Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Apa dia wanitamu?


__ADS_3

Tiba-tiba Bastian bangun dan menyeret Rara ke kamarnya dan menguncinya di sana.


“Diam di situ!” ucap Bastian mengunci pintu.


Lalu ia kembali duduk,


“Ada apa Bro, lo bilang dia pembokat elo,  kok jadi marah-marah begitu sih?” tanya Bimo dengan tatapan mata menyelidiki.


“Pembokat atau bukan itu bukan urusan  lo pada.  Sudah sana pulang, lagian ngapain pada datang ke sini gak kasih kabar dulu," Ucap bastian dengan wajah  kesal.


Hei, tahan Bro gak usah ngegas begini …  lo cukup ngomong baik-baik saja, gak usah marah-marah, dia bilang ingin cari kerjaan karena dia bilang lu menghina dia, terus minta kerjaan ke kita apa salahnya?” Kenzo membuat kupingnya semakin panas.


“Salah. Karena lu menganggu wanitaku!”


“Apa? Wanita mu?” Mereka semua saling melihat satu sama lain, sepertinya lelaki berwajah tampan itu salah berucap.


“Maksudku wanita yang bekerja di rumahku.”


Bastian meralat kalimatnya. “Dia bekerja di sini sistim kontrak jadi, tidak bisa asal keluar begitu saja," ujarnya menjelaskan panjang lebar. Tetapi semakin ia menjelaskan semakin teman-temanya menyelidikinya.


“Tapi tidak usah lu marah-marah begitu juga ke kita begitu donk, eh tapi si mbak tadi itu kalau di lihat-lihat cantik deh, tadi pas dia bilang Kenzo aktor tidak laku, aku merasa dia wanita keren, kalau kerja sama aku saja bagaimana. Tian?” tanya Erik, membuat Bastian makin panas hati mendengar gurauan


“Sama aku saja, aku pasti perlakukan baik, dipoles dikit saja kayaknya dia sudah cantik, orangnya kayaknya berani dan tegas cocok jadi bodyguard.” Bimo ikut  bicara.


“Sudah, sudah diam , sana pulang.”


Bastian membuka pintu dan mengusir teman-temannya yang ikut memanas-manasi nya bagai kompor meledug.


              


Setelah ia berhasil mengusir teman-temanya,   Bastian menyandarkan kepalanya di sofa, ia mendumal kesal pada dirinya,  kenapa ia harus marah-marah tidak jelas seperti itu pada Rara di depan teman-temanya.


“Bastian, buka pintunya, aku lapar!” teriak Rara dari kamar.


Lelaki itu,  menghela napas panjang dan membuka pintu.


Rara menatapnya dengan perasaan jengkel, tetapi ia  lagi malas berdebat ada hal lain yang lebih penting dari pada majikan sombong yang merendahkannya tadi.


Ia mengumpulkan gelas-gelas bekas itu dengan diam, mencuci semua piring. Bastian duduk diam di ruang tamu, ia merasa menyesal karena menghina Rara tadi.


Ia berjalan ke dapur karena merasa perlakuannya terlalu kasar berniat meminta maaf pada Rara. Tetapi saat ia berjalan,  Rara sedang menerima telepon dari seseorang dengan wajah kesal.

__ADS_1


“Kalau lo membahas itu lagi jagan menemui ku, gak usah bawa-bawa nama anak gue,  katakan pada mereka kalau  gue tidak akan menginjakkan kaki di rumah itu lagi”


“Mpok, emak.  Sudah merasa menyesal”


“Mana ada seorang ibu, mengatai anaknya pembawa sial, orang tua harusnya mendukung anaknya, bukan … ah sudahlah.”Rara menggantung kalimatnya.


“Mpok, emak sama babeh hanya ingin Mpok,  punya masa depan” ucap Riky adeknya di ujung telepon.


“Gue tidak akan menikah selama-lamanya, gue benci semua lelaki di dunia ini , puas!” bentak Rara pada adek lelakinya.


“Mpok, kemarin itu, gue tidak ada niat menjodohkan Mpok sama guruku, kita hanya kebetulan bertemu di mall”


“Bohong bangat  lo, terus kemarin kenapa lo bilang gue kudu dandan cantik, kudu sopan, terus tujuan lo apa kalau gak jodohin gue,"ujar Rara mendengus kesal.


“Iya-iya itu-“ Adek lelakinya kelagapan.


“Cukup,  Ki, kalau kalian  masih memperlakukan  gue seperti itu, gue akan menghilang jauh sampai semua tidak ada yang tahu, gue tinggal di belahan dunia mana, dan tidak ada yang tahu keberadaan gue. Jadi … tolong Jangan lakukan itu lagi” ujar Rara terlihat marah.


