Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Saat dia pulang


__ADS_3

Dengan buru-buru ia memungut pakaiannya tanpa mengeluarkan suara,


ia memakai pakaiannya kembali, matanya masih mengawasi lelaki asing itu,


Dengan kaki berjinjit, ia berjalan pelan, ia meninggalkan kamar itu.


*******


Dalam pesawat penerbangan menuju Beijing-Jakarta. Jenny menangisi kebodohan, ia merasa hidupnya mendapat kemalangan yang memalukan yang membuat tidak ingin hidup lagi di dunia ini.


Bagaimana ini..? Aku kehilangan ingatanku sudah membuatku kadang sangat frustasi, tapi, tidur dengan lelaki lain yang bukan suamiku, membuatku ingin mati. Kenapa…!kenapa…!


Kenapa seperti ini iya ya, Allah. Bagaimana nanti kalau hal ini ketahuan pada babe sama Emak, bagaimana perasaan mereka?'


Ia mengusap lagi aliran sungai kecil dari matanya.


Membayangkan kejadian malam itu, ingin rasanya ia terjun bebas dari jendela pesawat, Ia merasa tubuh sangat kotor dan menjijikkan. Saat ini permohonan kecilnya, pada Sang Pemilik hidup, agar kejadian malam itu tidak di ketahui Babe dan Emaknya.


Dasar, Daniel kurang ajar, awas nanti.! aku akan memberimu pelajaran, ia memaki lelaki kurus yang menyebabkan ia mendapat kejadian yang memalukan itu.


Untung ia duduk di pinggir di dekat Jendela, memakai kaca mata hitam tidak ada yang menyadari kalau ia sedang menangis.


Bu Soimah sudah tiba di Jakarta saat Jenny masih Beijing , harusnya mereka datang bersama, karena jadwal pekerjaannya molor maka Jenny datang sendiri.


Di Bandara Soekarno Hatta, Kenzo dan Aisah sudah menunggu Jenny, Aisah yakin kalau Jenny akan kebingungan bila tiba nanti, karena ia tentu tidak mengingat bandara yang biasa dulu ia datangin dengan Sukma sahabatnya. Padahal Bandara itu banyak meninggalkan kenangan baginya.


Turun dari pesawat, ia merasa asing pada tanah airnya, apa dulu tinggal aku pernah kesini?” seperti apa aku yang dulu?” tapi sudahlah. Ia tidak berani mencoba mengingatnya, mencoba mengingatnya kepalanya akan merasa pusing, saat ini hanya mendengarkan apa kata keluarganya.


Malu bertanya sesat dijalan, ia terlihat bingung saat turun dari pesawat, di hampiri petugas bandara.


“Pintu keluar dari sana,Mba,” katanya dengan bahasa Inggris, berpikir kalau wanita cantik, berambut panjang berwarna coklat cocok dengan kulitnya yang putih, sekilas terlihat seperti orang luar negeri tepatnya orang Korea. Baru pertama ke Indonesia, ia seperti bule kesasar, karena matanya bingung tapi anehnya ia tidak mau bertanya.


“Oh, terimakasih ,Mas,” balas Jenny mengikuti arah yang di tunjukkan petugas bandara.


“Orang Indonesia ternyata, saya pikir orang luar,” katanya berucap pelannya matanya menatap punggung Jenny yang berlalu meninggalkannya.

__ADS_1


Di pintu kedatangan Ken dan Aisah sudah memasang mata mengawasi, mereka tau ini pertama kalinya pada Jenny, mereka memasang mata waspada untuk menyambut kedatangan Jenny.


Setelah berdiri di bagian pengambilan bagasi, Jenny menarik kopernya, di pintu luar Ken melambaikan tangannya kearah Jenny.


“Selamat datang kembali ke Indonesia kak,” Aisah menghamburkan dirinya ke pelukan kakaknya.


“Selamat datang kembali Jenny, bagaimana kabarnya?” Ken ikut basa-basi.


“Aku baik-baik saja terimakasih.”


Jenny terlihat murung pandangan matanya kosong, bayangan tadi malam di Hotel Beijing membuat kehilangan semangat hidup.


Dalam mobil, ia duduk jok belakang, sedangkan Aisah duduk didepan dengan Ken, sesekali ia melirik kaca untuk melihat kakaknya, Jenny hanya diam bagai tenggelam dalam pikirannya sendiri.


