
Saat duduk dengan Kenzo di dalam kafe, Bastian pulang dari kantor polisi, ia pulang untuk mandi, saat mobilnya melintas ia melihat Rara bersama Kenzo.
‘Apa yang dilakukan Rara dengan Ken, sejak kapan mereka saling kenal? Aku tahu ini akan semakin sulit, kasus ibu akan semakin melebar’ ujar Bastian, ia melihat Rara dengan sahabatnya.
Namun, ia tidak berani menghampiri. Bastian memilih naik ke apartemen membiarkan Rara dan Ken mengobrol.
Ternyata Rara juga melihat Bastian datang, lalu ia berkata;
“Sepertinya kamu benar, aku akan membereskan pakaianku beberapa pasang lagi, begini saja ... kamu juga pasti sedang sibuk saat ini.
Berikan saja alamat rumahmu, satu jam lagi aku akan datang sendiri, kamu pulang duluan saja, aku takut ada wartawan di sini”
“Iya kamu benar,” ucap Kenzo, itu itu juga yang ia inginkan sejak tadi.
“Kirim saja alamat rumahmu, ini nomorku, kamu langsung pulang jangan lama-lama di sini, takut ada banyak wartawan." Rara menakut-nakuti, ia tidak ingin lelaki itu tahu kalau Bastian sudah pulang.
“Ok, baiklah”
Kenzo meninggalkan apartemen Bastian, kesempatan itu juga ia gunakan untuk bicara dengan sang asisten yang ia bohongin tadi.
Saat lelaki itu pulang, Rara naik lagi ke apartemen Bastian.
Rara menempelkan card kunci apartemen.
Teeed …!
Pintu terbuka, Bastian berdiri dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celana, matanya menatap nanar ke arah keramaian ibukota, di pikirannya hanya ada ibunya yang dikirim Rara ke dalam penjara.
“Dari mana?"
“Dari bawah, kita pelu bicara sebentar." Rara menghela napas panjang, sebelum bicara.
“Bastian, membalikkan badan dan ia duduk di sofa, Rara meletakkan tas ransel miliknya.
“Ada apa?”
“Kamu sudah makan?” tanya Rara menunjukkan perhatiannya pada sang majikan, ia prihatin melihat wajah Bastian yang terlihat sangat berantakan.
“Belum”
“Mau makan apa, biar aku masak” Rara menawarkan.
“Tidak perlu Ra, tidak selera, melihat ibuku di penjara membuatku tidak selera makan, kamu mau bicara apa?” tanya Bastian terdengar ketus.
__ADS_1
“Kamu masih marah?” Rara menatap Bastian dengan tatapan menerka-nerka.
“Aku tidak marah Ra, aku hanya sedih saat melihat ibuku di penjara, itu juga yang membuatku hampir gila dan yang melakukannya pembantu yang aku pekerjakan dan aku gaji dan aku anggap sebagai teman, tetapi dengan tega memenjarakan ibuku," ujar Bastian dengan wajah putus ada.
“Baiklah, pembantumu ini … akan menarik gugatan itu Pak Bastian, jangan khawatir, terimakasih sudah mempekerjakan ku di rumahmu, kalau begitu aku pamit, karena itu yang diminta ibumu”
Bastian diam, pundaknya naik turun. Ia bahkan tidak sadar dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Rara memasukkan pakaiannya ke dalam bag, mengosongkan lemari pakainya dan dia keluar.
“Aku pamit”
“Apa kamu bekerja padanya. Untuk Ken?"
“Jangan khawatir, aku tidak akan mengatakan apa-apa padanya seperti yang kamu takutkan, ia juga tidak akan mendapatkan dariku apa yang dia inginkan, ini kunci apartemen” Rara menyerahkan kunci apartemen pada Bastian.
“Kamu boleh memegangnya Ra, datanglah lagi kapanpun kamu mau”
“Tidak perlu Pak Bastian.” Rara meletakkan kuncinya diatas Tv karena Bastian tidak mau menerimanya. “Aku pergi”
Saat ia ingin pergi dan tangannya meraih handle pintu, Bastian memanggilnya.
“Ra!” Ia menghela napas panjang, ia juga tidak ingin berada dalam kondisi seperti ini.
“Maaf, tolong jangan membenciku terlalu dalam,” ucap Bastian dengan tatapan sedih.
Rara hanya tersenyum kecil.
