
Walau Rara berusaha keras untuk menjauhkan diri dari Bastian. Namun, semakin ia berusaha menjauh, semakin Bastian mendekat.
Padahal ia mau menerima ajakan Ken untuk berlibur di Bali , bahkan ia juga mengajak putranya untuk sekalian liburan, karena Alvin belum pernah liburan di pantai Bali.
Paling jauh liburan paling hanya di pantai Ancol, maka saat ia mengajak Alvin naik pesawat dan akan liburan di Bali. Mendengar hal itu Alvin satu malam sebelumnya, tidak bisa tidur. Ia terus saja mengecoh bagai burung beo membahas tentang liburan dengan ibunya. Sampai-sampai kakek nya ayah Rara ikut pusing dibuatnya. Tas ransel yang sudah di susun bolak balik di bongkar karena ia membawa banyak pakaian dan mainan saat itu.
Sebenarnya keluarga Rara tidak setuju kalau Rara mengajak Alvin, Namun, melihat antusias dan semangat bocah itu, ayah Rara mengizinkan. Tetapi saat ia berusaha menjauh dari Bastian. Lelaki tampan itu juga datang ke Bali menganggu liburan Ken dan Rara, kini wajah tampan itu kembali bersemangat dan selalu tersenyum karena ada Alvin bersamanya.
*
Saat ini, Bastian dan Alvin berenang di pantai bermain ombak dan membangun istana pasir, hal yang tidak pernah di lakukan Bastian, tetapi bersama Alvin . Ia mau melakukannya.
Rara hanya duduk menikmati angin pantai dan membiarkan ke dua lelaki tampan itu bermain sampai puas. Rara berbaring di pantai membiarkan kulit putih itu di tiup angin pantai.
Rara mengabadikan semua momen kebersamaan keduanya dalam kamera ponsel miliknya.
Tidak ingin keluarga Bastian khawatir, akhirnya Rara memberikan kabar dan mengirimkan pada Oma Bastian.
[Aku sudah menyampaikan pesan oma, dia baik-baik saja”Rara mengirimkan foto Bastian membangun istana pasir yang besar bersama Alvin.
[Oh, syukurlah, terimakasih Rara, nikmati harimu] balas oma Bastian, akhirnya ia bernapas lega.
Bermain satu harian, Alvin kelelahan.
“Kita akan menyewa Villa Ra, ujar Bastian." Ia mengendong Alvin yang sedang tertidur.
“Lah, kamu selama ini tinggal di mana?’
“Di Hotel”
“Iya udah kita ke sana saja”
Bastian keberatan saat Rara mengajak untuk ke hotel di mana ia tinggal selama di Bali, ternyata tempat yang di tinggal Bastian sebuah Villa di samping Villa milik Kenzo. Itu artinya selama satu minggu itu, ia melihat dan mengawasi Rara dan Alvian.
__ADS_1
“Kok, kamu gak bilang!” teriak Rara terkejut, mulutnya sampai menganga saat ia tahu kalau Bastian selama ini dekat dengannya,hanya terhalang tembok.
“Untuk apa Ra, aku tidak ingin menganggu kesenangan kalian, melihatmu tertawa terbahak-bahak, itu satu tanda kalau kamu bahagia saat itu, jadi aku tidak ingin menganggu.
“Itu semua tidak seperti yang kamu bayangkan Pak Tian”
“Saat itu aku sangat iri pada Ken, karena bisa tertawa bahagia seperti itu”
“Aku kan, bekerja Pak Tian”
“Iya, tapi aku mau katakan pekerjaanmu dengan Ken cukup sampai disitu, karena kamu harus kembali kerja untukku, kamu ingat kontrak kerja yang kamu tanda tangani masih lama, jadi saat ini ... anggap kamu kembali bekerja untukku”
“Tapi bagaimana dengan larangan ibumu, Bastian? Ibumu melarangku mendekatimu, sejujurnya omalah yang memberitahuku ada di Bali dan memintaku mencarimu, maka itu aku menemuimu, keluargamu sangat khawatir. Tetapi kalau diminta bekerja lagi di apartemenmu rasanya tidak mungkin lagi Pak aku tidak ingin berurusan dengan ibumu"
“Aku tahu Ra, aku hanya ingin liburan, baiklah nanti kita bahas, soal pekerjaan, otakku pusing," ujar Bastian masuk ke dalam Villa mendengar larangan Ibunya otaknya jadi pusing. Memilih antara Rara dan ibunya membuat sakit kepala. Karena kedua wanita itu sangat penting untuknya.