Ken dan Aisah membiarkan kakaknya menuntaskan pikirannya.


“Kita mau kemana?” Jenny, akhirnya buka suara, ia melirik kearah jendela, melihat ketinggian gedung-gedung di sepanjang jalan Sudirman yang mereka lewati, walau di Korea banyak gedung tinggi, tapi melihat di Negara sendiri membuatnya terlihat antusias.


Hingga tiba di rumah keluarga, Jenny di sambut dengan tangisan haru dari semua anggota kelurganya, ada banyak perasaan bercampur aduk, Jenny pulang mereka senang karena rindu terobati, tapi sekaligus ada rasa takut, kedua orang tuanya merasa takut jika orang yang ingin melenyapkannya mengetahui kabar tentangnya.


“Aku mau istirahat saja, aku capek,” ia benar-benar tidak bersemangat, kepalanya masih sakit dan pusing karena kurang tidur.


“Baiklah, kamar kakak di atas,” Aisah membawanya ke salah satu kamar.


“Sah..a-ah,” tapi tiba-tiba kerongkongannya kering merasa di penuhi pasir.


“ Ada apa kak?”


“Tidak ada apa-apa,” ia terlihat ragu untuk mengungkapkan.


“ Ada apa kakak? katakana saja, saya akan bantu,” ia ingin kakaknya berbagi cerita dengannya.


Jenny menatapnya dengan tatapan ragu, rasanya berat untuk menceritakannya tapi berat juga, ia pikul sendirian.


“Tidak usah deh, terimakasih, aku istirahat saja,” katanya kemudian.

__ADS_1


Aisah meninggalkan di kamar sendirian.


Di lantai bawah tepatnya di ruangan tamu, kedua orang tua Jenny terlihat cemas, cemas dengan keadaan saat ini, banyak hal yang sudah mereka lakukan untuk kesembuhannya dan keselamatan Jenny atau Rara.


Menjauhkannya dari anak dan dari suaminya, memisahkan anaknya dari suaminya hal yang sulit untuk kedua orang tua itu.


orang tua akan berkorban untuk anak-anaknya hal itu tepat untuk Pak agus, walau Emaknya juga itu andil tapi lelaki bertubuh tinggi itu yang berperan penting dalam setiap mengambil keputusan pada putrinya.


Jenny kembali ke Jakarta membuat hatinya kembali di landa ketakutan, takut akan orang yang ingin mencelakainya datang lagi, banyak hal yang menganggu pikirannya, ia juga sedih melihat putrinya hidup sendirian seperti saat ini, tapi semua ini demi keselamatan buah hati mereka,walaupun berat inilah yang terbaik.


“Ia butuh pendamping,” kata Pak Agus, pembahasan keluarga kali tentang Jenny atau Rara.


“Be, nanti aja, biarkan ia tenang dulu, ia dan bang Bastian masih hubungan suami Istri,” kata Aisah dengan suara lembut.


“Rara sudah meninggal dua tahun lalu, saat ini, hanya ada Jenny,” kata Pak Agus.


“Be, bagaimana nanti kalau ingatan kakak sudah pulih?.”


“Itu tidak akan terjadi, ia akan tetap melupakan masa lalunya demi keselamatannya.”


Suasana dalam ruangan itu tiba-tiba hening, Jenny berdiri dekat tangga, matanya mengawasi mereka.


Pak agus menarik nafas berat, ia tidak mau Jenny mendengar pembahasan dirinya kali ini.


“Kakak belum tidur?”tanya Aisah, ia buru-buru menghampiri.


“Aku tidak bisa tidur, badanku lelah tapi mata tidak bisa terlelap,”


“Kamu sudah minum obatnya belum?” tanya bu soimah.


Jenny terdiam, otaknya mencoba memproses, baru ingat obat-obatannya ketinggalan di laci kamar hotel, bukan hanya obat yang ketinggalan, catatan pekerjaannya juga ketinggalan di sana.


“ Sepertinya obatku ketinggalan di kamar Hotel.”


Menyebut nama Hotel ingatan lagi-lagi ke malam itu. segala pikiran buruk menghantuinya, bagaimana kalau aku hamil nanti, Bagaimana kalau kedua orang tuanya nanti tau.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2