Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Ketika Nasib Buruk Datang


__ADS_3

Dasar emak, mata duitan kata Aisah dalam benaknya, saat emaknya mulai membujuknya agar mau menerimanya.


Aisah, mencurigai emaknya telah kerja sama, atau mungkin Ken sudah menyogoknya dengan barang mewah atau Emas, barang kali. Karena sikap Emaknya sangat memaksanya.


“Terus Mak harus membuat persiapan , untuk ibu mertua siapa dulu ni?,”tanya Bu Ima, pada kedua putrinya.


“Bastian dan ibunya kan sore mak..,sedangkan Ken kan besok.” Jawab Aisah.


“Terus Mak, harus mempersiapkan apa untuk nyonya besar itu, Mak harus mempersiapkan yang mewah juga agar ia paham keluarga kita bukan seperti yang dulu lagi ,” kata Bu Soimah sedikit bernada sombong.


“Justru itu Bu, ibu tetap menyambut dengan cara yang sederhana , jangan membalasnya dengan kemewahan , kita sama saja seperti mereka, kata Pak Agus terlihat sangat bijak.


Pembawaan Pak Agus yang tenang tidak banyak bicara, setiap omongannya selalu bermakna. Lelaki Kelahiran Jawa Timur itu, selalu menemukan jalan keluar dalam setiap masalah dan selalu membuat keputusan yang tepat untuk setiap masalah. Pak Agus bukanlah Orang Jakarta asli seperti Emaknya Rara.


Pak Agus selalu memanggil istrinya dengan sebutan panggilan Bu tidak panggil mak seperti anak-anaknya,


Hidup di lingkungan orang-orang Jakarta asli membuat kelurga mereka menggunakan dialeg Betawi yang kental.


“Iya sih Bang, padahal aku mah inginnya membalas Nenek lampir itu,” kata Bu Soimah, terbawa emosi.


Kedua orang tua Rara masih terlibat pembahasan serius, mengutarakan dari segi pandangan mereka masing-masing.


Sukma rencana mau datang ke rumah karena permintaan Rara. Rara ingin menyelesaikan permasalahan di kantor sebelum ia libur panjang.


“Assalamualaikum,” sapa Sukma dari di depan pintu.


“Walaikum salam,” jawab satu kelurga itu serempak menoleh kearah pemilik suara.


“Hei, Mey, tidak ada Rara loe kagak pernah nongol dah,” kata emaknya Rara. menimpali kedatangan sukma.


“Iya encing, lagi sibuk di kantor , Rara tidak masuk kerja beberapa hari membuatku jadi gempor ikut mengurusi kerjaannya si Bos besar ini ,” kata Sukma.


Tanpa di suruh ia langsung menyeduh kopi sendiri, rumah Rara sudah seperti rumah sendiri baginya, ikut duduk di ruang tengah bersama kelurga Rara. tangan satunya membawa gelas kopi dan tangannya satunya lagi memegang piring berisi cemilan.


Duduk bergabung dengan keluarga Rara, keluarga ini, sudah seperti keluarga sendiri baginya tidak ada sungkan-sungkan lagi.


Rara sudah turun lagi ke bawah, setelah ia pamit mau berganti pakaian tadi, dengan pakaian kantor, ia sangat cantik dengan baju Hamil babydoll di padukan celana berbahan karet yang nyaman.


“Sudah, Ra?” Tanya Sukma, menoleh kearahnya.


“Mak, Beh. Rara mau kekantor dulu sebentar ada hal yang mau Rara urus, nanti aku pulang sebelum sore, sebelum Bastian dan Ibu nyampe deh, saya sudah pulang duluan .” Kata Rara.


“Tapi Ra, tidak bisa kapan-kapan itu?” Babeh Rara terlihat sangat khawatir.

__ADS_1


“Saya mau ikut Rapat dewan nanti Be, ini penting bangat soalnya dan ada hal lain yang aku ingin selesaikan.” Kata Rara.


“Babe merasa merasa tidak tenang Rara, dari kemarin sebenarnya, Babe mimpi hal-hal buruk, tapi babe tidak ingat apa hal buruknya,” kata pak Agus.


“Tidak apa-apa Be, semua akan baik-baik saja, insya Allah,” kata Rara


Rara tersenyum indah pada kelurganya sebelum pamit, tapi saat Ayahnya masih sangat khawatir, wajah orang tua itu seperti tidak rela melihat Rara pergi.


Ia masih berdiri di depan pintu, padahal Rara sudah mau naik ke mobil Sukma.


.


“Mey, tunggu bentar,” kata Rara ia balik lagi ia meraih tangan orang tua itu dan mengecup dengan lembut lagi.


Mudah-mudahan mimpi-mimpi buruk itu tidak terjadi padamu Ra. Kata pak Agus dalam hatinya.


