Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Saat Rara Bangun dari Tidur Panjang


__ADS_3

Matahari seolah enggan menampakkan sinarnya, awan mendung di langit Jakarta seolah mewakili hati keluarga Rara.


Ini seminggu sudah Rara terbaring dalam tidur panjangnya, tidak ada tanda-tanda ia akan membuka mata cantiknya.


Semua usaha sudah di lakukan Dokter. Dino asisten Bastian hampir tiap saat datang menjenguknya, lukisan tangan Bastian sudah menghiasi dinding kamar itu berharap ia bangun dan memberi lukisan itu untuknya.


Bahkan suara Bastian di rekam dan didengarkan di ke kupingnya tapi tetap saja tidak ada reaksi.


Hari itu Rara merasa bermimpi.


Dalam tidurnya panjangnya Rara bermimpi mengejar seorang wanita cantik, berambut panjang membawa anak kecil. Tapi ia tidak ingat siapa yang ia lihat.


Badannya tertidur, tapi jiwanya berpetualang ke dua lain, Rara mirip seperti orang mati suri, karena ia masuk ke dalam dunia Ruh di mana ia bertemu dengan ruh-ruh orang yang meninggal.


Maka hari itu Rara seperti masuk ke dunia lain, tempatnya sepi dan gelap, hanya ada asap-asap yang terlihat, seorang ibu yang wajahnya mirip dengannya menyuruhnya pulang.


Karena tempat itu bukan tempatnya, dalam mimpinya Rara ingin ikut wanita itu menyuruhnya pulang tidak memperbolehkannya ikut.


Dalam mimpinya juga ada Yolanda, tapi Rara tidak mengingatnya. Yolanda ikut juga mengusirnya.


“Aku mau ikut..!,” kata Rara dalam mimpinya, walau ia jatuh bangun tapi ia tetap ingin ikut.


“Pulanglah, Ra, disini bukan tempatmu, belum waktunya kamu kesini , pulanglah banyak orang yang merindukanmu,” kata Yolanda menolak Rara.


Dalam mimpi itu Rara tidak terima saat di tolak, ia berteriak ingin ikut.


“Kenapa kamu menolak ku, kenapa kamu tidak bisa membawaku pergi? bawa aku ikut,” teriaknya dengan lantang.


“Pulanglah, sayang, aku ibu yang melahirkan mu,” kata wanita yang berambut panjang itu pada Rara, untuk sesaat ia diam menyelidiki wanita itu.


“Ibu!?” tanya Ara dalam mimpinya, sayang ia tidak ingat.


“Iya aku ibumu sayang, apa yang ibu alami kenapa aku alami juga ,nak, tapi percayalah aku tidak akan membiarkanmu berakhir seperti ini,” kata Wanita itu mengusap-usap kepala Rara.


Seperti yang sudah di ketahui. Ibu yang melahirkan Rara sudah meninggal dan meninggalnya juga karena kecelakaan saat hamil juga.


Tapi sepertinya takdir buruk itu mengikuti Rara . Ia juga di tabrak dalam keadaan berbadan dua.


“Aku ikut,” kata Rara merengek.


“Pulanglah, banyak yang bersedih karena mu, kamu harus pulang,” kata wanita itu mendorong tubuh Rara, karena terus merengek minta ikut.


“Bawa aku pergi, aku takut, aku tidak tau aku berada di mana , aku dimana?” Teriak Rara mencoba menyusul wanita itu.

__ADS_1


Tapi ia di tolak, bahkan Rara merasa ke dua wanita itu mendorong tubuhnya agar pergi dari tempat asing itu.


“Kenapa kalian kejam!? aku tidak tau aku siapa, aku tidak mengingatnya, tolong beri tahu aku,” kata Rara.


Dalam mimpinya ia tidak bisa mengingat siapa dirinya dan siapa mereka. Ia hanya berdiri dalam kegelapan itu, tapi saat ia di tolak. Ia menangis sesenggukan dalam mimpinya dan duduk sendirian memeluk kedua lututnya.


Dalam dunia nyata tubuh Rara bereaksi.


Dalam ruangan rumah sakit itu, Aisah yang membaca ayat-ayat Alquran untuk kakaknya ia berhenti, saat ia melihat butiran air jatuh dari pipi Ara.


“Kakak, apa kamu menangis? Kakak.. apa kamu mendengarku.! Ya Allah kakak…! Panggil Aisah kegirangan saat Rara sesenggukan seperti sedang menangis. ”Dokter…!” Aisah berlari memangil Dokter, sampai-sampai ia lupa menekan tombol panggil.


Dua orang Dokter masuk Emak dan Babenya juga ada di sana.


“Bagaimana Dok? Apa kakak saya sudah bangun?” tanya Aisah wajahnya penuh harap.


“Sepertinya ia mimpi, tapi belum bangun,” kata Dokter.


