Menikah Dengan Brondong

Menikah Dengan Brondong
Bertemu Bastian


__ADS_3

“Ia berbohong lagi, Mey, ia tidak menepati janjinya,” kata Rara.


Tap Saat ia masuk lagi ke Ruangannya. Akhirnya Bastian memberinya kabar.


“Haaaloo.” Rara menahan suaranya, .”Bastian! Kamu kah itu?” Kata Rara dengan suara parau tangisan tertahan.


“Ra, iya ini aku jawab Bastian dari ujung telepon


Tapi Rara hanya diam mulutnya bagai terkunci, tapi seolah kerongkongannya seperti di penuhi pasir dan batu sehingga ia tidak bisa bicara.


Padahal banyak yang ingin iya katakana tadinya pada suaminya, tapi tiba-tiba tidak bisa bicara jantung dan pikirannya tidak sinkron . sehingga ia tidak tau mana yang terlebih dulu ia Utarakan lewat bibirnya.


“Aku..aku merindukanmu Tian, kamu dimana?.” Kata Rara dengan suara bergetar menahan tangisan. Hanya itu yang lolos dari bibirnya.


“Aku tidak jauh dari kantormu, datanglah ke sini mari kita berdua bicara , aku mengirim alamatnya ke ponselmu,” kata Bastian menutup ponselnya.


Rara diam membatu untuk sekian menit hingga akhirnya sadarnya balik lagi, ia seolah tidak percaya ia memukul pipinya sendiri. Memastikan Bastian bukan mimpi seperti yang hampir tiap malam ia alami.


Nyata ternyata Bastian beneran meneleponku kata Rara dalam hatinya , tangannya langsung menyambar ponselnya cepat-cepat ia menekan nomor Sukma.


“Mey,ia menelepon,” kata Rara memberi kabar untuk Sukma.


“Ra, tunggu gue, loe jangan pergi sendiri tunggu Saya, biar aku yang mengantar kamu,” Kata Sukma buru-buru.


Ia meninggalkan ruangan rapat, ia lagi mengadakan rapat bulanan di bagian divisinya.


“Ibu, serahkan padamu,” katanya pada bawahannya untuk mengambil alih memimpin rapat itu dan Sukma berlari keruangan Direktur . Dimana Rara berjalan mondar-mandir seperti setrikaan. Ia sesekali memegang dadanya . Bunyi jantungnya bagai suara dendang bertalu-talu lututnya terasa lemas.


Ia tidak bisa membedakan hatinya apakah ini rasa senang apa rasa takut, karena ia merasakan perasaan yang campur aduk antara senang, takut, dan rasa rindu yang amat dalam pada suaminya.

__ADS_1


Ia tidak bisa bertahan lagi menahan gejolak hatinya, karena jantung itu semakin berdetak lebih cepat dan tidak bisa bertahan lama lagi.


Aku akan memberitahukan kabar gembira ini nantinya, ia pasti senang, ia pasti bahagia Bastian akan memeluk dengan hangat kata Rara bicara sendiri, tangannya memegang sebuah testpack kehamilan di tangannya.


Testpack kehamilan di tangannya itu nantinya yang akan ia berikan pada Bastian, ia tidak sabar lagi.


Ia tersenyum bahagia, ketika membayangkan wajah Bastian terkejut mendengar ke hamilnya.


Aku harap ia baik-baik saja, aku ingin memeluknya,aku tidak perduli tentang apa yang di pikirkan orang lain, aku percaya pada suamiku kata Rara lagi-lagi bicara sendiri senyum sendiri, ia terlihat seperti orang stres karena menahan rasa bahagianya yang akan bertemu dengan suami tercintanya.


Walau ia tidak suka berdandan belakangan ini, di karenakan bawaan kehamilannya. Tapi demi suaminya di hari sepesial ini, ia memoleskan lipstik berwarna merah cerah ke bibir mungilnya, rambutnya di biarkan lepas dan depannya di buat bergelombang, ia seperti seorang wanita muda yang sedang kasmaran yang janjian ingin bertemu dengan pacarnya.


Ia melihat wajahnya di pantulan kaca di di dalam ruangannya,


Bagus cantik, aku yakin ia sangat senang dan memujiku nanti ia berucap sendiri lagi.


Bibirnya tidak henti-hentinya mengumbar senyum, karena bahagia, ia tidak mempersoalkan Bastian kenapa tidak menghubunginya, ia hanya akan percaya dan akan memeluknya saat bertemu itu keinginan pertamanya dan menjelaskan kesalahpahaman itu, ia yakin Bastian akan mempercayainya, karena cinta harus saling percaya seperti janji mereka berdua, saling percaya dan saling terbuka.