“Nanti aku pulangnya cepat iya, be ,” kata Rara memeluk Calvin anaknya dan pergi.


Mobil Sukma dengan perlahan mulai menghilang dan meninggalkan perumahan milik Rara.


“Ra mau apa sih ke kantor ada hal yang penting bangat, iya?” tanya Sukma ikut penasaran juga.


“Aku mau libur panjang , harus mempersiapkan pengganti ku agar bisa bekerja maksimal,” kata Rara. matanya dan tangannya sibuk dengan ponselnya.


Hingga tiba di kantor Rara mengurus semuanya, mengadakan rapat pegawai hari itu. Rating perusahaan itu sejak di tangan Rara langsung naik drastisnya, Ia memperkerjakan pegawai yang benar-benar ahli dalam bidangnya, jadi para pegawai itu benar-benar mau bekerja karena mereka tau apa yang mereka kerjakan.


Rara sangat di hormati dan disegani para pegawai di kantornya, karena ia punya kemampuan bukan hanya sebatas pemimpin, tapi karena Ia mampu memikul tanggung jawabnya sebagai direktur. Ia tegas dan pintar.


Ia baru keluar dari ruang rapat setiap pegawai menunduk kepala sebagai tanda hormat pada pimpinan mereka. Rara hanya membalas dengan senyuman ringan dan kakinya melangkah keruangan Sukma sahabatnya.


Toook


ToooK


“Masuk.”


sahut Sukma dari ruangannya, wanita cantik berkulit putih itu, lagi duduk di di kursinya matanya, masih terfokus pada layar komputer.


“Sori bos.. tadi ga ikut rapat pegawai, saya ada pekerjaan penting dan sebentar mau di siarkan,” kata Sukma


“Apa, aku menggangu?” Tanya Rara.


“Iya sangat menggangu Bu,” jawab Sukma bercanda.

__ADS_1


“Aku lapar, ayo temenin aku makan,” ajak Rara tapi Sukma menolak karena pekerjaannya.


“Baiklah, aku pergi sendiri ni?”


“Sori Ra, nanti aku nyusul,” kata Sukma tidak berpaling dari layar monitornya.


Saat ia kembali ruangannya ponsel yang sengaja ia tinggal di dalam Tas di dalam ruangan itu, ada penggilan masuk dari Bastian, matanya melirik jam di tangannya ini baru 1:35 WIB


Apa Bastian sudah di rumah?


“Halo sayang, kamu di mana?” Tanya Bastian di ujung telepon.


“ Katanya sore, makanya aku ke kantor,” kata Rara, kamu udah di mana? Sudah di rumah?”


“Sudah, ibu dan Ayah sudah di rumah ni,” suara Bastian terdengar sangat gembira, “Aku jemput iya?.”


“Baiklah.” Jawab Rara tangannya mengelus-elus perutnya.


Ia balik lagi ke ruangan Sukma.


“Sudah makan? Saya, baru saja mau nyusul” Kata Rara mematikan komputernya.


“Ayo kita makan di luar dekat jalan, biar aku yang traktir sekalian nunggu suamiku”


“Ayooo, aku langsung semangat kalau di traktir,” kata Sukma dengan tawa lepas.


Tiba di salah satu Restoran di sebarang jalan di dekat kantor Rara.


“Pesan apa yang kamu inginkan , selagi aku baik hari ini


kata Rara dengan senyuman manis yang ia pamerkan sejak tadi.


“Wah.. ibu bosnya selalu baik hati tiap hari, sehat terus ibu cantik,” kata sukma, bibirnya mendarat di pipi sahabatnya, sekaligus atasannya itu.


Setelah 10 menit menghabiskan makanan yang mereka berdua pesan.


Bastian sudah melambaikan tangannya kearah mereka berdua , restauran yang berdindingkan kaca jadi Bastian bisa melihat mereka berdua setelah sebelumnya memberinya kabar akan di tunggu di sana.


“Aku pulang dulu ya, sayang, perutnya di gesek-gesek lagi, biar turun lagi jusnya,” kata Rara menunjuk gelas jus yang masih menyisakan setengah lagi.


“Haha, perutku sudah mau meledak, berdiri saja sudah susah, kamu duluan saja deh, aku mau balik kekantor lagi kan,” kata Sukma.


Rara turun menghampiri suaminya yang menunggunya di pinggir jalan di depan Restoran itu, jadi ia tidak perlu menyebrang, lelaki tampan itu lagi bersandar di depan mobil berwarna merah miliknya, ia tersenyum melihat Rara yang berjalan dari halaman restauran.

__ADS_1


Rara berjalan perlahan, ia sangat menjaga janin dalam kandungannya, maka itu ia berjalan perlahan saja.


Bersambung...


__ADS_2