Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Usaha terakhir mencari suami


__ADS_3

“Katakanlah apa?” kata babenya masih mengusap pundak Rara.


Babenya Rara sangat sayang padanya, ia tidak kuat bila Rara tersakiti, hatinya jauh lebih sakit


“Rara hamil beh,” kata Rara membuat mulut mereka semua terkejut.


“Apa?” tanya emaknya menangis


“Kakak Hamil?” Tanya Aisah , ia langsung memeluk kakaknya dengan haru.


“Bang, kita akan punya cucu sebentar lagi,” kata emaknya mengusap matanya dengan haru.


“Nambah lagi ponakan gue,” kata adik laki-lakinya


Babenya Rara mengusap matanya , air mata bahagia serta air mata kesedihan.


Sedih saat Rara mengandung buah hati mereka. Suaminya malah hilang tidak tau kemana rimbanya.


Ia berpikir kalau Bastian sengaja menghindarinya, ia memilih memihak pada Ibunya karena Rara memihak pada Ayahnya.


“Ya Allah kenapa nasib anak-anak hamba seperti ini ? saat hamil ia di tinggal suaminya, satu lagi tinggal menunggu bulan ingin menikah malah din tinggal calon suaminya kata emaknya meratapi nasib kedua putrinya, Aisah hanya diam jadi terlihat makin sedih.


“Lah Mak, kenapa jadi ngomong seperti itu? sekarang bukan saatnya ngomong seperti itu, kita saatnya memberi anak-anak kita dukungan , berhenti menyalahkan, anggap ini ujian untuk kelurga kita,” Kata babenya mengusap tangan Aisah yang tiba-tiba ikut menangis, karena omongan Emaknya, mengungkit masalah Aisah kembali, padahal ia berusaha melupakan mantan tunangannya.


Ia ikut ke London agar bisa melupakan masalahnya, ia bahkan menolak panggilan kerja, agar ia bisa melupakan lelaki jahat itu, walau susah tapi ia tetap tegar, saat ia berusaha menyembuhkan luka itu, Ibunya malah mengungkit lagi.


Ia juga terluka, walau tidak sesakit yang di alami kakaknya. Kedua kakak beradik itu butuh dukungan saat ini, butuh dukungan terutama dari keluarga bukan menyalahkan lagi karena takdir hidup siapa yang bisa menebak. Itu hanya milik yang Kuasa.


Kalau Aisah babehnya yakin bisa melewati masalahnya yang ia khawatirkan justru putri sulungnya. Rara.


“Iya Bang, mak merasa sesak ne dada, terlalu banyak masalah ,” Kata Emaknya mengusap matanya.


“Apapun yang terjadi, kamu kudu kuat, tinggallah disini mulai sekarang, biar babeh yang mengantar jemput kamu kerja, Kantor kamu justru lebih dekat dari sini ,” kata Babenya. “


Biar Sukma tidak terlalu capek mengantar kamu ,” Kata babenya terlihat lebih sangat perhatian pada Rara.


“Baik ,Beh.” Kata Rara terlihat berusaha tegar di depan keluarga. Walau berat, karena kran air dari matanya masih saja bocor.


Rara malam itu juga mulai tinggal bersama keluarganya, emak dan keluarganya memberi perhatian lebih pada Rara, karena kehamilannya.


Sampai-sampai anaknya tidak boleh dekat sama ibunya, karena takut anak berwajah tampan dan bermata indah itu minta gendong pada Rara.


Ia protes dengan bibir cemberut, karena untuk pertama kali baginya, ibunya menolak menggendongnya.


“Kenapa!?” katanya dengan wajah sendu.


“Karena di perut Ibumu, ada dedek kecil kita,” kata Aisah.


Ia membujuknya.

__ADS_1


“Seperti boneka?” tanya penasaran, matanya melihat dengan bingung kearah perut Ibunya.


“Tidak, tapi nanti dedek bayi yang bisa bergerak dan bisa menangis, dedek kamu juga,” kata Aisah


“ Maka jangan minta gendong sama Ibu, iya, biar adiknya tidak sakit di perut ibumu,” kata Aisah menjelaskan


Bocah pintar itu langsung menurut dan langsung mengerti dan tidak meminta gendong lagi.