Bastian menyewa satu Villa untuk ia tinggali dengan Rara dan Alvian.
Dari dalam rumah, Bastian keluar dan ia menghampiri Rara memberikan jaket tebal untuk Rara.
“Ini. Angin malam pantai sangat dingin,” ujar Bastian perhatian, memberikan jaket tebal miliknya untu Rara. Apa yang di lakukan Bastian, Rara menganggapnya sebagai perhatian biasa.
“Terimakasih,” ucap Rara memakai dan menikmati suasana malam.
Bastian tampak duduk tegang, seperti ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Bastian, ia tampak beberapa kali menghela napas panjang.
“Apa kamu tidak lapar Tian, kita mau masak atau pesan?” tanya Rara, belum menyadari wajah tegang Bastian, karena lelaki itu duduk di sampingnya.
Bastian masih diam, ia semakin gugup.
“Ada apa Tian?”
“Apa …?” Ia terkejut saat Rara menatap wajahnya.
__ADS_1
“Iya kamu kenapa jadi tegang seperti itu?”
Tiba-tiba Bastian maju ke depan Rara dan ia berjongkok di depannya tangannya memegang sebuah cincin, Mata Rara membelalak kaget,
“Ra, apa kamu mau jadi istriku?”
“Haaa …?” Mata Rara melotot membesar segede jengkol karena terkejut.
“Aku akan gila rasanya. Jika tidak mengungkapkannya sekarang Ra, aku sudah lama memikirkannya," ucap Bastian.
“Bastian tunggu … Tunggu dulu, kamu melamar ku?” Tanya Rara, ia berdiri dengan wajah panik, ia tidak pernah menduga kalau Bastian benar-benar berani melamarnya. Pada saat ia dan Ibu Bastian sedang gencatan senjata.
“Iya, aku jatuh cinta padamu, Ra”
“Bastian, ini tidak benar... Ibumu tidak pernah suka denganku, bagaimana mungkin kamu melamar ku jadi istrimu, aku senang jika ada pria sepertimu melamar ku Bastian. Tapi ... maaf, aku tidak bisa, aku sudah berjanji pada ibumu kalau aku tidak akan menjalin hubungan apa-apa denganmu, aku tidak mungkin menjilat ludahku sendiri," ucap Rara dengan penuh sesal.
Walau hati sangat senang saat di lamar seorang lelaki tampan kaya raya pula, wanita mana yang bisa menolak pesona
“Kamu menolak ku Ra.” wajah Bastian terluka.
“ Maaf Tian, jika aku melukai perasaanmu. Aku akan menerima lamarannya jika ibumu mau menerimaku dan anakku, tapi kalau ibumu dan keluargamu tidak setuju maaf aku tidak bisa,” ucap Rara.
Ia wanita yang teguh dengan janjinya, saat ada seorang lelaki yang nyaris sempurna ingin melamar nya, ia menolaknya demi Alvian anaknya.
Rara tidak ingin melihat Bastian terluka seperti saat itu, tetapi ia berpikir lebih baik ia menolak sekarang, dari pada sengsara nantinya, karena ia sadar, hubungan dengannya Bastian erat
Tidak bisa di pungkiri, ia juga punya hati sama seperti wanita pada umumnya, walau perbedaan umur di antara keduanya lumayan jauh, tetapi perasaan suka perasaan sayang pasti ada di hati seorang Rara.
Namun, ia menyimpannya rapat-rapat, ia tidak mau jadi bumerang bagi banyak orang dan ia tidak mau menyakiti hati anaknya karena penolakan Ibu Bastian
Bersambung...
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga iya, agar Viewer.
__ADS_1