“Mpok begini …”


“Sudah.” Rara memutuskan sambungan teleponnya  dari adiknya.


Bastian mengintip Rara, ia sedang menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya terlihat putus asa, lalu ia membasuh wajahnya di wastafel memijat keningnya, tidak lama kemudian  ia masuk ke kamar mandi. Menyalakan kran, menenggelamkan wajahnya dalam air,  lalu ia berteriak dengan keras dalam air, ia melakukanya beberapa kali, ia menutup pintu kamar mandi di  dapur itu,  dengan rapat. Jadi Bastian bisa melihat apa yang ia lakukan.


‘Apa masalah yang ia hadapi seberat itu? Kenapa ia selalu menutupi kesedihannya sendiri’ Bastian membatin,  ia memilih menghindar dan duduk kembali di depan televisi.


Tidak lama kemudian Rara keluar dari kamar mandi dengan kepala dibungkus handuk kecil, karena rambutnya  basah akibat ia tenggelam-kan dalam air, tadinya kalau Bastian tidak ada dalam rumah,  ia akan berteriak dari balkon apartemen.  Karena dengan begitu ia merasa lebih puas, berhubung pria pemilik apartemen itu ada di rumah, ia terpaksa melakukan alternatif kedua; yakni menenggelamkan kepala dalam bak, Lalu ia berteriak hingga ketelan air bak. Namun, dengan begitu ia sedikit merasa legah.


Bastian pura-pura tidak tahu, apa yang telah dilihat, padahal  Bastian sudah menjelma jadi tukang nguping tadi.


                                                                   *


“Mau makan apa Pak Bastian, biar aku masakin” tanya Rara kembali bersikap biasa, seakan-akan tidak ada yang terjadi.


“Tidak, kita pesan saja, aku ingin rendang padang hari ini,” ucap Bastian sengaja ingin memesan  makanan kesukaan Rara, ia berharap wanita itu senang.


“Oh, baiklah lakukanlah, aku mau ke kamar,”ucap Rara.


“Ra! Tunggu.”  Bastian berdiri,  ia menatap  wajah Rara dengan ragu-ragu.


“Ada apa?" Kedua alis mata Rara terangkat.

__ADS_1


“Boleh duduk sebentar, Ra”


“Ok.” Rara menarik kursi makan di depan Bastian.


“Ra, tentang omonganku yang tadi, aku meminta maaf,” untuk pertama kalinya bagi Bastian meminta maaf pada seorang wanita.


“Untuk apa?”


“Semua perkataan kasar ku, aku menyesal tolong dimaafkan,” ucap Bastian.


“Oh tidaka apa-apa sudah biasa, lupakan saja,” ujar Rara ia ingin berdiri.


“Ra, Ra, jangan pergi dulu, ini ambil saja,” ucap Bastian tiba-tiba sangat perhatian, ia memberikan kartu card pada Rara.


“Untuk apa?” Kening Rara berkedut bingung melihat sikap baik Bastian.


“Iya ambil saja untuk kamu pakai membeli kebutuhan dapur kita dan kebutuhan kamu"


“Ada apa denganmu tiba-tiba baik, kamu tidak sakit keras, kan, atau kepala tidak terbentur pintu?” tanya Rara menatap Bastian dengan bingung, karena tiba-tiba hal yang tidak biasa  terjadi. Bastian meminta maaf padanya dan memberi kartu kreditnya pada Rara.


“Anggap saja sebagai permintaan maaf dariku,  karena telah menuduh yang bukan-bukan, kemarin kamu pergi pakai,  pakaian cantik dan bertemu lelaki-“


“Oh, karena itu ...! kamu melihatku dan kamu menuduhku, perempuan murahan?”


“Bu-bu-“


“Dia adek laki-lakiku, kamu melihatnya juga' kan? Makanya bertanya dulu sebelum menuduhku macam-macam"


“Iya, a-aku-“


“Ah,sudahlah, kalian semua lelaki sama saja,” ujar Rara bangun dari kursinya, ia tidak menerima kartu yang diberikan Bastian.


“Ra, kamu masih marah, kan, aku sudah minta maaf”


“Aku mau tidur ,  aku pusing,” ujar Rara berdiri meninggalkan Bastian yang duduk mematung merasa bersalah.


“Apa ...  perlu aku bikin teh jahe hangat?”  tanya Bastian ikut berdiri.


“Tidak perlu   Bapak Bastian, terimakasih”


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2