Padahal Aisah yakin kalau ia melihat kakaknya membuka mata sebentar dan menangis sesenggukan.


Dokternya keluar, babe dan emaknya masih berdiri dalam diam, terlihat begitu sedih, apa lagi babe Rara ter lihat jelas di mata orang tua itu, ada kekecewaan, padahal tadi ia sempat begitu gembira saat Aisa bilang kalau Rara bangun.


“Tadi Aisah lihat ia bangun,” kata Aisah, ia begitu yakin.


Kini pak Agus yang duduk di samping putrinya, kondisinya juga belum pulih, karena pak Agus sendiri baru operasi jantung juga, ia harus duduk di kursi Roda.


Ia hanya ingin melihat Rara setelah Aisah bilang ia sudah sadar, tapi sepertinya kali ini kalau Rara juga belum ada tanda-tanda akan bangun.


“Sampai kapan kamu akan tidur Ra, apa kamu tidak merasa bosan kalau terus tidur?” Tanya pak Agus terlihat frustasi.


“Ayo bang, aku antar lagi ke kamar,” kata Bu soimah pada suaminya, takut jantungnya sakit lagi.


Tapi ia tidak mendengarkan istrinya, ia meraih tangan Rara di meletakkannya tangan itu di pipinya


.


“Tolong bangunkan anakmu jika kamu melihatnya,” kata Pak agus, kata-katanya ia tunjukkan pada almarhum ibu Rara. ibu yang mengusirnya dalam mimpinya.


Dalam mimpi itu. Ibu Rara semakin berusaha keras menyuruhnya pergi, kini bahkan dua wanita itu, terus mendesaknya agar pulang.


“Aku tidak mau, aku mau ikut kalian saja,” kata Rara, kedua wanita itu berbalik badan lagi dan mengusirnya, bahkan menyeretnya tubuh Rara dalam mimpinya,


“Pulanglah, disini bukan tempatmu, di sini tempat orang mati, kamu belum mati, kamu hanya tidur, bangunlah dan nikmati dunia yang indah itu,” kata Yolanda.

__ADS_1


Rara benar-benar bingung karena terus di usir oleh kedua wanita itu.


“Yolanda..! kalau kamu bisa bertemu Rara tolong suruh ia pulang,” kata Pak Agus.


Dengan suara parau sampai-sampai emaknya merasa bergelidik saat babe Rara bicara seperti.memangil almarhum Yolanda.


Benar saja, sepertinya Yolanda mendengar apa yang di katakana Pak Agus. Rara mereka lemparkan ke satu lobang yang ada cahaya, itu jalan pulang kedunia Rara.


Rara menangis lagi, karena ia ditolak bahkan di lempar pulang, padahal ia hanya minta ikut.


“Be..! lihat kakak menangis lagi,” teriak Aisah melihat air mata Rara mengalir dari pipinya.


“Iya bang, benar ia menangis, ya Allah, iya ampun,” kata emaknya kegirangan.


Aisah memegang telapak tangan Rara juga benar telapak tangan itu bereaksi walau sangat lemah.


“Mak,be, lihat..tangan kakak juga bergerak,” kata aisah menangis karena terharu.


Dalam kegembiraan itu pintu ruangan itu di buka.


Ken juga masuk, mendengar Rara terbangun dari komanya dari Dokter teman ibunya, ia langsung datang dari lokasi syuting.


“Apa ia bangun?” tanya Ken mendekat.


Kenzo biar juga sudah di suruh Aisah pergi, tapi lelaki itu enggan melakukanya, setelah ia meminta maaf pada Aisah, karena omongan neneknya dan ibunya, ia kembali lagi berusaha keras lagi untuk mendapatkan si cantik Aisah.


“Lihat deh Mas, pegang tangannya,” kata Aisah meletakkan tangan Rara di telapak tangan Ken.


Ken hanya diam sebentar mencoba merasakan gerakan Rara, tapi ia tidak merasa apa-apa.


“Tapi, tidak ada apa-apa,” katanya dengan mata semakin penasaran lagi.


“Coba pegang tangannya , terus tulis sesuatu di telapak tangannya,” kata Aisah mengajarinya.


Ia melakukannya ia menulis di telapak tangan Rara, benar telapak tangan itu bergerak lemah.


Benar saja, mungkin karena ia merasa geli karena ken membuat tulisan-tulisan di telapak tangannya.


“Benar ia bergerak, ia memegang tangan ku,” kata Ken lebih heboh dari mereka semua. Karena Rara memegang tangannya.


Akhirnya Rara bangun dari timur panjang, setelah hampir seminggu lebih, ia bobo cantik, kini ia buka mata ia akhirnya sadar.


Tapi mereka harus bersiap-siap untuk segala kondisi, jika Rara mencari anaknya nanti.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2