
“Pikirkan sendiri,” ujar Rara melenggang ke kamar mandi.
“Ra! Apa yang terjadi?” Tanya Bastian masuk ke dalam ke kamar mandi, tepat saat istrinya dalam posisi jongkok di kloset.
“Berbalik!”
“Apa?”
“ Balikkan badanmu aku bilang, aku ingin berdiri, lagian orang lagi jongkok juga, main masuk aja sih,” ujar Rara kesal.
Lagi-lagi Bastian menurut, isi otaknya sepertinya lagi pergi mengungsi, ia tidak bisa mengingat apa yang terjadi padanya malam itu.
Setelah urusan kamar mandi selesai Rara mencuci tangan dan memulai aksinya, menarik Bastian ke depan cermin kamar mandi.
“Baiklah sayang ...! sesuai janjiku, Ayo kita mulai di sini”
Wajah Rara tegas terlihat seperti sedang marah, alih-alih sedang merayu Bastian, nyatanya, ia ingin memberikan pelajaran untuk Bastian yang berani cari pelarian malam itu.
“Ra, ada apa?” Tanya Bastian, ia bingung dengan kemarahan Rara, tatapan wanita itu tegas dan penuh penekanan.
“Gak sayang, aku merindukanmu.” Rara melumat bibir Bastian dengan kasar.
Mata lelaki tampan itu, membelalak karena terkejut, ia tidak menduga Rara menyerangnya dengan kasar pagi-pagi. Ia merasakan bibirnya di gigit dengan kuat.
“Apa aku melakukan kesalahan,Ra?” tanya Bastian, ia membiarkan Rara bermain sendirian, karena ia tau itu bukan ungkapan cinta, tetapi, menunjukkan kemarahan.
“Tidak, kamu tidak melakukan kesalahan sayang, akulah yang salah. Ia merangkul leher Bastian dan ********** dengan sangat agresif
“Ra, bisa kamu jelaskan padaku apa yang terjadi?”
“Iya, aku mau bilang sama kamu, ayo, kita lakukan saat ini sepertinya kamu sangat menginginkannya, sampai-sampai kamu harus mencari wanita lain. Aku di sini Bastian, istrimu di sini, ayo kita tuntaskan"
“Ra, maaf aku tidak mengingat”
“Kenapa tidak bisa …? Ini aku, aku akan melepaskan semuanya, agar kamu bisa mencobanya, kamu ingin dari mana dulu?” Tanya Rara.
Tangan Rara ingin melepaskan pengait branya.
Saat melihat kemarahan yang di tunjukkan Rara, ia menyadari satu hal, kalau ia sudah melakukan hal buruk, Bastian bisa melihat dari sorot mata tajam kalau wanita yang baru ia nikahi itu, sedang murka.
“Ra, aku tidak tau apa yang membuatmu marah, tapi maafkan aku.”
Ia menolak Rara dan menghindari serangan bringas wanita yang sedang emosi.
“Kenapa tidak sayang …. Kamu pantas mendapatkannya, mari kita memperjelas hubungan ini. Kamu sudah tidak sabar ingin mencobanya begitu, kan?”
“Ra ,baiklah, aku meminta maaf atas apa yang aku lakukan, sungguh aku tidak mengingatnya.”
__ADS_1
Bastian memenangkannya, mengusap punggung dengan lembut dan memeluk Rara. Rara terlihat masih dalam kemarahan.
“Tidak, kamu harus menerimanya dan melakukanya selagi aku menawarkannya dengan baik-baik, karena sepertinya setelah kita menikah kamu hanya ingin merasakannya dan tidak sabar ingin menikmati tubuh ini,” ujar Rara.
“Apa yang kamu pikirkan ? aku tidak seperti itu.”
Bastian ikut marah, lalu meninggalkan Rara di kamar mandi.
Emosi Rara masih mendidih, dadanya naik turun menahan luapan emosi saat mengingat wanita yang memeluk mesra suaminya malam itu, bahkan ke duanya hampir menggilir Bastian tadi malam.
Rara ikut keluar dari kamar mandi, menghampiri Bastian yang sedang membuka lemari pakaian.
Tangannya membalikkan tubuh Bastian kembali dengan kasar
“Ada apa? apa yang salah? Apa kamu tidak menginginkannya lagi?”