Tapi saat ini. Rara seolah berubah seperti orang lain, sifatnya lembut dan tidak menyimpan kecurigaan sedikitpun pada Bastian, ia percaya sepenuhnya pada suaminya.


“Ra loe sudah siap-sia-“ Kata sukma suaranya terpotong, melihat Rara terlihat sangat berbeda ia sangat cantik dengan polesan makeup natural yang ia pakai. Wajah itu kini kembali mengeluarkan sinarnya bagai mentari pagi.


Kalau biasanya wajah itu selalu mendung dan hujan, maka saat ini mentari pagi kalah di buat pancaran wajahnya.


“Aku sudah siap, Mey, bagaimana menurut kamu,” kata Rara memutar tubuhnya kearah Sukma


“Sangat cantik loe, eh kamu sangat cantik. Mereka lagi belajar bicara pakai bahasa yang Indonesia yang benar, kalau selama ini mereka pakai bahasa loe dan gue , kini mereka bertiga dan Mario ingin meninggalkan bahasa gaul itu, di luar kantor boleh di pakai kembali, kerena mereka diprotes karyawan yang lain


Karena gaya bahasa mereka pakai bahasa planet.

__ADS_1


“Mey, pegang deh jantung aku, aku merasa jantung ingin mau lompat,” kata Rara ia menarik tangan sukma mengarahkan ke dadanya


Sukma hanya tersenyum melihat tingkah Rara gaya terlihat panik, seperti ingin bertemu calon mertua untuk pertama kalinya, ini seperti Sukma saat lamaran dulu, panik dan jantung berdetak hebat.


Rara seperti ingin bertemu gebetan baru saja sih kata sukma dalam hatinya.


“Ra, apa kamu sudah senang? Dan sudah siap dengan segala resiko, atau sudah siap dengan hal buruk yang akan terjadi?.” Tanya Sukma, ia merasa takut, takut Bastian tidak menerimanya lagi, ia takut Bastian lebih mempercayai Ibunya dari pada Rara.


“Aku sudah siap Mey, iya,kan sayang,” katanya dengan wajah sumringah dan tangannya mengusap-usap perutnya yang masih Rata. Mengajak perutnya bicara.


“Baiklah, Ra, aku berharap semua baik-baik saja,” kata Sukma, ia memeluk Rara penuh perhatian, jika Rara terlihat sangat bahagia ingin bertemu suaminya. Ia hanya bisa mendukung


Walau Sukma malah sebaliknya, ia memikirkan hal-hal buruk akan terjadi, tidak mungkin Bastian menghilang selama sebulan kalau semuanya baik-baik saja. Sukma berpikir kalau Bastian lebih percaya pada ibunya dan berpikir Rara ingin hartanya saja,


Ya Allah semoga semua baik-baik saja, tidak sanggup melihat Rara terluka lagi, ini akan sangat berat baginya nanti bila Bastian tidak mempercayainya dan meninggalkannya, bisa-bisa Rara depresi lagi seperti mingu-mingu yang lalu, kata Sukma dalam hatinya ia berdoa dan memohon pada sang Penguasa agar Rara selalu di mudahkan di setiap masalahnya.


“Iya Mey, gini! nanti aku mau ngasih ini sebagai kejutan pada Bastian, ia kembali mengulang-ulang rencana kejutannya untuk suaminya


“Aku akan memberikan testpack ini padanya,” kata Rara menunjukkan ada tiga macam model testpack yang menunjukkan dua garis merah yang artinya positif hamil.


“ setelah aku menunjukkan semua ini, aku yakin ia langsung terharu dan memeluk aku deh, jadi kita pelukan ala tele tabbies,” Kata Rara dengan tawa lepas, ia menyusun rencana dan sudah menghayal tinggi sampai ke langit ke tujuh.


Itulah yang di khawatirkan Sukma, saat ia terlalu percaya pada suaminya dan mengharapkan banyak hal, saat semua itu tidak terjadi seperti yang kita harapkan, maka hal itu bisa jadi amunisi yang bisa melukai diri kita sendiri.


Karena itulah yang dialami Sukma pacaran selama bertahun-tahun tidak menjamin setia .


“Ayo kita pergi aku akan menemanimu sampai ke Hotelnya, aku tunggu di mobil tidak apa-apa,” kata Sukma


“Ok,” kata Rara setuju

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2