
Ia hanya ingin menatap kedepan. Ia mau bertemu dengan Ridho menyangkut pekerjaan juga.
Ini namanya menyelam sambil minum air. Ia bisa menyelidiki siapa Ayah biologis anaknya dan sekalian ia juga ingin mengorek informasi tentang Hartati Ibu mertuanya yang kebetulan juga kakak mantannya.
Ahh.. ribet bangat gumam rara dalam hatinya.
Ia melaju kendaraanya menuju rumahnya untuk menjemput anaknya. Sukma juga membawa anaknya yang seumuran dengan Calvin anak bontotnya agar bisa bermain bersama.
Rara menuju rumah emaknya, Ia sebelumnya sudah minta izin dulu sama babenya untuk membawa anaknya jalan, seperti biasa babenya akan akan bersikap ketat untuk Calvin. Babenya tidak memperbolehkan Rara membawa anaknya kerumah keluarga Salim .
Walau beberapa kali keluarga besar Bastian ingin mengenal anaknya, terlebih omahnya Bastian, ia ingin sekali Calvin tinggal dengan mereka dirumah besar itu, ia ingin ada suara anak-anak mengisi rumah besar itu,
Tapi Babenya Rara menolak dengan tegas, kalau Calvin tidak boleh jauh darinya. Babenya Rara tau sifat mertuanya Rara, beliau tidak ingin Calvin dapat perlakuan buruk dari Ibu mertua anaknya.
Baru saja mobil Sukma berhenti didepan pintu gerbang rumah orang tua Rara, bocah tampan itu sudah menunggu di depan pintu menenteng tas ransel, kakinya melompat-lompat kegirangan melihat ibunya datang.
Babenya Rara dan emaknya ikut berdiri menunggunya di teras depan rumah . Rara turun sebentar
“Ibu, suaranya melengking berlari menghambur memeluk Rara. Padahal Rara setiap minggu datang menjenguk atau berkomunikasi lewat video call.
Tapi setiap kali ia datang perlakuannya tetap sama seperti tidak melihat selama setahun. Itulah yang membuat Rara begitu anak angkatnya. Baginya anak sahabatnya itu seperti malaikat kecil dalam rumah Ara.
Rara memeluknya dengan hangat, calvin dengan kebiasannya pada Ibunya, ia mendaratkan bibirnya dibibir ibunya dengan gemas ia menggosok hidungnya juga. Tapi uniknya kissing bibir itu hanya di berikan pada ibunya,
Walau kadang Aisah dan emaknya minta seperti itu Tapi Calvin tidak mau melakukannya, ia hanya mau melakukannya hanya ibunya saja, padahal neneknya dan Aisahlah yang tiap hari mengurusnya. Tapi sayangnya pada Rara melebihi ibu yang melahirkannya.
“Emak, Beh! Rara enggak bisa lama, iya, takut kelamaan di tungguin teman, soalnya.” Kata Rara memberikan keranjang buah, untuk emaknya.
“Iya, iya hati-hati, anakmu puasa setengah hari belum berbuka dia, bekal untuk berbuka puasa ada di dalam tasnya,” kata emaknya Rara, menyerahkan tas bekal berwarna hijau.
“Oh, anak ibu puasa?”
“Iya dong bu, kata guru ngaji Calvin harus puasa Bu, untuk anak kecil seperti Alvin setengah hari gak apa-apa, ia mulai berceloteh.
__ADS_1
“Eh,mak ada Aisah kan, di rumah?.” Tanya Rara terlihat khawatir, ia takut suruhan Ibu mertuanya mengikuti adiknya ,karena adiknya ikut membantunya tadi malam.
“Mau kemana lagi, Ra, kan adikmu tidak kerja lagi, ia lagi tidur di kamarnya , katanya tadi malam ia ada kerjaan jadi tidak tidur .” Kata emaknya wajahnya terlihat sedih.
Ia tau Emaknya pasti sangat sedih, karena selama ini emaknya sangat berharap banyak pada calon suami Aisah. Ia sangat bangga karena akan memiliki menantu seorang Dokter.
Tapi, itu tidak tercapai, karena lelaki tamak itu lebih memilih jabatan dari pada wanita yang mencintainya.
Rara berharap, mantan tunangannya menyesal seumur hidup karena telah menyia-nyiakan wanita soleha dan cantik seperti adiknya.