“Ra, aku sudah bilang aku tidak mengingatnya,” ujar Bastian dengan suara lembut wajahnya memelas.
“Apa karena ke dua wanita yang hampir kamu tiduri tadi malam?, Apa mereka yang kamu ingat?”
“Apa?” Mata Bastian melotot panik
“Tolong apa terjadi Rara?”
“Apa kamu tidak ingin melakukanya padaku?” Tangan Rara menjatuhkan Bastian di ranjang.
”Ra, aku minta ampun aku sungguh tidak mengingatnya,”ucap Bastian tangan di pangut ia memohon ampun.
“Tidak, lakukan sekarang atau aku akan menendang lonceng mu sampai pecah,” ujar Rara masih emosi.
Bastian yang kewalahan menghadapi kemarahan istrinya, memilih kabur lagi ke kamar mandi, setelah ia menyambar ponsel. Ia takut juga jika kedua loncengnya pecah saat Rara mengancam akan menendangnya.
Ia mengunci kamar mandi membiarkan Rara mengetuk-ngetuk pintu kamarnya. Matanya sibuk menatap layar ponsel miliknya, mata dan mulut sama reportnya, ketika mata melotot menatap layar ponsel, maka mulut mengumpat dengan kasar.
Ia masih mengingat saat pergi ke clup malam itu, dan berita hari ini membahas tentang pengeledahan tempat hiburan malam yang ia datangi.
Matanya belum selesai terkejut dan kali ini lebih terkejut lagi, ketika keempat rekannya di tangkap polisi, karena mengonsumsi pil setan .
“Ra, apa sebenarnya yang terjadi?”
Bastian berteriak dari dalam kamar mandi.
“Sumpah Ra aku gak ingat!”
“Sini, keluar makannya!” Sahut Rara dari dalam kamar Bastian
“Gak mau, nanti kamu menyerang ku lagi, kamu marah lagi gak?” Tanya Bastian, kupingnya di tempelkan di daun pintu kamarnya.
__ADS_1
Rara masih diam dengan tatapan mata seperti banteng yang sedang marah dengan pandangan masih lurus kearah pintu kamar mandi.
Ia masih belum memakai pakaian ia membiarkannya tubuhnya tetap terlihat seksi.
“Ra. Jangan marah aku ingin menjelaskan biarkan aku menjelaskannya, Ok?”
“Tidak, lu keluar selesaikan sini! Bukankah kamu sangat menginginkan tubuhku?"
“Kamu salah paham Ra. Iya aku bilang merindukanmu, bukan maksudku hanya menginginkan itu, walau aku juga secara lelaki ... tidak bisa di pungkiri , Iya.”
“Jadi lu mau apa, nggak?” Gue pulang ni”
“Ra … Ra, tunggu.”
Bastian keluar dari kamar mandi, dengan sangat hati-hati dan wajah tampan yang memerah karena merasa bersalah. Tapi masih dengan sikap penuh ancang-ancang, ia takut bila Rara datang dan menyerangnya lagi,
Rara duduk di sisi tempat tidur, ia datang dengan langkah hati-hati dengan tatapan mata mengawasi Rara. Saat Rara berdiri, ia berlari lagi kekamar mandi.
( Kww kww author ngakak sambil gigit guling)
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rara
“Tolonglah Ra, jangan marah lagi, kamu sangat menakutkan kalau marah,” ujar Bastian wajahnya memelas, masih dengan sikap waspada.
“Aku tidak menakutkan Bastian! Kamu saja takut karena kamu bersalah"
“Ra. Biakan aku menjelaskan kesalahpahaman ini,Ok!”
Bastian mendekat masih dengan sikap waspada.
Rara masih berdiri dengan bola mata besarnya mengikuti arah tubuh Bastian, ia seperti seekor burung elang yang mengawasi mangsanya.
Begitu juga dengan Bastian menatap dengan waspada ke arah istrinya, ia terlihat lucu dengan wajah tampannya, seperti suami takut istri.
“Baik, Baik Bastian aku kasih kamu kesempatan menjelaskan. Duduklah,” ujar Rara.
”Bersambung ….
Bantu Vote iya kakak untuk karya ini tolong tekan like dan jangan lupa berikan hadiah juga.
Baca juga karyaku yang lain.
-Cinta Untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Bintang Kecil untuk Faila
__ADS_1
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)