
Kangker paru-paru sudah menggerogoti tubuh tuanya.
‘Bagaimana lelaki tua ini kuat menahan rasa sakit itu?’ bisik Rara dalam hati.
“Engkong kita cari rumah sakit yang lebih bagus saja iya, untuk mendapat pengobatan yang baik,” ujar Rara.
“Tidak usah Ra”
“Jangan seperti itu engkong, jangan membuat aye menangis lagi dong Kong, Rara bersedih karena keadaan babeh dan sekarang jangan sakit lagi,”
Tapi Dokter bilang engkongnya tidak bisa bertahan lama karena kangker paru-parunya sudah parah, ia tidak tau kalau engkongnya sakit.
Rara sangat sedih saat ini, lelaki yang banyak berjasa besar dalam hidupnya seperti malaikat pelindung baginya selama ini,
Terapi orang tua itu, saat ini lagi sakit keras, ia terlambat mengetahui kalau sang kakek sakit.
Banyak penyesalan dari Rara, setelah dua hari di rawat kondisinya semakin buruk.
Ia ingin mewujudkan keinginan terakhir kakeknya , mungkin jika permintaan terakhir kakeknya ia turuti, rasa bersalah di hati Rara berkurang.
Memaafkan hal yang mudah saat mengucapkan tetapi terasa saat sakit saat di jalani. Rara berniat memaafkan kelakuan ibu mertuanya pada sahabatnya demi kakeknya yang sekarat. Rara ingin memperkenalkan Bastian pada kakeknya sebagai suami.
Setelah kakeknya tertidur setelah habis minum obat
Rara duduk di kursi taman pikiran di penuhi banyak beban. Ia sudah membayangkan kalau kakeknya akan meninggal, tetapi ia belum bisa membalas kebaikan kakeknya.
‘Maafkan aku kakek’ ucap Rara dalam hati, wajahnya sangat sedih.
Tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi pandangannya berdiri tepat di depannya, dengan wajah ditutupi masker dan memakai kaca mata dan tidak lupa juga Topi.
“Apa kamu sakit?” Pertanyaan itu tiba-tiba terdengar tanpa ada kata kata-kata awal atau kata sapaan
Rara belum menjawab, karena ia belum mengenalnya pemilik tubuh tersebut. Tapi tiba-tiba orang itu berjongkok di depan Rara menunjukkan wajahnya, tangannya membuka sedikit maskernya.
“Bastian …?”
Rara terkejut.
Karena memang Rara memikirkannya
“Bagaimana kamu ke sini? Pasti omah nya yang memberitahukan,” tebak Rara.
“Bukan, tahu saja kalau istriku di sini,” ucapnya tersenyum ceria.
__ADS_1
“Karena omahkan?”
“Tidak”
Matanya menatap dengan tatapan rindu pada Rara.
Merasa dilihatin karena Rara dari tadi pagi belum mandi, ia merasa malu dan tidak percaya diri. Ia menundukkan kepala dan hidungnya sedikit di dijulurkan ke lengan baju yang ia pakai memastikan bau tubuhnya tidak bikin orang pingsan.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Rara , mencoba mengalihkan tatapan mata lelaki itu darinya, Tatapan mata Bastian membuat Rara serba salah, ia ingin rasanya mengisut dan menghilang karena bertemu dengan Bastian dengan pakaian kucel seperti saat ini, hal yang memalukan untuknya karena berbanding balik dengan Bastian yang terlihat segar
“Tidak baik, sungguh tidak baik. Sebab istriku meninggalkanku, aku mencoba bersabar bertahan menunggunya, berharap dia datang sendiri tapi sebulan bersabar tapi ia tidak datang malang menghilang. Makanya aku memutuskan datang sendiri karen tidak tahan lagi.” Bastian menjawab panjang lebar satu pertanyaan dari Rara.
Rara hanya tersenyum kecil walau hatinya masih sakit atas kenyataan tentang sahabatnya, tetapi demi sang kakek ia akan mengalah.
“Kamu sakit apa Ra?” Wajah Bastian terlihat sangat khawatir.
“Apa omah yang bilang aku sakit?”
“Kok Omah sih, ini tidak ada hubungannya sama omah,” ucap Bastian.
“Terus kok kamu tau aku di sini?” Rara menatap Bastian dengan mata menyelidiki.
“Memang oma sakit?” Bastian balik bertanya.
“Benaran Rara, aku membuat GPS yang bisa mencari tau keberadaan mu di ponselku, saat aku melihat titik keberadaan mu di rumah sakit ini makanya aku datang,” ujar Bastian.
“Maksudnya?” Wajah Rara menatap tidak percaya.
“Aku bukan orang yang gampang melepaskan, apa yang kudapatkan dengan susah payah, saat kamu meninggalkanku kamu pikir aku meninggalkanmu dan melupakanmu? Sesuai keinginanmu aku tidak pernah meninggalkanmu Rara, aku meminta orang mencari kamu”
Tiba-tiba Bastian memeluk Rara.
”Maaf iya Ra karena aku tidak bisa mengerti kamu.”
Bastian masih memelu Rara, tetapi wanita bertubuh ramping itu malah mematung.
“Permintaan maaf Bastian untuk apa? Tanya Rara.
“Semuanya. Aku tau apa yang di lakukan ibu pada keluargamu.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Aku yang datang sendiri ketempatmu saat itu Ra”
__ADS_1
“Kamu bilang, kamu tidak bakalan datang ketempat kumuh itu”,
“Iya karena aku mencintaimu aku datang untukkmu dan anakku.Ra Alvin dan keluargamu pindah kemana?”
“Bastian … bisa aku jujur padamu?”
Tanya Rara wajahnya sungguh tidak bersemangat terlihat memikul beban yang sangat berat.
“Iya, katakan saja Ra, aku siap mendengar.”
“Aku belum bisa memaafkan keluargamu. Aku tidak bisa”
“Aku membiarkanku sampai tenang Rara, aku tidak ingin menambah beban dalam pikiranmu, makanya aku tidak menemui mu, aku menuruti semua yang kamu minta, aku tersiksa menunggu sebulan lebih Ra, saat itu kamu bilang memberi kamu waktu, aku sudah melakukanya, tidak bisakah kamu menerimaku kembali.
Lihat bahuku ini siap jadi sandaran mu saat kamu sedih seperti saat ini, jangan memikul sendirian,”
Wajah Bastian memerah matanya di penuhi genangan air. Ia tidak ingin meninggalkan Rara.
“ Apa kamu tidak merinduku. Ra?”
“Aku tidak punya waktu memikirkan diriku sendiri, aku hanya memikirkan kakek dan babeku mereka orang yang paling dalam hidupku.
Saat ini mereka sakit, itu membuatku sangat sedih”
“ Maaf aku tidak bisa jauh lagi darimu ,jangan lakukan itu lagi padaku, aku tidak mendapatkan penolakan berulang kali darimu Ra”
Saat melihat bekas luka yang sudah mengering itu, wajah Bastia sangat sedih.
“Aku janji tidak akan ada lagi hal seperti itu padamu Ra.”gumam Bastian pelan.
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
__ADS_1