Hingga besoknya, babenya Rara yang menggantikan peran suami, bagi anaknya. Ia sangat perhatian pada Rara.Ia diperlakukan seperti Ratu dimanjakan semua keluarganya.


“Ayo, babeh yang mengantar, mana mobil baru kamu,” kata babenya sudah siap mengantar putrinya.


Wah ibu punya mobil baru bagus lagi, asik kita punya mobil,” kata Calvin ia melompat-lompat kegirangan, saat melihat Mario datang mengantar mobil baru Rara.


Rara sudah mampu membeli apapun yang ia inginkan saat ini. Tapi ia merasa tidak bahagia, karena bukan duit dan harta yang membuat ia bahagia, tapi ia hanya ingin suaminya kembali.


“Bu, Alvin ikut mengantar ibu, iya!? teriaknya dari rumah


“Tapi bentar lagi kan, mau sekolah,” kata Babenya Rara.


“Tidak, Alvin mau kek, Alvin ikut dulu nanti sekolahnya,” katanya merengek.


“Baiklah, baik , ayo,” kata kakeknya kemudian


Sepanjang perjalanan ke kantor. Calvin tidak henti-hentinya bernyanyi senang , ia kegirangan karena Ibunya punya mobil baru, ia bergembira layaknya anak kecil yang polos. Ia tidak tau ibunya di rundung banyak masalah, sampai-sampai sumur di matanya sudah kering, karena keseringan menangis


“Jangan Stres, Ra, itu berpengaruh pada bayi mu nanti,” kata babenya ia sangat memperhatikan kesehatan Rara, bahkan makanan untuk anaknya ia perhatikan


“Lihat anakmu, kamu harus kuat sayang, kami selalu ada untuk kamu, tidak perduli Bastian datang atau tidak, kamu harus menjaga dirimu dan bayimu, karena itu harta paling berharga bagimu ,” Kata babenya


Hingga tiba di kantornya di daerah Mampang Prapatan.


“Rara masuk iya, beh, Ibu pergi iya sayang ,” kata Rara menyalim tangan Babenya dan memeluk putranya.


“Apa ibu kerja di di situ?.” Tanya Calvin menatap gedung bertingkat itu, dengan mata Hazelnya.


“Iya sayang, itu kantor ibu,” kata Rara dengan bangga pada anaknya.


“Ibu bos disana ,” Kata Babenya Rara ikut bangga juga.


“Wah..kelen,” kata dengan mata melotot takjub.


“Nanti Alvin yang mengantikan ibu di situ, Calvin Salim namaku, pewaris menggantikan Ibu,” katanya terlihat serius, membuat Rara dan bebenya tertawa ngakak.


“Kok kamu pakai nama belakang Salim sih,” kata babenya kata heran


“Tau, Alvin tau dari om Bastin salim, ia pernah bilang sama Alvin kalau aku juga harus pakai nama yang sama, Calvin Salim,” katanya polos.


Rara dan babenya saling menatap dan tertawa ,Rara mengusap-usap kepala anaknya dengan gemas.

__ADS_1


Rara keluar dari mobil, disambut hormat layaknya seorang Presiden Direktur, babenya Rara masih menunggu Rara hingga ia sampai masuk kedalam gedung itu baru ia merasa tenang.


Setiap orag yang melewatinya memberi hormat pada Putrinya dan terlihat Sukma dan beberapa pengacara dan sekretaris Rara sudah menunggu Rara di pintu masuk.


Pak Agus mengusap matanya melihat putrinya, di satu sisi ia merasa bangga melihat putrinya, karena mampu menjalankan tugasnya sebagai Direktur. Tapi di sisi lain hatinya merasa sedih atas nasib yang di alami putrinya.


Rara melambaikan tangannya menatap babenya sebelum masuk ke dalam gedung kantornya. Pak Agus baru meninggalkan gedung itu, setelah ia memastikan Putrinya masuk ke dalam kantornya ia pergi.


