
Rencana besar sudah di tangan. Rara hari itu resmi jadi sekretaris Bastian , jadi ia tidak perlu lagi bertemu Ridho lelaki dari masa lalunya yang di kirim Ibu mertuanya.
Rara berada dalam ruangan Ayah mertuanya, beberapa jam berduaan terlihat sangat fokus dan tidak ingin di ganggu, pak Bardi hanya bisa menunggunya, membiarkan Rara bekerja membobol semua data perusahaanya yang selama ini tidak bisa ia dapatkan. Ia yakin setelah ini, ia sudah punya senjata besar untuk melawan istrinya.
Ia merasa beruntung punya menantu seperti Rara yang berpihak padanya. Ia semakin yakin Rara Lah wanita satu-satunya yang pas mendampingi Bastian.
Besok pertempuran besar akan di mulai, Bardi membayangkan wajah sombong istrinya saat menerima kekalahannya
Rara masih berkutat di ruangan Ayah mertuanya, kebiasaan buruk nya, jika sudah fokus di computer, ia tidak memperdulikan lagi sekitarnya. Ayah mertuanya saja ia anggap tidak ada dalam ruangan itu, begitu juga dengan ponselnya, salahnya tadi ia mensilent ponselnya, hingga puluhan panggilan dari Bastian terabaikan.
Bastian menelepon Ayahnya, sayang teleponnya juga ia taruh di dalam laci dan tidak di angkat.
Ia datang kekantor Ayahnya, tapi sekretarisnya menghalanginya sesuai pesan Pak Bardi, siapapun tidak boleh masuk.
Bastian sudah berpikir kalau Rara Dan Ayahnya berdua dalam kantornya, sikap cemburunya mulai kambuh lagi, ia akan cemburu pada siapapun yang mendekati istrinya, tidak terkecuali untuk ayahnya.
Dengan kasar Bastian mendorong pintu. Rara menoleh nya dengan tatapan bingung, ia yang duduk di Sofa sendirian di depannya laptop.
Ayahnya duduk di meja kerjanya dengan lembaran kertas di tangannya. Tidak ada seperti yang ada dalam bayangan Bastian.
Ayahnya terlihat sangat sibuk dengan lembar-lembaran berwarna putih yang ia periksa sedangkan istrinya duduk sendiri.
“Eh, Tian, sudah datang," ujar sang ayah bersikap biasa. Pak Bardi terlihat santai dan tenang.
“Ayah dan Rara sedang ngapain?" Ia bertanya dengan tatapan menyelidiki.
“Saya menyuruh Nak Ara membantu Ayah memulihkan data yang sudah ke hapus," ujar Pak Bardi, belum menceritakan rencana besar dengan Rara.
Mendengar kode seperti itu dari Ayah mertuanya, Rara buru-buru menyudahi pekerjaannya dan memberikan pada Ayah mertuanya.
“Ini sudah Yah, sudah dipulihkan,”ujar Rara menutup laptopnya.
__ADS_1
“Baiklah , terimakasih Ra,” kata Ayah mertuanya.
Bastian masih terlihat menatap curiga, matanya masih mengawasi sesekelilingnya, predikat tukang selingkuh yang di berikan pada Bardi masih melekat di hati Bastian , makanya ia selalu tidak suka jika Ayahnya dekat dengan Istrinya.
“Bastian , duduk sini Ayah mau bicara dulu kata,” ia duduk duluan di sofa
“Ada apa yah?”
“Rara mulai hari ini sudah mulai menjadi sektretaris mu"Pak Bardi terlihat senang dan begitu yakin
“Lah, kenapa gak bicara dulu dengan saya, kenapa langsung mengambil keputusan tiba-tiba,” kata Bastian terlihat kurang senang dengan keputusan buru-buru yang di lakukan Ayahnya.
“Aku yang minta , apa kamu tidak suka, saya jadi sekretaris mu?” Tanya Rara dengan alis dia angkat sebelah
“Suka, tapi harusnya ada kordinasi dulu,” Kata Bastian masih terlihat jelas ada raut kecurigaan dimatanya. Ia merasa ingin di hargai yang pasti ada cemburu terselip di wajahnya.
“Baiklah, Tian, Ayah meminta Izin secara resmi,meminta izin agar Rara Winarti menjadi sekretaris untuk Bastian Salim,” kata pak Bardi sedikit nada bercanda untuk membujuk Putranya yang terlihat marah, ia mengambil hati anaknya agar tidak marah dan berpihak padanya.
“Baiklah, aku mengerti, Ayah.” Bastian akhirnya melunak juga.
“Tapi kata Ayah, ia sekretaris saya, berarti menemani saya dong,”kata Bastian.
“Karena kamu kemarin meninggalkan Rapat, mereka berpikir kamu takut dan tidak punya kemampuan sama sekali dan tidak ada bakat.
