ia tahu golongan darah mereka sama. Tidak lama kemudian, guru TK Alvin mendekat.


“Maaf Mama Alvin, saya tidak tahu kalau temannya memberinya roti berisi selai kacang,” ucap guru TK Alvin dengan rasa menyesal.


Rara hanya mengangguk pelan. Guru Alvin merasa sangat bersalah, ia sudah sepuluh kali lebih mengucapkan kata maaf padanya.


“Tidak apa-apa Bu,” ucap Bastian.


“Bapak Alvin, saya minta maaf Pak, karena kurang teliti menjaga anak bapak,”ucapnya wanita berwajah cantik itu pada Bastian.


Mereka mengenali wajah Bastian karena memakai kaca mata hitam dan topi.


“Baik Bu,” jawab Bastian dengan tenang, ia tidak terkejut lagi kalau ia di sebut ayah Alvin bahkan semua dokter dan perawat dalam ruangan itu menyebutnya’Ayah alvin’ dia yang bertindak dan melakukan semuanya, sesuai permintaan Rara ia tidak mengabari keluarganya, mereka tidak mau keluarganya panik karena ayah Rara saat itu lagi sakit juga.


 Rara akhirnya tumbang dan harus menerima perawatan. Maka Bastian yang bertanggung jawab mengurus semuanya, mengurus Alvin dan Rara. Ia bahkan mematikan ponsel Rara, agar Kenzo tidak ikut campur.


Bersambung ....

__ADS_1


Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa untuk kasih hadiah juga.


__ADS_2