Setiap hari Pak agus jadi supir Rara, kadang ia datang lebih awal untuk mengawasi putrinya dari jauh, memastikan kalau tidak ada bahaya untuk putrinya. Rara beruntung punya keluarga yang mendukungnya di masa-masa sulitnya.


Ayahnya Rara sudah pensiun dini dari PNS. Makanya ia bisa punya waktu banyak mengantar jemput putrinya kerja.


Berkat dukungan keluarga Rara mampu menjalani hidup tanpa ada Bastian bersamanya


Ini tepatnya Bastian sebulan menghilang meninggalkannya. Hari itu tepat ulang tahun Bastian. Ia merasa sangat sedih, tapi demi janin dalam rahimnya ia mencoba menghibur diri sendri.


Pak Bardi juga sejak kemenangannya sesuai janjinya, ia ingin menikmati hidup dan bersenang-senang . Maka ia berkeliling dunia menaiki kapal pesiar milik keluarganya bersama Ibunya dan adik-adiknya.


Tepat saat berbagai berita miring menerpa keluarga Salim, mereka tidak mau ambil pusing, memilih berjalan-jalan keliling dunia.


Menitipkan perusahaanya sepenuhnya ke tangan Rara


Hari ini Rara baru saja keluar dari ruangan rapat dan duduk ke mejanya mengecek surat-surat yang masuk ia menemukan sesuatu yang menyita perhatiannya.


Surat undangan menghadiri acara lelang amal yang di tujukan untuk mertuanya. Hartati Salim sebagai perwakilan Perusahaanya.


Saat itulah Rara ingin Berusaha sekali lagi, untuk mendapatkan informasi tentang suaminya, ia tau Ibu mertuanya pasti datang ke acara amal itu, baik tanpa mengunakan undangan itu, pasti ia juga mendapatkannya dari perkumpulan sosialitanya.


Karena dalam undangan itu yang di lelang barang-barang mewah, tas, lukisan,vas, dan barang-barang langkah lainya.


Rara banyak tau tentang seni, ia bisa datang keacara itu. Walau sangat berbahaya , tapi ia ingin berusaha sekali lagi untuk mendapatkan informasi tentang suaminya.


“Aku ingin datang kesana , tolong temani saya,” kata Rara pada Sukma dan Mario, kedua temannya sebagai sahabat sangat menentang karena berbahaya , takutnya nenek lampir itu disana. Tapi sebagai bawahan Rara, mereka harus menurutinya.


Salah satu gedung mewah di daerah Sudirman tempat pelelangan itu.


“Ra. Loe yakin, ini berbahaya,” kata di sana banyak geng wanita itu , saya melihat daftar tamu aku melihat ada Viona dan ibunya ,” bicara hormat pada Rara layaknya atasan dan bawahan, Mario memeriksa daftar tamu undangan.


“Ra, saya juga jantungan pikirkan sekali lagi, demi bayimu kata Sukma sedikit berbisik agar tidak di dengar sekretaris Rara.


“Ini usaha terakhirku,Mey, habis ini aku sudah menyerah, karena aku tau. Ibu mertuaku pasti datang kesana, dan ia tidak berani menyentuhku, karena ada banyak wartawan disana, tapi sebagai jaga-jaga kamu dan Mario usahakan agar bisa ikut ke acara itu,” Kata Rara


“Usahin, gue bisa masuk tanpa surat undangan karena undangan untuk kita hanya satu, kata Sukma


. “ Padahal untuk satu undangan hanya di perbolehkan sepasang.”


“Oke, gue bisa usahakan,” kata Mario dengan yakin ia bicara pada penjaga yang memeriksa di depan pintu karena penjagaan sangat ketat, Kerena tidak semua orang sembarangan masuk acara di khususkan untuk orang-orang kaya dan pejabat. Karena acara lelang barang mahal mewah


Kebetulan bagian yang menjaga teman Mario dulu sesama penjaga keamanan.

__ADS_1


Akhirnya ia bisa masuk berpasangan dengan Sukma dan Rara dengan sekretarisnya.


Bersambung


__ADS_2