Buktikan pada mereka kamu bisa datang sendiri tanpa perlu di damping Ayah, itu artinya kamu sudah dewasa.
Menikah berarti sudah dewasa, Bastian! dan sudah berani mandiri,” Kata Rara terlihat tegas dan mata menatap lugas pada suaminya.
Bastian tadinya ragu, tapi mendengar istrinya bicara tegas dan memintanya pergi, iya setuju.
“Baiklah, saya akan pergi dan saya di temenin asisten saya,” Kata Bastian
“Saat kamu pergi, aku dan Ayah akan mengurus dari sini,” kata Rara. Masih dengan sikap tegas.
__ADS_1
Bastian tidak bisa menolak. Bahkan ayahnya hanya terlihat senyum , melihat apa yang di katakan menantunya. Hanya Rara yang berani bicara seperti itu pada Bastian dan bisa di terima Bastian, padahal semua orang tau. Bastian selama ini, tidak ada yang pernah bisa membantah permintaanya dan keinginannya. Tetapi depan istrinya ia jadi penurut.
“Kita akan mempersiapkan ke berangkatkan, mu,” kata Rara mempersiapkan semuanya termasuk pakaian yang mau di pakai semuanya, ia mengantar Bastian ke bandara hari itu juga,
“Aku kurang bersemangat sebenarnya pergi,” ia mengeluh
“Sebenarnya, kamu ada niat ingin maju enggak? Kalau kamu menerima tanggung Jawab sebagai Direktur maka harus bertanggung jawab,dan kerjakan , maka sebagai istrimu saya mendukungmu dari belakang, maka kerjakan , laksanakan tangung jawab dan tugas jangan biarkan istrimu kecewa,” kata Rara masih bersikap keras, tapi ia tidak ingin melihat suaminya pergi dengan sikap kecewa apa lagi marah.Ia memberi kis di pipi kiri suaminya sebagai pelunak.
“Hanya itu? tanggung amat.” Kata Bastian meminta lebih saat Rara memberinya kis ia ingin lebih.
Maka Rara tidak memberinya hanya kis di pipi yang di tawarkan suaminya, ia meraih dagunya secara posesif dan ******* bibirnya dengan lembut, Bastian awalnya kaget, karena Rara bukan tipe cewek yang agresif tapi kali ini, ia terlihat sangat manis dengan sikapnya, Rara mampu menyakinkan suaminya.
Bastian mampu di buatnya larut ******* hangat oleh Rara,ia mampu membuat Bastian bersemangat kembali.
“Dengar sayang, aku ingin kamu jadi lelaki yang hebat, lelaki yang hebat itu lelaki yang bertanggung jawab, berani mengambil keputusan yang tepat,” Rara lagi –lagi memberinya kis di pipinya.
“ Jika kamu berhasil melakukan tugasmu kali ini, mampu menyakinkan mereka para anggota dewan, kita akan melanjutkannya dan kita akan bulan madu, bagaimana?” Tanya Rara terlihat bersemangat dan totalitas dalam rencananya.
“Baiklah, sayang, aku janji, asal kamu tidak macam-macam.” Kata Bastian masih jealous padanya.
“Macam-macam bagaimana? satu saja seperti kamu di kasih Allah sama saya, saya sudah sangat bersyukur, kekuatan cinta adalah kepercayaan, aku ingin kamu percaya padaku, walau di depanku banyak yang tampan banyak punya otot seperti beton, bagiku kamu jauh lebih berharga dari mereka semua.”
Kata Rara dengan nada lembut dan halus dan sedikit bernada gombal, tapi tidak mengapa baginya. Ia berpikir biar sedikit lebay.
Tapi yang penting itu di tujukan pada lelaki halalnya. Itu berhasil untuk Bastian kata-kata lembut dan sanjungan yang di berikan Rara mampu membuat hati Bastian melayang bagai di awan.
Ia memeluk Rara mengecup keningnya dan melangkah dengan yakin. Lelaki butuh sedikit pujian apa lagi Datangnya dari orang yang ia cintai itu akan membuat ia percaya diri dan merasa yakin dan seperti punya kekuatan sendiri
Bastian menoleh lagi ke belakang, sebelum ia masuk Chek-in, satu kedipan mata dan lambaian tangan, walau ia tidak ingin meninggalkan Rara bareng sehari
Tapi ia ingin membuktikan, ia mampu menjalankan tanggung jawab yang ia pikul.
Rara melambaikan hapenya, mengingatkannya memberi kabar jika sudah sampai.
__ADS_1
Bastian mengangguk dan menghilang di balik pintu masuk, di Bandara Soekarno Hatta terminal 2F keberangkatan -menuju Bali.
Bersambung ...