Tidak mengatakan apa-apa, kata-kata Bastian barusan jelas sekali menyakiti hatinya. Tetapi ia wanita yang super tangguh, ia tidak menunjukkan sedikitpun rasa sedihnya di hadapan majikanya.
Lalu Rara pergi, Bastian masih berdiri, matanya masih menatap daun pintu, ia merasa sangat sedih saat Rara meninggalkan apartemen itu pada akhirnya.
Dulu ia sangat ingin wanita itu meninggalkan apartemennya, tetapi saat hal itu saat ini. Bastian merasa ada gumpalan pasir yang menyumbat paru-parunya, terasa sesak dan sedih saat melihatnya pergi.
Ia mengusap buliran kristal yang meluncur bebas dari ujung matanya.
"Seperti aku telah jatuh cinta padanya, ini sangat menyakitkan,"ucap Bastian.
Ia tidak ingin menyakiti hati wanita yang selalu membuatnya tertawa dan membuatnya merasa nyaman. Tetapi di sisi lain ia tidak ingin wanita yang melahirkan dirinya ke dunia ini berada di penjara. Ia harus memilih. Otak dan tubuhnya lelah dan ketiduran.
*
Kriiing ….!
__ADS_1
Kriiing ….!
Bastian terbangun, saat ada panggilan ke ponselnya ternyata ia tertidur di sofa sampai sore.
“Iya Bu!”
“Makasih iya Nak, berkat usahamu membujuk polisi, akhirnya ibu dibebaskan, saat ini ibu sudah di rumah, Ibu ingin kamu pulang untuk merayakan kepulangan Ibu," ucap Hartati ia berpikir Bastian yang membebaskan dia
Bastian terdiam, ia menoleh kearah dapur bayangan Rara memakai slemek bermotif bunga, tiba-tiba terlihat olehnya, tersenyum ceria bercanda, tetapi menit kemudian menghilang meninggalkan keheningan, kini apartemen itu sangat sepi bagai kuburan.
“Tian! Apa kamu masih di sana?” panggil ibunya membangunkannya dari lamunannya.
“Aku tidak bisa Ibu, aku lagi ada kerjaan,” ucap Bastian dengan suara yang sangat lemah, bahkan hampir tidak kedengaran.
“Nak, kamu tidak apa-apa, kamu tidak senang ibu bebas?”
“Aku tidak apa-apa Bu, aku sangat senang Bu, sangat senang, sungguh,” ujar Bastian pura-pura tegar.
Dari suaranya sudah ketahuan kalau ia tidak sedang baik-baik saja, ia sangat kehilangan saat Rara memutuskan pergi . Bastian, harus memilih antara Ibu dan wanita yang membuat nyaman yang paling membuat hatinya sedih saat Rara pergi karena kata-kata kasarnya yang ia ucapkan.
Di sisi lain, Kenzo gigit jari, saat mendengar kabar kalau Ibu Bastian sudah bebas , padahal ia sudah menyiapkan banyak hal untuk menaikkan pamornya, ia ingin menunggangi kasus Bastian.
‘Apa,apaan ini? Kenapa ia menarik laporannya, belum juga tersebar ke berita’ ucap Kenzo merasa sangat kesal, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi, saat ini Rara sudah ada di rumahnya untuk bekerja untuknya.
“Apa ada masalah Pak?” tanya Rara duduk di sofa di depan televisi di rumah Kenzo malam itu, setelah ia memutuskan untuk bekerja Pada Kenzo.
“Oh, tidak ada, kamu boleh pergi aku ingin sendiri”
“Kamu saja yang pergi aku mau menonton televisi," ujar Rara santai dan duduk di samping bos.
“Ha? Ini rumahku Mbak Rara”
"Lalu kenapa kalau rumah kamu? aku ga bisa nonton gitu ...?" Rara mengangkat kedua alisnya.
"Iya, harus ada donk batas antara bawahan sama bos," ucap Len dengan mata melotot.
"Iya Ela Pak, hidup itu gak bawa ribet lah ... yang penting kan aku menghormati bapak," ucap Rara Menganti cancel siaran tv kini ia menonton Drakor.
Melihat kelakuan Rara, Ken terkejut ia memegang batang leher karena tiba-tiba pegal dan kepalanya pusing.
Bersambung....
Bantu like dan vote iya Kakak jangan lupa kasih hadiah juga.
__ADS_1