“Iya emak. Ara tau, dilihatin mak, gak usah disingung-singgung lagi tentang lelaki itu, biarkan pikirannya tenang, jangan biarkan ia keluar sendirian iya, Ki,” pesan Rara ada adiknya lelakinya yang kebetulan pulang cepat dari sekolah.
“Iya kak, tapi lihat ini,” ia menunjukkan sepatunya yang robek mengambil kesempatan saat Rara datang, karena mengadu sama emaknya sudah pasti dapat ocehan panjang lebar nantinya, tapi kalau sama Rara adiknya selalu yakin akan berhasil, apalagi setelah kakaknya sudah menikah, duit tidak lagi masalah bagi Rara.
Tapi melihat anak lelakinya melapor, emaknya Rara langsung terkejut, karena sepatunya baru sebulan dibeli emaknya tapi sudah robek karena ia pakai main bola.
“Iya ampun, ni anak teriak emaknya, melihat sepatu yang sudah menganga itu.
“Iski ! ini baru sebulan emak bel,” tangannya langsung menjewer kuping adik Rara.
“ Ini beli nanti yang lebih bagus,” kata Rara memberinya satu juta
Di beri sebanyak itu mata adik lelakinya melotot , karena baru pertama pegang duit sebanyak itu
“ Ini seriusan buat gue.” matanya menatap babenya, beliau hanya diam tidak terlalu banyak komentar.
“Beli dua pasang kalau cukup, pisah sepatu bola, sama sepatu sekolah , kata Rara bergegas.
“ Tapi jagain kakak Aisah, jangan biarkan ia keluar sendirian kalau ada yang aneh-aneh lapor kakak, nanti kakak kasih uang lebaran lagi,” kata Rara berjanji membuatnya tambah bersemangat. Ia kegirangan seperti anak kecil,
“Ih.. kakak gue emang paling baik deh,” katanya matanya melirik emaknya yang terlihat sewot.
“Keenakan kamu karena dimanjain kakakmu, kata emaknya masih merepetin Riski, anak remaja itu hanya tersenyum.
__ADS_1
“Mak masih ada uang belanja?.” Tanya Rara menatap emaknya.
“Masih sih, tapi kalau di kasih emak gak nolak juga,” katanya senyum-senyum.
“Ini emak pakai buat belanja,” kata memberi lebih banyak lagi. Wajahnya langsung cerah bagai bola lampu, segala kerutan di wajah langsung hilang.
Pak Agus babenya Rara seperti biasa, ia tidak mau meminta-minta pada anak-anaknya, ia lebih baik memakai uang gajinya sendiri.
Rara pamit iya Beh, ma. Kasian meng-meng nungguin kelamaan,” kata Rara , meninggalkan emaknya yang masih terlihat sumringah.
Mobil hitam milik Sukma meninggalkan rumah Rara. Bocah calvin terlihat sangat bersemangat saat ia bertemu teman lama anak sukma.
“Hai Alvin sapa Sukma dari depan “ Alvin, puasa kagak?.”
“Puasa dong tante.”
Rara melirik jam setelah setengah perjalanan hampir jam dua belas.
“Alpin berbuka iya, sudah waktunya,” Rara membuka bekal yang sudah disiapkan emaknya.
“Sudah iya bu. Alhamdulillah.” Bibir kecil tersenyum
Ia membaca doa makan dan mulai menikmati menu berbukanya.
Walau ia berpuasa, tapi ia tetap ceria. Babeh ara mendidik anaknya dengan sangat baik
.
“Kita kemana sih ,Bu?’ ia bertanya matanya mengawasi jalanan yang mereka lewati
“Kita mau ketemu teman Ibu nanti ya, nanti bersikap baik iya, soalnya ia juga bawa anaknya walau anaknya anak perempuan boleh diajak bermain,” kata Rara memberi nasehat pada kedua bocah itu.
“Enggak, ah kan anak perempuan tante, bantah bagas anak Sukma.” Ia kurang setuju karena anak perempuan,
__ADS_1
“Gak,apa-apa Gas, anak perempuan, kan bisa main bersama-sama yang penting kita baik, nanti ia juga baik.iya kan bu? kata Calvin anak pintar itu selalu menurut apa kata orang tuanya.
Bersambung